KAI ALANDY MAHESWARA

KAI ALANDY MAHESWARA
BINGUNG



Sementara itu Kai kembali terbang ke Indonesia setelah urusannya selesai di Belanda.


Kai menyuruh Enji memberitahukan kepulangannya pada Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita dan tentu saja kedua orang itu langsung antusias menyambut kedatangan anak mereka.


Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, Kai dan Enji melanjutkan perjalanan mereka menggunakan mobil mewah yang di sediakan oleh anak buah Enji, karena sebelumnya ia memberitahu jika Kai akan terbang ke Indonesia dan Enji meminta anak buahnya mengantarkan sebuah mobil yang akan digunakannya untuk melanjutkan perjalanan pulang ke kediaman Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita.


Di perjalanan..


" Hufftt,,,akhirnya, aku bisa pulang juga. " ucap Kai sambil menyender pada kursi mobil empuknya.


" Iya, Tuan dan Nyonya juga sudah sangat merindukan anda tuan. Mereka selalu menanyakan keadaan anda saat kita berada di luar negeri. " ucap Enji memberitahu.


Kai hanya tersenyum mendengar ucapan yang di katakan oleh Enji. Ia sudah menduganya jika orang tuanya pasti sangat mengkhawatirkan keadaannya, mengingat ia sama sekali tak memberikan kabar pada mereka, membuat Enji yang harus menjadi alat komunikasi antara anak dan orang tuanya itu.


_ _ _ _


Sesampainya di kediaman Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita. Kai di sambut oleh dua orang yang sangat merindukannya itu.


" Kai!!!. " teriak Nyonya Dita ketika Enji membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya.


Kai langsung tersenyum dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


" Kamu baik-baik saja kan sayang?. " tanya Nyonya Dita sambil memeluk erat tubuh Kai dan mengelus-ngelus punggung belakangnya.


" Aku baik-baik saja mah, mamah juga baik-baik saja kan?. " ucap Kai balas mengelus punggung Nyonya Dita lembut.


" Mamah baik nak, ohh!! mamah sangat merindukanmu Kai!!. " ucapnya yang masih memeluk Kai dan kini pelukannya semakin erat.


Kai hanya terkekeh melihat ibunya itu seperti enggan melepaskan pelukannya, seperti orang yang takut ditinggalkan lagi olehnya.


Sementara itu, orang yang berdiri di sebelah Nyonya Dita hanya diam seperti orang yang terabaikan.


" Sayang, sudah puas belum memeluknya, aku juga ingin di peluk oleh tuan mudaku. " ucap Tuan Adiwijaya yang melihat kemesraan tanpa dirinya.


Kai terkekeh begitu pula dengan Enji dan Nyonya Dita. Mereka hampir saja melupakan keberadaan ayah dari orang yang sedang di pelukannya itu.


Nyonya Dita pun terpaksa melepaskan pelukannya dengan Kai, dan membiarkan anak dan ayahnya itu saling melepas rindu.


" Papa!. " ucap Kai yang kini meninggalkan Nyonya Dita dan memeluk Tuan Adiwijaya.


" Kai!!. " ucapnya yang langsung balas memeluk anak tunggalnya itu.


Tuan Adiwijaya memeluk Kai dengan erat sambil menutup matanya,tanda ia sangat merindukan anak satu-satunya itu.


_ _ _ _


Setelah puas saling memeluk satu sama lain, mereka melanjutkannya di dalam rumah, menceritakan apa saja yang bisa di ceritakan.


" Satu minggu ini kau tak mengabari mamah dan papamu, memangnya kau sesibuk itu ya Kai?. " ucapnya menatap Kai.


" Maaf mah, tapi aku memang sibuk sekali, jadi aku sangat minta maaf jika aku tak sempat mengabari kalian. " ucap Kai tersenyum menatap kedua orang tuanya.


" Sudahlah sayang yang penting Kai baik-baik saja kan?, dan ia pulang dengan selamat. Lagi pula Enji selalu memberitahu keadaan Kai pada kita. " ucap Tuan Adiwijaya merangkul pundak istrinya.


" Yaah, papamu benar, selama kau tak mengabari kami, Enji selalu memberitahu keadaan mu Kai. Terimakasih ya Enji. " ucap Nyonya Dita tersenyum menatap Enji yang duduk di sebelah Kai.


" Sama-sama Nyonya, lagipula itu sudah menjadi kewajiban saya selaku Sekertaris pribadi Tuan Muda Kai. " ucap Enji sopan tersenyum menatap Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita.


