KAI ALANDY MAHESWARA

KAI ALANDY MAHESWARA
GELII



Sudah sehari penuh mereka habiskan untuk fitting baju, Kai dan rombongan pun pamit pada Beny dan seluruh teamnya untuk pulang.


" Terimakasih Tuan Beny, semoga sampai hari pernikahan Tuan dan Nona muda kami, semuanya berjalan dengan semestinya. " ucap Enji sambil menjaba tangannya.


" Tentu saja, serahkan semuanya padaku dan teamku, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasangan ini. " ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya manja.


Enji pun dengan segera melepaskan jabatan tangannya dengan Beny, ia merasa takut seketika.


Beny pun tersenyum manis, ia suka sekali menggoda sekertaris muda dan tampan itu.


" Terimakasih Mr. Beny, aku percayakan semuanya padamu. " ucap Lisa menggunakan bahasa Inggris.


" Of course sweet, percayakan padaku. " jawabnya sambil menggenggam tangan Lisa. Lisa pun mengangguk dan tersenyum.


" Dan... ?. " ucap Beny menatap lelaki yang sedari tadi diam saja. Lelaki itu paham jika ia belum mengatakan apapun dan ia mulai membuka mulutnya.


" Jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun, ingat itu!. " ucap Kai tegas.


Beny tertawa melihat muka Kai yang menurutnya sangat menggemaskan itu, walau menurutnya Kai sangat dingin dan cuek, meski sama-sama lelaki tak bisa dipungkiri jika Beny pun mengagumi ketampanan Kai, ia pun mengangguk dan mengantarkan kepergian para tamunya sampai di depan lift.


" Sampai bertemu seminggu lagi Tuan Beny. " teriak Lisa sambil melambaikan tangannya ketika pintu lift mulai tertutup.


" Tentu cantik. " jawabnya sambil ikut melambaikan tangannya.


" Cihh.. " decak Kai.


" Lelaki itu!, genit sekali, dia lelaki atau perempuan?, sikapnya persis sekali, malah melebihi wanita pada umumnya. " ucap Kai dengan wajah sebal, ia sengaja menggunakan bahasa Indonesia agar Lisa tak mengetahui apa yang di ucapkan nya.


" Apa kau cemburu?. " tanya Enji menggoda.


" Apa kau ingin mati?. " jawabnya sambil menatapnya tajam, sontak saja Enji yang sedang menggoda Kai dengan senyum tengilnya pun hilang seketika, wajahnya berubah panik ketika Kai mengucapkan kata-kata itu.


Lisa hanya diam saja menyimak apa yang mereka ucapkan, tapi dari raut wajah yang di tunjukkan oleh mereka, sepertinya Lisa tau apa yang mereka obrolkan barusan. Ia pun tersenyum tipis.


Di perjalanan, Lisa terlihat bahagia sekali ketika melihat keramaian kota London di malam hari.


Ia sengaja membuka jendela mobilnya dan mengeluarkan kepalanya agar ia bisa merasakan semilir angin malam London menerpa wajahnya.


Kai hanya diam saja melihat kelakuan calon istrinya itu, Enji yang melihat kegiatan yang dilakukan oleh Lisa pun sengaja menurunkan kecepatan mobilnya, agar Lisa bisa menikmati kebahagiaannya lebih lama.


" Tutup jendelanya!. " ucap Kai melirik Lisa. Lisa pun melirik nya.


" Aku bilang tutup jendelanya! kau tuli ya?!. " ucap Kai meninggikan intonasinya. Tapi Lisa masih diam tak bersuara.


" Kenapa kau diam saja?. " ucap Kai yang mulai kesal padanya, karena Lisa hanya diam saja dengan wajah bingung menatapnya.


" Aishh!, kau ini benar-benar!!, aku bilang tut...


" Tuan.. " panggil Enji memotong ucapannya.


" Nona Lisa kan tidak mengerti bahasa Indonesia. " ucap Enji melirik nya lewat kaca spion dalam mobil.


Sontak saja Kai yang baru menyadarinya pun langsung melirik Lisa, dan menghelai nafasnya, sedangkan Enji, ia menahan dengan kuat suara tawanya yang hampir meledak.


" Apa aku melakukan kesalahan?. " tanya Lisa menggunakan bahasa Inggris dengan wajah polos menatapnya.


Kai pun menatapnya dengan hati yang mengutuki kebodohannya.


Mereka pun berbicara dengan bahasa Inggris.


Lisa terkejut dengan apa yang di lakukan oleh calon suaminya itu. Ia terpaku seketika.


