Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 7. Diganggu



Hari sudah malam, Berliana tengah membereskan tas milik suaminya dan mengeluarkan baju-baju yang ada di dalam sana untuk dicuci besok. Namun, wanita itu dibuat kaget saat melihat salah satu kemeja Arkhan yang terdapat noda merah bekas bibir perempuan disana. Tentu saja Berliana merasa curiga pada suaminya, air mata langsung keluar membasahi pipinya saat itu juga.


Kebetulan Arkhan saat ini sedang mandi, sehingga Berliana masih bisa memeriksa semua pakaian suaminya di dalam tas itu. Ia memasukkan baju-baju kotor milik Arkhan ke dalam keranjang, tapi menyimpan satu kemeja yang tadi ia temukan untuk diselidiki lebih lanjut. Berliana yakin jika ada sesuatu yang tengah disembunyikan suaminya saat ini, tidak mungkin kemeja itu kotor begitu saja terkena lipstik seseorang.


Ceklek


"Liana!" tiba-tiba Arkhan keluar dari kamar mandi dan langsung memanggil istrinya, ia melihat jelas Berliana memegang kemeja miliknya disana.


"Eh mas, udah selesai mandinya?" tanya Berliana berpura-pura tidak terjadi apapun.


"Iya udah kok, kamu lagi ngapain sayang? Bukannya istirahat malah utak-atik tas aku," ucap Arkhan keheranan.


Berliana terlihat bingung dan mencoba berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Arkhan agar laki-laki itu tidak curiga padanya, ia belum ingin membahas mengenai noda di kemeja Arkhan saat ini karena khawatir Arkhan malah emosi dan terjadi pertikaian diantara mereka.


"Eee aku cuma mau beresin baju-baju kamu kok mas, supaya besok bisa langsung dicuci sama bik Mumun." bohong Berliana sambil tersenyum.


"Harusnya gausah kayak gitu sayang, aku kan bisa beresin semuanya sendiri nanti. Kamu itu mending istirahat aja, udah deh sini biar aku aja yang beresin baju-baju itu!" ucap Arkhan.


"Gapapa mas, aku juga gak ada kerjaan kok. Bosen lah aku tiduran terus dari pagi," ucap Berliana.


Arkhan berjalan mendekati istrinya, kemudian mengambil alih tas serta beberapa pakaian yang telah dirapihkan Berliana. Pria itu memasukkan semuanya ke dalam keranjang secara berhati-hati, sedangkan Berliana hanya diam mengamati suaminya sambil masih memegang kemeja bernoda merah di tangannya.


Sesudah semuanya masuk ke keranjang, Arkhan kembali menoleh menatap istrinya. Namun, pria itu menyadari kalau masih ada satu kemeja yang tengah dipegang Berliana. Tentu saja Arkhan langsung mengambil paksa kemeja tersebut dari tangan Berliana hingga wanita itu terkejut, Arkhan sungguh kaget saat ia juga melihat noda merah yang tercetak di kemejanya.


"Loh kok bisa ada bekas lipstik disini sih? Apa jangan-jangan ini ulah Qeiza?" batin Arkhan panik.


Berliana mencoba bersikap biasa-biasa saja saat ia menyadari suaminya itu telah melihat tanda noda di kemejanya, meskipun di dalam hatinya Berliana sudah menggebu-gebu ingin menanyakan semua pada Arkhan. Beruntung hari sudah malam, sehingga Berliana malas berdebat dan memilih menunggu hari esok.


"Kira-kira Berliana ngeliat noda ini gak ya? Tapi, kelihatannya dia biasa-biasa aja, harusnya kan dia marah kalau emang dia ngeliat. Berarti dia emang gak tahu apa-apa," gumam Arkhan dalam hati.


Berliana pun merangkak ke atas kasur seolah bersiap untuk tidur, Arkhan yang masih memegang kemeja itu sedikit kaget dengan pergerakan Berliana dan memilih menuntun wanita itu agar tak terjatuh saat bergerak di atas kasur.


