Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 18. Quality time



Pagi hari tiba, Qeiza membuka matanya dan merasakan berat di kepalanya. Ia sangat kaget karena tiba-tiba ia bangun di atas ranjang pada sebuah kamar yang tak asing dengannya, ia tak mengerti apa yang terjadi padanya sampai bisa berada di dalam kamar itu, padahal seingatnya ia semalam tengah mengobrol bersama Wisnu di depan sambil meminum minuman.


Saat hendak bangkit, wanita itu juga merasa nyeri dan sakit pada area pinggang serta bagian bawahnya. Qeiza semakin yakin ada yang tidak beres dengannya, terlebih semalam ia ingat betul kalau minuman yang ia minum seperti ditaburi sesuatu yang membuatnya merasa pusing dan tidak sadarkan diri sampai pagi.


"Akh sialan si Wisnu! Dia pasti taruh obat tidur nih di minuman gue semalam, kurang ajar emang!" geram Qeiza sembari memegangi pinggang serta kepalanya.


Perlahan Qeiza beranjak dari ranjang dan mengambil tasnya yang tergeletak di atas nakas, ia mengambil ponsel miliknya dan coba melihat jam. Terpampang angka delapan disana yang berarti sekarang ini sudah masuk pukul delapan pagi, lalu ia pun berjongkok mengambil pakaian yang tergeletak di lantai dan memakainya.


"Pasti semalam dia serahin tubuh gue ke cowok banyak nih, soalnya gak mungkin kalo cuma satu tubuh gue sampe remuk begini. Sialan emang tuh orang!" umpat Qeiza.


"Awas aja gue pasti bakal balas perbuatan dia dan bikin dia menderita!" sambungnya.


Akhirnya Qeiza berjalan ke luar kamar setelah mencuci muka di kamar mandi, ia melangkah sedikit tertatih karena menahan nyeri di area bawahnya yang membuat ia sulit berjalan. Qeiza langsung mencari-cari dimana Wisnu, tetapi tampaknya pria itu sudah tidak ada disana karena suasana club sudah sepi.


"Ah sial! Tuh orang pasti dah pulang, gimana ya ini gue bisa ketemu sama dia?" geram Qeiza.


"Qeiza!" tiba-tiba saja seseorang memanggilnya, Qeiza menoleh dan menemukan mantan temannya yang merupakan karyawan disana.


"Eh Guntur, kebetulan ketemu lu disini. Lu lihat si Wisnu kagak?" ujar Qeiza.


"Buset dah mentang-mentang udah keluar, lu manggil pak Wisnu pake nama aja kayak gitu!" pria bernama Guntur itu langsung menggeleng heran mendengar perkataan Qeiza.


"Ah bodoamat! Buruan lu kasih tau gue dimana dia! Gue ada urusan sama dia," sentak Qeiza.


"Iya iya, tadi tuh dia ada keperluan katanya jadi harus pulang ke rumah. Tapi, dia titipin sesuatu ke gue buat lu," ucap Guntur.


"Hah? Sesuatu apa?" tanya Qeiza penasaran.


"Sebentar." Guntur merogoh kantong celananya dan menyerahkan sebuah amplop kepada Qeiza. "Nah, ini titipan pak Wisnu," sambungnya.


Qeiza terheran-heran melihat amplop tersebut, ia berpikir isi di dalamnya adalah uang bayaran yang diberikan Wisnu padanya atas apa yang ia lakukan semalam. Namun, Qeiza sama sekali tidak senang dengan pemikiran tersebut, tak seperti dahulu saat ia belum menjadi milik Arkhan.


"Okay, thanks ya! Kalo gitu gue cabut dulu, tapi tolong nanti sampein salam gue ke si Wisnu dan bilang kalau gue gak mau balik lagi kesini!" ucap Qeiza.


"Siap Qeiza, gue bakal sampein pesan lu itu ke bos Wisnu nanti!" ucap Guntur patuh.


Setelahnya, Qeiza bergegas melangkah keluar tempat itu dan mencegat taksi. Ia masuk ke dalam taksi, lalu membuka amplop yang membuatnya penasaran. Qeiza sedikit terkejut karena ternyata isi di dalamnya bukan hanya uang, melainkan juga sebuah cek kosong serta surat.


