Keep Silent And You Got It

Keep Silent And You Got It
Part 20 - Paruh Waktu



Bintang Pemberi Semangat


 Hari ini sangat lah panas, aku merebahkan badan ku di meja ku. Aku berpikir indah nya 5 hari yang lalu itu, Aku dan Gita dapat berkencan di bioskop. Hari seakan cepat berlalu, aku ingin sekali untuk bersama dengan Gita tidak hanya di dalam mimpi. Di saat aku berpikir seperti itu, Gita datang dan duduk di meja Riyan.


"Rama... Kamu udah nulis tugas nya belum?"


"Aku belum, ini susah banget."


"Yaudah liat aja nih punya aku..."


"Eh kamu serius?"


"Iya, kamu mau atau gak?"


"Mau atuh..."


Gita memberikan bukunya kepada ku.


"Eh, Ram aku mau banget ke taman kota kamu bisa gak?"


"Aku bisa aja tapi tunggu waktu aku kosong ya..."


"Sesibuk apa sih kamu itu?"


"Ntah lah, kadang kalau aku gak ada kerjaan, biasa nya ayah suruh bantuin di tempat kerja nya."


(Author:"Rama sebenernya udah bantuin bapak nya dari Smp, tapi gara-gara udah Sma udah jarang dia bantuin bapaknya...")


"Oh gitu, nanti kalau kamu gak sibuk dan aku bisa jalan nanti aku kabarin ya."


"Yaudah."


"Oiya kamu ada nomor yang bisa aku hubungin?"


Kemudian Rama memberi no rumah kepada Gita.


"Kamu inget no rumah kamu, hebat banget...!!!"


"Ah biasa aja."


"Yaudah kamu nulis cepet ntar keburu masuk ke pelajaran yang lain."


"Siap Tuan Putri...!!"


Setelah Sekolah...


 Akhirnya pulang sekolah tiba, aku mempersiapkan diri untuk pulang. Riyan hari ini ada hal yang membuat nya pulang terlebih dahulu akhirnya aku tak sempat berbicara dengan nya. Dikelas memang masih banyak siswa disini termasuk, Aku dan GIta. Gita seperti biasa ia sedang menunggu jemputan nya, dia membereskan buku nya dan menghampiri ku.


"Rama... Kamu gak pulang?"


"Ndak aku pengen terus ama kamu hehe."


"Ih kamu jawab yang serius dong."


"Iya ini aku lagi siap-siap."


"Oiya minggu besok katanya pembagian formulir untuk masuk club ekskul tau..."


"Eh serius?"


"Iya, yaudah aku duluan, kaya nya aku udah di jemput."


"Iya hati-hati."


 Setelah Gita keluar kelas, aku berjalan ke arah pintu keluar. Di balkon sekolah aku melihat masih banyak siswa yang belum pulang, kemudian aku turun dan berjalan mengarah gerbang sekolah. Disaat itu pula datanglah Kak Freya, seperti nya ia dari Ruang Osis, terlihat dari tangannya membawa kumpulan kertas yang banyak.


"Raji...!!!"


"Eh kenapa Kak?"


"Tunggu dulu, Aku punya sesuatu buat kamu..."


"Apa?"


Terlihat kertas itu tertulis perekrutan untuk masuk ke OSIS.


"Eh emang udah mulai ya perekrutan organisasi semacam itu?"


"Ya belum sih, tapi aku pengen kamu duluan yang aku kasih..."


"Perekrutan organisasi kapan kak?"


"Minggu depan udah mulai kok, oiya jangan lupa ya kamu pilih ekskul sama kaya aku"


"Waduh, emang Kak Freya masuk ekskul apa?"


"Tentu aja ekskul photografi..."


"Aku pikirin lagi dah."


"Kak Freya emang belum pulang?"


"Ini aku mau pulang..."


"Mau aku anterin?"


"Eh serius?"


"Iya, tunggu di depan gerbang ya..."


"Makasih Raji...!!"


Reuni Sahabat


 Aku mengantar Kak Freya di depan gang rumah nya, gang itu dekat stasiun tempat mengumpul aku dan teman-teman pertama kali setelah masuk SMA. Setelah menganta Kak Freya aku pulang ke rumah, terlihat depan rumah ku ada sebuah mobil. Aku memarkirkan motor ku seperti biasa, kemudian aku masuk kedalam rumah. Didalam rumah sudah ada tamu seorang pria tua dengan setelan jas nya yang rapih sedang mengobrol dengan Ayah.


 Setelah itu aku salim kepada Ayah dan tamu itu dan kemudian aku menuju dapur untuk menemui ibu, saat ku hampiri ternyata bukanlah Ibu, ternyata GIta yang datang ke rumah. Terkejut aku dengan kedatangan Gita di rumah, aku dan Gita saling menatap pandangan dengan raut muka yang keheranan. Maka terjadi lah percakapan yang sangat memalukan ini.


"Eeh Rama kenapa ada di..."


"Lah aku yang sebalik nya nanya..."


"Hey kalian berdua kenapa itu?"


"Tak usah hiraukan kawan, kalian berdua kemari lah."


