Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 21. Adu domba?



TOK TOK TOK...


"Mas, bukain pintunya dong mas! Aku sama Siena mau masuk nih, kita bawain sesuatu buat kamu loh," begitulah suara yang Arkhan dengar.


Sontak Arkhan terkejut bukan main, ia menghentikan gerakan Qeiza dan membuat wanita itu ikut terkejut tak mengerti apa yang membuat Arkhan seperti itu.


"Ih mas, kamu kenapa sih? Aku lagi enak tau!" protes Qeiza.


Arkhan kesal lalu menyingkirkan paksa Qeiza dari tubuhnya, pria itu bangkit membenarkan celana serta bajunya sebelum melangkah mendekati pintu. Ia juga meminta Qeiza untuk merapihkan semua pakaiannya agar Berliana tidak curiga.


"Cepat kamu pakai lagu baju kamu! Saya gak mau istri dan anak saya lihat kamu dalam keadaan kayak gini, bisa rumit semuanya!" ujar Arkhan.


"Kenapa sih mas? Kamu kok panik gitu? Bukannya bagus ya kalau Liana tahu? Jadinya proses perceraian kalian bisa cepat diurus, terus kita bisa nikah deh sayang," ucap Qeiza.


"Gak sekarang Qeiza, udah cepat kamu pakai lagi itu dan jangan bikin Liana curiga!" tegas Arkhan.


"Iya iya mas.." Qeiza menurut dan memakai pakaiannya kembali.


Setelah dirasa cukup, Arkhan pun membuka pintu untuk menemui istrinya di luar sana. Ia tersenyum lebar menatap wajah Berliana yang duduk di kursi roda itu, ia berusaha bersikap biasa-biasa saja agar tidak timbul kecurigaan dari istrinya itu.


"Hey sayang! Kamu ada apa kesini? Kok gak ngabarin aku dulu sih?" ucap Arkhan dengan nafas tersengal-sengal.


"Emangnya harus kabarin kamu dulu ya mas? Kamu abis ngapain sih? Kok keringetan begini?" tanya Berliana heran.


"Eee anu itu..." Arkhan terlihat gugup dan gelagapan berusaha mencari alasan yang pas.


Tanpa diduga, Qeiza berjalan ke luar sembari membawa kipas di tangannya. Wanita itu bertingkah seolah kondisi disana sangat panas, sehingga Berliana serta yang lain tidak akan curiga mengapa Arkhan sampai berkeringat dan nafasnya memburu seperti itu.


"Duh, panas banget ya pak ruangannya? Kayaknya kita harus pindah tempat meeting deh, abisnya saya gak kuat pak!" ucap Qeiza.


Arkhan hanya melotot kebingungan, begitu juga dengan Berliana serta suster Indri. Qeiza berpura-pura baru menyadari keberadaan Berliana disana, ia pun tersenyum lalu menyapa sang istri dari Arkhan itu seraya mendekatinya seolah tidak terjadi apapun.


"Eh ada Bu Liana toh? Selamat datang Bu Liana! Maaf ya saya keringetan begini, soalnya di dalam panas banget Bu?" ucap Qeiza bersalaman dengan Berliana.


"Ah iya iya, pantas aja tadi mas Arkhan juga keringetan sama ngos-ngosan gitu. Emangnya kenapa bisa panas banget ya?" ucap Berliana.


"Eee itu loh sayang, AC di ruangan aku itu lagi rusak. Aku udah saranin Bu Qeiza buat meeting di tempat lain, tapi Bu Qeiza nya nolak dan malah pengen tetap disini," jelas Arkhan.


"Ohh, yah berarti aku sama Siena gak bisa main ke ruangan kamu dong mas? Kan kasihan kalau Siena kepanasan nanti," ucap Berliana.


"Iya Liana, untuk sekarang gak bisa. Tapi, kita kan bisa ke ruangan lain sayang. Lagian kamu ada tujuan apa sih kesini? Bikin aku kaget aja tadi," ujar Arkhan.


"Gak ada apa-apa kok mas, aku cuma pengen kasih kejutan ke kamu dengan bawain makan siang," ucap Berliana.


"Waw enak tuh kayaknya makanan buatan kamu, boleh dong aku cobain nanti? Aku juga pengen ngerasain masakan kamu Liana," ucap Qeiza menyela obrolan sepasang suami-istri itu.


