KAI ALANDY MAHESWARA

KAI ALANDY MAHESWARA
MENYADARKAN.*



" APA!!!!. " pekik Kai kaget seketika mendengar ucapan Enji barusan.


Enji ikut tersentak karena Kai, ia sebenarnya tau akan seperti apa ekspresi Kai ketika mendengar kabar ini.


" Kau bilang apa barusan?!!!. " ucapnya lagi menatap Enji tajam.


Enji masih menunduk tak menjawab.


" ENJI!!!. " teriak Kai


" Tuan Han bilang, ia ingin kau terbang ke Korea dan menemui Nona Lisa, itu satu-satunya cara agar Nona Lisa bisa berubah lagi seperti dulu. " ucap Enji yang ikut menatap Kai.


Kai menatapnya tajam.


" Aku tidak mau!!. " ucapnya mengalihkan pandangannya.


" Tapi Tuan..


" AKU BILANG TIDAK MAU YA TIDAK MAU!!!, KAU TULI YA!!. " ucapnya dengan wajah yang sudah memerah melotot tajam pada Enji.


Enji hanya bisa menarik nafas mendengar ucapan Kai barusan, ia sebenarnya ingin sekali menjawab ucapannya, tapi Enji menahan diri karena ia tak mau mendesak ketika tuannya sedang marah, karena itu hanya akan memperparah keadaan.


" Jangan memaksaku Enji!. " ucapnya yang sudah berdiri dan berjalan keluar restoran.


Enji yang melihat Kai sudah keluar pun ikut keluar mengikutinya sampai ke parkiran mobil mereka.


Kai masuk me mobil di susul oleh Enji dan mereka pun meninggalkan restoran itu dengan suasana hati yang sangat kacau.


Kai hanya diam sepanjang perjalanan, ia tak bicara sepatah katapun, dan hanya memandang keluar jendela dari dalam mobilnya.


Suasana hatinya sangat kacau di waktu yang bersamaan, ia terus kepikiran ketika Enji mengatakan jika Nyonya Eden jatuh sakit, tapi di satu sisi ia juga kesal ketika mendengar ia harus terbang ke Korea untuk menemui Lisa dan mencoba menghiburnya atas permintaan Tuan Han.


Kai tak bisa berfikir jernih sekarang ini, ia cukup lelah karena pekerjaan kantor dan kini di tambah permasalahan yang tiba-tiba saja datang kepadanya.


Kai meminta Enji untuk mengantarkannya pulang ke rumah, karena ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sudah mau meledak karena terlalu banyak yang ia pikirkan.


Sesampainya di rumah, Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita sudah menyambut dan menghadang Kai untuk membicarakan permasalahan tentang keluarga Tuan Han.


Enji yang merasakan hal itu pun dengan segera menatap tajam dan menggelengkan kepalanya pada Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita, untung saja mereka berdua melihat gerak-gerik Enji dan mengerti dengan gerakannya itu langsung mengurungkan niatnya.


Kai melewati orang-orang yang menyambutnya begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun, dan itu membuat Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita sangat yakin jika terjadi sesuatu yang membuatnya bersikap seperti itu.


Setelah Kai masuk ke dalam, Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita langsung menatap heran sekertaris anaknya itu.


" Tuan muda sangat marah. " ucapnya terlihat putus asa.


" Kau sudah memberitahunya?. " tanya Tuan Adiwijaya, dan Enji mengangguk membenarkan.


" Lalu apa yang terjadi?. " tanya Nyonya Dita.


" Ya, seperti yang Tuan dan Nyonya lihat, sikapnya langsung berubah seperti itu ketika mendengar beritanya. " ucapnya menghela nafas.


Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita ikut menghela nafas mendengar ucapan Enji barusan, sepertinya mereka harus mencari cara yang lebih lembut untuk membicarakan hal ini lagi pada Kai.


" Kau menginap lah disini Enji. " ucap Tuan Adiwijaya.


" Memangnya kenapa?. " tanyanya heran.


" Bantu kami membujuknya agar ia mau terbang ke Korea. " ucapnya lagi.


Enji lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya ketika ia diminta tolong oleh Tuan besarnya, ia tak bisa menolak, karena ia juga sudah berjanji pada Tuan Han dan Nyonya Eden jika ia akan memastikan Kai terbang ke Korea dan menemui Lisa.


