KAI ALANDY MAHESWARA

KAI ALANDY MAHESWARA
PERTEMUAN.



Tak terasa hari begitu cepat berganti,dan tiba saatnya untuk ke dua keluarga itu saling bertemu.


Busan, Korea Selatan.


Terlihat keluarga YUMAME mulai meninggalkan Korea Selatan untuk langsung terbang ke Indonesia bertemu dengan keluarga teman lamanya itu.


Mereka terbang dengan menggunakan pesawat pribadi Tuan Han, yang berisikan Nyonya Eden, Lisa, serta sekertaris Kim yang saat itu bertugas menjadi co-pilot menemani pilot yang akan menerbangkan pesawatnya.


" Akhirnya tiba juga hari ini. " ucap Nyonya Eden dengan senyuman mengembang menatap suami dan anaknya.


Tuan Han ikut tersenyum sedangkan Lisa hanya tersenyum tipis dengan pipi yang tiba-tiba memerah.


" Apa kau sangat senang Lisa?, lihat pipimu sampai memerah seperti itu. " ucap Tuan Han menggoda anak gadisnya.


Lisa langsung salah tingkah dan memegang kedua pipinya sambil menahan senyum.


" Tidak!, tidak kok, aku biasa saja. " ucapnya tiba-tiba terlihat cuek.


Tuan Han dan Nyonya Eden saling memandang, mereka tau Lisa hanya berpura-pura terlihat biasa saja, walaupun sebenarnya dalam hatinya ia sangat senang karena ia akhirnya bisa bertemu dengan seseorang yang selalu di ceritakan oleh orang tuanya itu.


Indonesia, kediaman keluarga Maheswara.


Terlihat kesibukan di rumah mewah nan megah itu, para pelayan tak henti-hentinya kesana kemari mempersiapkan segala sesuatu yang harus di persiapkan.


Sedangkan Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita sedang duduk di ruang keluarga dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


" Dimana anak itu!. " ucap Tuan Adiwijaya yang sedang berdiri dengan bertolak pinggang.


" Aku sudah menghubungi nya, tapi tak ada jawaban. " ucap Nyonya Dita dengan wajah cemas menatap suaminya.


" Bagaimana dengan Enji?. " tanyanya lagi.


" Sudah, tapi tetap tak ada jawaban. " ucap Nyonya Dita yang sudah hampir menangis.


Wajah Tuan Adiwijaya sudah memerah, karena ia berusaha menahan amarahnya. Ia terus mondar-mandir dengan bertolak pinggang, sedangkan istrinya hanya duduk dan menangis.


" Kenapa mama menangis?. " ucap Kai yang tiba-tiba datang bersama Enji.


Seketika Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita langsung menoleh ke arah suara itu.


" Kai!!!!." teriak Nyonya Dita yang langsung berjalan menghampiri anaknya itu.


Kai dan Enji saling menatap heran dengan keadaan ini.


" Kau kemana saja Kai!!. " ucap Tuan Adiwijaya menatap tajam anaknya.


" Aku tak kemana-mana, aku hanya keluar sebentar. " ucap Kai dengan wajah lugunya sambil melirik Enji dan Enji ikut mengangguk.


" Sebentar katamu?!, kau keluar di situasi seperti ini dan tak memberitahu pada siapapun!!. " ucap Tuan Adiwijaya mulai menghampiri Kai.


" Kau tau!, mamamu sangat mencemaskan mu, dan kau!!, kau malah tiba-tiba menghilang, tentu saja kami khawatir!!. " ucap Tuan Adiwijaya mulai emosi.


" Kau pergi kemana Kai?, kenapa tak memberitahu kami?. " ucap Nyonya Dita yang sudah mulai tenang walau air matanya masih menetes.


" Maafkan aku mah, tadi aku keluar sebentar untuk mencari udara segar untuk menenangkan ku sebelum bertemu dengan keluarga teman papa itu. " ucap Kai jujur pada mamanya.


Enji mengangguk membenarkan ucapan tuan mudanya.


