
Arkhan tampak menghampiri sang istri yang tengah menyendok nasi ke piring di meja makan, pria itu tersenyum lalu ikut duduk di sebelah Berliana sambil merangkul pundaknya. Berliana hanya menoleh dan tersenyum ke arah pria itu, ia sebenarnya masih curiga dengan hubungan Arkhan dan Qeiza yang memang sangat mencurigakan seperti sepasang kekasih yang sedang selingkuh di belakangnya.
Namun, Berliana lagi-lagi memilih tutup mulut dan tidak mau memperpanjang masalah. Lagipun saat ini ia belum memiliki bukti apa-apa tentang perselingkuhan suaminya itu, ia tidak mau salah tuduh dan malah berakibat buruk terhadap hubungan mereka berdua. Apalagi jika Arkhan tak terima, lalu mengusirnya dari rumah itu dan melarang ia untuk menemui Siena lagi.
"Mas, kamu mau makan juga? Biar sekalian aku sendokin ya? Ini aku tadi request ke bik Ningsih buat masakin makanan kesukaan kamu, maaf ya mas aku belum bisa masak lagi buat kamu?" ucap Berliana.
"Gapapa Liana, meski bukan kamu yang masak tapi aku tetap senang kok makan ditemani sama kamu. Yaudah, tolong ambilin nasi buat aku ya sayang!" ucap Arkhan sembari mengusap puncak kepala Berliana dan mengecupnya lembut.
Wanita itu hanya tersenyum tipis, ia mengambil piring kosong di dekatnya dan menuangkan nasi ke dalam sana perlahan-lahan.
"Ini mas, kurang apa cukup?" tanya Berliana seraya menyodorkan piring itu ke arah suaminya.
"Kurang dong sayang, aku ini makannya banyak loh. Apalagi kalau aku makan ditemenin sama kamu, uhh rasanya aku pengen nambah terus deh dan gak mau udahan," jawab Arkhan.
"Hahaha, kamu bisa aja mas. Bukannya kamu biasanya makan sedikit ya?" ujar Berliana.
"Ya gapapa, aku kalo makan sama kamu itu bawaannya seneng terus gitu. Jadinya aku gak mau berhenti buat nambah sayang," ucap Arkhan.
"Ada-ada aja kamu, yaudah sini deh aku tambahin lagi yang banyak buat kamu," ucap Berliana.
Arkhan mengangguk, Berliana pun kembali menuangkan nasi ke piring pria itu hingga menumpuk seperti gunung. Lalu, wanita itu juga memberi lauk pauk yang ada di meja untuk suaminya. Arkhan terus tersenyum memandangi wajah istrinya, jika dilihat-lihat memang tak ada yang berubah dari Berliana, wanita itu masih tetap cantik seperti dulu, hanya saja kini kondisinya sudah jauh berbeda karena kelumpuhan pada kakinya.
"Nah, ini udah cukup kan mas? Udah banyak loh ini, lauknya juga banyak tuh," ujar Berliana.
"Iya sayang, cukup kok. Makasih ya kamu udah perhatian sama aku?" ucap Arkhan.
"Sama-sama mas, ini udah tugas aku sebagai istri," ucap Berliana.
"Oh ya, Siena udah makan apa belum? Kok dia gak sekalian kamu ajak kesini sih?" tanya Arkhan sambil mencuci tangannya di air kobokan.
"Dia mah udah makan duluan mas, terus sekarang lagi ditidurin tuh sama suster Indri. Emangnya kenapa mas? Kamu pengen ketemu sama Siena lagi?" jawab Berliana.
"Ya maunya sih gitu, tapi kalau emang dia udah tidur ya gausah diganggu. Kasihan lah Siena nanti malah jadi nangis," ucap Arkhan.
"Nah itu kamu ngerti mas, besok pagi lagi aja kamu mainnya sama dia ya? Kamu gak kemana-mana kan besok? Di rumah aja sama aku?" ucap Berliana.
Arkhan mengangguk sambil mengusap wajah sang istri, "Iya sayang, aku di rumah kok seharian nemenin kamu dan Siena," ucapnya.
"Ahaha, makasih mas!" ucap Berliana manja.