" Ya, Enji memang paling bisa di andalkan, aku sangat bersyukur mendapatkan Sekertaris sepertinya. " ucap Kai melirik Enji dan menepuk pundaknya.


Sedangkan yang di puji hanya tersenyum dan menampakkan gigi putihnya, dengan pipi merah karena menahan malu.


* * *


Tak terasa matahari mulai menghilang dan digantikan oleh bulan yang bersinar dengan terang.


Enji pamit pada Kai, Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita, karena ia harus pulang dan mengistirahatkan tubuhnya untuk melanjutkan aktifitasnya besok yang akan pergi bersama Kai ke perusahaan tempatnya bekerja.


_


Sementara itu sepeninggalnya Enji,


Kai, Nyonya Dita dan Tuan Adiwijaya berkumpul di ruang makan dan makan malam bersama.


" Kai!. " ucap Tuan Adiwijaya yang tiba-tiba memecahkan keheningan.


" Iya pah. " jawab Kai menoleh ke arah papanya sambil mengunyah makanannya.


" Kapan kau akan pergi lagi mengecek bisnis mu yang berada di luar negeri itu?. " tanya Tuan Adiwijaya sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


" Entahlah, sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar, dan orang-orang yang ku percaya menjalankan bisnis ku di luar negeri selalu memberi laporan yang cukup baik dan aku rasa aku tak harus mengeceknya lagi. " ucapnya menghentikan aktifitas makannya.


" Lalu, kemarin ku dengar dari Enji, katanya kau mengunjungi bisnis mu yang di Belanda?, apa ada masalah?. " tanya Tuan Adiwijaya menatap anaknya.


" Oh itu, tidak, semuanya baik-baik saja, itu karena aku kebetulan berada disana, dan aku pikir sekalian saja aku mengunjungi perusahaan ku dan rumah yang ku beli di Belanda itu. "


Tuan Adiwijaya hanya mengangguk dan meneguk segelas air putih tanda ia sudah selesai dengan makan malamnya begitu pula dengan istri dan anaknya.


" Syukurlah jika semuanya baik-baik saja, mama dan papamu ikut senang mendengarnya Kai. " ucap Nyonya Dita menatap anak tampannya.


Kai hanya tersenyum manis dan mengangguk.


Setelah selesai makan malam bersama, Kai, Nyonya Dita dan Tuan Adiwijaya meninggalkan ruang makan dan menuju ke balkon atas lantai dua rumah mewah dan besar itu.


Mereka duduk bersama sambil melihat langit yang malam itu ditaburi bintang yang gemerlap begitu banyak.


Membiarkan wajah dan tubuh mereka di terpa dinginnya angin malam itu.


Tiba-tiba pelayan rumah membawakan tiga gelas teh hangat dan beberapa camilan untuk menemani obrolan mereka di malam yang cukup membuat bulu kuduk berdiri saking dinginnya.


" Silakan Tuan, Nyonya. " ucap pelayan itu sopan sambil meletakkan makanannya.


" Terimakasih bibi. " ucap Kai tersenyum manis.


" Sama-sama Tuan Muda. " jawab bibi pelayan itu balas tersenyum dan langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.


Kai yang merasa malam yang dingin ini mulai mengusiknya, langsung meneguk teh hangat yang di bawakan oleh pelayan tadi.


" Anak papa sudah besar sekali ya mah. " ucap Tuan Adiwijaya menatap Kai dengan tersenyum.


" Iya, dia tumbuh dengan gagah dan tampan. " ucapnya menambahkan.


Sementara yang sedang di bicarakan hanya tersenyum walaupun hatinya mengatakan jika ada sesuatu yang akan di bicarakan dengannya.


" Sebenarnya ada apa mah, pah!. " ucapnya to the poin karena ia sangat yakin jika ada sesuatu yang ingin di sampaikan padanya.


" Dia merasakannya sayang. " kekeh Tuan Adiwijaya menatap istrinya dan Nyonya Dita juga ikut tertawa.


" Benar kata Enji, ia memiliki feeling yang sangat kuat. " ucap Nyonya Dita.


Kai hanya tersenyum, ia menatap mama dan papanya, menunggu apa yang akan di ucapkan oleh mereka.


Tuan Adiwijaya menarik nafasnya dan meminum teh hangat yang di sediakan untuknya.


" Sebenarnya ada yang papa mau bicarakan denganmu Kai. " ucapnya mulai serius dan meletakkan teh hangat yang sudah di minumnya itu.