" Benar Nyonya, Tuan, tadi tuan muda Kai meminta saya untuk menemaninya mencari udara segar agar ia tak terlalu tegang ketika bertemu dengan para tamu nanti. " ucap Enji menjelaskan.


" Kenapa tak ada yang mengabari rumah?. " ucap Tuan Adiwijaya menatap Kai dan Enji.


" Soal itu say..


" Aku pikir kalian tak akan mencemaskan ku sampai seperti ini karena aku hanya keluar sebentar bersama Enji. " ucap Kai yang mengambil alih ketika Enji ingin menjelaskannya.


" Lalu kenapa tak ada yang menjawab panggilan ku?. " tanya Tuan Adiwijaya lagi.


Enji diam melirik Kai, dan Kai balas melirik Enji.


" Aku yang menyuruh Enji tak menjawab panggilannya. " ucap Kai tertunduk, begitu pula dengan Enji yang ikut tertunduk.


" Kenapa kau lakukan itu?!. " ucap Tuan Adiwijaya menatap tajam Kai.


Tapi Kai tak menjawab dan hanya tertunduk, ia tak berani menjawab pertanyaan papanya.


" Sudahlah, yang sudah terjadi lupakan saja, yang penting kau sudah kembali Kai, mama sangat takut jika kau tak kembali lagi nak. " ucap Nyonya Dita lembut menatap anaknya.


Kai tersenyum dan mengangguk, lalu memeluk mamanya dan Nyonya Dita balas memeluk Kai.


Tuan Adiwijaya hanya menatap mereka berdua dan hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam.


Lalu ia mulai melirik Enji yang sedari tadi berdiri di samping Kai.


" Enji!. " ucap Tuan Adiwijaya tiba-tiba.


Seketika Enji langsung menoleh dan siap siaga.


" Iya tuan?. " jawab Enji menoleh ke arahnya.


" Kau sudah menyiapkan jemputan untuk tamu ku?. "


" Semuanya sudah siap tuan, saya sudah menyuruh orang untuk tetap di sana dan menunggu kedatangan tamu anda, mereka sudah berada di sana dan akan menjemputnya begitu mereka turun dari pesawat. " ucap Enji tenang.


" Baguslah, mereka bilang akan sampai dalam satu jam lagi. " ucap Tuan Adiwijaya.


" Akan saya sampaikan pada utusan saya, agar mereka segera bersiap. " ucap Enji.


Tuan Adiwijaya hanya mengangguk dan duduk di sofa ruang keluarga, bersama Kai dan Nyonya Dita, sedangkan Enji pergi keluar untuk memberitahu pada orang suruhannya yang bertugas menjemput tamu Tuan Adiwijaya agar mereka segera bersiap karena tamu tersebut akan sampai satu jam lagi.


Sementara itu, di pesawat pribadi Tuan Han.


" Kita sudah sampai dan akan segera mendarat. " ucap Sekertaris Kim memberitahu pada Tuan Han serta istri dan anaknya.


Tuan Han mengangguk, lalu sekertaris Kim kembali lagi pada tempatnya.


Terlihat rona bahagia menyelimuti wajah Tuan Han serta Nyonya Eden, tapi tidak dengan Lisa.


Sepertinya Lisa mulai gelisah dan gugup terlihat dari wajahnya yang tak menunjukkan senyumannya seperti saat pertama tadi.


Tuan Han dan Nyonya Eden yang menyadari jika anak mereka mulai gugup itu mencoba menghiburnya.


" Santai saja, semuanya akan baik-baik saja sayang. " ucap Nyonya Eden lembut menggenggam tangan Lisa.


Tuan Han juga ikut menatap anak gadisnya itu dengan tersenyum dan mengangguk, begitu juga Lisa yang sudah mulai tenang dan mulai tersenyum ikut mengangguk.


Pesawat pun mendarat dengan lancar tanpa kendala.


Tuan Han dan seluruh rombongan mulai keluar dari pesawat pribadinya menuju tempat penjemputan yang sudah di siapkan oleh Tuan Adiwijaya.


Dari kejauhan, seorang lelaki tinggi sedang memegang papan nama yang bertuliskan YUMAME FAMILY dan dengan segera Sekertaris Kim langsung menghampirinya.


