Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 6. Pulang ke rumah istri



Saat ini Arkhan berpamitan pada Qeiza agar bisa pergi menemui Berliana di kota, Arkhan merasa sudah cukup lama ia meninggalkan istrinya itu dan ia khawatir Berliana akan curiga jika ia tidak segera kembali sekarang. Apalagi semalam Arkhan mengecek ponselnya dan melihat banyak sekali telpon serta pesan chat dari Berliana yang masuk berisi kekhawatiran pada dirinya.


Meski begitu, Qeiza sangat kecewa karena Arkhan masih saja memikirkan perasaan istrinya dibanding dirinya. Padahal selama ini ialah yang selalu memberi kepuasan pada pria itu, sedangkan ia yakin Berliana tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri karena untuk berjalan saja wanita itu tak bisa. Tentu saja Qeiza langsung melayangkan protes pada Arkhan dan meminta pria itu tidak pergi meninggalkannya.


"Mas, ini apa-apaan sih? Kamu beneran mau pergi tinggalin aku? Demi perempuan lumpuh itu, iya?" tanya Qeiza memastikan.


Arkhan menghela nafas sejenak sembari menaruh tasnya di bawah, ia berbalik menghadap Qeiza dan menangkup wajah wanita manis itu. Ada rasa aneh ketika setiap kali Arkhan bertatapan langsung dengan Qeiza dari jarak dekat seperti ini, seolah ia sudah pernah kenal dan bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Namun, Arkhan menepis semua anggapan itu dan tak mau berpikiran aneh.


"Sayang, kamu gausah sedih gitu dong. Aku cuma pergi sebentar, aku kangen sama anak aku di Jakarta sayang. Tapi tenang, nanti aku pasti langsung balik lagi kesini buat temenin kamu!" ucap Arkhan coba meyakinkan wanitanya.


"Apa iya? Kamu yakin bakal balik dan gak akan terjebak pesona istri kamu disana?" ujar Qeiza.


"Hey, kok bicaranya gitu sih? Aku gak mungkin terpesona lagi sama dia, orang dia udah lumpuh permanen kayak gitu. Aku tertariknya cuma sama kamu sayang," ucap Arkhan sambil mencubit gemas pipi Qeiza.


"Janji?" Qeiza yang masih tak percaya langsung mengacungkan kelingkingnya ke arah Arkhan.


"Aku janji sayang," ucap Arkhan menautkan jari kelingking mereka.


Kemudian, Arkhan dengan lembut menyatukan bibir mereka. Lidah keduanya saling membelit satu sama lain dan penuh gairah, tak lupa Arkhan menekan tengkuk Qeiza untuk memperdalam ciuman mereka di depan villa itu. Hingga tiba-tiba suara seorang wanita terdengar di telinga mereka yang membuat sepasang kekasih itu reflek menghentikan ciuman panas itu.


"Permisi tuan," Arkhan menoleh ke asal suara dan menemukan keberadaan bik Rum disana.


"Bik Rum, syukurlah bibik sudah datang. Kebetulan saya juga sudah mau pergi habis ini," ucap Arkhan berusaha menahan gairahnya.


"Iya tuan, kan tuan yang minta saya datang kesini kemarin malam," ucap bik Rum.


"Benar sekali, saya itu mau minta tolong sama kamu supaya kamu bantu Qeiza selama saya pergi ya! Soalnya saya yakin dia pasti kesulitan urus villa ini sendirian," ucap Arkhan.


"Iya siap tuan, saya pasti akan bantu istri tuan ini selama tuan pergi!" ucap bik Rum dengan tegas.


"Makasih ya bik?" ucap Arkhan pada wanita dewasa itu, lalu ia beralih menatap Qeiza yang masih merengut di sebelahnya.


"Sayang, kamu kok masih cemberut sih? Jangan bikin aku makin gemas sama kamu dong sayang!" goda Arkhan.


"Kamu gausah gombal deh mas, kalau kamu masih aja mau tinggalin aku disini sendirian!" ketus Qeiza.


"Kan kamu gak sendirian sayang, ada bik Rum yang bakal selalu temani kamu. Kamu tenang aja ya sayang!" ucap Arkhan.