Malam pun tiba, Enji menginap di rumah Tuan Adiwijaya malam itu, ia akan kembali membujuk Kai bersama Tuan dan Nyonya besarnya.


Semua orang berkumpul di ruang keluarga lantai dua, Tuan Adiwijaya, Nyonya Dita, Kai dan Enji duduk bersama, tapi tak ada yang mau memulai pembicaraan malam itu di antara mereka, seketika suasana canggung pun tercipta.


Sampai tiba-tiba..


" Kau harus membantu Tuan Han Kai!. " ucapnya langsung melirik Kai, dan Kai ikut melirik papanya tapi ia masih diam tak bicara apapun.


" Benar nak, kau harus membantunya,, demi Lisa. " imbuh Nyonya Dita.


" Jangan bawa-bawa gadis itu!!!. " pekik Kai dengan nada sedikit tinggi.


" KAI!!!!. "


" APAA!!!!. "


Tiba-tiba suasana di ruangan pun menjadi tegang ketika Kai dan Tuan Adiwijaya saling meninggikan suaranya.


Terlihat mereka saling beradu tatapan tajam tak ada yang mau mengalah diantara mereka.


" KALIAN HANYA MEMIKIRKAN PERASAAN MEREKA SAJA KAN!!!, KALIAN TAK PERNAH MEMIKIRKAN PERASAANKU!!!, KALIAN BAHKAN MENJODOHKAN KU DENGAN GADIS ITU TANPA MEMBERITAHU KU TERLEBIH DAHULU!!. " pekik Kai meninggikan suaranya dengan emosi yang meluap-luap sampai wajahnya memerah.


" AKU BAHKAN TAK DI BERI KESEMPATAN UNTUK MENGATAKAN IYA ATAU TIDAK DENGAN PERJODOHAN KONYOL ITU!!. "


" JANGAN BICARA LAGI!!. "


" KENAPA?!!, ITU MEMANG KENYATAANNYA KAN!!! DASAR EGOIS!!!. "


" KAII!!!!!. "


Tiba-tiba Nyonya Dita tak sadarkan diri setelah ia berteriak di antara pertengkaran Kai dan papanya.


Tuan Adiwijaya, Kai dan Enji yang melihat Nyonya Dita sudah tergeletak di lantai pun langsung berlari tergesa dan buru-buru mengangkatnya menuju ke kamar.


Terlihat wajah panik dari ketiga laki-laki itu, mereka merasa bersalah kepada Nyonya Dita, terutama Kai, ia orang yang paling merasa bersalah karena ia yang menyebabkan mamanya sampai tak sadarkan diri akibat adu mulut dengan papanya.


Enji dengan sigap langsung mengambil ponselnya dan menelepon dokter pribadi keluarga Tuan Adiwijaya agar ia segera kemari dan memeriksakan keadaan Nyonya Dita.


Sementara itu Kai masih duduk di ranjang tepat di samping mamanya, ia memegang erat tangan Nyonya Dita, ia sangat menyesal telah berprilaku seperti tadi.


" Maafkan aku mah. " ucapnya lirih masih menggenggam tangan mamanya dan mengelus rambut Nyonya Dita.


Tuan Adiwijaya hanya melihat Kai, ia juga ikut duduk menemani istrinya di sisi sebelah kanan sedangkan Kai berada di sisi sebelah kiri. Terlihat Tuan Adiwijaya juga sangat mengkhawatirkan keadaan Nyonya Dita.


Tiba-tiba Enji datang bersama dokter pribadi keluarga Adiwijaya, dengan sigap dokter itu langsung menghampiri Nyonya Dita dan segera memeriksanya.


" Bagaimana keadaan mama saya dok?. " tanya Kai.


" Sepertinya Nyonya Dita sangat stress, kondisinya sangat menurun, beliau harus banyak beristirahat dan kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran ya, karena itu akan mengganggu kondisi kesehatannya. " jawab dokter itu yang sudah selesai memeriksa Nyonya Dita.


Kai hanya bisa mengangguk, ia kembali memandangi mamanya dengan perasaan yang sangat bersalah.


Kai kemudian keluar dari kamar mamanya dan pergi ke balkon kamarnya yang berada di lantai atas.