Qeiza pun membaca surat tersebut, "Qeiza, ini saya berikan bayaran untuk kamu dari tiga orang pria yang kamu layani semalam. Maaf ya kalau saya paksa kamu, tapi saya tidak punya pilihan lain karena mereka cuma mau tubuh kamu. Oh ya, saya juga berikan kamu cek kosong yang bisa kamu isi berapapun sesuai kemauan kamu, tapi tentu kamu harus kembali menjadi karyawan saya." begitulah isi surat yang dibaca Qeiza dalam hatinya.




"Mas, jarang banget ya kita bisa kayak gini? Aku senang deh karena akhirnya kita bisa kumpul bareng bertiga begini walau cuma di rumah aja," ucap Berliana.


"Ah iya Liana, aku juga senang kok. Tapi, kamu emang mau diajak pergi kemana? Bilang aja sayang, nanti aku pasti turutin!" ucap Arkhan.


"Eh gausah mas, walau di rumah aja juga udah senang kok aku. Yang terpenting tuh kamu bisa luangin waktu kamu buat keluarga kecil kita ini," ucap Berliana.


"Ya gapapa dong sayang, namanya jalan-jalan itu juga perlu kali kita lakuin walau sesekali. Aku yakin kamu pasti bosan kan di rumah aja?" ucap Arkhan.


"Jujur sih iya mas, tapi aku gak maksa kamu buat ajak kita jalan keluar kok. Lagian nanti aku malah ngerepotin kamu, kan kamu tahu sendiri kondisi aku kayak gimana sekarang," ucap Berliana.


"Mau kondisi kamu gimana juga aku gak perduli, kamu tetap istri aku sayang," ucap Arkhan.


Berliana tersenyum senang mendengarnya, sedangkan Arkhan yang tengah menggendong Siena pun merangkul pundak Berliana dan merapatkan tubuh keduanya. Kini Arkhan seperti merasakan kehangatan yang sempat hilang dari keluarganya, tentu sejak sang istri mengalami kecelakaan.


"Yuk kita jalan-jalan ke luar sekarang! Aku mau bahagiakan kamu sayang, dan Siena juga," ucap Arkhan sembari mencolek hidung istrinya.


"Kamu yakin mas? Emang kamu gak capek kalo kita jalan-jalan?" tanya Berliana.


"Arkhan menggeleng, "Jelas enggak dong sayang, justru aku malah senang jalan-jalan sama kamu dan Siena. Gimanapun juga aku tuh butuh refreshing, bosen kali kerja terus," jawabnya.


"Kamu benar sih mas, yaudah aku ngikut kamu aja deh. Tapi, kamu mau bawa kita kemana?" ujar Berliana.


"Eee gimana kalau wahana bermain?" usul Arkhan.


"Aku pengen sih, tapi kan kaki aku lumpuh mas. Apa boleh aku naik wahana begituan? Nanti yang ada aku diusir sama petugasnya," ucap Berliana.


Arkhan merasa bersalah dan langsung memeluk serta mengusap wajah istrinya, ia kecupi berkali-kali wajah yang menjadi candu baginya saat dahulu itu hingga sang istri tersenyum. Berliana merasa senang dan bahagia dengan perlakuan romantis suaminya, kini ia berharap kalau tuduhannya pada Arkhan selama ini salah.


"Maafin aku ya? Kayaknya aku emang salah kasih usul tadi, yaudah gimana kalau kita ke taman mini aja? Disana kan bebas tuh gak mesti yang sehat aja," ucap Arkhan kembali berusul.


Berliana mengangguk pelan, "Iya mas, aku mau. Kita ajak suster Indri juga kan mas?" ucapnya.


"Loh buat apa? Soal Siena kan ada aku, aku bisa kok jagain dia dan urus dia. Lagian aku maunya kita quality time bertiga sayang, jangan sampai ada orang lain dong!" ucap Arkhan.


"Iya mas iya.." Berliana tersenyum menyetujui perkataan suaminya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...