Sontak Arkhan terkejut dan melotot ke arah Qeiza, ia benar-benar geram dengan apa yang diucapkan wanita itu barusan.


"Pastinya boleh dong Bu Qeiza, anda ini kan rekan bisnisnya suami saya. Jadi, pastinya saya akan sangat senang sekali kalau anda mau makan siang bersama kami," ucap Berliana.


"Mas, biarin aja tau Bu Qeiza ikut sama kita. Masa kamu tega dia ditinggal sendiri?" ucap Berliana.


"Ya kalau emang gak dibolehin sama pak Arkhan sih gak masalah ya Bu, saya bisa pulang aja dan biar nanti urusan kami diundur lain waktu," ucap Qeiza sambil tersenyum.


"Nah, Bu Qeiza nya aja gak masalah. Maaf ya Bu, tapi saya memang lagi pengen menikmati waktu bersama keluarga?" ucap Arkhan.


"Iya pak Arkhan, gapapa kok." Qeiza tersenyum saja walau di dalam hatinya ia teramat kesal dengan sikap Arkhan kali ini.


"Awas ya kamu mas, berani banget kamu giniin aku di depan istri kamu!" gumam Qeiza dalam hati.




Kini Arkhan beserta istri dan anaknya telah berada di salah satu ruangan untuk menikmati makan siang bersama, Arkhan tampak bahagia dan terus tersenyum karena bisa merasakan momen hangat seperti ini dengan anak serta istrinya. Ia memang membutuhkan ini untuk bisa melupakan sejenak masalah yang menimpanya.


"Mas, kenapa sih kamu tadi gak bolehin aku buat ajak Bu Qeiza juga? Kalau ada dia kan jadi lebih enak mas, rame gitu. Siena juga pasti senang kok ada temannya," ucap Berliana.


"Sayang, kamu gausah bahas orang lain ya kalau lagi sama aku? Cukup kita aja yang ada disini, aku gak mau ada pengganggu!" ucap Arkhan.


"Terus suster Indri gimana mas?" tanya Berliana.


"Ya itu mah beda lagi sayang, suster Indri itu kan udah kita anggap seperti keluarga. Udah ya kamu jangan bahas Bu Qeiza lagi!" ucap Arkhan.


"Kamu kok kayak gak suka banget sih sama Bu Qeiza? Emangnya dia kenapa sih mas?" tanya Berliana heran.


Arkhan menelan makanannya dan meminum air di gelas sampai habis sembari menenangkan dirinya, ia bingung harus memulai darimana untuk menceritakan mengenai Qeiza. Ia ingin Berliana membenci Qeiza dan tidak terlalu dekat dengan wanita itu, tetapi ia tak tahu bagaimana caranya.


"Itu loh sayang, Bu Qeiza tuh sikapnya aneh gitu. Dia selalu aja coba deketin aku dan goda-goda aku, kan aku jadi risih sama dia. Makanya aku mencoba jauh-jauh dari dia sayang," ucap Arkhan.


"Kamu serius mas? Kok bisa sih bu Qeiza yang kelihatannya baik itu suka godain kamu? Aku kira dia tuh wanita kalem yang baik hati loh, eh ternyata dia malah suka godain suami orang. Padahal dia tahu kan kamu suami aku?" ucap Berliana.


"Ya itu dia Liana, makanya aku gak mau tadi dia ikut makan siang sama kita. Aku takutnya dia bertindak kurang ajar di depan kamu," ujar Arkhan.


"Hm, yaudah aku minta maaf ya tadi udah sempat tawarin dia buat ikut sama kita?" ucap Berliana.


"No problem sayangku, kamu juga harus janji sama aku ya jangan pernah dekat-dekat sama dia atau percaya apapun omongan dia!" ucap Arkhan.


Berliana mengangguk sambil tersenyum, Arkhan pun menyatukan kedua tangan mereka dan saling memandang satu sama lain. Kini Arkhan bisa bernafas lega, ia yakin istrinya itu lebih percaya dengan perkataannya dibanding apa yang diucapkan Qeiza nanti.


"Yaudah, yuk kita lanjut makan!" ajak Arkhan seraya melepaskan tangannya.


Berliana mengangguk saja, mereka pun melanjutkan makan siang itu dengan saling menyuapi satu sama lain. Keduanya tampak sangat senang, meski di dalam hatinya Berliana masih merasa curiga pada Arkhan dan mengira ada sesuatu yang disembunyikan pria itu darinya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...