"Ih apaan? Aku gak mau ditinggal berdua sama nenek peyot kayak gini!" cibir Qeiza.


Arkhan langsung melotot terkejut, "Kamu gak boleh bicara begitu sama bik Rum, sayang!" ucapnya.


Qeiza hanya memutar bola mata dengan malas, dan lalu ia berbalik masuk ke dalam villa tak perduli dengan teriakan Arkhan yang ingin menahannya. Sontak Arkhan menatap wajah bik Rum dan merasa tidak enak padanya.


"Eee bik, saya minta maaf ya atas perkataan istri saya tadi?" ucap Arkhan.


Setelahnya, Arkhan terpaksa pergi dari villa itu walau Qeiza masih marah padanya. Pria itu masuk ke mobil dan bergegas melaju meninggalkan villa menuju rumahnya di kota.


Dari dalam villa, tampak Qeiza menggeram kesal saat mengetahui Arkhan tetap pergi meski ia sudah berupaya menahannya. Ia sungguh tak terima dan merasa Arkhan telah mengacuhkannya.




Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Arkhan tiba di kediaman istrinya itu. Arkhan pun turun dari mobil membawa tas miliknya, ia tersenyum menatap rumah besar tersebut lalu berjalan masuk ke dalam dengan perasaan tak sabar ingin segera bertemu dengan istri juga anaknya yang sangat ia rindukan.


Sesampainya di dalam, Arkhan langsung meneriaki nama istri dan juga anaknya dengan keras sembari melangkah untuk mencari mereka. Lalu, Berliana yang terkejut pun memutuskan ke luar mencari tahu siapa yang datang. Wanita itu membawa kursi rodanya ke asal suara, ia yakin betul itu adalah suara suaminya yang sudah lama ia tunggu.


"Mas Arkhan?" ujar Berliana memanggil suaminya sambil tersenyum.


Arkhan sontak menoleh, ia ikut tersenyum menatap istrinya yang sudah berada di depannya saat ini. Tanpa basa-basi lagi, ia langsung saja menghampiri Berliana dan berjongkok di hadapan wanita itu.


"Sayang, aku kangen banget sama kamu!" ucap Arkhan sambil mencium tangan istrinya.


"Ah mas, kamu tuh paling bisa kalo soal merayu. Kamu darimana aja sih? Kenapa chat sama telpon aku gak pernah kamu jawab? Bikin aku khawatir aja deh," ucap Berliana.


"Maaf ya sayang? Aku beneran sibuk banget beberapa hari ini, jadinya aku gak sempat ngabarin kamu," bohong Arkhan.


"Oh gitu, tapi abis ini kamu udah gak akan pergi tinggalin aku lagi kan mas? Jujur deh aku takut banget kamu bakal tinggalin aku selamanya, jadi kamu disini aja ya sama aku!" ucap Berliana.


Arkhan tersenyum dan menggenggam tangan sang istri, "Kamu gak perlu takut cantik, aku janji akan selalu ada di dekat kamu!" ucapnya.


"Yang bener kamu mas? Kamu gak lagi bohongin aku kan?" tanya Berliana tak percaya.


"Iya sayang, aku gak bohong kok sama kamu. Kamu bisa pegang kata-kata aku kalau aku akan terus ada disini sama kamu dan Siena, aku kan sayang sama kalian berdua!" jawab Arkhan.


"Bagus deh mas, semoga ucapan kamu bukan cuma sekedar di mulut ya!" ucap Berliana.


"Pasti dong sayang, yaudah aku mau istirahat nih capek. Oh ya, Siena mana? Boleh dong aku main sebentar sama dia sebelum ke kamar," ujar Arkhan.


"Boleh mas, Siena ada di kamarnya. Kita sekalian aja istirahat disini yuk!" usul Berliana.


"Wah boleh tuh usul kamu, yaudah ayo kita sama-sama kesana!" ajak Arkhan.


Berliana mengangguk pelan, Arkhan lalu berdiri dan mendorong kursi roda istrinya perlahan menuju kamar putri mereka. Keduanya pun masuk ke kamar tempat Siena berada, mereka bermain dengan Siena sambil berbincang-bincang kecil.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...