Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 16. Akhirnya baikan



Marni terbelalak seketika mendengar ancaman Irzan, seperti yang ia tahu pria itu memang tak sembarangan mengancam karena dia akan selalu melakukan apapun yang dia inginkan dan bisa saja benar Irzan akan mengacak-acak rumahnya jika Marni tak menuruti kemauan pria itu.


"Bagaimana? Masih mau halangi saya sekarang? Kalau kamu ada uang, baru deh Farah akan saya lepaskan nantinya," ujar Irzan.


Marni tetap menggeleng, "Enggak, saya gak mau jadikan putri saya sebagai jaminan. Kamu boleh minta apapun, tapi tolong jangan putri saya!" ucapnya.


"Terus kamu mau kasih jaminan apa ke saya? Tubuh kamu? Sorry, saya gak minat!" ujar Irzan.


Marni benar-benar kesal dengan perkataan Irzan, tangannya sudah terkepal seolah siap untuk memukul wajah pria itu saat ini juga. Tapi tiba-tiba, sebuah teriakan lantang dari arah depan membuat mereka terkejut lalu menoleh ke asal suara secara bersamaan.


"Ibu!" ya suara itu adalah milik Qeiza, sang putri yang akhirnya muncul setelah ditelpon oleh Marni saat sedang terduduk di lantai tadi.


"Zafina, akhirnya kamu datang juga nak. Ibu senang banget lihat kamu lagi sayang," ucap Marni tersenyum bahagia.


Qeiza yang memiliki nama asli Zafina itu pun bergerak mendekat, matanya menggeram kesal melihat ke arah Irzan serta anak buahnya yang berada di depannya. Qeiza tak menyangka jika Irzan mampu berbuat nekat dan masuk ke rumahnya begitu saja tanpa izin.


"Bu, ibu tenang ya! Ada aku sekarang disini, biar aku yang beresin semua urusan ini sama mereka," ucap Qeiza menenangkan ibunya.


"Iya sayang, ibu udah gak tahu lagi harus gimana tadi. Untung aja kamu datang sayang, tolong bantu ibu ya nak! Ibu gak mau kalau sampai adik kamu dibawa sama mereka," ucap Marni bersedih.


"Apa??" Qeiza tersentak mendengarnya, ia semakin tersulut emosi setelah mengetahui itu.


Sontak Qeiza beralih menatap Irzan disana dengan wajah kesalnya, "Heh! Maksudnya apa lu mau bawa adik gue? Lu gak punya hak buat ambil adik gue dari sini, jadi lu hati-hati deh kalo bertindak!" ujarnya.


"Hahaha, emangnya kenapa kalau saya ambil adik kamu? Toh kamu sendiri belum bisa lunasi semua hutang ibu kamu kan? Jadi, biarin lah adik kamu untuk sementara ikut sama saya!" ucap Irzan.


"Kurang ajar lu! Gue gak bakal biarin lu bawa adik gue, soal hutang pasti akan gue selesaikan secepatnya!" ucap Qeiza.


"Saya gak butuh sekedar kata-kata, Zafina. Saya mau bukti dan kepastian, kalau kamu bisa bayar semua hutang itu sekarang, baru deh saya lupakan adik kamu," ucap Irzan.


"Okay, gue bayar semua hutangnya nanti. Sekarang lu semua pergi dari rumah gue, cepat!" ujar Qeiza.


"Gak bisa Zafina, kita gak akan pergi sebelum kamu bayar semua uangnya ke saya. Kamu bayar sekarang atau saya akan bawa paksa adik kamu!" ucap Irzan.


"Haish, yaudah iya nih gue transfer sekarang ke rekening lu." Qeiza yang kesal langsung mengambil ponselnya dan mentransfer semua uang tersebut.


"Nih udah," sambungnya sembari menunjukkan bukti transfer di layar ponselnya kepada Irzan.


Irzan terdiam, ia sedikit kaget lantaran Qeiza ternyata mampu melunasi semua hutang-hutang itu. Padahal niatnya adalah ingin membawa Farah dan memiliki gadis itu, sebab Irzan penasaran sekali seperti apa rasa tubuh dari seorang gadis SMA yang memiliki kulit mulus seperti Farah.


