Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 13. Kesepakatan



Farah manggut-manggut setuju, Marni lalu bergerak menuju jendela untuk mengintip sekilas seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Kedua mata Marni terbelalak lebar saat melihat tiga orang pria berbadan besar berdiri di depan rumahnya saat ini dengan tampilan yang cukup seram, tentu Marni mengenali mereka semua karena sudah kesekian kalinya mereka datang kesana.


"Siapa Bu?" tanya Farah penasaran.


"Gawat nak, itu bang Irzan sama anak buahnya! Duh, pasti mereka mau tagih hutang kita deh sayang. Gimana ya ini mana ibu belum punya uang cukup lagi?" jawab Marni dengan panik.


"Hah??" Farah juga tersentak kaget mendengarnya, ia pun tak tahu harus apa saat ini.


TOK TOK TOK...


Orang di luar itu terus mengetuk pintu dengan keras sampai timbul getaran di sekitar jendela, Marni serta Farah pun tampak sangat ketakutan dan sama-sama bingung harus melakukan apa untuk meredam amarah Irzan yang merupakan penagih hutang kejam tersebut.


"Bu, ini gimana dong? Ibu kayaknya harus keluar deh, gak mungkin kita diam aja disini," ucap Farah.


"Tapi Farah, ibu juga takut berhadapan sama bang Irzan yang galak itu," ujar Marni.


"Ish ibu penakut banget sih, maju dong ibu kan yang dewasa disini! Masa iya haeus aku yang keluar buat temuin bang Irzan? Emang ibu mau aku dibawa mereka?" ucap Farah.


"Eh jangan sayang! Biar ibu aja deh yang keluar, kamu tetap disini ya Farah! Kalau bisa kamu masuk aja ke kamar, kunci pintunya!" ucap Marni.


"Nah gitu dong Bu, yaudah ibu buruan keluar deh temuin mereka aku bosen tau dengar ketukan pintunya!" ujar Farah.


"Iya nak," Marni mengangguk pelan.


Farah langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Marni tampak menghela nafas sejenak sebelum melangkah ke luar membuka pintu dan menemui Irzan serta pasukannya yang sudah berjaga di depan sana dengan tatapan bengis mereka.


"Akhirnya keluar juga kamu, kenapa lama banget? Pasti setiap jatahnya bayar hutang selalu begini, susah ditagihnya!" ujar Irzan.


"Eee ka-kalian pasti mau tagih hutang saya ya? Maaf banget nak Irzan, tapi saya benar-benar belum ada uang buat bayar tagihan ini," ucap Marni dengan gugup.


Braakkk


"SIALAN!" Irzan mengumpat kasar sembari memukul pintu dengan tangannya.


"Mau sampai kapan kamu begini terus? Ini sudah kesekian kalinya kamu gak mampu bayar hutang, kalau emang gak bisa bayar ya gausah minjam uang dong Bu!" sentak Irzan.


"I-i-iya nak Irzan, saya minta maaf banget. Tapi, saya janji bulan depan saya bayar sekalian sama yang sebelumnya," ucap Marni.


"Janji janji janji, itu aja yang bisa kamu ucapkan! Kamu pikir saya tukang jual janji apa? Ingat ya, saya gak mau tahu pokoknya sekarang juga kamu harus bayar semua hutang kamu atau saya ratakan rumah ini!" geram Irzan.


"Ja-jangan nak Irzan, tolong kasih saya kesempatan satu kali lagi! Kali ini saya janji tidak akan mengecewakan kamu! Saya cuma butuh waktu sampai Zafina kembali, karena semua uangnya ada sama dia," bujuk Marni.


Irzan mengernyit bingung, "Hmm, kalau kamu gak bisa bayar hutang-hutang kamu dengan uang. Bagaimana kalau kita buat satu kesepakatan yang sama-sama menguntungkan?" tawarnya.