" Dari utusan keluarga Maheswara?. " tanya Sekertaris Kim pada lelaki itu.


" Yes sir. " ucap lelaki itu ramah.


Dengan segera sekertaris Kim langsung memberitahu jika keluarga YUMAME sudah mendarat dan sedang menunggu jemputan di ruang tunggu.


Sekertaris Kim mengantarkan lelaki itu untuk menemui Tuan Han dan keluarga, setelah mereka bertemu dan saling mengenal, utusan Enji itu langsung mengantarkan keluarga YUMAME menuju ke kediaman Tuan Adiwijaya.


Sebelum berangkat menuju kediaman Tuan Adiwijaya orang suruhan Enji itu terlebih dahulu memberitahu pada Enji jika ia sudah bersama dengan keluarga YUMAME dan akan segera langsung melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman Tuan Adiwijaya.


Enji yang mendengar berita itu tentu saja langsung memberitahu Tuan Adiwijaya jika mereka sudah sampai dan sedang menuju kemari.


Tuan Adiwijaya pun langsung bersiap dan menyuruh keluarganya segera bersiap untuk menyambut tamu istimewanya itu.


Hanya butuh waktu satu jam lamanya agar mereka sampai di kediaman Tuan Adiwijaya.


Di dalam mobil, Lisa tak henti-hentinya menghentakkan kakinya ke atas dan ke bawah dengan pandangan keluar jendela entah apa yang di perhatikan nya.


" Lisa. " panggilnya dan Lisa pun langsung menoleh.


" Jangan khawatir, santai saja jangan gugup seperti itu. " ucapnya lagi menatap anaknya karena mereka duduk terpisah.


Lisa hanya bisa menatap papanya tanpa bicara apapun lalu ia mulai menghentikan kakinya yang sedari tadi terus ia hentakan.


Tak terasa, satu jam sudah mereka lalui, akhirnya Tuan Han dan rombongan tiba di kediaman Tuan Adiwijaya.


Terlihat, Tuan Adiwijaya sudah menunggu keluarga YUMAME di depan pintu utama rumahnya bersama dengan Nyonya Dita, Kai, dan Enji.


Mobil jemputan yang di tugaskan untuk menjemput keluarga YUMAME pun mulai memasuki gerbang utama rumah Tuan Adiwijaya.


Terlihat wajah bahagia pun menyelimuti keluarga Tuan Adiwijaya, mereka terus tersenyum ketika mobil itu mulai memasuki halaman rumah yang megah itu.


Mobil pun berhenti tepat di depan mereka, dengan segera, sang supir langsung membukakan pintu mobil itu agar tamu istimewa tuannya itu segera turun.


Ketika Tuan Han dan seluruh keluarganya sudah turun, Tuan Adiwijaya dan istrinya langsung menyambut mereka dengan menghampirinya begitu juga dengan Enji yang ikut menyambut mereka.


Tapi tidak dengan Kai, ia malah mematung dengan mata melotot menatap tamu papanya itu.


" Tuan Lee Han?!!. " ucapnya dengan mata yang mendadak seperti tak bisa berkedip dan tubuhnya yang mendadak kaku karena ia berdiri mematung.


Tuan Han yang mendengar namanya di panggil pun langsung menoleh ke arah Kai, lalu ia tersenyum.


Begitu juga dengan Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita yang ikut menoleh ke arah Kai dan tersenyum.


" Bagaimana kabarmu Tuan Kai?. " ucap Tuan Han menatapnya.


Kai seperti mendadak menjadi kaku seketika, karena ia terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Kai lalu menatap papanya dengan wajah yang penuh pertanyaan.


Tuan Adiwijaya yang merasa anaknya membutuhkan penjelasan itu langsung mengajak Tuan Han dan seluruh keluarganya agar segera masuk ke dalam.


Kai lalu mengikuti mereka bersama Enji yang menemaninya.


Mereka semua mulai duduk di ruang tamu yang sangat luas, dan Kai juga ikut duduk dengan mata yang masih menatap ayahnya dengan tatapan penuh pertanyaan.