"Kenapa malah diam? Bener kan udah gue transfer? Sekarang lu semua keluar dari rumah gue, sebelum gue teriak dan lapor polisi!" ucap Qeiza.


"Iya iya, sabar dong Fina!" ucap Irzan. "Ayo semuanya kita cabut!" sambungnya mengajak tiga anak buahnya itu pergi.


"Hiks hiks, terimakasih ya Zafina? Berkat kamu sekarang ibu dan Farah aman dari kejaran nak Irzan, kamu memang anak yang baik dan perduli sama kami sayang!" ucap Marni.


"Gapapa Bu, ini semua kan udah kewajiban aku buat menjaga keluarga kecil aku. Aku juga gak mau kalau sampai ibu atau Farah terus-terusan diganggu sama Irzan itu," ucap Qeiza.


Ceklek


Pintu kamar Farah pun terbuka, gadis itu langsung keluar menemui kakak serta ibunya dengan perasaan jengkel. Tampaknya Farah memang masih kesal pada sang kakak yang sudah lama tidak pulang ke rumah, sampai-sampai dirinya harus berhadapan dengan para rentenir itu.


"Kak, kakak tuh darimana aja sih? Gak tahu apa aku sama ibu nyariin kakak terus?!" ketus Farah.


Qeiza tersenyum menatap wajah adiknya, "Kakak minta maaf ya kalau kakak terlambat datang? Tapi, kakak benar-benar harus kerja untuk bisa bayar semua hutang kita," ucapnya.


"Iya Farah, udah lah kamu jangan marah-marah gitu sama kakak kamu! Seharusnya kamu makasih ke kakak kamu, karena dia sudah menyelamatkan kita lagi kali ini!" tegur Marni.


"Aku terimakasih kok sama kak Fina, tapi tetap aja aku kesal Bu sama dia. Tadi hampir aja loh aku mau dibawa kabur sama bang Irzan, masih untung dia belum sempat temuin aku," ujar Farah.


"Sudah sudah, gak perlu diperpanjang lagi! Sekarang kan masalahnya udah selesai, jadi lebih baik kita makan bareng aja yuk!" ucap Marni.


"Betul tuh, kamu mau makan apa Farah? Kakak beliin deh apapun yang kamu pengen, tapi kamu jangan ngambek lagi ya sama kakak! Nanti kakak jadi sedih dengarnya," ucap Qeiza cemberut.


"Gausah kak, aku udah kenyang. Tadi kan aku udah makan bareng ibu," tolak Farah.


"Ya gapapa, siapa tahu kamu mau makan lagi. Atau enggak gini deh, nanti malam kakak ajak kamu sama ibu makan di luar, gimana?" tawar Qeiza.


"Umm, yaudah boleh deh terserah kakak aja," jawab Farah sambil tersenyum.


Qeiza pun senang dengan jawaban adiknya, ia usap perlahan rambut Farah lalu berpelukan dengannya. Marni juga ikut bahagia melihat sepasang saudara yang saling berbaikan itu setelah tadi sempat berkelahi walau sebentar, mereka lalu berniat pergi ke ruang tamu untuk mengobrol, tetapi ponsel milik Qeiza justru berdering dan membuatnya mengurungkan niat.


"Eh Bu, aku ada telpon nih. Sebentar ya aku mau angkat telpon dulu? Ibu sama Farah duluan aja ke depan, aku pengen ke kamar," pamit Qeiza.


"Iya sayang, yuk Farah!" ucap Marni yang langsung pergi bersama Farah.


Qeiza pun masuk ke kamarnya membawa ponsel yang berdering, ia melihat layar ponsel dan tampak nama Wisnu terpampang disana. Qeiza langsung memutar bola matanya malas, ini kedua kalinya pria itu menghubunginya setelah tadi juga sempat menelponnya saat sedang dalam perjalanan.


"Mau apa lagi sih ini orang? Padahal gue udah keluar dari tempat kerjanya, tapi ngapain coba dia masih aja hubungin gue? Bener-bener bikin gue emosi deh!" geram Qeiza.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...