KAI ALANDY MAHESWARA

KAI ALANDY MAHESWARA
MENANTI.



Tak terasa, kini bulan berganti menjadi matahari yang siap memberikan semangat pada setiap orang yang menjalankan aktivitasnya.


Kai dan orang-orang yang tinggi di rumah mewah itu sedang sarapan bersama dengan Enji yang pagi itu sudah datang menjemput tuan mudanya.


Mereka makan dengan suasana yang hangat serta penuh kekeluargaan, dengan sedikit candaan dan suara tawa yang pagi itu mewarnai rumah mewah nanti megah itu.


**


Tak terasa 30 menit telah mereka habiskan untuk sarapan bersama dan tiba saatnya untuk Kai dan Enji berangkat ke perusahaan tempatnya bekerja.


" Aku berangkat dulu mah, pah. " ucap Kai tersenyum pada kedua orang tuanya sebelum masuk ke mobil.


" Semangat ya! " ucap Nyonya Dita tersenyum dan mengelus pundak Kai. Dan Kai balas mengangguk dengan tersenyum.


" Pikirkan ucapan papa yang semalam Kai, jangan kau anggap itu tidak penting!. " ucap Tuan Adiwijaya menepuk pundak Kai.


Kai hanya mengangguk dan tersenyum tipis, lalu ia bergegas masuk ke mobil, dengan sigap Enji membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya.


Setelah Kai masuk Enji kembali menutup pintu mobilnya, dan berpamitan pada Tuan dan Nyonya besarnya.


Sebelum Enji masuk ke mobil, Tuan Adiwijaya memanggilnya dan membisikkan sesuatu padanya, entah apa yang di katakan oleh Tuan Adiwijaya, Enji hanya mengangguk mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan besarnya itu.


Setelah mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Tuan Adiwijaya, Enji kembali berpamitan dan langsung masuk menyusul Tuan mudanya yang sudah menunggu di dalam mobil.


" Maaf membuat anda menunggu tuan. " ucap Enji sopan.


Kai hanya mengangguk, walau tak bisa di bohongi sebenarnya dia juga penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh papanya pada sekertaris pribadinya itu.


Enji melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang pagi itu sedang tidak terlalu ramai.


Di perjalanan, Enji melirik kaca spion yang berada di dalam mobil itu, melihat wajah Kai yang pagi itu seperti orang yang tak bersemangat tak seperti biasanya. Enji berniat mencari tau apa yang sedang terjadi pada Tuan mudanya itu.


" Tuan Kai, kau baik-baik saja?. " tanya Enji melirik. Tapi Kai diam saja menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


Enji yang tau tuannya sedang melamun itu terus memanggilnya, sampai entah yang ke berapa kalinya Enji memanggil, akhirnya Kai menoleh sampai terperanjat karena suara Enji yang setengah berteriak itu.


" Hah!!, Enjii!!, kau mengagetkan ku tau!!, huhh!!! ada apa?, kenapa berteriak begitu?!. " ucap Kai dengan ekspresi nya yang sangat terkejut.


" Maaf tuan, kalau aku mengagetkan mu, habisnya, hampir 15 kali aku memanggil namamu, tapi kau malah diam saja. " ucap Enji melirik tuannya lagi.


" Hah?!!, 15 kali?, dan aku diam saja??, kau jangan mencoba membohongi ku Enji!!. " ucapnya tak percaya.


" Untuk apa aku berbohong padamu tuan, sungguh!! 15 kali ku hitung, aku memanggil namamu. " ucap Enji meyakinkan karena ia memang memanggilnya hampir 15 kali berturut-turut, tapi tak ada jawaban, sampai yang terakhir ia meninggikan suaranya dan membuahkan hasil.


" Maaf aku tak mendengarnya. " ucap Kai yang akhirnya mengakui jika ia memang tak mendengar ketika Enji memanggilnya.


Enji hanya mengangguk dan ia mencoba bertanya lagi pada Kai.


" Apa kau sedang melamun tuan?. " tanya Enji memastikan.


" Entahlah, papa membuatku pusing, baru kali ini aku sangat bingung ketika mengambil keputusan Enji. " ucap Kai memijat kepalanya.


" Ada apa tuan?, kau bisa menceritakannya pada ku, siapa tau aku bisa membantumu. " ucap Enji tersenyum manis melirik tuan mudanya.