Sebelum menjelaskan semuanya pada Kai, Tuan Adiwijaya menyuruh para pelayannya untuk menyiapkan minuman serta camilan untuk tamu istimewanya itu, dan dengan sigap para pelayan nya itu langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh tuan besar mereka.


Pelayan tuan Adiwijaya menyiapkan banyak makanan dengan berbagai macam aneka makanan serta minuman untuk tamu istimewa tuannya itu dan meletakkannya di meja ruang tamu yang sangat luas itu.


Tuan Adiwijaya lalu menyuruh Tuan Han serta keluarganya untuk mencicipi terlebih dahulu hidangan yang dihidangkan untuknya itu, dengan senang hati merekapun langsung mencicipi nya.


Setelah dirasa cukup untuk sekedar mengopi, mereka melanjutkan obrolannya, karena Tuan Adiwijaya sudah sangat kesal karena Kai terus menatapnya dengan tajam.


" Han, terimakasih kau masih sempat mengunjungi kami ke sini. " ucap Tuan Adiwijaya menatap Tuan Han.


" Han?, papa!!. "ucap Kai yang sudah cukup sabar karena ia sangat menunggu papanya itu mau menjelaskan semuanya.


Tuan Adiwijaya dan Tuan Han serta istri mereka langsung menatap Kai.


" Maaf Kai, sebelumnya papa tak memberitahu mu siapa teman papa yang akan mengunjungi kami ini. " ucap Tuan Adiwijaya menatap anaknya.


" Beliau Tuan Han, atau Tuan Lee Han Yumame, sahabat papa dulu, Han asli Indonesia dan semasa kecilnya ia tinggal di Indonesia bersama papa, kami dulu tetanggaan, kita satu sekolah dan setiap harinya kami menghabiskan waktu bersama, sampai waktu itu, Han harus pindah ke luar negeri karena orang tuanya mempunyai pekerjaan disana, dan akhirnya Han pun di boyong oleh keluarganya ke Korea Selatan, mereka cukup lama tinggal di sana, dan saat orang tua Han meninggal, semuanya pindah ke tangan Han, ia harus mengurusi semua usaha yang di tinggalkan oleh orang tuanya, dan waktu itu Han memutuskan untuk menetap di Korea Selatan. " ucapnya panjang lebar menceritakan pada Kai, bahkan sampai awal pertemuan mereka.


Kai masih menyimak dan enggan memberikan tanggapan.


" Papamu ini adalah sahabatku Kai, Satu-satunya teman ku di Indonesia, tapi kami harus berpisah saat itu. " ucap Tuan Han menambahkan.


Tuan Adiwijaya tersenyum begitu pula dengan Tuan Han.


" Lalu, kenapa papa tak memberitahu ku jika teman papa itu Tuan Lee Han Yumame?. " ucap Kai menatap papanya karena ia merasa papanya sengaja menyembunyikannya.


Tuan Han tersenyum lalu ia menatap Tuan Adiwijaya.


" Sebenarnya aku yang melarang Adi untuk tak memberitahu mu Kai. " ucap Tuan Han tersenyum menatap Kai.


Kai mengerutkan keningnya.


" Tunggu, tunggu. " ucap Kai yang mulai menggunakan ingatannya.


" Jadi waktu kita bertemu di Belanda saat itu,, " ucap Kai yang menebak dugaannya.


Tuan Han mengangguk dengan tersenyum lebar, ia merasa jika Kai sudah mulai menduga-duganya.


" Kau benar Kai, aku sudah tau, karena Adi yang memberitahu ku. " ucap Tuan Han.


" Memangnya sekertaris mu tak memberitahu mu ya?. " ucap Tuan Han yang mulai memasukan Enji dalam permainannya.


Seketika Kai langsung menoleh ke arah Enji dengan wajah yang sangat bingung, dan Enji yang merasa dirinya sudah harus mengaku itu langsung tersenyum manis dan menunjukkan gigi putihnya ketika Kai menatapnya.


" Hehehe. " tawa Enji ikut menatap ketika Kai menatapnya tajam.