 Setelah itu Ayah mengenalkan aku kepada Gita dan Ayah nya, yang ternyata dia adalah sahabat ayah dari jaman SMA sekarang ayah sudah mulai tidak berkomunikasi dengan nya. Sampai hari ini Ayah Gita bertemu Ayah kemarin di  bengkel yang ayah kerja di situ.


"Nak ini temen Ayah dan ini Putri nya..."


"Kami kebetulan sekelas Pah..." Kata Gita kepada Ayah nya.


"Aku tak tahu anak mu juga bersekolah di sana kawan." Kata Ayah Gita kepada ayah.


"Ntah lah dia yang ingin, karena banyak teman nya yang disana juga."


"Anu maaf boleh aku ganti baju dulu?"


"Iya nak..."


 Setelah itu aku bergegas ke kamar ku untuk berganti pakaian, di dalam kamar aku sangat lah takut bahwa ayah akan menyadari bahwa Gita ynag ku beri tahu 5 hari yang lalu adalah Gita putri sahabat nya. Aku terus berpikir seperti itu sampai pintu ku di ketuk seseorang, ku buka pintu kamar ku. Terlihat di depan Gita sudah berdiri membawa piring berisi makanan, seperti nya itu masakan yang ia masak bersama ibu.


"Ram Aku bikin makanan bareng sama mamah kamu nih, ayo kita cobain..."


"Eh kamu seriusan?"


"Aku masuk ke kamar kamu ya."


"Tunggu sebentar aku bersihin kamar ku."


Membersihkan...


"Gita ayo masuk, aku udah beresin."


"Lama banget, makanan nya udah mulai dingin nih..."


"Maaf..."


 Kemudian Gita masuk ke kamar ku, ini baru pertama kali nya ada wanita yang masuk ke kamar ku. Ada perasaan aneh saat kau bersama Gita di dalam kamar ku ini, sesuatu yang mungkin bisa di sebut perasaan ambigu.


"Aku buka jendela gak apa apa kan Git?"


"Boleh..."


"Kok kamu dari kapan disini Git?"


"Sebenernya Papah yang jemput aku bukan pak sopir biasa aku, sebenernya aku udah pernah bilang ama papah kalau aku mau bisa masak. Kata papah, mamah kamu tuh dulu nya chef jadi papah kesini sekalian reuni ama Ayah kamu."


"Aku gak pernah tau kalau ibu itu chef."


"Eh kamu gak tau? tapi ibu kamu jago banget dalam memilih bumbu loh..."


"Aku gak pernah nge bantuin sih."


 Aku dan Gita makan bersama masakan yang ia buat bersama ibu, masakan yang ia buat sangat lah wangi apa mungkin ini resep ibu yang tidak ia buat di hari-hari biasa. Gita menawarkan aku untuk saling suap-suapan, aku terkejut dengan perkataan yang dia ucap kan. Karena memaksa akhir nya terjadi lah adegan suap-suapan antara Aku dan Gita.


"Anu Ram, aku punya permintaan boleh gak..."


"Apaa...?"


"Kamu mau gak aku suapin..."


"Eh..."


"Mau gak nanti kamu juga suapin aku juga..."


"Kalau kamu yang maksa yaudah aku cuma bisa apa..."


"Ok tapi kamu tutup mata kamu ya."


"Oke sekarang buka mulut..."


Membuka mulut...


"Siap ya, nih..."


 Disaat makanan sudah ada di depan mulut ku, datang ibu membawa air minum untuk kami berdua. Terkejut Gita dengan kedatangan Ibu, ibu dengan keisengan nya ia mengambil sendok di tangan Gita.


"Gita kamu lama banget."


"Ini aku masukin ya..."


Memasukan Makanan...


"Gita pelan-pelan dong masukin nya."


Aku membuka mata...


"Eh bisa-bisa nya mesra-mesraan di kamar ya..."


"Ndak bu, Gita yang mau..."


"Gak mungkin."


"Yaudah nih ibu bawa minum, jangan sampe berbuat hal senonoh ya."


"Gak bakal lah."


 Setelah itu Ibu pergi ke bawah, disini aku kembali berdua bersama GIta. Aku tak tahu harus apa setelah ibu mempergoki Gita yang sedang ingin menyuapi ku. Kami memutuskan untuk menghabiskan makanan, setelah itu kami berdua turun untuk membawa piring nya kedapur.


"Kalian udah selesai?"


"Iya bu..."


"Yaudah taro di wastafel."


 Setelah itu Gita di panggil oleh papah nya, bersama dengan Gita, papah nya juga memanggil ku untuk menghadap kepada dia. Kemudian kami berdua segera menemui kedua sosok ayah itu.


"Gimana udah rasain masakan Gita?"


"Iya om."


"Gini nak Rama, kamu mau magang gak di tempat om."


"Magang? Boleh aja sih, tapi ada ini nya gak..." Aku mengisyaratkan apakah akan mendapatkan uang.


"Kau memang seperti bapak mu, tentu ada gimana kamu mau atau tidak?"


"Boleh aja tapi setiap weekend?"


"Ya, tempat nya kamu akan menjadi asisten pribadi."


"Oke..."


"Gimana kawan boleh nak Rama ini bekerja untuk ku?"


"Boleh saja tapi tolong jaga dia ya."