
Pagi itu di kediaman Tuan Adiwijaya dua keluarga dari negara yang berbeda itu sarapan bersama layaknya keluarga besar yang sedang berkumpul.
Tuan Han dan keluarga nya menyempatkan untuk sarapan bersama dengan keluarga Tuan Adiwijaya sebelum mereka pergi dari sana.
Lisa, tak henti-hentinya memandangi Kai yang sedang fokus dengan sarapannya, ia tersenyum tanpa menyadarinya
Aahhh,,,aku bahkan sudah kenyang hanya melihat wajahnya saja.
Enji yang sedari tadi memperhatikan Lisa pun ikut tersenyum melihat calon nona mudanya terus memandangi Kai yang duduk di sampingnya.
Lisa tak sadar jika ia pun ikut di perhatikan oleh Enji, begitu pula dengan Kai yang tak sadar jika ia di perhatikan oleh Lisa.
Setelah selesai sarapan mereka semua duduk di ruang keluarga lantai bawah.
" Han, apa kau akan pergi hari ini juga?. " tanya Tuan Adiwijaya menatap kawannya.
" Yaa, aku harus kembali ke Korea, perusahaan ku yang di sana sedang membutuhkan ku adi, aku sungguh minta maaf jika membuat mu kecewa karena aku hanya berkunjung sebentar ke sini, ini sungguh di luar dugaanku. " ucapnya ikut menatap tuan Adiwijaya.
" Baiklah, sebenarnya aku masih ingin bercerita lebih banyak dengan mu. "
" Terimakasih Tuan Han, Nyonya Eden, dan sekertaris Kim, sudah mengunjungi kami ke sini, aku berharap kita bisa bertemu kembali. " ucap Nyonya Dita tersenyum.
" Tentu saja kita akan bertemu kembali, bahkan mungkin bisa sampai setiap hari, iya kan Kai?. " ucap Tuan Han yang tersenyum melirik Kai, di ikuti oleh orang-orang yang berada di sana.
" Mungkin. " ucap Kai santai dengan tersenyum tipis.
Tuan Han hanya tertawa melihat respon yang di tunjukkan oleh Kai, ia tau Kai itu laki-laki yang dingin tapi sebenarnya jika sudah mengenalnya dengan baik, Kai akan menunjukkan sikapnya yang sesungguhnya pada orang-orang terdekatnya, begitu kata Tuan Adiwijaya ketika menceritakan sikap Kai pada Tuan Han dan Nyonya Eden malam itu.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Indonesia dan terbang ke Korea Selatan.
Sebenarnya Lisa enggan meninggalkan Indonesia, karena ia ingin berlibur disana dan berniat mencari tau tentang kepribadian Kai.
Tapi keinginannya itu harus kandas karena urusan papanya yang mendadak harus terbang hari itu juga kembali ke Korea.
Di pesawat pribadi Tuan Han.
" Maaf ya Lisa, kita harus pulang hari ini juga, sebenarnya ini diluar dugaan papa, tiba-tiba saja manajer perusahaan yang di busan menelfon sekertaris Kim dan mengatakan ada masalah di perusahaan yang mengakibatkan papa yang harus langsung turun tangan. " ucap Tuan Han menatap Lisa.
" Tak apa, aku mengerti pah. " ucap Lisa tersenyum manis, walau dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa.
" Tenang saja, kalian akan bertemu kembali nanti. " ucap Nyonya dita mengelus rambut Lisa lembut.
Lisa hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke jendela menatap hamparan daratan dari dalam pesawat.
***
Sementara itu setelah kepergian Tuan Han dan keluarga, Tuan Adiwijaya kembali berkumpul bersama Kai, Enji dan Istrinya.
" Huhh, menyebalkan, kenapa masalah datang di saat acara penting seperti ini. " gerutu Tuan Adiwijaya.
" Maklum saja, Tuan Han itu pengusaha terkenal sayang, ia pasti sangat sibuk. " ucap istrinya.
" Kai!. " ucap Tuan Adiwijaya menatap anaknya.
" Hmm. " dehem Kai melirik papanya.