Kai menarik nafasnya dalam dan ia berniat menceritakan semuanya pada sekertaris pribadinya itu.


" Semalam, " ucapnya terputus.


Enji melirik tuannya dan menunggu apa yang akan di katakan olehnya itu.


" Papa dan mamah,,, mereka bilang mau mengenalkanku dengan anak dari teman mereka Enji!. " ucapnya lesu.


" Lalu? " tanya Enji penasaran.


" Tentu saja aku menolak!, aku sangat menolaknya Enji!!, kau tau kan bagaimana aku??, mereka seenaknya saja mau menjodohkan ku dengan wanita yang bahkan aku saja tak mengenalnya, bertemu saja belum, sudah mau menjodohkan saja!, keterlaluan!. " pekik Kai malah emosi ketika menceritakan lagi kejadian semalam.


Enji mendengarkan cerita Kai barusan dan mencoba menenangkannya terlebih dahulu.


" Tenang dulu tuan, kau jangan marah-marah dulu, mungkin tuan dan nyonya ingin yang terbaik untukmu, dan tak ingin kau salah memilih pasangan hidupmu nanti. " ucap Enji tenang.


" Tapi mereka tak pernah memberi tahu ku tentang perjodohan ini Enji. " timpal Kai mulai emosi lagi.


" Mereka tiba-tiba saja bicara seperti itu!, tentu saja aku terkejut, bahkan mereka bilang sudah merencanakan ini semua sejak lama, tapi tak pernah sekalipun memberitahukannya padaku!. " pekik Kai dengan emosi meluap-luap.


" Huh, jika saja bukan karena papa dan mamahku, aku tak pernah ingin di jodohkan, apa mereka takut aku tak menikah, dan memiliki keluarga karena aku selalu fokus dalam pekerjaanku? apa yang mereka pikirkan?, nanti juga ada saatnya aku menikah dan mempunyai keluarga, tapi tidak dengan melakukan perjodohan ini!!." ucap Kai yang mengeluarkan semua isi hatinya saat ini pada Enji.


Enji yang mendengarkan ucapan Kai barusan hanya diam saja, karena ia tak di berikan kesempatan berbicara karena Kai terus mengoceh mengeluarkan kekesalannya pada orang tuanya itu.


" Apa tuan dan nyonya langsung mengatakan jika anda akan di jodohkan tuan? " tanya Enji tetap tenang.


" Sebenarnya tidak,, mereka hanya mengatakan jika ingin mengenalkan ku dengan anak dari temannya itu, tapi tetap saja aku yakin sekali jika ujungnya pasti ada perjodohan. " ucap Kai sampai mengeraskan rahangnya.


Enji tersenyum manis mendengar ucapan Kai barusan.


" Kenapa kau malah tersenyum?, kau mentertawaiku ya!!. " pekik Kai tiba-tiba, karena ia bisa melihat ekspresi Enji lewat kaca spion di dalam mobilnya itu.


Seketika, Enji langsung salah tingkah dan merasa tak enak hati, karena ia tak bermaksud seperti itu.


" Ah,, tidak tuan, maaf, jika kau mengira aku mentertawakan mu, tapi sebenarnya itu salah paham. Dan aku kira juga kau salah paham pada Tuan dan Nyonya besar. " ucap Enji sambil tersenyum.


" Maksudmu? " tanya Kai dengan mengerutkan keningnya.


Enji melirik Kai lewat spion di dalam mobil itu dengan tersenyum manis.


" Aku kira kau juga salah paham pada Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita, kau bilang tadi, Tuan besar tak mengatakan langsung kau akan di jodohkan dengan anak dari temannya itu, dan hanya mengenalkannya saja kan?. " tanya Enji melirik lagi. Kai balas mengangguk dengan wajah datar.


" Aku pikir, tidak masalah kalau kau menerimanya tuan, karena itu hanya perkenalan saja kan, dan mungkin tujuan Nyonya dan Tuan besar mempertemukan kalian berdua adalah mereka ingin tau apakah kalian berdua cocok atau tidak, setelah pertemuan itu, mungkin Tuan dan Nyonya besar akan mempertimbangkan lagi rencana untuk kedepannya. " ucap Enji mengasumsikan pendapatnya.


Kai diam menyimak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh sekertaris nya itu.


" Apa kau yakin dengan pemikiran mu itu Enji?. " tanya Kai menaikan satu alisnya.


Enji mengangguk dengan tersenyum manis sambil melirik lagi tuan mudanya.


