
Berliana mengangguk pelan memberi izin bagi suaminya untuk mengantarnya ke kamar, Arkhan lalu bangkit dari duduknya dan memegang kursi roda sang istri. Setelah bicara pada Qeiza, mereka lalu pergi dari ruang tamu menuju kamar putri mereka dengan perlahan.
"Ish, sialan banget sih mas Arkhan! Bisa-bisanya dia malah mesra-mesraan sama istrinya di depan aku, awas aja ya aku bakal bikin keluarga kamu hancur mas!" geram Qeiza.
Karena kesal, Qeiza ikut bangkit dan menyusul Arkhan serta Berliana. Wanita itu berjalan perlahan mengendap-endap seperti seorang maling, ia tak mau Arkhan maupun Berliana mengetahuinya. Sepertinya Qeiza akan melakukan tindakan yang mungkin bisa membuat Berliana emosi.
Arkhan telah mengantar istrinya masuk ke kamar Siena, ia pun menutup pintu dan berniat kembali ke depan menemui Qeiza. Akan tetapi, tiba-tiba saja dirinya dipeluk erat dari belakang yang membuat Arkhan sangat terkejut. Ia dapat merasakan dua tangan melingkar di pinggangnya serta kepala yang menempel di punggungnya.
"Sayang, akhirnya aku bisa peluk kamu lagi. Aku kangen banget peluk kamu sayang!" ucap perempuan yang ternyata Qeiza itu.
"Ih kamu apa-apaan sih Qeiza?! Jangan kayak gini dong please, ini tuh di rumah!" sentak Arkhan.
"Kamu tuh kenapa sih sayang? Kok pake malu-malu segala begini? Biasanya juga kamu suka kalau aku peluk dan belai kayak gini mas," goda Qeiza.
Arkhan mulai merasakan hawa aneh di tubuhnya saat tangan-tangan nakal Qeiza membelai bagian depan tubuhnya mulai dari perut sampai dada, namun tetap saja ia tak ingin hubungan mereka diketahui oleh orang rumah. Akhirnya Arkhan melepas paksa pelukan itu dan berbalik menatap wajah Qeiza dengan kesal.
"Qeiza cukup ya!" Arkhan membentak dan mencengkram kuat dua tangan Qeiza, ia mendorong tubuh wanita itu hingga mepet ke dinding di dekatnya dengan kasar.
"Awhh, mas kamu kok kasar banget sih? Kamu mau main pake mode kasar ya? It's okay, aku siap kok layani kamu mas," ucap Qeiza.
"Dengar ya sayang, aku minta kamu pergi sekarang dari rumah aku! Tolong kali ini aja kamu nurut sama aku, aku janji kok lain waktu kita bisa bersama lagi sayang!" ucap Arkhan.
"Apa sih mas? Aku gak akan pergi sebelum kamu janji kalau kamu akan nikahin aku!" tegas Qeiza.
Arkhan menggeleng kesal, dengan kasar ia menarik paksa tubuh Qeiza pergi dari depan kamar putrinya itu. Tentu Arkhan tak mau Berliana mendengar apa yang mereka ucapkan tadi, sehingga Arkhan berpikir akan membawa paksa Qeiza keluar dari rumahnya. Qeiza pun tak berontak, ia terima saja kemana Arkhan akan membawanya asalkan pria itu tetap bersamanya sekarang.
"Kamu mau bawa aku kemana sih mas? Ke tempat yang sepi ya biar kamu bisa puas-puasin main sama aku, iya?" tanya Qeiza sedikit menggoda.
"Diam kamu Qeiza! Wanita seperti kamu itu harus dihukum, dan aku pastikan kamu akan menjerit di atas ranjang siang ini sayang karena kamu sudah berani menggoda aku!" ancam Arkhan.
"Ahaha, sudah aku duga kalau kamu gak akan tahan sama pesona aku sayang. Gak seperti istri kamu yang lumpuh itu," kekeh Qeiza.
"Jangan bawa-bawa istriku kalau kita lagi berduaan sayang!" ucap Arkhan sembari mencengkram rahang Qeiza dengan kuat.
"Of course baby," singkat Qeiza.
Arkhan yang sudah dibutakan gairah, mulai memajukan bibirnya mendekati bibir Qeiza. Ia sampai tak sadar bahwa saat ini mereka masih berada di ruang tamu rumahnya, dan benar saja bik Ningsih salah satu pekerja disana pun tak sengaja melihat mereka yang hampir berciuman disana.
