Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 8. Tergelincir



Tiba-tiba saja disaat mereka asyik bermain, Tedy selaku satpam yang bertugas disana datang menghampiri mereka. Arkhan sontak terkejut dan sedikit kesal karena ia tidak ingin ada siapapun yang mengganggunya disaat tengah bermain dengan Siena, putri kesayangannya.


"Misi pak, ada yang saya mau laporkan ke bapak," ucap Tedy dengan wajah menunduk.


"Haish, ada apa sih pak Tedy? Saya lagi main loh sama Siena, bisa gak jangan ganggu saya sekarang ini!" geram Arkhan.


"Maaf banget pak, tapi itu di depan ada orang yang nyari-nyari dan mau ketemu sama bapak. Makanya saya terpaksa temuin bapak sekarang," ucap Tedy.


"Hah? Siapa orang itu? Bilang ke dia kalau saya lagi sibuk!" ujar Arkhan.


"Saya gak kenal pak, tapi dia perempuan. Dia memaksa buat masuk dan ketemu bapak, saya harus gimana dong pak?" ucap Tedy.


"Perempuan? Siapa sih dia?" tanya Arkhan heran.


Tedy menggeleng tanda tak tahu, "Saya juga gak tahu dia siapa pak, tapi dari penampilannya sih dia seperti orang kantor," jawabnya.


"Orang kantor? Yasudah, suruh aja dia masuk kesini karena saya gak bisa tinggalin Siena!" ucap Arkhan.


"Baik pak!" Tedy langsung berbalik dan kembali ke depan menemui perempuan yang menunggu di luar gerbang.


Sementara Arkhan tetap disana bermain bersama Siena, ia tak perduli siapapun yang datang kesana karena baginya hanya Siena lah yang paling penting di dalam hidupnya saat ini. Ia sangat tidak mau ada yang mengganggunya dan ingin terus fokus bersama Siena.


"Ululu ululu cantik banget anak papa ini, main lagi yuk kita senang-senang hari ini!" ujar Arkhan.


"Mas!" Arkhan dikejutkan dengan suara wanita yang memanggilnya, ia reflek menoleh dan melihat ke asal suara tadi.


Arkhan langsung terbelalak lebar melihat sosok Qeiza di depannya, ia sama sekali tak menyangka jika wanita itu bisa hadir di rumahnya, padahal selama ini ia tak pernah memberitahu alamat rumahnya pada Qeiza.


"Qeiza? Ka-kamu..." Arkhan terbata-bata saat hendak berbicara.


Sementara itu, Berliana juga terlihat penasaran saat seorang wanita datang menemui suaminya di depan sana. Ia sangat ingin tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Arkhan, tapi ia memilih memperhatikan lebih dulu pembicaraan antara Arkhan dan wanita itu disana.


"Iya sayang, ini aku. Kamu pasti kangen kan sama aku sayang? Makanya aku sengaja nyusul kamu kesini," ucap Qeiza dengan manja sembari menautkan tangannya di sela-sela lengan Arkhan.


"Qeiza, kamu apa-apaan sih? Ini rumah aku, kamu seharusnya gak datang kesini!" ujar Arkhan.


"Ah kamu mah gitu banget sih mas, aku kan kangen sama kamu dan aku pengen ketemu sama kamu tau!" ucap Qeiza membenamkan wajahnya pada bahu Arkhan tanpa rasa ragu.


Arkhan dibuat grogi dan bingung, ia langsung menyingkirkan Qeiza darinya agar tidak ada orang rumah yang curiga. Namun, tentu Qeiza tak semudah itu menjauh dan masih tetap kekeuh untuk mendekati Arkhan.


"Kamu stop ya Qeiza! Jangan kayak gini di rumah aku! Aku gak mau kalau sampai istri aku ngeliat kamu nanti," ucap Arkhan tegas.


"Kenapa kamu takut gitu sayang? Biarin aja lah kalau dia tahu, kan tinggal kamu ceraikan dia nanti!" ucap Qeiza.


"Jangan sembarangan kamu kalau bicara ya! Aku gak mungkin cerai sama istri aku sekarang, udah deh kamu mending pergi dulu dari sini dan jangan bikin masalah!" ujar Arkhan.


"Kamu itu kenapa malah bela istri kamu yang lumpuh itu sih? Aku loh yang udah bikin kamu puas, bukan dia. Harusnya kamu lebih pilih aku daripada dia!" ucap Qeiza.


