
" Hallo William. "
Ucap seorang lelaki dalam telepon yang di genggam oleh orang-orang yang membawa William.
William terdiam seketika jantungnya berdegup kencang, ketakutan mulai menyelimutinya.
" SIAPA KAU?!!! LEPASKAN AKU B*****EK!!!. " teriaknya yang mencoba melepaskan ikatan tali di tubuhnya.
" Ush, ush, ush,, jangan takut William. " jawab lelaki itu dari balik telepon.
" LEPASKAN AKU!! AKU AKAN MEMBERIKANMU UANG!! BERAPAPUN YANG KAU MINTA!! AKU PASTI AKAN MEMBERIKANNYA!! TAPI TOLONG LEPASKAN AKU!!. "
" Hahaha.. " tawanya dari balik telepon.
" Kenapa kau tertawa? aku bersungguh-sungguh! aku tau jika kalian mengenalku dan sengaja menculik ku untuk meminta uang tebusan kan? hah,, aku sudah tau akal busuk kalian, dasar pengangguran!. "
DUAKK
BRUAKK!!
" AAGGHHH " rintih William ketika perutnya di tendang kuat sehingga membuatnya terjatuh ke lantai.
" Jaga bicaramu!, aku sama sekali tidak tertarik dengan uang-uang mu Tuan William, aku hanya ingin mengingatkan mu. " ucapnya terdengar serius.
William terdiam, ia semakin takut dan panik, ia tak tau siapa yang sedang berbicara dengannya dan ia juga tak bisa melihat siapa yang membawa dan memukulinya saat ini, ia hanya bisa diam dan mencoba untuk tidak berbuat apa-apa, ia takut jika akan ada hal lain yang terjadi padanya.
" Uhukk!! apa maumu?. " tanyanya sambil menahan sakit di perutnya.
" Mudah saja, tinggalkan Nona Lisa dan jangan pernah kau mengganggunya lagi. " ucapnya tegas.
William terkejut ketika orang itu menyebut nama Lisa.
" Kau mengenalnya??. " tanyanya.
" Maaf tuan William, aku sibuk dan sedang terburu-buru, ingat ucapanku JANGAN PERNAH MENGGANGU NONA LISA, ATAU KITA AKAN BERTEMU LAGI KETIKA AKU MENGAMBIL ALIH PERUSAHAAN MU SATU-SATUNYA YANG BERADA DI LONDON. "
William kembali terkejut ketika mendengar perusahaannya akan terbawa dalam masalah ini.
" APA?!!, HEY!!! JANG..
Tuutt... tuutt...
Belum sempat ia menanyakan maksud dari ucapannya, laki-laki itu sudah memutuskan sambungan teleponnya.
" HAAAGGGHHHH!!!!! DASAR B*****EK!!!. " teriaknya kembali yang makin frustasi ketika perusahaan satu-satunya yang ia miliki di ancam akan di ambil alih olehnya.
*
Tepat jam lima pagi waktu Busan, Korea Selatan.
Devan menjemput Kai dan Enji di hotel tempat penginapan mereka, Devan membawa mobil bersama satu supir yang mengantarnya.
" Selamat pagi Tuan Kai. " sapa Devan ketika ia masuk ke kamar Kai bersama Enji yang menemaninya.
" Kau sudah datang. " ucap Kai yang sedang berdiri di depan kaca sambil menatap ke luar jendela.
Devan mengangguk, Kai berjalan dan duduk di sofa lalu di susul oleh Devan dan Enji.
" Pesawat ku sudah siap?. " tanya Kai.
" Sudah, Pilotmu sudah menunggu dipesawatmu tuan, ia sudah siap untuk membawamu pulang. " jawabnya tenang.
Kai hanya mengangguk tanpa ekspresi, ia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
" Tuan, kau mau kemana?. " tanya Enji yang ikut berdiri.
" Kita terbang sekarang. " jawabnya cuek sambil meneruskan langkah kakinya.
Enji melirik Devan, dan Devan hanya mengangguk lalu ia ikut berdiri dan berjalan menyusul Kai yang sudah keluar, Enji hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, lalu ia juga ikut keluar menyusul Kai dan Devan.
Flashback~~~
Lisa dibawa oleh seseorang yang menggunakan penutup wajah masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam yang di parkirkan tepat di depan restoran tempat Kai dan Lisa makan malam.
" LEPASKAN AKU!!!!. " teriaknya yang mencoba melepaskan diri dari dekapan dua lelaki yang membawanya.
" Kami mohon jangan berteriak Nona, ini demi keamanan dan keselamatan mu. " ucap salah satu lelaki yang memegangi tangannya.
Lisa terdiam, ia merasa jika dua orang yang sedang bersamanya itu tidak memiliki niat jahat kepadanya.
Lisa akhirnya mau masuk ke dalam mobil dan tak berteriak lagi seperti tadi, kini ia mulai sedikit tenang walau ada rasa cemas di dalam hatinya.
Lisa pun di bawa pergi dari restoran itu menggunakan mobil bersama dua orang yang tak di kenalnya.
