
Berliana beserta Siena dan suster Indri tiba di kantor Arkhan siang ini, wanita itu berencana memberi kejutan pada suaminya dengan hadir kesana membawakan makan siang. Ya Berliana memang ingin melakukan itu sebagai tanda terimakasih karena Arkhan yang selama ini selalu sayang padanya juga Siena, itu sebabnya ia datang tanpa memberi kabar terlebih dulu pada Arkhan.
Ketiganya naik ke lantai atas tempat ruangan Arkhan berada dengan ditemani oleh Amanda, resepsionis di kantor itu. Amanda sudah mencoba menghubungi nomor Arkhan, tetapi tak kunjung diangkat. Akhirnya Amanda pun terpaksa membawa Berliana serta yang lainnya ke dalam menuju ruangan sang bos, meski ia tahu sebelumnya Arkhan datang bersama seorang wanita yang tak dikenalinya.
"Eee Bu, ini ruangan pak Arkhan. Mau saya bantu panggilkan pak Arkhan nya atau gausah Bu?" ucap Amanda pelan.
Berliana menggeleng, "Gak perlu, biar saya sendiri aja yang panggil suami saya. Kamu lebih baik kembali kerja dan lakukan tugas kamu, kasihan tamu-tamu yang hadir nanti," ucapnya.
"Oh baik Bu, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat bersenang-senang ya Bu!" ucap Amanda.
"Makasih ya udah mau antar kami tadi?" ucap Berliana.
"Sama-sama Bu, saya permisi!" pamit Amanda.
Berliana mengangguk memberi izin, Amanda pun langsung pergi begitu saja meninggalkan tempat itu. Kini Berliana mencoba mengetuk pintu ruangan suaminya sembari menyebut namanya dengan perlahan, jujur ia sedikit khawatir akan mengganggu aktivitas sang suami, sehingga ia memutuskan mengetuk secara perlahan.
TOK TOK TOK...
"Mas, mas Arkhan. Ini aku mas, kamu ada di dalam kan?" ucap Berliana.
•
•
Sementara itu, suasana di dalam ruangan Arkhan sangat panas. Ya saat ini ia tengah bersama Qeiza menikmati gairah mereka yang luar biasa, Qeiza duduk di pangkuan pria itu dan terus bergerak sambil bersuara keras. Memang ruangan itu telah didesain kedap suara, sehingga tidak akan terdengar dari luar segala aktivitas mereka.
Namun, tiba-tiba sebuah suara ketukan dari luar sangat menggangu aktivitas mereka yang luar biasa itu. Arkhan pun tampak kesal, ia menatap pintu untuk coba mengenali suara siapa yang ada di luar sana. Sedangkan Qeiza masih saja memompa tubuhnya di atas pria itu.
TOK TOK TOK...
Sontak Arkhan terkejut bukan main, ia menghentikan gerakan Qeiza dan membuat wanita itu ikut terkejut tak mengerti apa yang membuat Arkhan seperti itu.
"Ih mas, kamu kenapa sih? Aku lagi enak tau!" protes Qeiza.
Arkhan kesal lalu menyingkirkan paksa Qeiza dari tubuhnya, pria itu bangkit membenarkan celana serta bajunya sebelum melangkah mendekati pintu. Ia juga meminta Qeiza untuk merapihkan semua pakaiannya agar Berliana tidak curiga.
"Cepat kamu pakai lagu baju kamu! Saya gak mau istri dan anak saya lihat kamu dalam keadaan kayak gini, bisa rumit semuanya!" ujar Arkhan.
"Kenapa sih mas? Kamu kok panik gitu? Bukannya bagus ya kalau Liana tahu? Jadinya proses perceraian kalian bisa cepat diurus, terus kita bisa nikah deh sayang," ucap Qeiza.
"Gak sekarang Qeiza, udah cepat kamu pakai lagi itu dan jangan bikin Liana curiga!" tegas Arkhan.
"Iya iya mas.." Qeiza menurut dan memakai pakaiannya kembali.
Setelah dirasa cukup, Arkhan pun membuka pintu untuk menemui istrinya di luar sana. Ia tersenyum lebar menatap wajah Berliana yang duduk di kursi roda itu, ia berusaha bersikap biasa-biasa saja agar tidak timbul kecurigaan dari istrinya itu.
"Hey sayang! Kamu ada apa kesini? Kok gak ngabarin aku dulu sih?" ucap Arkhan dengan nafas tersengal-sengal.
"Emangnya harus kabarin kamu dulu ya mas? Kamu abis ngapain sih? Kok keringetan begini?" tanya Berliana heran.
"Eee anu itu..." Arkhan terlihat gugup dan gelagapan berusaha mencari alasan yang pas.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
^^^VOTE JUGA BOLEH, YANG PENTING DUKUNG🤗^^^