" Tentu saja, aku memang belum lama ikut dengan Tuan Adiwijaya, tapi aku bisa menebak bagaimana wataknya, percaya padaku tuan muda, tak ada salahnya mencoba. " ucap Enji melirik dan menganggukkan kepalanya menatap Kai.


Kai tersenyum mendengar kata-kata yang Enji ucapkan barusan.


" Kau tau betul tentang papa ya Enji, aku jadi malu, aku saja anaknya tak tahu apa yang ada di dalam pikiran papaku sendiri. " ucap Kai menatap Enji dari dudukannya dengan tersenyum tipis.


Enji merasa canggung seketika karena ucapannya barusan, yang sepertinya membuat tuan mudanya tak nyaman.


" Maaf tuan, aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya..


" Hey!,, kenapa kau jadi canggung begitu?, tak apa, harusnya aku yang berterima kasih padamu, karena kau masih setia pada papa, dan sampai saat ini kau masih di sini ketika aku sudah menggantikan papa di Kursi kerjanya. Terimakasih Enji untuk selalu berada di sisi keluarga ku, dan setia membantu papa ketika ia masih bekerja, kini kau harus setia juga pada tuan mu yang baru ini ya!. " ucap Kai dengan tersenyum manis menatap Enji dari balik kaca spion mobilnya.


" Hahaha,, kenapa kau malah menangis!. " ucap Kai tertawa.


" Aku terharu dengan ucapanmu tuan muda. " ucapnya dengan mengelap air matanya yang hampir menetes dengan tissu yang di sediakan disana.


" Enji,Enji,, kau ini lucu sekali, hahaha. " ucap Kai yang tak berhenti tertawa karena menurutnya Enji terlihat konyol ketika menangis tadi.


Sedangkan yang di tertawakan tak memperdulikan suara tawa tuan mudanya, ia terus menyetir walaupun dengan sesenggukan.


Tak terasa, satu jam mereka gunakan untuk mengobrol selama perjalanan, kini mereka telah sampai di perusahaan milik Kai.


Sesampainya di depan gedung yang tinggi dan besar serta mewah itu, terpampang tulisan " MAHESWARA GROUP " yang sangat besar di atas gedung megah tersebut dimana itu adalah nama perusahaan yang dimiliki oleh Tuan Adiwijaya yang kini telah di serahkan kepada Kai anaknya.


Kai turun bersama dengan Enji yang menemaninya.


Mereka mulai memasuki pintu utama perusahaan besar itu.


" Selamat pagi Tuan Kai, selamat datang kembali. " sapa petugas keamanan yang menjaga pintu masuk tersebut.


Kai balas tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja khusus untuknya.


Selama Kai berjalan tak henti-hentinya ia mendapat sapaan dari para pegawainya entah itu wanita atau pria, karena mereka baru melihat bosnya lagi setelah satu minggu ke luar negeri.


Mereka mulai menaiki lift menuju lantai paling atas gedung megah tersebut, dimana di lantai itulah ruangan sang presdir Kai di tempatkan.


Sesampainya di lantai paling atas, Kai dan Enji keluar dari lift dan ternyata mereka sudah di sambut oleh orang-orang kepercayaannya yang ia tugaskan untuk mengelola perusahaan tersebut selama ia berpergian.


" Selamat pagi Tuan Kai, selamat datang kembali. " ucapnya yang di angguki oleh beberapa orang lainnya.


Kai hanya tersenyum dan mengangguk, lalu ia berjalan kembali ke ruang kerjanya di ikuti oleh Enji dan orang yang tadi menyambutnya di depan lift.


Sesampainya di ruang kerja, Kai duduk di singgasananya bersama sekertaris pribadinya Enji yang selalu setia di samping tuan mudanya.


Sedangkan orang yang menyambutnya tadi masih berdiri tepat di hadapan Kai.


" Duduklah. " titah Kai pada orang itu.


" Terimakasih tuan. " ucapnya membungkuk lalu ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Kai.


" Bagaimana semuanya?. " tanya Kai menatap orang itu.


" Sejauh ini, selama kau pergi ke luar negeri dalam satu minggu, semuanya normal seperti biasanya tuan. " ucapnya tenang menatap Kai.


" Lalu bagaimana produksi dan pengeluaran dalam satu minggu ini?. " tanya Kai lagi.


