
Farah menggeleng, "Aku gak mau ikut sama abang, aku pengen pulang aja," ucapnya.
"Eits, kalau begitu gimana biar aku yang antar kamu sampai ke rumah ya Farah cantik? Daripada kamu naik sepeda, nanti kan capek kayuh nya. Mending naik mobil sama aku," ucap Irzan.
"Enggak bang, aku gak bisa ikut sama abang. Lebih baik aku lelah mengayuh sepedaku, daripada aku harus ikut dengan kamu di mobil itu," ucap Farah.
"Kenapa sih cantik? Kamu gausah takut begitu lah sama aku, aku ini orang baik loh dan aku gak ada niat jahat ke kamu. Aku cuma pengen kamu ikut sama aku biar kamu gak kecapekan," ucap Irzan.
"Halah aku gak percaya! Pasti kamu ada keinginan lain kan bang?" sentak Farah.
"Kamu gak boleh punya pikiran buruk gitu sama aku, Farah. Aku ini orang baik kok, kemarin itu aku galak ya karena ibu kamu ada hutang sama aku," ucap Irzan.
"Tetap aja aku gak mau, aku pengen pulang sendiri aja. Tolong ya abang jangan paksa-paksa aku atau aku bakal teriak nih!" ucap Farah.
"Teriak aja, silahkan teriak sekencang mungkin! Gak mungkin ada yang dengar suara kamu cantik, karena suasana disini sepi. Palingan kamu akan berakhir ke dalam pelukan saya," ucap Irzan.
"Gak! Aku gak mau!" sentak Farah dengan tegas.
Perlahan pria itu terus bergerak mendekati Farah, sontak gadis itu mundur secara perlahan sembari menarik sepedanya menjauh dari Irzan. Farah sangat cemas dan gugup, ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia tertangkap oleh Irzan dan dibawa pergi pria itu ke tempatnya.
"Jangan mendekat! Abang harus tau diri, aku ini gak mau ikut sama abang!" teriak Farah.
"Diam kamu Farah! Saya sudah bicara baik-baik sama kamu, tapi kamu malah terus menolak. Jangan salahkan saya kalau saya kasar sama kamu!" geram Irzan.
"Hah??" Farah melotot lebar melihat Farah berlari ke arahnya dengan kedua tangan terkepal.
Disaat Farah hendak berlari, ia justru tersandung sebab tali sepatunya yang terlepas. Farah pun terjatuh mengakibatkan lututnya terluka dan mengeluarkan darah, ia meringis sakit walau masih terus berusaha menghindar dari lelaki tersebut.
Bruuukkk
Irzan langsung tersenyum lebar melihat Farah terjatuh, ia yakin ini kesempatan untuknya membawa Farah pergi dari sana. Irzan pun mempercepat langkahnya mendekati gadis itu, sedangkan Farah juga berusaha bangkit meski kakinya sulit digerakkan.
"Awhh sakit, akh!" Farah terus meringis memegangi lututnya dan juga sesekali melirik ke arah Irzan yang semakin mendekatinya.
"Hahaha, kena kamu Farah!" ucap Irzan tertawa lebar.
Kedua tangan pria itu sudah memegang tubuh Farah yang tengah terjatuh, tampak Farah tidak bisa lagi berontak atau menghindari cengkraman Irzan pada tubuhnya. Farah pun hanya bisa pasrah, meski ia sangat tidak ingin ikut bersama Irzan karena itu berbahaya sekali baginya.
"Bang, tolong jangan apa-apain saya bang! Sa-saya gak punya apa-apa, lepasin saya ya bang saya mohon!" ucap Farah merengek.
"Duh, kamu kalo kayak gini makin gemes tau kelihatannya. Saya jadi gak sabar buat bawa kamu pergi dari sini," ucap Irzan.
Farah menggeleng cepat, "Saya gak mau bang, saya cuma pengen pulang ke rumah!" ucapnya tegas.
"Kamu akan pulang kok cantik, tapi ke rumah saya. Hahaha..." Irzan tertawa keras hingga membuat Farah makin gemetar ketakutan.