" Kau sudah bicara dengan Lisa?. "
" Bicara apa?. " ucap Kai cuek.
" Haiihhh!!!,, anak ini!, selalu bersikap seperti itu, kau sebenarnya ada masalah apa dengan wanita?, sepertinya kau sangat menghindarinya!!. " ucap Tuan Adiwijaya geram menatap Kai tajam.
" Memangnya papa berharap aku bicara apa dengan gadis itu?!!!. " pekik Kai kesal.
" Memangnya kau tak bicara sepatah kata pun dengan Lisa?. " tanya Nyonya Dita.
" Tidak!. " jawab Kai cepat.
" Astaga Kai!!!!, kau ini kenapa bersikap seperti itu ha???!!!, kau ingin membuat papa mama mu marah lagi ya?!!!. " pekik Tuan Adiwijaya yang sudah kesal setengah mati dengan tingkah laku anaknya.
" Lalu aku harus apa?, aku tidak punya pengalaman seperti itu!!. " ucapnya dengan cemberut.
Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam begitu juga Enji, mereka sudah kehilangan akal untuk membuat Kai bersikap baik kepada wanita.
" Mau kemana lagi!!. " tanya Tuan Adiwijaya yang melihat Kai berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya.
" Pergi keluar. " ucap Kai menjawab dengan berjalan meninggalkan orang-orang yang berada disana.
Sedangkan Tuan Adiwijaya, Nyonya Dita dan Enji masih duduk melihat Kai keluar berjalan sendirian.
" Biarkan saja Enji. " ucap Tuan Adiwijaya menatap Enji, dan Enji hanya mengangguk menurutinya.
tapi tiba-tiba..
" ENJI!! KAU INGIN KU TENDANG!!!. " pekik Kai lantang dari luar karena ia baru sadar jika Enji tak ada di belakangnya.
Enji yang mendengar ucapan Kai barusan langsung berdiri dengan tergesa-gesa, lalu ia berpamitan pada Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita.
" IYAAA TUAN!!, TUNGGU SEBENTAR!!. " ucap Enji lantang yang ikut berteriak sambil berlari keluar menghampirinya.
Nyonya Dita dan Tuan Adiwijaya hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak mereka dan sekertaris pribadinya.
Sesampainya di luar, Enji melihat tuannya sedang menyender pada mobil mewahnya dengan melipatkan tangannya di depan dengan sorot mata tajam menatap Enji.
" Mm,, ma,,maafkan aku Tuan. " ucapnya tergagap.
Kai masih menatapnya dengan tajam, lalu ia langsung masuk ke dalam mobilnya.
Enji yang melihat tuannya berwajah singa itu langsung buru-buru menyusulnya masuk ke dalam mobil.
Ia lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Di perjalanan, Enji mengintip Kai yang duduk di belakangnya lewat spion yang ada di dalam mobilnya itu.
Ketika Enji mulai melirik tuannya, ia terkejut karena Kai sedang menatapnya dengan sorot mata tajam.
Tanpa pikir panjang lagi Enji langsung mengalihkan pandangannya ke jalanan tanpa melirik lagi spion itu.
" Kau ingin mengundurkan diri dariku Enji?, kau sudah bosan yah menjadi sekertaris pribadi ku? Hmm??. " ucap Kai yang masih menatapnya dengan tajam.
" **,, tii,, tidak tu,, tuan. " ucapnya tergagap sambil mencengkram kemudinya era dengan pandangan lurus kedepan.
" Sungguh?. "
" Aku berani sumpah tuan, aku tidak akan mengundurkan diri darimu, kecuali,, kau yang memintanya. " ucapnya dengan mencuri-curi pandangan melirik Kai.
" Ingat ya!, aku ini Tuan mu sekarang, jadi kau harus menuruti semua perintah ku tidak terkecuali, dan ingat ini baik-baik!!, kau harus selalu berada di sisiku setiap saat dan selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi!! Kau paham Enji?!. " ucapnya tegas.
" Saya mengerti Tuan, maafkan prilaku saya yang membuat anda marah. " ucapnya yang sudah mulai berani menatap Kai walau sekilas.
