
Akhirnya Kai tiba di Indonesia, seperti biasa Enji sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menjemput mereka dan mengantarkannya pulang ke kediaman Tuan Adiwijaya.
" Devan, kau ikut saja ke rumah, sekalian kita makan siang bersama. " ajak Kai, Enji ikut melirik Devan.
" Iya tuan, saya mau. " mengangguk dan nyengir sambil melirik Enji, Enji menatapnya dengan tatapan malas.
Sesampainya di rumah, Nyonya Dita dan Tuan Adiwijaya sudah menyambut mereka tepat di depan pintu utama rumahnya.
" Kai.. " ucap Nyonya Dita sambil merentangkan tangannya.
Kai tersenyum dan menghampirinya, lalu ia memeluk ibunya dengan erat, melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam.
" Pah.. " ucap Kai yang sudah melepaskan pelukannya dengan Nyonya Dita, dan kini berganti memeluk papanya.
" Kau baik Kai?. " tanyanya sambil memeluk Kai.
" Aku baik Pah, kalian juga baik-baik saja kan?. " tanya Kai yang sudah melepaskan pelukan papanya dan kini memandangi wajah kedua orang tuanya.
" Kami baik nak. " jawab Nyonya Dita sambil mengelus lengan Kai.
" Tuan, Nyonya, bagaimana kabar kalian?. " tanya Devan tersenyum lebar sambil menjabat tangan Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita.
Tuan Adiwijaya dan Nyonya Dita terlihat berpikir ketika melihat Devan, ia mencoba mengingat-ngingat wajahnya.
" Devan?. " tanya Tuan Adiwijaya.
" Iya Tuan, saya Devan. " jawabnya tersenyum.
" Ya Tuhan!, Devan?, aku hampir saja lupa padamu!, kau kemana saja sampai tak pernah berkunjung kesini?. " tanya Nyonya Dita yang terkejut jika orang yang berada di hadapannya itu adalah Devan orang kepercayaan Kai setelah Enji.
" Maaf Nyonya, akhir-akhir ini perusahaan sedang sibuk karena permintaan konsumen yang meningkat, jadi produksi juga meningkat dan sedikit menyita banyak waktu, semuanya demi untuk memenuhi kebutuhan para konsumen. " ucap Devan.
" Ahh,, kau benar Devan, aku minta maaf sudah berbicara seperti itu padamu, padahal kau sedang bekerja sangat keras untuk dapat memenuhi semua kebutuhan orang banyak. " ucap Nyonya Dita tak enak hati.
" Ah, tidak apa-apa Nyonya, harusnya saya yang berterima kasih pada Nyonya Dita, Tuan Adiwijaya dan Tuan Muda, karena sudah memberikan saya kesempatan dan mempercayakan perusahaan kalian pada saya, saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini kedepannya. " ucapnya tersenyum.
Nyonya Dita mengangguk, lalu ia mengajak semua orang untuk masuk dan melanjutkan ceritanya di dalam sambil makan siang bersama.
Mereka semua duduk di ruang makan lantai satu, semuanya terlihat bersuka cita dan bahagia, bahkan setelah apa yang terjadi kemarin di Busan, Kai, Enji, dan Devan berlaga seperti halnya tidak terjadi sesuatu pada mereka.
" Kai,, bagaimana?, apa kau sudah sangat dekat dengan Lisa?. " tanya Tuan Adiwijaya menatap anaknya.
Kai terlihat sedikit enggan memberikan komentar mengenai Lisa.
" Kai... " panggil mamanya.
" Ah, iya?. " ucap Kai yang tersadar dari lamunannya.
" Papamu ingin tau, apa kau sudah dekat dengan Lisa?. " tanyanya lembut.
" Ya, ya, ku rasa selama dua bulan ini cukup untuk membuat kita sedikit dekat. " tersenyum Paksa menatap kedua orang tuanya.
" Baguslah kalau begitu, lalu apa rencanamu selanjutnya ?. " tanya Tuan Adiwijaya.
Kai sempat terdiam cukup lama ketika menjawab pertanyaan dari papanya itu, sampai tiba-tiba..
" Aku akan menikahinya pah. "
KLONTANG!
" Uhukk,, uhukk. "
" Ohokk, Ohokk, ekhem. "
Sontak saja ucapan Kai itu membuat Semua orang yang berada di meja makan terkejut seketika, terutama Enji dan Devan, mereka yang sedang asyik-asyiknya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya pun tak kuasa menahan keterkejutan nya saat Kai mengucapkan kalimat itu, mereka sampai tersedak dan menjatuhkan sendok makannya.
" Enji, Devan, kalian tidak papa?. " tanya Nyonya Dita panik karena melihat mereka berdua batuk-batuk sampai wajahnya merah padam.
" Ini,, ini minum. " ucap Tuan Adiwijaya sambil memberikan dua gelas air putih padanya.
" Uhukk,, terimakasih tuan. "
GLEK.. GLEK.. GLEK.. GLEK..
" Ahhhhh,, lega. " Enji.
" Ahhhhh,, lega. " Devan.
Mereka berdua saling melirik, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kai.
" Tuan Kai! apa kau sedang bercanda?. " tanya Enji dengan wajah terkejutnya.
Kai melirik Enji.
" Apa aku terlihat bercanda?. "
Enji melirik Devan begitu pula Devan yang juga melirik nya, mereka tak tau apa yang ada di dalam pikiran Kai.
ILUSTRASI DEVAN
BY PINTEREST