Qeiza mengalihkan pandangan ke tubuh Siena yang ada di gendongan Arkhan, "Waw jadi ini anak kamu mas? Cantik banget ya dia? Gak jauh beda deh sama aku sayang," ucapnya sambil mengelus pipi Siena.


Seketika itu juga Siena menangis, Qeiza pun panik dan tak mengerti apa yang membuat bayi mungil itu menangis tiba-tiba. Arkhan juga reflek menyingkirkan tangan Qeiza dari wajah putrinya agar Siena berhenti menangis, pria itu terlihat tak senang dengan reaksi Siena saat dipegang oleh Qeiza barusan.


"Sayang, kamu mending gausah dekat-dekat deh sama anak aku! Aku gak mau dia takut dan nangis lagi gara-gara kamu," pinta Arkhan.


"Aku minta maaf mas, tapi aku juga gak tahu kenapa dia bisa nangis kayak gitu," ucap Qeiza.


"Ah dia pasti takut sama kamu, karena dia kan belum pernah lihat kamu sebelumnya. Udah kamu pergi sana, jangan sampai Siena nangis lagi gara-gara kamu!" ucap Arkhan.


"Siena? Ohh, nama anak kamu Siena?" ucap Qeiza sambil melangkah mendekati Siena lagi. "Duh duh, ha'lo Siena sayang! Kamu gausah takut ya sama tante? Tante ini orang baik kok," sambungnya.


"Qeiza, cukup ya aku mohon jangan sakiti anak aku! Aku janji akan tanggung jawab sama kamu, tapi tolong pergi dulu dari sini!" ucap Arkhan.


"Apa sih mas? Siapa yang mau jahatin Siena? Aku cuma mau main sama dia kok," ucap Qeiza.


"Sini sini sama tante sayang!" Qeiza maju dan berniat menggendong Siena, tapi tentu Arkhan tak mengizinkan dan malah mendorong tubuh Qeiza agar menjauh dari mereka.


"Awhh!!" pekik Qeiza sambil memegangi lengannya.


"Kamu apa-apaan sih mas? Kok kamu dorong aku? Padahal aku kan cuma mau gendong Siena, aku gemas tau sama dia," protes Qeiza.


"Aku gak izinin kamu buat sentuh Siena lagi! Cukup sekali ya kamu bikin dia nangis, udah mending kamu keluar dari rumah aku sekarang!" ujar Arkhan.


"Oh gitu ya mas? Mentang-mentang lagi di rumah, terus kamu seolah gak perduli sama aku?" cibir Qeiza.


Arkhan menggeleng sambil berbisik di telinga wanita itu, "Bukan gitu sayang, ini cuma belum waktunya buat kamu untuk datang kesini. Aku gak mau semuanya jadi berantakan," ucapnya lirih.


Wajah Qeiza langsung berubah cemberut, ia membuang muka dan melipat kedua tangannya. Arkhan yang melihat itu sontak kebingungan, akhirnya Arkhan menaruh Siena di roda tempatnya biasa bermain agar ia bisa lebih leluasa berbincang dengan Qeiza disana. Setelahnya, Arkhan lalu mendekati Qeiza dan menarik wanita itu agak menjauh dari keberadaan Siena.


Berliana masih mengamati mereka dari jauh, wanita itu terlihat penasaran saat Arkhan membawa Qeiza menjauh. Ia berniat mendekati mereka untuk mencari tahu apa yang hendak dibicarakan oleh keduanya, tapi disaat ia maju justru kursi rodanya tergelincir dan ia hampir terjatuh ke bawah.


"Akh!" pekik Berliana berusaha menahan berat badannya agar tak terjatuh.


"Hah nyonya??" suster Indri yang melihatnya panik dan langsung menghampiri Berliana mencoba membantunya.


Tampak para penjaga disana juga turut membantu suster Indri menolong Berliana, bahkan Arkhan sampai terkejut mendengar teriakan istrinya barusan. Arkhan menoleh ke asal suara dan kaget saat melihat Berliana nyaris terjatuh dari kursi roda.


"Berliana?" lirih Arkhan tampak cemas, ia berniat menghampiri istrinya tetapi tangannya dicekal oleh Qeiza dengan erat.


"Mau kemana mas?" ucap Qeiza pelan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...