Keep Silent And You Got It

Keep Silent And You Got It
Part 5 - Secangkir Kopi Hitam



Perjalanan Yang Tak Terduga


 Kami berangkat di pagi buta dengan persediaan tak terhingga. Aku dan rombongan dari istana ku dengan cepat sampai ke negeri utara, tak tahu dengan apa dan bagaimana rombongan ku bisa sampai dengan sekejap dan tanpa rintangan apa pun. Terlihat jelas bahwa didepan ada sebuah gerbang, kemungkinan itu adalah gerbang negeri utara. Karena para prajurit nya mengenakan pakaian yang serupa dengan pakaian prajurit saat malam pesta.


 Kami langsung disambut para prajurit, saat tiba didepan gerbang kerajaan Utara. Panglima kami turun dan menunjukan ijin menemui raja utara, setelah mendapatkan ijin dari penjaga kami memasuki wilayah kerajaan utara yang terkenal dengan pusat perdagangan seluruh benua. Perekonomian kerajaan utara bisa dibilang yang paling stabil bahkan mungkin terus naik.


 Menjadi kerajaan yang memiliki perekonomian yang stabil bukan lah hal yang kecil, itu adalah prestasi bagi pemimpin kerajaan. Karena Kerajaan utara memiliki tanah yang subur, punya tambang emas, memiliki sumber daya tak terbatas dan lainnya. Kerajaan ini bukan hanya memiliki perekonomian yang stabil, dari segi pertahanan dan keamanan, kerajaan utara juga peringkat atas dalam memproduksi para kesatria dan petualang yang terkenal.


 Bukan hanya itu, dalam bidang persenjataan kerajaan utara adalah yang terbaik dalam membuat senjata. Mereka dikenal sebagai Negeri seribu pedang, sangking hebat nya kerajaan ini, mereka menjadi salah satu kerajaan yang memberhentikan peperangan yang sudah berlangsung berabad-abad. Kerajaan kami dapat berbangga karena dapat berkerja sama dengan kerajaan utara.


 Hebat nya Ayah ku tak hanya mengenalnya, bahkan Ayah ku adalah sahabat dari Raja utara. Mereka berdua seperti saudara kandung, Ayah ku berperan sebagai seorang kakak dan Raja Utara berperan seperti seorang adik.


 Konon katanya kehebatan mereka berdua jika di gabungkan bisa meratakan di satu kota dalam satu malam. Didalam kota kami di sambut dengan rakyat negeri Utara yang ramah dan juga cantik. Wanita negeri utara memiliki kulit putih bersih dan terlihat menawan, Pria di negeri ini juga memiliki postur tegap dan juga berotot. Rambut mereka memiliki warna coklat kemerahan.


 Setelah melewati Kota, kami memasuki gerbang istana negeri utara. Gerbang di negeri ini besar sekali, aku sampai terpukau dengan keindahan dan kemegahan gerbang negeri ini. Saat kami memasuki gerbang negeri utara, Aku dibuat terpukau lagi oleh istana negeri utara yang sangat megah dan indah. Istana itu terlihat seperti perhiasan terbesar Dimata ku, saat aku melihat ke jendela Olivia menegur ku untuk menjaga sikap nya.


"Kenapa kau seperti itu pemuda, jaga sikap mu dan selesai kan urusan kita di sini."


"Baiklah..."


Setelah itu kami disambut oleh pelayan istana yang sudah berbaris cantik di depan pintu istana. Pelayan kami membuka pintu kereta kuda kami, selain membuka kan pintu ia juga memberikan sesuatu pada ku.


"Tuan muda, Raja sudah memasuki istana sebaiknya kau membawa ini untuk berjaga-jaga."


"Untuk ini pelayan?" Tanya ku keheranan.


"Ini adalah batang dari bunga mawar dan ini adalah bunga mawar yang utuh." Ia memberikan ku mawar.


"Kenapa kau memberikan batang mawar berduri ini?"


"Sudah tidak usah banyak bicara, Raja pasti sudah menunggu."


 Aku dan Olivia menyusul ayah ke dalam, didalam kantung ku sudah penuh dengan benda. satu adalah surat yang di berikan ibu dan satu nya batang bunga mawar. Bunga mawar sudah ku pasang di saku baju agar menambah kesan elegan.


Disambut baik


Aku dan Olivia terkejut dan terkagum-kagum dengan interior istana. Didalam aku tidak bisa berkata apa-apa, pelayanan yang ramah dan cantik membuat Aku dan Olivia terdiam. Aku dan Olivia di persilahkan untuk duduk di aula perjamuan. Setelah itu Ayah dan Raja Utara datang dari pintu bersama Putri Utara dan Ratu.


Putri Utara melihat ke arah ku, sontak saja aku memalingkan wajahku. Wajah ku memerah, menahan rasa malu melihat wajah Putri Utara. Saat aku melihat lagi, wajah Putri Utara memerah dan menggenggam erat tangan ibunya sambil tersipu malu.


Ayah ku duduk dan diikuti dengan para menteri kerajaan kami. Aku dan Putri Utara duduk saling bertatapan, itu membuat suasana canggung antara Aku dan Putri. Olivia yang bertanya pada ku.


"Apakah suasana ini membuat mu panas wahai pemuda?"


"Panas?? apa yang panas??"


"Jangan pura-pura tidak tahu..."


"Benar ini sedikit panas..."


