Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 9. Kekesalan Liana



Qeiza mengalihkan pandangan ke tubuh Siena yang ada di gendongan Arkhan, "Waw jadi ini anak kamu mas? Cantik banget ya dia? Gak jauh beda deh sama aku sayang," ucapnya sambil mengelus pipi Siena.


Seketika itu juga Siena menangis, Qeiza pun panik dan tak mengerti apa yang membuat bayi mungil itu menangis tiba-tiba. Arkhan juga reflek menyingkirkan tangan Qeiza dari wajah putrinya agar Siena berhenti menangis, pria itu terlihat tak senang dengan reaksi Siena saat dipegang oleh Qeiza barusan.


"Sayang, kamu mending gausah dekat-dekat deh sama anak aku! Aku gak mau dia takut dan nangis lagi gara-gara kamu," pinta Arkhan.


"Aku minta maaf mas, tapi aku juga gak tahu kenapa dia bisa nangis kayak gitu," ucap Qeiza.


"Ah dia pasti takut sama kamu, karena dia kan belum pernah lihat kamu sebelumnya. Udah kamu pergi sana, jangan sampai Siena nangis lagi gara-gara kamu!" ucap Arkhan.


"Siena? Ohh, nama anak kamu Siena?" ucap Qeiza sambil melangkah mendekati Siena lagi. "Duh duh, ha'lo Siena sayang! Kamu gausah takut ya sama tante? Tante ini orang baik kok," sambungnya.


"Qeiza, cukup ya aku mohon jangan sakiti anak aku! Aku janji akan tanggung jawab sama kamu, tapi tolong pergi dulu dari sini!" ucap Arkhan.


"Apa sih mas? Siapa yang mau jahatin Siena? Aku cuma mau main sama dia kok," ucap Qeiza.


"Sini sini sama tante sayang!" Qeiza maju dan berniat menggendong Siena, tapi tentu Arkhan tak mengizinkan dan malah mendorong tubuh Qeiza agar menjauh dari mereka.


"Awhh!!" pekik Qeiza sambil memegangi lengannya.


"Kamu apa-apaan sih mas? Kok kamu dorong aku? Padahal aku kan cuma mau gendong Siena, aku gemas tau sama dia," protes Qeiza.


"Aku gak izinin kamu buat sentuh Siena lagi! Cukup sekali ya kamu bikin dia nangis, udah mending kamu keluar dari rumah aku sekarang!" ujar Arkhan.


"Oh gitu ya mas? Mentang-mentang lagi di rumah, terus kamu seolah gak perduli sama aku?" cibir Qeiza.


Arkhan menggeleng sambil berbisik di telinga wanita itu, "Bukan gitu sayang, ini cuma belum waktunya buat kamu untuk datang kesini. Aku gak mau semuanya jadi berantakan," ucapnya lirih.


Wajah Qeiza langsung berubah cemberut, ia membuang muka dan melipat kedua tangannya. Arkhan yang melihat itu sontak kebingungan, akhirnya Arkhan menaruh Siena di roda tempatnya biasa bermain agar ia bisa lebih leluasa berbincang dengan Qeiza disana. Setelahnya, Arkhan lalu mendekati Qeiza dan menarik wanita itu agak menjauh dari keberadaan Siena.


Berliana masih mengamati mereka dari jauh, wanita itu terlihat penasaran saat Arkhan membawa Qeiza menjauh. Ia berniat mendekati mereka untuk mencari tahu apa yang hendak dibicarakan oleh keduanya, tapi disaat ia maju justru kursi rodanya tergelincir dan ia hampir terjatuh ke bawah.


"Akh!" pekik Berliana berusaha menahan berat badannya agar tak terjatuh.


"Hah nyonya??" suster Indri yang melihatnya panik dan langsung menghampiri Berliana mencoba membantunya.


Tampak para penjaga disana juga turut membantu suster Indri menolong Berliana, bahkan Arkhan sampai terkejut mendengar teriakan istrinya barusan. Arkhan menoleh ke asal suara dan kaget saat melihat Berliana nyaris terjatuh dari kursi roda.


"Berliana?" lirih Arkhan tampak cemas, ia berniat menghampiri istrinya tetapi tangannya dicekal oleh Qeiza dengan erat.


"Mau kemana mas?" ucap Qeiza pelan.


"Kamu apaan sih sayang? Lepasin aku, aku mau tolong istri aku!" ujar Arkhan.


"Aku gak akan izinin kamu pergi gitu aja mas, kita kan belum selesai ngobrol," ucap Qeiza.


