Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 10. Makin menjadi



Tak lama kemudian, Qeiza muncul dengan senyum di wajahnya menghampiri sepasang suami-istri itu tanpa rasa malu. Berliana yang melihatnya langsung merasa tak suka, ia memalingkan wajahnya ketika Qeiza datang dan terlihat sok dekat dengan dirinya dan juga Arkhan.


"Ih ya ampun, kok bisa kayak gini sih Bu? Harusnya hati-hati dong kalau mau jalan, kan jadi repot sendiri tuh pas hampir mau jatuh. Tapi, ibu gak kenapa-napa kan?" ujar Qeiza.


Seakan tahu kalau istrinya terlihat heran, Arkhan pun inisiatif berbicara mengenalkan Qeiza pada Berliana. "Eee sayang, kenalin ini Qeiza. Dia itu partner bisnis aku di kantor, maaf ya tadi aku gak sempat ngenalin kalian," ucapnya.


"Partner bisnis katanya? Masa iya partner bisnis sampe rangkulan dan peluk-peluk kamu kayak tadi sih mas?" batin Berliana.


Rasanya ingin sekali Berliana mengungkapkan isi hatinya itu pada sang suami, tetapi ia masih bisa menahan diri untuk tidak membuat keributan di depan banyak orang dan memilih sabar. Meskipun di lubuk hatinya ia sudah tak tahan lagi dengan kelakuan suaminya itu.


"Oh partner bisnis ya mas? Pantas aku jarang lihat dia, salam kenal ya mbak Qeiza?" ucap Berliana sambil tersenyum.


"Iya salam kenal juga Bu, saya senang deh bisa kenalan sama istri dari pak Arkhan yang terhormat ini," ucap Qeiza.


"Sama-sama, saya juga senang kenal sama kamu. Selamat datang ya di rumah ini!" ucap Berliana.


"Terimakasih Bu, eee tapi nama ibu siapa ya? Saya belum tahu soalnya," tanya Qeiza.


"Saya Liana." Berliana mengenalkan diri dan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Qeiza, tapi diluar dugaan Berliana justru mencengkram kuat tangan Qeiza saat ini.


"Awhh sialan! Maunya apa sih nih cewek?" gumam Qeiza dalam hati merasa kesakitan.


"Akh awhh!!" Qeiza reflek memekik saat Berliana melepas pergelangan tangannya, sontak itu membuat Arkhan keheranan.


"Kenapa Bu Qeiza?" tanya Arkhan.


"Gak kok, gapapa." Qeiza menjawab dengan tatapan sinis ke arah Berliana sembari memegangi tangannya.


"Awas ya kamu, akan aku balas semuanya dan bikin kamu menderita seumur hidup Liana!" batin Qeiza penuh dendam.


Berliana tersenyum melihat reaksi kekesalan di wajah Qeiza, seolah menandakan ia puas dengan apa yang baru saja ia lakukan, meski tentu itu tak sebanding dengan perselingkuhan mereka.


"Eee yaudah, ayo masuk aja mbak Qeiza! Biar kita lebih enak ngobrolnya, kalau disini kan panas nih," ajak Berliana.


"Ah boleh Bu, kebetulan saya memang masih banyak yang mau dibicarakan dengan pak Arkhan. Saya makasih banyak kalau ibu mengizinkan saya masuk ke dalam," ucap Qeiza.


"Pasti saya kasih izin dong, kalian kan partner bisnis," ucap Berliana.


"Hahaha, betul itu Bu.." Qeiza tertawa kecil.


Namun, Arkhan tampak menaruh curiga pada sikap Berliana saat ini. Ia seolah tahu bahwa istrinya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya, apalagi dari tatapan Berliana pada Qeiza seperti menunjukkan kekesalan yang sedang dia pendam sedari tadi.


"Ada apa ini? Kenapa Liana kelihatan marah? Apa jangan-jangan dia sudah tahu semuanya dan lihat aku mesra-mesraan dengan Qeiza tadi?" gumam Arkhan dalam hati.


"Mas, kamu kenapa diam aja? Ayo dong partner bisnis kamu itu diajak masuk!" ujar Berliana.


"Ah iya iya, ayo Bu Qeiza kita masuk ke dalam dan lanjut bicara!" ucap Arkhan gugup.


"Tentu pak Arkhan yang terhormat," ucap Qeiza sambil tersenyum manja.


Disaat mereka hendak melangkah, Berliana baru teringat pada putrinya yang tidak ada dalam gendongan sang suami. Sontak Berliana pun bertanya pada Arkhan mengenai keberadaan putrinya saat ini.


"Mas, Siena mana? Bukannya tadi dia sama kamu?" tanya Berliana tampak panik.