"Sa-sayang, kamu jangan gerak sendiri dong! Sini deh aku bantu biar gak jatuh ya," ucap Arkhan.


"Makasih mas," ucap Berliana sambil tersenyum.


Melihat sikap Berliana yang biasa-biasa saja dan cenderung baik padanya, Arkhan semakin yakin bahwa istrinya itu belum tahu mengenai noda merah di kemejanya. Kini ia pun bisa bernafas lega dan tidak perlu memikirkan itu lagi.




Keesokan harinya, Arkhan tengah asyik bermain dengan Siena di pekarangan rumahnya. Pria itu menggendong tubuh sang anak sambil tertawa penuh bahagia, momen ini memang yang ia rindukan sejak kemarin saat berjauhan dari Siena dan juga istrinya.


"Mas, kenapa kamu tega sih ngelakuin itu sama aku? Apa kamu gak mikir gimana nasib Siena nantinya? Aku harus bicarakan tentang ini ke kamu secepatnya mas, aku mau tau apa reaksi dan jawaban kamu nantinya," batin Berliana.


Arkhan masih belum menyadari keberadaan Berliana, ia masih terus asyik bermain bersama Siena disana sambil meniup gelembung air dengan satu tangannya. Siena sampai tertawa bahagia sebab jarang sekali ia bisa bermain dengan papanya seperti sekarang.


"Hahaha, kamu suka ini sayang? Lihat tuh gelembungnya ada banyak tau," kekeh Arkhan.


Tiba-tiba saja disaat mereka asyik bermain, Tedy selaku satpam yang bertugas disana datang menghampiri mereka. Arkhan sontak terkejut dan sedikit kesal karena ia tidak ingin ada siapapun yang mengganggunya disaat tengah bermain dengan Siena, putri kesayangannya.


"Misi pak, ada yang saya mau laporkan ke bapak," ucap Tedy dengan wajah menunduk.


"Haish, ada apa sih pak Tedy? Saya lagi main loh sama Siena, bisa gak jangan ganggu saya sekarang ini!" geram Arkhan.


"Maaf banget pak, tapi itu di depan ada orang yang nyari-nyari dan mau ketemu sama bapak. Makanya saya terpaksa temuin bapak sekarang," ucap Tedy.


"Hah? Siapa orang itu? Bilang ke dia kalau saya lagi sibuk!" ujar Arkhan.


"Saya gak kenal pak, tapi dia perempuan. Dia memaksa buat masuk dan ketemu bapak, saya harus gimana dong pak?" ucap Tedy.


"Perempuan? Siapa sih dia?" tanya Arkhan heran.


Tedy menggeleng tanda tak tahu, "Saya juga gak tahu dia siapa pak, tapi dari penampilannya sih dia seperti orang kantor," jawabnya.


"Orang kantor? Yasudah, suruh aja dia masuk kesini karena saya gak bisa tinggalin Siena!" ucap Arkhan.


"Baik pak!" Tedy langsung berbalik dan kembali ke depan menemui perempuan yang menunggu di luar gerbang.


Sementara Arkhan tetap disana bermain bersama Siena, ia tak perduli siapapun yang datang kesana karena baginya hanya Siena lah yang paling penting di dalam hidupnya saat ini. Ia sangat tidak mau ada yang mengganggunya dan ingin terus fokus bersama Siena.


"Ululu ululu cantik banget anak papa ini, main lagi yuk kita senang-senang hari ini!" ujar Arkhan.


"Mas!" Arkhan dikejutkan dengan suara wanita yang memanggilnya, ia reflek menoleh dan melihat ke asal suara tadi.


Arkhan langsung terbelalak lebar melihat sosok Qeiza di depannya, ia sama sekali tak menyangka jika wanita itu bisa hadir di rumahnya, padahal selama ini ia tak pernah memberitahu alamat rumahnya pada Qeiza.


"Qeiza? Ka-kamu..." Arkhan terbata-bata saat hendak berbicara.


Sementara itu, Berliana juga terlihat penasaran saat seorang wanita datang menemui suaminya di depan sana. Ia sangat ingin tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Arkhan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...