"Hah tu-tuan??" ujar bik Ningsih dengan mulut menganga tak percaya.
Arkhan sadar akan hal itu, ia reflek melepas tubuh Qeiza dan menjauh darinya lalu mencoba menjelaskan pada bik Ningsih jika barusan itu hanya salah paham semata.
•
•
Wanita dewasa itu biasa disebut Marni, ia hanya seorang mantan karyawan pabrik yang di-PHK beberapa tahun lalu dan kini ia tidak memiliki pekerjaan lagi. Sedangkan seorang gadis remaja itu bernama Farah, dia merupakan adik dari Qeiza yang kini duduk di bangku kelas dua SMA.
"Bu, mbak Fina kemana ya sekarang? Kok dia belum ada tanda-tanda mau pulang ke rumah? Aku udah bosen loh makan telur goreng terus," tanya Farah pada ibunya sambil mengunyah makanan.
"Kamu sabar ya sayang? Mungkin kakak kamu itu lagi usaha di luar sana cari uang untuk kita, yang penting kita kan masih bisa makan sayang, gak seperti orang-orang susah lainnya yang masih kesulitan buat makan," jawab Marni.
"Iya sih Bu, tapi tetap aja aku bosan tiap hari makan telur terus. Lama-lama bisa jerawatan muka aku Bu, ibu kapan sih mau kerja lagi kayak dulu?" ucap Farah cemberut.
"Ibu belum tahu sayang, ibu juga kan lagi usaha cari lowongan kesana-kemari. Maafin ibu ya nak, ibu belum bisa turutin apa yang kamu mau. Ibu sadar ibu bukan orang tua yang baik buat kamu," ucap Marni bersedih.
"Udah deh Bu, gausah drama. Aku pengen makan mewah sekali-kali, bukan dengerin drama ibu," ketus Farah.
Marni menghela nafas pelan sembari menundukkan wajahnya, ia sangat sedih melihat putrinya yang begitu sengsara saat ini. Ia juga tak tahu kemana perginya Qeiza, sang putri yang selama ini ia andalkan untuk menghidupi keluarga mereka dikala susah seperti ini.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar keras dari arah luar rumah mereka, sontak Marni merasa cemas dan penasaran siapa yang datang ke rumahnya tanpa mengucap salam itu. Namun, Farah justru tersenyum dan mengira yang datang adalah kakaknya alias Qeiza.
"Bu, itu pasti mbak Fina. Aku aja ya Bu yang buka pintunya? Siapa tahu mbak Fina bawain makanan buat aku," ucap Farah antusias.
"Tunggu sayang!" Marni menahan tangan putrinya yang hendak membuka pintu itu.
"Apaan sih Bu? Aku mau bukain pintu buat mbak Fina, ibu jangan halangi aku dong! Emangnya ibu gak senang mbak Fina pulang?" ucap Farah.
"Kalau itu bukan kakak kamu gimana? Semisal kamu buka pintu, dan yang datang ternyata orang jahat gimana?" tanya Marni.
Farah terdiam seketika, benar juga yang dikatakan ibunya barusan karena memang belum pasti bahwa yang datang kesana adalah kakaknya. Farah pun mengurungkan niatnya, tapi suara ketukan pintu itu semakin terdengar keras dan membuat keduanya panik ketakutan.
"Bu, terus ini gimana dong Bu? Kalau gak dibuka, dia pasti ketuk-ketuk terus," ujar Farah.
"Tenang sayang, biar ibu cek dulu dari jendela siapa orang di luar itu!" ucap Marni.
Farah manggut-manggut setuju, Marni lalu bergerak menuju jendela untuk mengintip sekilas seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Kedua mata Marni terbelalak lebar saat melihat tiga orang pria berbadan besar berdiri di depan rumahnya saat ini dengan tampilan yang cukup seram, tentu Marni mengenali mereka semua karena sudah kesekian kalinya mereka datang kesana.
"Siapa Bu?" tanya Farah penasaran.
"Gawat nak, itu bang Irzan sama anak buahnya! Duh, pasti mereka mau tagih hutang kita deh sayang. Gimana ya ini mana ibu belum punya uang cukup lagi?" jawab Marni dengan panik.
"Hah??" Farah juga tersentak kaget mendengarnya, ia pun tak tahu harus apa saat ini.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...