"Ih mas, kamu gimana sih? Kalo Siena kenapa-napa gimana?" ujar Berliana.


"Iya iya aku salah, yaudah aku kesana dulu mau ambil Siena. Kamu pelan-pelan aja masuknya, kalian bantu istri saya masuk ke dalam ya!" ucap Arkhan.


"Baik pak!" jawab dua orang penjaga itu.


"Pak, biar saya aja yang ambil nona Siena. Jadi, tuan bisa bantu nyonya masuk ke dalam," ucap suster Indri memberi usul.


"Oh boleh deh, yasudah kamu tolong ambil Siena di taman ya!" ucap Arkhan.


"Iya tuan," suster Indri menurut dan bergegas menemui Siena yang ditinggal Arkhan di taman tadi.


Sementara Arkhan tersenyum lalu mendekati istrinya, ia membantu wanita itu dengan cara mendorong kursi roda yang ditumpanginya. Berliana diam saja dengan perasaan kesal yang masih berusaha ia pendam, sedangkan Qeiza ikut melangkah di samping mereka memasuki rumah besar itu.




Mereka sudah berada di dalam, Qeiza duduk di sofa agak berjauhan dengan Arkhan yang memilih duduk bersama Berliana. Tampak Qeiza tak suka melihat Arkhan dekat dengan Berliana, ia ingin pria itu duduk bersamanya agar bisa membuat Berliana semakin panas pada mereka.


Minuman serta cemilan telah dihidangkan oleh maid disana, Arkhan menyuruh Qeiza menikmati itu semua dan wanita itu menurut saja. Berliana masih terus diam berusaha menetralkan emosi di dalam dirinya, bisa saja ia meluapkan itu tetapi ia tidak mau membuat keributan.


"Gimana Bu? Minumannya enak apa enggak?" tanya Berliana tiba-tiba membuka obrolan.


"Ah eee ini nikmat kok, kebetulan saya haus karena cuaca di luar lagi panas banget. Terimakasih ya suguhannya, Bu Liana?" jawab Qeiza ramah.


"Sama-sama, silahkan dihabiskan dan boleh dimakan juga cemilannya! Kalau kurang, nanti saya minta pelayan buatkan makanan yang lain. Atau ibu mau makan siang juga?" tawar Berliana.


"Gausah Bu, saya masih kenyang kok. Lagian saya kesini kan mau bahas masalah pekerjaan sama pak Arkhan," ucap Qeiza melirik wajah Arkhan.


"Oh iya ya, kalo gitu saya tinggal dulu ya? Gak enak saya ganggu obrolan kalian, pasti penting banget kan?" ucap Berliana.


"Hah? Jangan lah sayang, udah kamu disini aja sama aku! Aku khawatir kamu kenapa-napa lagi nanti kayak tadi, mending kamu disini biar aman!" ucap Arkhan melarang.


"Gapapa mas, aku mau ke kamar aja temenin Siena. Udah ya kamu urus aja urusan kamu sama Bu Qeiza?" pamit Berliana.


"Eee yaudah deh, kalau kamu mau pergi ya okay aku izinin. Tapi, aku antar kamu ya sampai ke kamar Siena?" ucap Arkhan.


Berliana mengangguk pelan memberi izin bagi suaminya untuk mengantarnya ke kamar, Arkhan lalu bangkit dari duduknya dan memegang kursi roda sang istri. Setelah bicara pada Qeiza, mereka lalu pergi dari ruang tamu menuju kamar putri mereka dengan perlahan.


"Ish, sialan banget sih mas Arkhan! Bisa-bisanya dia malah mesra-mesraan sama istrinya di depan aku, awas aja ya aku bakal bikin keluarga kamu hancur mas!" geram Qeiza.


Karena kesal, Qeiza ikut bangkit dan menyusul Arkhan serta Berliana. Wanita itu berjalan perlahan mengendap-endap seperti seorang maling, ia tak mau Arkhan maupun Berliana mengetahuinya. Sepertinya Qeiza akan melakukan tindakan yang mungkin bisa membuat Berliana emosi.


Arkhan telah mengantar istrinya masuk ke kamar Siena, ia pun menutup pintu dan berniat kembali ke depan menemui Qeiza. Akan tetapi, tiba-tiba saja dirinya dipeluk erat dari belakang yang membuat Arkhan sangat terkejut. Ia dapat merasakan dua tangan melingkar di pinggangnya serta kepala yang menempel di punggungnya.


"Sayang, akhirnya aku bisa peluk kamu lagi. Aku kangen banget peluk kamu sayang!" ucap perempuan yang ternyata Qeiza itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...