Lalu, Irzan pun membantu Farah berdiri dengan paksa agar memudahkannya untuk membawa gadis itu pergi dari sana. Farah yang lemas tak mampu berbuat apa-apa, gadis itu hanya pasrah sambil berupaya memohon pada Irzan agar mau melepaskannya.
"Hey, lepaskan dia!" teriak seseorang dari belakang mereka.
•
•
Setelah kepergian Arkhan, selang beberapa menit Qeiza muncul di rumah itu menemui Berliana. Sontak Berliana dibuat terkejut dengan kehadiran Qeiza disana, ia yang semula hendak masuk pun mengurungkan niatnya dan kembali menatap ke arah wanita yang baru datang itu.
"Halo Bu Liana!" Qeiza menyapa Berliana dengan lambaian tangan disertai senyum tipisnya.
"Bu Qeiza?" Berliana benar-benar terkejut dan tubuhnya gemetar saat Qeiza mendekat lalu berhenti tepat di depannya.
"Apa kabar Bu? Boleh kita bicara sebentar?" ucap Qeiza bertanya pada Berliana.
"I-i-iya boleh kok, silahkan masuk!" ucap Berliana gugup mempersilahkan Qeiza masuk ke rumahnya.
"Terimakasih bu." Qeiza tersenyum dan melangkah ke dalam sembari membantu mendorong kursi roda Berliana, "Mari bu saya bantu!" sambungnya.
Mereka pun terduduk di sofa ruang tamu, Berliana juga telah meminta pada bik Ningsih untuk membuatkan minuman. Lalu, Qeiza kini menatap wajah Berliana sambil tersenyum dan berusaha menunjukkan cincin pemberian Arkhan di tangannya itu kepada Berliana.
"Eee ada apa ya bu Qeiza datang kesini? Mau bicara soal apa? Kalau tentang kerjaan, maaf saya gak bisa karena saya gak ngerti apa-apa tentang bisnis yang dijalankan suami saya," ucap Berliana.
Qeiza tersenyum lebar, "Ahaha, ibu gak perlu khawatir begitu. Saya kesini bukan untuk membahas urusan bisnis kok, saya juga tahu seperti apa kapasitas ibu di dalam perusahaan," ucapnya.
"Syukurlah, lalu apa yang kamu inginkan sebenarnya? Kenapa kamu datang ke rumah saya tiba-tiba begini? Baru saja suami saya pergi loh tadi," tanya Berliana penasaran.
"Iya Bu saya tahu, tadi kan saya juga lihat waktu pak Arkhan pergi dengan mobilnya. Lagian urusan saya ini kan dengan ibu, bukan dengan pak Arkhan atau siapapun," jawab Qeiza.
"Yasudah, saya gak punya banyak waktu. Jadi, saya mohon segera bicara sekarang!" pinta Berliana.
"Saya cuma mau kasih tahu sesuatu ke kamu, kamu lihat kan cincin yang ada di jari manis saya ini? Cantik bukan?" ucap Qeiza.
Berliana sontak mengalihkan pandangan ke arah cincin yang melekat di jari manis Qeiza, ia mengangguk pelan dan tersenyum mengakui kalau cincin tersebut memang cantik sesuai yang dikatakan Qeiza tadi.
"Iya benar, cincin kamu cantik kok. Pas banget dipakai di jari kamu, tapi omong-omong kamu sudah punya pasangan ya?" ucap Berliana.
"Ya jelas iya dong bu Liana, saya kan dibelikan cincin ini sama pacar saya. Sebentar lagi juga dia akan menikahi saya," ucap Qeiza dengan bangga.
"Oh baguslah, saya ikut senang dengarnya. Semoga bu Qeiza dan pacarnya langgeng terus ya!" ucap Berliana.
"Apa kamu gak mau tau siapa pacar saya itu, bu Liana?" ucap Qeiza memancing.
Seketika Berliana terkejut, melihat tatapan aneh di mata Qeiza membuat Berliana mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Qeiza dan itu berhubungan dengannya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...