"Iya iya, aku nanti balik lagi dan selesaikan semuanya. Please, aku mohon sebentar aja kamu lepasin aku dan biarin aku tolong Liana!" ucap Arkhan memaksa.


"Eee yaudah deh mas, kamu boleh tolong istri kamu," ucap Qeiza melepas lengan pria itu.


"Terimakasih," ucap Arkhan singkat dan langsung pergi mendekati istrinya.




Arkhan langsung menghampiri Berliana yang tengah terjatuh dari kursi roda itu, ia cepat-cepat menarik tangan Berliana dan membantunya duduk kembali di kursi roda. Tentu saja Arkhan masih memiliki rasa perduli terhadap istrinya, sebab ia pun sangat menyayangi Berliana dan mencintainya.


"Sayang, kamu gapapa kan? Kamu kok bisa hampir jatuh gini sih sayang? Kamu hati-hati dong ah!" ucap Arkhan panik.


Berliana menatap sinis ke arah suaminya, seolah mengatakan bahwa ia tak menginginkan bantuan dari pria itu saat ini. Namun, Berliana mencoba menahan emosi yang memuncak agar tak menimbulkan keributan disana, bagaimanapun Berliana tidak mungkin melabrak suaminya di depan para pekerja rumah.


"Liana sayang, lain kali kamu kalau mau kemana-mana bilang sama aku ya? Aku kan bisa bantu kamu jalan, biar kamu gak jatuh lagi kayak tadi," ucap Arkhan.


"Iya mas," lirih Berliana singkat.


Tak lama kemudian, Qeiza muncul dengan senyum di wajahnya menghampiri sepasang suami-istri itu tanpa rasa malu. Berliana yang melihatnya langsung merasa tak suka, ia memalingkan wajahnya ketika Qeiza datang dan terlihat sok dekat dengan dirinya dan juga Arkhan.


"Ih ya ampun, kok bisa kayak gini sih Bu? Harusnya hati-hati dong kalau mau jalan, kan jadi repot sendiri tuh pas hampir mau jatuh. Tapi, ibu gak kenapa-napa kan?" ujar Qeiza.


Seakan tahu kalau istrinya terlihat heran, Arkhan pun inisiatif berbicara mengenalkan Qeiza pada Berliana. "Eee sayang, kenalin ini Qeiza. Dia itu partner bisnis aku di kantor, maaf ya tadi aku gak sempat ngenalin kalian," ucapnya.


"Partner bisnis katanya? Masa iya partner bisnis sampe rangkulan dan peluk-peluk kamu kayak tadi sih mas?" batin Berliana.


Rasanya ingin sekali Berliana mengungkapkan isi hatinya itu pada sang suami, tetapi ia masih bisa menahan diri untuk tidak membuat keributan di depan banyak orang dan memilih sabar. Meskipun di lubuk hatinya ia sudah tak tahan lagi dengan kelakuan suaminya itu.


"Oh partner bisnis ya mas? Pantas aku jarang lihat dia, salam kenal ya mbak Qeiza?" ucap Berliana sambil tersenyum.


"Iya salam kenal juga Bu, saya senang deh bisa kenalan sama istri dari pak Arkhan yang terhormat ini," ucap Qeiza.


"Sama-sama, saya juga senang kenal sama kamu. Selamat datang ya di rumah ini!" ucap Berliana.


"Terimakasih Bu, eee tapi nama ibu siapa ya? Saya belum tahu soalnya," tanya Qeiza.


"Saya Liana." Berliana mengenalkan diri dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Qeiza, tapi diluar dugaan Berliana justru mencengkram kuat tangan Qeiza saat ini.


"Awhh sialan! Maunya apa sih nih cewek?" gumam Qeiza dalam hati merasa kesakitan.


"Akh awhh!!" Qeiza reflek memekik saat Berliana melepas pergelangan tangannya, sontak itu membuat Arkhan keheranan.


"Kenapa Bu Qeiza?" tanya Arkhan.


"Gak kok, gapapa." Qeiza menjawab dengan tatapan sinis ke arah Berliana sembari memegangi tangannya.


"Awas ya kamu, akan aku balas semuanya dan bikin kamu menderita seumur hidup Liana!" batin Qeiza penuh dendam.


Berliana tersenyum melihat reaksi kekesalan di wajah Qeiza, seolah menandakan ia puas dengan apa yang baru saja ia lakukan, meski tentu itu tak sebanding dengan perselingkuhan mereka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...