Kai tak menjawab ia malah memandangi jalanan yang pagi itu tidak terlalu ramai karena di luar mulai hujan.
" Mau kopi?. " tanya Enji.
" Hemm. " mendehem.
Enji lalu pergi ke sebuah kafe yang ia jumpai di dekat jalan, lalu ia memarkirkan mobilnya di tempat yang disediakan disana.
Enji keluar dari mobil dengan membawa payung karena di luar hujan mulai deras.
Kemudian ia langsung membuka pintu mobil belakang dan menjemput Tuan mudanya menggunakan payung yang melindungi mereka dari guyuran air hujan.
Sesampainya di dalam, Kai duduk bersama Enji di kursi dekat dengan jendela.
" Mba!!. " panggil Enji pada pelayan kafe.
Lalu pelayan itu langsung menghampirinya.
" Mau pesan apa tuan?. " ucapnya ramah.
" Kopi latte dua ya. " ucapnya dengan seperti biasa, selalu di bonusi senyuman manis.
Pelayan itu sempat ter bengong dan tanpa sadar ia juga ikut tersenyum.
Enji yang melihat pelayan itu masih mematung dengan memandangi nya pun ikut bengong.
" Mba!!. " ucapnya menyadarkan.
" Hah!!. " pelayan itu tersentak dan langsung sadar dari lamunannya.
" Ada apa?. " tanya Enji menatapnya.
" Ahh,, tii,, tidak tuan,, maaf saya melamun. " ucapnya tergagap.
Enji hanya mengangguk dan lagi-lagi ia tersenyum manis.
Aahhh,,, kenapa dia selalu melakukannya membuat ku lemas saja.
" Kopi latte dua ya, mohon tunggu sebentar. " ucapnya dan kali ini ia menundukkan kepalanya.
" Kenapa men,,,
Belum sempat ia bicara, pelayan itu langsung pergi begitu saja.
" Dia kenapa??. " ucap Enji yang melihatnya dari kejauhan.
Kai yang sedari tadi ikut melihat kejadian itu hanya menahan senyumnya.
" Hahaha. " tawa Kai tiba-tiba.
Dan sontak saja Enji yang ada di hadapannya itu terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke Kai.
" Kau kenapa tuan?. " ucap Enji panik.
Tapi Kai tak menjawab dan ia terus tertawa sambil memegang perutnya yang sakit karena ia terus menahannya sedari tadi.
" Apa kau tak menyadarinya Enji?. " ucapnya yang sudah mulai tenang.
Enji mengerutkan keningnya.
" Menyadari apa?. " jawabnya polos.
" Kau membuatnya salah tingkah karena senyuman mu itu, hahaha. " ucap Kai yang kembali tertawa.
" Salah tingkah?, memangnya kenapa dengan senyuman ku ini??. " ucapnya dengan meraba-raba pipi dan bagian mulutnya.
Kai mulai mengatur nafasnya agar kembali stabil karena ia terus tertawa sedari tadi.
Tiba-tiba, pelayan yang berbeda datang dengan membawa dua gelas kopi yang di pesan oleh mereka. Dan kali ini pelayan yang mengantarkannya seorang lelaki.
" Silakan. " ucapnya tersenyum ramah.
Hanya Enji yang mengangguk dan balas tersenyum. Kemudian pelayan itu pun langsung pergi.
Kai dan Enji langsung meneguk koffie itu, karena udara yang dingin mulai mengusiknya.
" Kau tau kenapa pelayan wanita tadi bersikap seperti itu?. " tanya Kai meletakkan kopinya.
Enji menggelengkan kepalanya dengan wajah polos.
" Itu karena kau selalu tersenyum kepadanya, karena itu sikapnya menjadi begitu. " ucap Kai menatap Enji.
" Apa benar begitu?. " tanyanya.
" Senyuman mu itu mematikan Enji. " ucap Kai jujur.
" Tapi aku menyukainya. " ucap Kai tersenyum.
Enji melamun memikirkan ucapan Kai barusan.