Kai sudah mulai mengerti sekarang, jika ia memang sengaja tak di beritahu soal ini, dan ketika pertemuannya dengan Tuan Han kala itu, Enji sudah mengenal Tuan Han terlebih dahulu dari Tuan Adiwijaya, dan ia sengaja tak di beritahu soal ini oleh siapapun.


" Ohh, jadi kalian sengaja ya? hmm?, dan kau Enji!!, kau juga terlibat ya!!, dasar penghianat!!. " ucap Kai memonyongkan bibirnya, sebenarnya ia ingin marah pada orang-orang yang mengerjai nya, tapi ia tak melakukannya karena di sana ada Tuan Han serta keluarganya.


Enji, yang merasa tuannya marah itu langsung meminta maaf pada Kai, tapi Kai tak memaafkannya begitu saja.


Tuan Adiwijaya, dan Tuan Han serta istri mereka ikut tertawa melihat tingkah Kai dan Enji yang lucu itu.


" Haahh,,, sudahlah, kalian ini seperti anak kecil saja, Kai jangan seperti itu, papa yang menyuruh Enji melakukannya, berbaikan lah. " ucap Tuan Adiwijaya menatap Kai.


" Iya, tapi aku ingin memberikannya pelajaran terlebih dahulu. " ucap Kai melirik Enji dengan tatapan penuh maksud.


Enji yang merasa akan terkena sial itu, hanya bisa pasrah dengan wajahnya yang memelas.


Tuan Adiwijaya melirik gadis yang duduk bersama Nyonya Eden dan memperhatikannya.


" Dia Lisa?. " tanya Tuan Adiwijaya menatap Tuan Han.


Tuan Han mengangguk dan Nyonya Eden pun mulai merangkul pundak Lisa karena ia hanya duduk dan diam saja sedari tadi.


" Hay Lisa!, kau masih ingat aku?. " tanya Tuan Adiwijaya tersenyum pada Lisa.


Lisa mulai balas menatap Tuan Adiwijaya dan mencoba mengingat-ngingat wajahnya tapi sepertinya Lisa memang tak mengingatnya.


" Maaf paman, aku tak mengingatnya. " ucap Lisa tersenyum tipis.


" Sayang, mana mungkin Lisa ingat, dulu dia kemari saat ia masih berumur dua tahun dan saat itu ia masih sangat kecil, kau ini bagaimana. " ucap Nyonya Dita mengingatkan suaminya.


" Ohh,, kau benar sayang, hehe. " ucap Tuan Adiwijaya terkekeh dan Tuan Han serta Nyonya Eden juga ikut tertawa, sedangkan Lisa hanya tersenyum tipis.


" Lisa, kau cantik sekali sayang. " ucap Nyonya Dita yang tak bisa berhenti memandangi lisa.


" Iya, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, aku sangat bersyukur Nyonya Dita. " ucap Nyonya Eden menggenggam tangan Lisa, dan Lisa tersenyum tipis.


" Kai!!. " panggil Tuan Adiwijaya tiba-tiba.


" Ya. " sahut Kai menatap papanya.


" Dia Lisa, sewaktu kecil kau pernah bermain dengannya ketika ia berkunjung kesini. " ucap Tuan Adiwijaya mencoba mengingatkan Kai.


" Aku tak mengingatnya. " ucap Kai cuek.


" Kau ini selalu seperti itu. " ucap Tuan Adiwijaya menatap Kai, dan Kai tak terintimidasi sedikit pun oleh tatapan papanya.


" Lisa, dia Kai, satu-satunya anak paman. " ucap Tuan Adiwijaya tersenyum memberitahu Lisa.


Lisa menatap Tuan Adiwijaya, dan beralih menatap Kai ketika ia memperkenalkan anaknya.


Mata Lisa dan Kai beradu mereka sama-sama saling memandang, entah apa yang ada di pikiran Lisa, tak biasanya ia bersikap seperti ini pada lelaki.


Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat gugup bertemu dengan lelaki. Lisa langsung mengalihkan pandangannya ia merasa salah tingkah ketika Kai ikut menatapnya tanpa berkedip.


LIKE KOMEN 💜