
Hari itu hujan tak henti-hentinya turun dan membasahi bumi, bahkan sampai matahari tenggelam.
Enji terpaksa harus pulang dengan kondisi hujan yang masih lebat, karena hari pun sudah malam dan ia juga harus menyiapkan beberapa berkas untuk meeting besok bersama Kai.
" Hati-hati Enji. " ucap Nyonya Dita dan Tuan Adiwijaya.
" Jangan mengebut!. " ucap Kai
" Iya, saya permisi dulu Tuan, Nyonya. " ucap Enji membungkuk dan tersenyum.
Enji lalu keluar di antar oleh Kai sampai depan pintu.
" Aku pulang Tuan Kai. " ucap Enji membungkuk.
" Hemm, Hati-hati, pelan-pelan saja jangan mengebut, hujannya masih cukup deras. " ucap Kai mengingatkan.
Enji mengangguk dan ia pun langsung pamit menuju mobilnya yang ada di garasi Kai.
Enji sampai ke apartemennya selama dua jam, sebenarnya jika sedang tidak hujan, ia akan sampai dalam waktu satu jam saja.
**
Sesampainya di apartemen, Enji langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkiran khusus yang di sediakan di sana.
Lalu Enji mulai naik ke lantai atas dimana apartemennya berada.
Sesampainya di atas ia langsung masuk, dan kembali mengunci pintunya.
" Ahhh,,, aku sangat lelah. " ucapnya yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di sana.
Enji memejamkan matanya sebentar lalu ia kembali terbangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan badan, Enji mengganti pakaiannya dengan kaos pendek serta celana pendek berwarna merah muda.
" Sekarang tinggal mengurus berkas nya saja. " ucapnya yang berjalan ke meja kerjanya.
Enji memisahkan berkas-berkas yang ada di tempat kerjanya sambil membaca setiap berkas yang ia pegang dengan serius.
" Proyek seperti ini, apa Tuan Kai mau menandatanganinya?. " pikirnya.
Setelah selesai menyiapkan berkas untuk meeting besok, Enji langsung pergi ke kamar dan merebahkan tubuhnya.
" Haahhh,,, Selamat malam Enji. "
Dan tak lama iapun langsung tertidur dengan nyenyak.
***
Sementara itu, Kai sedang duduk di sofa yang berada di balkon kamarnya, ia sedang melamun ditemani air hujan yang terus turun tak henti-hentinya.
Kai masih memikirkan ucapan Enji sore tadi, ia kini sedang bimbang dengan isi hatinya.
Apa aku terlalu berlebihan ya?.
" Kai?. "
Tiba-tiba seseorang orang masuk ke dalam kamarnya.
" Mamah. " ucap Kai yang melihat ibunya masuk.
Nyonya Dita tersenyum sambil menghampiri ke balkon tempat Kai duduk.
" Mama cari ternyata kau disini. " ucapnya.
Kai mengangguk dengan tersenyum tipis lalu ia kembali memandangi air hujan yang mulai mereda.
" Di luar dingin, nanti kau bisa masuk angin, di dalam saja ya. " bujuknya pada Kai.
Kai mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya, mereka duduk di sofa tempat tidur Kai.
" Ada apa?. " tanya Nyonya Dita karena ia melihat Kai malam itu banyak melamun tak seperti biasanya.
" Tidak apa-apa. " jawab Kai tersenyum.
Nyonya Dita ikut tersenyum menatap Kai, ia mengelus pundak Kai lembut.
" Jangan memendam sendirian, itu hanya akan membuatmu sakit dan terus kepikiran. " ucap Nyonya Dita tersenyum manis.
Kai melirik ibunya dengan wajah datar, dan Nyonya Dita hanya tersenyum.
" Ceritakan saja jika ingin bercerita, aku ini ibumu, tempat mu pulang dan mengadu. "
Kai hanya tersenyum lalu tiba-tiba ia langsung memeluk ibunya dengan erat.
" Terimakasih telah mengkhawatirkan ku, tapi aku tidak papa, aku hanya ingin beristirahat, besok ada meeting di perusahaan. " ucap Kai dalam pelukan ibunya.
Nyonya Dita hanya tersenyum di balik punggung Kai, ia tau sebenarnya ada sesuatu pada anaknya itu, tapi ia tak mau memaksakan jika Kai tak mau menceritakannya.
" Baiklah, kau istirahat saja, jaga kesehatan ya, kau cepat tidur, selamat malam. " ucapnya dengan tersenyum mengelus pundak Kai.
Tak lama Kai juga memejamkan matanya dan tertidur dengan nyenyak.
Busan, Korea Selatan.
Sepulangnya dari Indonesia, Lisa terlihat banyak melamun, tak seperti biasanya, ia seperti kehilangan semangat hidup.
Tuan Han dan Nyonya Eden yang menyadari perubahan sikap anaknya pun ikut cemas, ia bingung harus bagaimana caranya mengembalikan keceriaan Lisa.
Tiba-tiba, Nyonya Eden mengucapkan sesuatu yang Tuan Han tak pernah terpikirkan.
" Bujuk Kai untuk datang kemari!. " ucapnya dengan nada bergetar.
" Aku sudah kehabisan akal untuk mengembalikan sikap Lisa. " mulai meneteskan air matanya.