Kai duduk sendirian di sofa yang ada di sana, pikirannya kacau ia tak bisa berfikir jernih setelah pertengkarannya dengan Tuan Adiwijaya, di tambah kini mamanya sedang tak sadarkan diri.


" AARRRGGGHHHH!!!!. " teriaknya yang mengacak-acak rambutnya sendiri.


Kai terlihat berantakan malam itu, ia sangat bingung bagaimana mengatasi permasalahan ini. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka...


" Tuan, boleh aku masuk?. " tanya Enji yang masih berdiri di depan pintu kamar Kai.


" Masuklah. " jawab Kai lesuh.


Enji lalu masuk dan ikut duduk di samping Tuan mudanya untuk menemani Kai disaat perasaan kesal dan bersalah menyelimuti nya.


" Kau baik-baik saja Tuan?. " ucap Enji cemas yang melihat Kai sangat berantakan dengan rambut yang acak-acakan.


Kai tak menjawab, ia kembali memandangi ramainya kota saat malam hari dari atas rumahnya.


Enji hanya menarik nafasnya dalam, ia juga bingung harus bagaimana menyikapi permasalahan yang terus datang dalam keluarga bosnya.


" Aku harus bagaimana Enji?, aku tak bisa berfikir saat ini. " ucapnya dengan tatapan kosong.


" Sepertinya mati lebih menyenangkan bagiku. " ucapnya dengan smrik.


" Tuan!! apa yang kau bicarakan??. " ucapnya menatap tajam Kai.


Kai balik menatap tajam Enji.


" Menurutmu apa?, memangnya kau merasakan apa yang aku rasakan HAH?!!!, kau tidak tau kan bagaimana rasanya!!!. " ucap Kai membentak nya.


Enji hanya menggelengkan kepalanya, ia tak percaya jika Kai sampai mempunyai pikiran seperti itu.


" Tuan!, Ingatlah dan hadapi!!, jika tak dihadapi, kau hanya selalu menjadi anak kecil dengan jiwa yang tak bertumbuh!. " ucap Enji menyadarkannya, ia terpaksa berbicara sedikit kasar pada tuannya agar ia sadar dan bangkit dari keputusasaan nya.


" Apa kau tau bagaimana perasaanku ketika kedua orang tuaku meninggalkan ku untuk selamanya?, apa aku harus menceritakan semuanya agar kau sadar, masih ada orang yang lebih terpuruk dari keadaanmu sekarang?, apa aku harus me..


GREEBB!!.


Belum selesai Enji bicara tiba-tiba Kai langsung menarik Enji dan memeluknya erat.


" Maafkan aku Enji, kau lebih kuat dariku!, maaf telah melibatkan mu dalam permasalahan keluarga ku. " ucapnya yang memeluk Enji dan merasa bersalah padanya karena dengan tak sengaja sikapnya membuat Enji mengingatkannya pada keadaannya dulu ketika di tinggalkan oleh almarhum kedua orang tuanya.


Enji menangis dalam pelukan Kai, ia menangis sejadi-jadinya, ia teringat kenangan nya dulu saat bersama keluarganya.


" Aku tau ini sangat berat bagimu, jangan putus asa, aku selalu di sini!, di sisimu!, aku akan selalu menemani mu Tuan. " ucapnya yang masih bisa menyemangati Kai walaupun ia kembali terpuruk ketika mengingat almarhum kedua orang tuanya.


Kai menatap Enji dengan tersenyum tipis.


" Apa aku terlihat begitu menyedihkan bagimu?. " tanyanya, dan Enji mengangguk.


" Kurang ajar. " ucap Kai dengan tertawa.


" Semangatlah Enji!, kau masih punya aku, mama dan papa, kita keluarga sekarang, kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, jadi jangan pernah kau merasa sendiri dan tak mempunyai siapa-siapa lagi karena kau juga keluarga kami. " ucap Kai yang kini ganti menyemangati Enji.


" Kenapa malah jadi terbalik seperti ini, aku yang pertama menyemangati mu dan kini malah kau yang menyemangati ku. " ucap Enji yang sudah mulai berhenti menangis.


" Kita malah saling menyemangati. " ucapnya lagi. Kai tertawa mendengar ucapan Enji barusan, ia baru sadar jika mereka malah saling menyemangati.


_ _ _ _ _ _


LIKE 💜 KOMEN 😍 VOTE 😘


ILUSTRASI KAI


BY : PINTEREST