Berliana menaruh wajahnya pada bahu sang suami, ia sedikit melirik ke atas dan tersenyum lebar. "Aku cinta sama kamu mas, aku yakin kamu juga begitu. Tapi, tetap aja aku gak rela diduakan sama suami aku sendiri," gumamnya dalam hati.
•
•
Wanita itu pun tampak menemui salah seorang karyawan disana dan menanyakan keberadaan Wisnu, setelah mendapat informasi Qeiza langsung bergerak cepat menuju salah satu kamar yang ditunjuk karyawan tadi. Ia coba mengetuk pintu dan memanggil nama Wisnu dengan perlahan.
TOK TOK TOK...
"Wisnu, ini gue Qeiza. Gue udah datang kesini sesuai yang lu minta, sekarang buka pintunya gue mau ketemu sama lu!" ujar Qeiza.
"Ya Qeiza masuk aja, gak dikunci kok pintunya!" begitulah suara balasan yang ia dengar dari dalam sana.
Tanpa basa-basi, Qeiza bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam kamar itu. Betapa kagetnya ia melihat Wisnu ternyata tengah berhubungan badan dengan dua orang wanita sekaligus, ia spontan menutup mulutnya lalu membuang muka karena tak ingin melihat adegan menjijikkan itu.
"Ish, lu apa-apaan sih Wisnu?! Kenapa lu lagi begituan malah nyuruh gue kesini?" kesal Qeiza.
"Hahaha, udah lu duduk aja dulu disitu tunggu gue sampe kelar! Bentar lagi juga gue udahan kok ini," ucap Wisnu sambil terkekeh.
"Enggak ogah! Gue mau nunggu di luar aja, nanti lu keluar kalo udah kelar!" ketus Qeiza.
Setelahnya, Qeiza pun keluar dan membanting pintu dengan keras. Sedangkan Wisnu kembali melanjutkan aktivitasnya sampai tuntas, pria itu sudah diambang kenikmatan dan tentu tak ingin menyudahinya begitu saja sebelum mencapai apa yang dia inginkan.
Tak lama kemudian, akhirnya Wisnu selesai dan bergegas keluar menemui Qeiza setelah membayar dua wanita yang ia sewa tadi. Wisnu duduk di sebelah Qeiza dan memesan minuman pada sang pelayan, ia tampak terengah-engah dengan tubuh yang berkeringat.
"Ya ampun, lu kalo mesum tuh bisa gak sih sama satu cewek aja?! Sok kuat banget lu minta dua sekaligus, giliran capek aja ngos-ngosan kan lu!" cibir Qeiza.
"Bilang aja kamu kepengen juga ngerasain rudal saya kan Qeiza?" goda Wisnu.
"Idih najis banget! Udah deh lu gausah basa-basi, langsung aja bilang mau lu apa nyuruh gue kesini!" ketus Qeiza.
"Santai Qeiza, rileks! Minum dulu nih biar kamu gak emosian!" ucap Wisnu.
Qeiza menurut dan meminum wine tersebut setengah gelas, sudah lama ia tak minum-minum seperti ini sejak dibeli oleh Arkhan. Kini rasanya kepala Qeiza sedikit berat saat pertama kali minuman itu tertelan mengenai tenggorokannya, tapi hanya sementara sebab setelahnya Qeiza justru menikmati minuman tersebut.
"Sebenarnya saya suruh kamu kesini, karena saya mau minta kamu kembali bekerja di tempat ini. Jujur aja Qeiza, saya sangat merasa kehilangan kamu. Setelah kamu pergi, tempat kita ini jadi sepi dan gak semeriah dulu," ucap Wisnu.
"Hah? Lo mau gue balik kerja disini? Gausah ngaco deh lu, gue kan udah dibeli sama Arkhan temen lu yang sultan itu!" ucap Qeiza.
"Kamu bisa bekerja secara diam-diam Qeiza, tanpa sepengetahuan dia. Apa kamu tidak ingin punya uang banyak? Saya yakin Arkhan bisa memenuhi kebutuhan kamu, tapi apa itu cukup?" ucap Wisnu.
Qeiza terdiam, memikirkan hal itu sungguh membuat kepalanya makin terasa pusing.
"Duh, gue kok pusing banget ya? Si b*ngsat Wisnu ini taruh apaan coba di minuman gue?!" umpat Qeiza dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...