Ketika mobil itu sudah melaju sedikit jauh dari restoran tadi, tiba-tiba lelaki yang duduk di samping kanan membuka penutup wajahnya, lalu di ikuti oleh satu temannya yang sedang mengemudi.
" Hahh!!, pengap sekali. " ucapnya sambil meletakkan penutup wajahnya, lalu ia melirik ke arah Lisa sambil tersenyum.
" Ah, maaf jika kami membuat mu takut Nona, kami sama sekali tidak berniat jahat kepadamu, kami hanya berusaha melindungi mu saja. " ucapnya terlihat tak enak hati pada Lisa.
Lisa masih terdiam sambil menatapnya tanpa berkedip.
" Ka.. kau siapa?. " tanyanya tiba-tiba tergagap.
" Perkenalkan, saya Ead, dan dia Dion, kami anak buah Tuan Muda Kai, sebenarnya kami diminta untuk mengantarkanmu pulang oleh Tuan Kai. " ucapnya tersenyum dan di angguki oleh Dion yang sedang mengemudi.
Lisa mengerutkan keningnya.
" Kai?. " ucapnya, lalu laki-laki itu mengangguk.
" Iya, Tuan Muda bilang jika kami harus membawamu pulang dari lelaki yang bernama William. " ucapnya jujur.
" Lalu sekarang dimana Kai?. " tanyanya.
" Tuan Devan bilang jika Tuan Muda sudah pulang ke Indonesia. "
Lisa terkejut mendengar cerita dari Ead, nafasnya terasa sesak, dadanya terasa sakit seketika, ia tak pernah membayangkan jika Kai akan meninggalkan nya secepat ini dengan caranya yang seperti itu.
Lisa menangis sejadi-jadinya saat itu juga, ia tak tau harus bagaimana, disaat ia mulai yakin jika Kai perlahan mulai membuka hati untuknya, keadaan malah tak mendukungnya.
Sementara itu di pesawat pribadi Kai.
Kai terlihat puas dengan hasil kerja Devan, ia memuji-muji kerja kerasnya yang telah mengusahakan pembelian pesawat pribadi untuknya.
" Bagus Devan, tidak salah jika Enji mempercayaimu sebagai tangan kanannya. " ucap Kai sambil melihat-lihat seisi pesawat barunya itu.
Devan yang tadinya sangat bangga karena Kai memujinya tiba-tiba terlihat kesal saat ia disebut sebagai tangan kanan Enji oleh tuannya.
Enji yang sedari tadi bermuka datar pun berhasil dibuat tertawa oleh ucapan Kai barusan.
" Jangan tertawa kau!. " ucap Devan memelototinya, sedangkan yang sedang di pelototi tak ambil pusing, ia masih terus tertawa mentertawakan Devan.
Kai mulai memasuki ruang kamar tidurnya yang ada di dalam pesawatnya itu.
Ia mulai duduk dan merebahkan tubuh jenjangnya di atas kasur yang sangat lembut dan empuk itu.
" Kau menyukainya tuan?. " tanya Enji yang tiba-tiba berdiri tepat di pintu kamarnya.
Kai hanya mengangguk sambil memejamkan matanya, ia mulai menikmati kenyamanan yang di sediakan di pesawat barunya.
" Baiklah, kau istirahatlah selama penerbangan nanti. " ucap Enji sambil berjalan meninggalkannya.
" Enji!. " panggil Kai tiba-tiba.
Enji yang hendak pergi pun akhirnya mengurungkan niatnya.
" Iya tuan?. " jawabnya.
" Apa kau sudah menghubungi Tuan Han jika aku pulang sekarang?. " tanyanya ragu-ragu.
" Sudah tuan, aku sudah menghubungi nya sejak tadi malam, aku juga bilang jika kau tak bisa mengantarkan Nona Lisa pulang karena kepulangan kau ke Indonesia sangat mendadak dan menyangkut hal yang sangat penting, aku juga sudah meminta maaf karena kita tak bisa berpamitan dan menemuinya langsung, mereka mengerti dan memaklumi nya tuan. " ucap Enji panjang lebar.
Kai mengangguk.
" Lisa pulang...?. "
" Nona Lisa pulang bersama Ead dan Dion, Devan yang menyuruhnya langsung, Nona Lisa sudah pulang dengan selamat. " ucap Enji memberitahunya.
Kai mengangguk lagi, ia sedikit tenang mendengar kabar itu.
" Soal bocah tengik itu, kau urus dia! aku tak mau mendengarnya lagi!. " ucap Kai dengan nada sedikit kesal.
" Baik tuan. " ucap Enji.
Enji lalu pamit keluar dan menutup pintu kamar Kai.
" Maaf.. " ucap Kai lirih.
Sepeninggalnya dari kamar Kai, Enji duduk di sofa bersama Devan yang sedang mengotak-ngatikan ponselnya.
" Bagaimana?. " tanya Enji melirik nya.
" Beres, dia sudah di beri pelajaran. " ucap Devan tersenyum senang.
Enji mengangguk ia menyenderkan tubuhnya ke sofa empuk sambil menikmati penerbangan pagi itu.
ILUSTRASI WILLIAM
BY PINTEREST