" Katakan saja pah. " ucap Kai menatap papanya.


Tuan Adiwijaya menatap istrinya dan istrinya hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu Tuan Adiwijaya mulai menatap Kai.


" Minggu depan teman papa akan berkunjung ke sini dan ia ingin bertemu denganmu Kai. " ucapnya serius.


" Bertemu denganku?, memangnya ada apa?. " tanya Kai mengerutkan keningnya.


Tuan Adiwijaya bingung harus mengatakan apa pada Kai, jika sebenarnya kedatangan temannya itu berniat menjodohkan Kai dengan anaknya.


Lalu ia menatap istrinya berniat meminta bantuan dan mewakilkan nya untuk menjelaskan pada Kai.


Nyonya Dita yang mengerti maksud dari tatapan suaminya itu langsung angkat bicara.


" Dia ingin mengenalkan mu dengan anaknya Kai, kau tidak keberatan kan?. " ucapnya langsung to the poin.


Seketika Kai langsung berdiri dari tempat duduknya.


" Apa?!!, maksudnya aku akan di jodohkan dengan anak dari teman kalian itu?!. " pekik Kai dengan nada tinggi sambil melotot tajam saking terkejutnya.


Tuan Adiwijaya hanya menghela nafas ketika ia mendengar ucapan istrinya. Ia yang bermaksud meminta bantuan agar lebih berhati-hati ketika memberitahukan berita ini pada Kai, agar anaknya tak tersinggung, tapi istrinya malah mengatakan sesuatu yang dihindarinya itu.


Kai mengusap wajahnya kasar sambil bertolak pinggang karena ia masih tak percaya jika orang tuanya akan menjodohkan nya.


" Papa pikir, kau sudah waktunya untuk menikah Kai, kau terlalu sibuk mengurusi bisnis mu itu, kau sampai lupa untuk membahagiakan dirimu sendiri. " ucap Tuan Adiwijaya menatap anaknya.


" Tapi tidak dengan seperti ini pah, kau menjodohkan ku bahkan tanpa memberitahu ku terlebih dahulu!!. "


" Tapi kami tau yang terbaik untukmu nak, dan ini yang terbaik!. " ucap Nyonya Dita.


Kak hanya memandangi mamanya itu dengan menggelengkan kepalanya, ia masih tak percaya dengan ucapan kedua orang tuanya.


" Terserah kau suka atau tidak, yang pasti perjodohan ini akan tetap di langsung kan dengan atau tanpa persetujuan mu Kai. Dan dengar!, aku tidak mau ada kata bantahan darimu setelah ini!. " ucap Tuan Adiwijaya menatap anaknya dan langsung beranjak dari dudukannya kemudian pergi entah kemana.


" Tapi pah, papah!!. " Kai teriak memanggil papanya dan mencoba menghentikan langkahnya, tapi Tuan Adiwijaya seperti sudah tidak mau mendengar ucapan anaknya itu, ia terus melangkahkan kakinya sampai tak terlihat lagi.


Kai menghelai nafasnya, kini ia menatap mamanya yang masih setia berada di sampingnya.


" Mah, " ucap Kai dengan nada lesuh menatap ibunya itu.


Nyonya Dita yang mengerti perasaan anaknya itu, hanya tersenyum sambil mengelus pundak Kai lembut.


" Mama mohon padamu Kai, pikirkan ini baik-baik, kami sudah mempersiapkan ini lama sekali, dan kami harap kau tak merusak masa depan yang papamu persiapkan untuk mu ini nak. Mama harap kau bisa mengerti perasaan kami, dan cobalah untuk sedikit menerimanya ya. " ucap Nyonya Dita sedikit memberi penerangan pada Kai.


Kai hanya menatap mamanya tanpa berbicara sepatah kata pun, ia hanya menghelai nafasnya dan mengalihkan pandangannya pada langit yang malam itu di taburi banyak bintang.


" Kau pikirkan ini baik-baik Kai, mama ingin beristirahat dulu, selamat malam. " ucap Nyonya Dita yang kini mulai berjalan masuk ke dalam dan meninggalkan Kai seorang diri.


Sepeninggalnya Nyonya Dita, Kai melamun memikirkan perkataan yang di ucapkan oleh kedua orang tuanya itu.


Ia tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru, dan lebih memilih memikirkannya terlebih dahulu.


Kai menghabiskan waktu cukup lama di balkon atas rumahnya, sampai ia merasa cukup dan pergi masuk ke dalam untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Like komen 💜