" Semuanya berjalan dengan semestinya tuan, aku juga sudah mengirimkan laporan setiap harinya pada sekertaris Enji. " ucapnya melirik Enji sekilas.


Kai mengangguk dan ia rasa sudah cukup untuk menanyakan perusahaannya selama ia tak ada di Indonesia, karena ia juga tau jika Enji pasti sudah mewakilinya.


" Baiklah, terimakasih sudah membantu, sekarang kau boleh keluar. " ucap Kai pada orang itu.


" Baik, saya permisi tuan. " ucapnya tersenyum dan membungkuk lalu pergi keluar dari ruang kerja Kai.


" Hufftt,, pekerjaanku tak ada habisnya Enji. " ucap Kai menyenderkan tubuhnya ke kursi kerjanya.


***


Busan, Korea Selatan.


Terlihat Lisa sedang duduk di tepi kolang renang belakang rumahnya, ia sedang duduk santai sambil membaca majalah di temani minuman dan beberapa camilan yang di sediakan untuknya.


BRAAKK!!!


" Membosankan!, setiap hari selalu seperti ini!. " ucapnya dengan kesal membanting majalah yang sedang di bacanya.


Lalu ia pergi masuk ke dalam rumahnya menuju ruang santai untuk menonton televisi yang di sediakan disana.


" Kenapa wajahmu seperti itu sayang?. " ucap Nyonya Eden tiba-tiba menghampiri Lisa yang sedang duduk di sofa ruangan itu.


Lisa terkejut dan menoleh ke arah ibunya.


" Mama, kau mengejutkan ku!. " ucap Lisa memegang dadanya.


Nyonya Eden hanya tersenyum dan ikut duduk bergabung dengan Lisa.


" Wajahmu, kenapa seperti itu?, kau sedang kesal ya?. " ucapnya bertanya lagi.


" Ahh,, tidak,, tidak papa. " ucap Lisa memalingkan wajahnya.


Nyonya Eden mengerutkan keningnya, ia merapatkan dudukannya dengan Lisa dan mengelus rambut panjang anak gadisnya itu.


" Ada apa? hmm?. " ucapnya lagi yang merayu Lisa agar ia mau bicara, karena Nyonya Eden tau jika Lisa sedang memikirkan sesuatu.


Perlahan Lisa mulai lunak dan mulai memperlihatkan wajahnya pada ibunya itu.


" Sebenarnya, aku,, aku, bosan mah, setiap hari selalu di rumah. " ucapnya menatap ibunya.


" Kau kan bisa keluar dengan teman-temanmu sayang!. " ucap Nyonya Eden tersenyum.


" Iya, tapi aku bosan, aku sering sekali mengajak teman-temanku untuk keluar, entah itu bermain, makan, berbelanja, mengunjungi tempat-tempat yang belum aku kunjungi, semuanya sudah aku lakukan bersama teman-teman ku mah. "


" Lalu?. "


" Sebenarnya aku,, mmm,, "


" Aku apa?. "


" Aku,, aku, ingin bertemu dengan seseorang yang kalian bicarakan itu. " ucap Lisa dengan wajah yang sudah memerah karena malu.


Nyonya Eden tersenyum lebar mendengar ucapan anaknya itu. Ia menyimpulkan jika Lisa sepertinya ingin segera bertemu dengan calon pilihannya.


" Maksudmu Kai?. " tanya Nyonya Eden tersenyum menatap anak gadisnya.


Lisa hanya mengangguk sambil tertunduk karena ia sangat malu, sudah mengatakan hal ini pada ibunya, padahal ia sudah menahan dirinya agar tak usah bicara, tapi ia tetap tak bisa menahannya.


" Secepatnya sayang, mama pastikan kau secepatnya akan bertemu dengan Kai, kami sudah menjadwalkan pertemuan kalian berdua, kau tenang saja. " ucapnya dengan gembira karena tak bisa di bohongi jika sebenarnya Nyonya Eden juga sudah sangat setuju jika Lisa dan Kai bersama, dan ia sangat ingin jika Kai dan Lisa bisa sesegera mungkin untuk menikah.


" Sungguh?, lalu kapan?. " tanya Lisa langsung menatap ibunya dengan mata membulat.


" Minggu depan. " ucapnya


Seketika Lisa langsung tersenyum, ia sangat gembira mendengar kabar ini, ia sudah membayangkan bagaimana pertemuannya nanti dengan Kai, dan sangat menantikan hari itu tiba.


LIKE KOMEN 💜