Tuan Han hanya terdiam mendengar permintaan istrinya yang menurutnya sedikit susah itu.
Tapi ia tak tinggal diam, ia bergegas mengambil handphone nya dan mengetik nama seseorang yang akan di hubungi nya itu.
" Hallo?. "
" Hallo, who is this? . "
" It's me Mr Lee Han Yumame. "
" Ohh!!!, Tuan Han, ada apa?, kenapa kau bisa mempunyai nomor telepon ku? ." pekik Enji terkejut dari balik telepon nya.
" Ya, Adi yang memberikan nomor telepon mu. " ujarnya.
" Ya, ya,, tapi ada apa Tuan?, kenapa kau menghubungiku di malam yang sudah sangat larut begini? ." tanya Enji yang kembali segar dari tidurnya karena ia terkejut tiba-tiba saja Tuan Han menelponnya.
" Maaf jika aku mengganggu tidurmu Enji, tapi aku sudah kehabisan akal pada siapa lagi aku harus meminta tolong. " ucapnya dengan nada sedikit cemas.
" Sebenarnya ada apa?, kalian baik-baik saja kan?. " ucap Enji yang ikut panik.
" Lisa.. " ucapnya terhenti.
" Ada apa dengan Nona Lisa?. " tanya Enji yang terdengar cemas dari balik telepon.
" Sikapnya berubah drastis ketika kami pulang dari Indonesia waktu itu. "
" Ia menjadi pendiam dan tak seceria biasanya, sekarang dia lebih sering menghabiskan waktunya di kamar, dan ia jarang sekali bicara pada penghuni rumah, bahkan padaku dan ibunya, dia tak seperti dulu, sikapnya sangat berubah drastis Enji, dan itu membuat ibunya terus-terusan kepikiran, istriku juga saat ini sangat down,karena melihat sikap Lisa yang seperti itu setiap hari. " ucapnya menceritakan perubahan Lisa pada Enji.
" APA!!!!, benarkah?!!, aku sungguh tidak tau jika keadaannya seburuk itu. " ucap Enji yang terkejut mendengar cerita dari Tuan Han.
" Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu Tuan Han?. " ujarnya.
Tapi tak ada jawaban dari Tuan Han, sampai tiba-tiba..
" Enji, apakah kau bisa membujuk Kai agar ia bisa datang ke sini?. " tanyanya hati-hati.
Enji terkejut mendengar permintaan dari Tuan Han tersebut, ia tak menduga jika Tuan Han meminta tolong agar ia bisa membujuk Kai datang ke Korea.
" Enji... " panggil Tuan Han karena ia tak mendengar jawaban darinya.
" I,,iya Tuan?. " sahut Enji tergagap.
" Bagaimana?, apa kau bisa membantuku?. " tanyanya lagi.
" Ahh,, tapi aku harus membicarakan ini dulu pada Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita, dan tentu saja saja pada Tuan Muda Kai, karena ia yang akan di libatkan dalam masalah ini!. " jawabnya sedikit bingung.
" Ya,, tentu saja, aku juga akan bicarakan ini pada Adi dan dan Nyonya Dita besok pagi, semoga saja mereka mengijinkan Kai untuk datang kemari, begitu juga dengan Kai semoga saja ia mau membantuku kali ini. " ucapnya terdengar putus asa.
" Jangan khawatir Tuan, aku pastikan Tuan Kai akan datang kesana dan semoga saja itu membuat Nona Lisa sedikit senang dan bisa mengubah sikapnya saat ini. " ucap Enji menyemangati nya.
Tuan Han mengangguk dan sangat berharap pada Enji agar ia bisa membantunya membujuk Kai datang ke Korea.
" Baiklah, terimakasih sekertaris Enji, kau sudah mau membantuku, aku sangat berharap padamu, kabari aku jika kau sudah bicara pada Kai ya. Kau kembalilah tidur, maaf mengganggu waktu istirahat mu, selamat malam. " ucapnya langsung mematikan sambungan telepon dengan Enji.
Tuan Han sedikit lega karena ia sudah bicara pada sekertaris kepercayaan Kai itu, dan ia sangat berharap jika Enji bisa membantunya membawakan Kai untuk membuat Lisa senang.
Tuan Han lalu memberitahu istrinya jika ia sudah menghubungi Enji untuk membantunya dalam masalah kali ini, dan tentu saja Nyonya Eden terlihat sedikit tenang mendengar kabar dari suaminya itu, setidaknya ada sedikit harapan untuk mengembalikan sikap putri semata wayang mereka.
Sementara itu, Enji yang masih terkejut mendengar kabar dari Tuan Han tak melanjutkan tidurnya, ia kembali segar dan melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
" Hah!!!, jam dua malam???!!!, astaga Tuan Han, kau keterlaluan sekali. " ucapnya dengan wajah polos menganga lebar.
" Huuffttt,,, Nona Lisa, kau kenapa seperti ini?. " ucapnya melamun dengan tatapan kosong.
Enji yang merasa masih ada sedikit waktu untuk tidur pun melanjutkan tidurnya karena ia juga masih mengantuk.
Enji berniat menceritakan semuanya besok pada Kai, karena Tuan Han bilang ia yang akan langsung bicara pada Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita.
_ _ _ _ _ _ _ _
LIKE KOMEN VOTE 😍💜