" Apa aku harus merubah sikapku yang selalu tersenyum itu ya?. " ucapnya dengan tatapan kosong.
" Heii!!!, bicara apa kau ini!!, aku bilang aku menyukainya!!. " ucap Kai menatap Enji yang masih melamun.
" Tapi, melihat kejadian tadi membuat ku terus kepikiran, di tambah dengan ucapan anda barusan, sepertinya senyumanku ini menjadi pengganggu bagi orang-orang yang berada di sekitar ku. " ucapnya yang memandangi derasnya air hujan di luar.
Kai menghela nafasnya dengan tatapan malas menatap Enji.
" Dengarkan aku!!, jangan merubah apapun yang ada di dalam dirimu!!, jagalah apa yang kau miliki!, dan bersyukurlah dengan apa yang Tuhan berikan padamu!, karena masih banyak orang-orang yang mungkin menginginkan apa yang kau miliki, tapi tuhan tak memberikannya pada mereka, dan ia mempercayakannya padamu. " ucapnya tegas menatap Enji.
Enji yang mendengar ucapan dari tuannya itu langsung ikut menatapnya, dan ia tersenyum tipis.
" Kau benar, aku punya sesuatu yang Tuhan berikan padaku. " jawabnya ikut tersenyum.
Kai mengangguk dengan tersenyum begitu pula dengan Enji yang ikut mengangguk dan balas tersenyum.
Mereka berteduh di kafe itu cukup lama, sampai Kai merasa bosan dan ia memutuskan untuk pulang dalam kondisi hujan yang masih deras.
Sesampainya di rumah, Kai menuju kamarnya di lantai atas di ikuti oleh sekertaris pribadinya.
" Siapkan air, aku ingin mandi. " titah Kai pada Enji, dan Enji mengangguk.
Setelah menyiapkan air mandi untuk Kai, Enji keluar dan langsung ke ruang ganti menyiapkan pakaian casual untuk tuan mudanya.
Setelah itu Enji keluar dan duduk di sofa yang ada di dalam kamar Kai sambil menunggu tuanya selesai.
" Ahh,, hangatnya. " ucap Kai yang sudah selesai dan keluar dari ruang ganti pakaiannya.
Kai mengusap-usapkan kepalanya yang basah dengan handuk kecil, dan itu membuatnya terlihat sangat tampan.
Astaga Tuan Kai!!!!,, kau tampan sekali!!!!!,,aahh,, andai aku wanita betapa beruntungnya aku bisa langsung melihat ketampanan mu dari dekat seperti ini!!!.
Enji melamun dan memandangi Kai dari atas sampai bawah dengan mulut yang menganga.
" Jangan berlebihan seperti itu, aku tau aku tampan!. " ucap Kai tersenyum tipis yang duduk di hadapan Enji.
Enji yang terkejut dengan ucapan tuanya itu langsung buru-buru tersadar dari lamunannya.
Ia hanya meringis karena Kai bisa menebak isi pikirannya.
" Hehehe. " tawa Enji.
Kai ikut menyengir karena tebakannya benar jika tatapan Enji adalah tatapan kekaguman terhadap ketampanannya.
" Tuan., " panggilnya.
" Hmm. "
" Maaf jika aku lancang atau kurang sopan padamu, tapi aku hanya ingin bertanya,. " ucapnya sungkan.
" Katakan saja!. "
" Apa kau memiliki kenangan buruk atau semacamnya dengan wanita?. " tanyanya hati-hati.
" Maksudmu?. " mengerutkan keningnya heran.
" Maksudku, kenapa kau sampai sekarang tidak pernah mau mendekati wanita?. "
Kai melirik Enji tajam.
" Hufftt,, entahlah Enji, aku malas berdekatan dengan wanita, mereka terlalu banyak bicara. " ujarnya.
" Aku rasa tidak semua wanita seperti itu,. "
" Maksudmu?. " tanyanya heran.
" Maksudku, tidak semua wanita itu sama seperti yang kau fikirkan, contohnya Nona Lisa. " ucapnya bangga dengan senyuman mengembang.