"Kesepakatan apa itu nak Irzan? Jika memang bisa meringankan hutang saya, maka mungkin saya akan setuju dengan kesepakatan itu nak," ucap Marni tampak penasaran.


"Hah??" Marni terperangah lebar mendengar perkataan Irzan.




Disisi lain, Arkhan dan Qeiza baru selesai mandi setelah aktivitas panas mereka beberapa menit yang lalu. Tidak ada yang akan curiga tentu sebab kamar itu telah didesain kedap suara dan apa yang mereka lakukan tadi tak mungkin terdengar dari arah luar, memang Arkhan sengaja membuat seluruh kamar di rumahnya kedap suara jika sewaktu-waktu ia dan istrinya bermain bersama.


"Sayang, apa abis ini kamu langsung mau ceraikan istri kamu? Aku sudah bikin kamu puas loh, masa gak ada bayarannya sih?" tanya Qeiza.


"Dengar ya Qeiza, kamu sudah bukan wanita malam lagi. Masa iya kamu masih minta bayaran sama aku yang jelas-jelas udah sah jadi tuan kamu? Melayani aku itu kan tugas kamu Qeiza," ujar Arkhan tegas.


"Iya aku tahu sayang, tapi tetap aja aku butuh kepastian untuk hubungan kita ini mas. Aku gak mau digantung terus," rengek Qeiza.


Arkhan menghela nafasnya dan terduduk di pinggir ranjang masih dengan handuk sepinggang yang ia gunakan, sedangkan Qeiza sudah memakai kembali pakaiannya dengan rapih dan ikut terduduk di sebelah pria itu sembari mengusap bahunya penuh sensual dan menggoda.


"Kamu pasti tahu kan perasaan aku kayak gimana mas? Aku juga perempuan, aku butuh kepastian. Emangnya kamu pikir enak diginiin terus dan jadi simpanan kamu?" ujar Qeiza.


"Aku tahu sayang, aku minta maaf ya? Aku janji aku akan selesaikan semuanya secepat mungkin," ucap Arkhan sambil tersenyum.


Qeiza turut membalas senyuman itu, "Gitu dong sayang, itu yang mau aku dengar dari mulut kamu," ucapnya.


"Yaudah, tapi aku minta sama kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah kamu datang lagi tanpa persetujuan aku!" ucap Arkhan.


"Itu semua bisa diatur mas, aku bakal nurut sama kamu asalkan kamu juga bisa pastikan kalau kamu akan ceraikan istri kamu itu," ucap Qeiza.


"Iya iya, itu mulu sih yang dibahas. Udah ya aku keluar dulu, aku takut Liana nyariin kita dan nanti dia malah salah paham. Kamu juga ikut keluar ayo biar gak ada yang curiga!" ucap Arkhan.


"Iya mas, kamu santai aja kali gausah tegang kayak gitu! Rileks mas, tenang!" goda Qeiza sensual.


Arkhan mengangguk pelan, kemudian menarik kepala Qeiza dan mengecup keningnya lembut. Barulah mereka sama-sama bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu keluar, Arkhan membuka pintu dengan perlahan lalu memastikan tidak ada siapapun di luar sana.


Setelah dipastikan aman, Arkhan pun keluar dari kamar itu bersama kekasih simpanannya dengan hati-hati. Tentu Arkhan tak mau orang rumahnya sampai melihat mereka keluar bersamaan dari dalam kamar itu, untungnya keadaan disana kosong sehingga mereka bisa keluar dengan aman.


"Huh syukurlah disini gak ada orang, awas ya lain kali kamu jangan kesini lagi! Aku gak mau istri aku sampe curiga tau!" ujar Arkhan.


"Iya iya mas.." Qeiza menurut saja dengan perkataan prianya itu.


"Mas!" keduanya sama-sama terkejut saat suara lembut terdengar disana, Arkhan langsung menoleh dan melongok lebar menemukan istrinya tengah menatap ke arahnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...