Wajah mereka kini hanya beberapa senti saja, Lisa bahkan bisa merasakan hembusan nafas Kai yang begitu hangat, bahkan meski sudah menjelang malam, rambut dan tubuh Kai tetap wangi segar.


" Jangan menatapku seperti itu. " ucap Kai yang menyadari jika ia jadi objek penglihatan mata Lisa.


Sontak Lisa tersentak seketika, ia buru-buru mengalihkan pandangannya karena takut Kai melihat pipinya yang sudah memerah.


Tapi sepertinya sudah terlambat, Kai yang diam-diam menghanyutkan itu sudah menyadari perubahan wajah Lisa, tapi seperti biasa, ia pura-pura tak melihat dan tak peduli seperti biasanya.


*


Sesampainya di hotel, jam menunjukkan pukul 23:04 waktu London, kedua orang tua Kai dan Lisa pun sudah mengistirahatkan tubuh mereka di kamarnya masing-masing.


Kai hanya di sambut oleh para pelayan hotel dan manager Earth yang masih menunggu kedatangannya, karena mereka memang bertugas untuk melayani tamu satu-satunya itu.


Mereka pun berbicara bahasa Inggris.


" Tuan, apa kalian sudah makan?, jika belum kami akan segera menyiapkannya. " ucap Manager Earth sopan.


" Aku tidak lapar, aku lelah dan ingin beristirahat. " ucap Kai seraya pergi meninggalkan semua orang, dengan sigap Enji pun mengantarkannya ke kamarnya yang berada di lantai paling atas.


Lisa masih diam di tempat sambil meratapi kepergian Kai.


" Nona. " ucap Manager Earth yang melihat Lisa masih memandang pintu lift yang sudah tertutup.


" Aku lapar, bisakah kalian memasakkan sesuatu yang enak untukku?. " ucapnya dengan wajah memelas tapi malah terlihat lucu dan menggemaskan bagi orang-orang yang ada di hadapannya.


Manager Earth pun mengangguk dan mengantarkan Lisa ke ruang makan VIP yang berada di lantai bawah.


" Nona mau makan apa?. " tanyanya.


" Terserah, apa saja, yang penting enak. " jawabnya tersenyum manis.


Lalu Manager Earth pun memberikan kode pada dua pelayan itu, mereka pun mengangguk lalu segera pergi menyiapkan hidangan untuk Lisa.


Lisa yang merasa manager Earth hendak menemaninya makan pun angkat bicara, karena ia melihat wajah sang manager seperti seseorang yang sangat kelelahan.


" Tuan Earth, kau tidur saja, ini sudah sangat larut malam, kau harus mengistirahatkan tubuhmu, aku tau kau pasti sangat lelah kan?. " ucapnya menggunakan bahasa Inggris.


Manager Earth pun tersenyum manis.


" Tak apa Nona, aku akan menemani mu di sini sampai kau selesai makan, tugasku memastikan kalian untuk tinggal senyaman mungkin di hotel ini. " ucapnya tersenyum manis sambil duduk di depan Lisa.


" Ku rasa kau keliru, justru itu, kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri Tuan Earth, mana bisa kau melayani kami dengan baik jika nanti kau sakit?, setidaknya tidur dan makan yang cukup, kau juga harus bisa mengimbangi kami, bahkan kau harus lebih unggul dari kami, aishhh,,, kau membuat ku merasa kami ini seperti beban untukmu, perhatikan dirimu sendiri sebelum kau memperhatikan orang lain, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan nantinya. " ucap Lisa panjang lebar, ia sengaja berbicara seperti itu agar Manager itu sadar, jika ia bekerja sangat keras, malah melebihi keras.


" Begitu ya.. " ucapnya tersenyum menatap Lisa.


" Kau wanita yang cantik luar dan dalam Nona Lisa, Tuan Kai sangat beruntung memiliki mu. " tersenyum dengan tatapan teduh penuh kekaguman.


" Baiklah, aku akan lebih memperhatikan diriku sendiri, tapi tetap, kalian tetap prioritas utama ku selama kalian disini, aku diberikan tanggung jawab penuh oleh Tuan Al, jadi aku tidak mau membuatnya kecewa. " ucapnya menatap Lisa. Lisa hanya mengangguk.


" Pergilah tidur, istirahatkan tubuhmu, aku tidak akan mengadu pada Tuan Al hanya karena kau tak menemani ku makan malam, lagi pula, siapa yang akan makan malam saat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. " ucapnya sambil tertawa mentertawakan dirinya.


Manager Earth pun ikut tertawa, ada benarnya juga, begitu pikirnya.


" Selamat malam Nona Lisa, dan selamat makan. " ucapnya tersenyum sambil membungkukkan badannya. Lisa hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu Manager Earth pun pamit untuk tidur.