" Dia cantik, sopan, ramah, anggun, bahkan selama disini ia tak banyak bicara, ia pendiam da...
" Antara pendiam atau ia memang malu, kita tidak tau kan?!. " ucap Kai memotong cerita Enji.
" Mungkin, tapi apa kau tau Tuan, sebagian para lelaki lebih menyukai wanita yang banyak bicara, bukan banyak bicara yang tidak-tidak ya, yang di maksud banyak bicara di sini adalah, wanita itu banyak bicara hanya kepada pasangannya, itu adalah sifat permanen yang ada di dalam diri wanita. "
" Tapi mereka hanya akan melakukannya kepada orang-orang tersayangnya, contohnya, pacar, suami, anak, dan orang-orang yang memiliki hubungan yang sangat dekat, sahabat juga bisa. Dan sifat itu mutlak tidak bisa di rubah oleh siapapun. " ucap Enji dengan nada serius.
Kai mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Enji.
" Tapi,, kenapa mereka melakukanya?. " ucap Kai dengan wajah polos.
Enji hanya menarik nafas ia tak percaya jika tuan mudanya lebih polos di bandingkan dengan dirinya.
" Haishh!!,, tentu saja karena mereka menyayanginya, wanita akan menunjukkan sifat aslinya hanya kepada orang-orang terdekatnya, begitu cara wanita menyayangi orang-orang terkasihnya, mereka akan bertindak cerewet jika orang itu susah untuk di kasih tau nyaa!!!, ahhh,, tuan Kai, begitu saja kau tidak tauu!!!!. " ucap Enji dengan wajah lemas, karena ia juga jadi banyak bicara seperti wanita hanya untuk memberi tau soal sepele seperti ini pada Kai.
Kai menatap Enji dengan wajah yang masih bingung.
" Hahh,, seperti ini saja, contohnya Nyonya Dita, ia suka bersikap cerewet kan padamu?. " tanya Enji.
" Tentu saja, ia sangat cerewet!!, papa juga, setiap aku pergi ke luar negeri untuk mengecek bisnis ku atau aku sedang melakukan pertemuan dengan para pengusaha lainnya, ia akan marah dan banyak bicara ketika aku pulang nanti hanya karena aku tak memberikannya kabar. " ucap Kai sampai memonyongkan bibirnya.
" Kau tau kenapa mereka melakukan itu?. " tanya Enji mengetes nya.
" Ya,, mereka sangat menghawatirkan ku, mereka bilang mereka menyayangiku dan takut jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, karena itu mereka melakukannya. " ucap Kai dengan tersenyum tipis ketika mengingat mama dan papanya ketika sedang menghawatirkan nya.
" NAHH!!!!, kau sekarang mengerti kan kenapa mereka melakukannya, begitu juga dengan wanita, mereka akan menjadi lebih sensitif ketika sudah menjadi ibu dan istri nanti. " ucap Enji yang sedikit bisa bernafas dengan lega.
" Wanita adalah mahluk Tuhan yang paling kuat, mereka akan melakukan apapun untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang dimilikinya, apalagi jika sudah memiliki suami dan anak, wanita akan rela melakukan apapun untuk melindungi keluarga kecilnya. Wanita itu mahluk yang paling sempurna tuan. " ucap Enji dengan tersenyum tipis.
Kai terdiam mendengar ucapan Enji barusan, ia mulai sadar, kenapa wanita bersikap seperti itu.
Alasan Kai selalu malas jika berdekatan dengan wanita karena waktu itu ia pernah melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar di sebuah rumah di dekat jalan.
Kai melihat wanita itu sedang memarahi pacarnya, dan ia tak berhenti bicara ketika memarahinya, dan yang membuat Kai makin kesal adalah si pria itu hanya diam saja dan tertunduk tanpa perlawanan sedikitpun pada kekasihnya.
Itu alasan utama Kai tak pernah mau dekat dengan wanita, jika bertemu atau ada wanita yang mencoba mendekatinya, Kai selalu teringat kejadian itu dan tanpa pikir panjang Kai memutuskan untuk tak mau mendekatinya.
LIKE KOMEN😍💜