 Ayah memulai pembicaraan dengan perbincangan di bidang ekonomi dan juga pertambangan. Disaat ayah  berbincang tentang hal itu, Olivia masih saja menggoda ku membuat ku tak tahan. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari udara segar, untuk menenangkan pikiran ku.


"Maaf Ayahanda apakah boleh aku mencari udara segar diluar?" Tanya ku kepada Ayah.


"Ada apa dengan mu?"


"Sudah lah kawan mungkin gejolak muda nya sedang membara." Jawab Raja Utara kepada Ayahanda.


Setelah mendapat izin, Aku di tuntun oleh pelayan ke taman istana.


"Nak kau segeralah susul pangeran, temani dia." Perintah Raja Utara kepada Putri Utara.


"Baik... Ayahanda..."


Setelah itu Putri Utara segera menyusul keberadaan ku.


Di Taman


Setelah aku keluar dari ruang perjamuan, aku dipersilahkan untuk menikmati Taman yang indah, taman yang dihiasi kolam-kolam dan tanaman yang wangi semerbak.


Berada di taman ini mungkin merupakan sesuatu yang spesial bagi ku. Aku mengelilingi Taman ini dan berteduh di sebuah pohon, tiba-tiba Putri Utara menghampiriku sedang berteduh.


"Hey... Apakah kau menikmati taman ini?"


"Yah seperti nya begitu..."


Seketika suasana menjadi damai dan hening, angin lembut menghembus menjadikan suasana yang sangat nyaman. Putri Utara duduk di samping ku.


"Tau apa?"


"Kau adalah satu-satunya pria yang membuat ku merasa tenang."


"Benarkah...? Kalau begitu terimakasih."


"Tidak itu seharusnya aku yang berterimakasih kepada mu."


"Tapi kenapa?"


"Kau adalah orang yang aku cari selama ini."


"Kalau begitu mungkin aku adalah orang yang paling beruntung."


"Kau adalah orang yang sangat beruntung karena hati ku ini, sudah terikat oleh cinta."


Tiba-tiba wajah ku memerah tanpa sebab.


Apakah mungkin sebab perkataan nya itu?


"Anu aku ada surat dari Ibunda ku, tolong berikan pada Ibunda mu."


"Baiklah.. Sebelum aku memberikan ini bagaimana kita berkeliling kota?"


"Apakah boleh?"


"Tentu saja, ayo cepat kita menyelinap keluar melewati jalan rahasia."


"Oke aku akan mengikuti mu."


 Setelah itu ia menarik tangan ku, Ia membawa ku ke sebuah jalan rahasia untuk menyelinap keluar. Kami berhasil keluar, tapi aku masih ragu apakah kita boleh keluar istana tanpa penjaga. Seperti nya Putri Utara sudah sering melakukan nya, Aku hanya bisa mengikuti nya.


"Kau ingin membawa ku kemana?"


"Aku akan mengenalkan mu minuman kesukaan ku yang tidak bisa kau nikmati didalam istana."


 Setelah ia mengatakan itu, ia menuntun ku ke arah kedai yang ramai dengan para pedagang dan juga buruh. Di kedai ini semua orang menatap kami, Putri Utara memesan dua minuman yang ia katakan sebelum nya. Setelah semua memberikan tatapan mereka kepada kami, mereka mendekat kepada putri utara.


"Putri kau kembali membawa seorang pria?"


"Apakah ia kekasih mu?"


"Apakah ia adalah pria yang mengajak mu menari?"


 Kata-kata itu terus di ucapkan, sampai akhirnya setelah membayar kami keluar dari kerumunan itu. Setelah itu kami kembali menuju istana.


"Apakah kau mengenal mereka Putri?"


"Ya begitulah... tunggu kenapa kau memanggil ku putri, panggil saja Rosella mengerti...!"


"Apakah kau tidak suka di sebut putri?"


"Tidak aku hanya ingin lebih akrab denganmu."


 Setelah memasuki kembali istana, Putri utara lagi-lagi mengajak ku ke sebuah tempat. Kali ini ia membawa ku ke atas pagar istana yang tinggi. Di atas sini ada sebuah ruangan penjaga yang sedang tidak dipakai. Menurut ku ini bukan seperti ruangan melainkan lebih seperti balkon. Beruntung nya masih ada kursi yang belum di pindahkan oleh penjaga. Setelah itu kami duduk, lalu menikmati minuman tadi dengan melihat pemandangan kota dari atas.


"Disini adalah tempat ku untuk bersantai dan merenung." Kata Putri utara.


"Begitu kah? Aku berpikir bahwa menjadi seorang putri lebih mudah."


"Tidak. tidak seperti pikiran mu itu, sepertinya benar perkataan dari kakak perempuan ku."


"Apa yang ia katakan?"


"Bahwa semua pria memiliki pikiran yang sama."


"Maaf kan aku..."


"Tidak apa mari kita nikmati minuman ini selagi hangat."


 Sebelum aku meminum seteguk, Aku melihat kedalam cangkir. Sepertinya warna minuman ini terasa familiar dan setelah ku teguk rasa minuman ini juga sangat lah familiar di lidah ku. Ternyata benar, ini adalah kopi hitam yang ada seperti dunia nyata. Setelah meminum seteguk, suara keras kembali hadir akhirnya ini saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal.


"Rosella, terima kasih Aku senang bertemu dengan mu.."