
Berliana terus menggeleng sembari menutupi kedua telinganya, "Enggak mas, cukup! Mau sampai kapan kamu ngelak terus kayak gini? Apa kamu gak kasihan sama anak kita mas? Dia masih kecil loh, kenapa kamu tega sih mas?" ujarnya dengan kesal.
Arkhan tertunduk lesu, dirinya benar-benar menyesali semua perbuatan yang sudah ia lakukan selama ini di belakang istrinya itu. Tapi tentu semua sudah terlambat, penyesalan pun tidak akan cukup membayar semua yang sudah terjadi dan Berliana tak mungkin begitu saja memaafkannya. Arkhan kini hanya bisa pasrah menerima semuanya, meskipun ia tidak ikhlas jika Berliana pergi darinya.
Pria itu kini bersimpuh di hadapan Berliana dan coba memohon padanya, "Aku minta maaf sayang, tolong kamu jangan tinggalin aku!" ucapnya memelas.
Berliana menangis saat itu juga, ia tak sanggup menerima semua ini. Berliana juga tidak menyangka kalau suami yang sangat ia cintai dan sayangi itu ternyata bermain di belakangnya dengan wanita lain, sungguh Berliana sangat menyesal pernah percaya pada lelaki seperti Arkhan.
"Terlambat mas, permohonan maaf kamu itu sudah tidak berarti lagi buat aku sekarang. Aku harus pergi, dan perceraian kita akan segera aku urus. Aku harap kamu mau terima semua itu," usap Berliana.
"Ta-tapi sayang—"
"Udah mas, aku gak mau dengar apa-apa lagi dari kamu! Mas Wisnu, ayo kita pergi sekarang! Tolong bawa aku dari tempat ini!" sela Berliana.
"Dengan senang hati Liana," ucap Wisnu sambil tersenyum.
Wisnu langsung melangkah mendekati Berliana, tetapi Arkhan yang tak terima malah bangkit dan mencoba menahannya.
"Jangan pernah kamu sentuh istri saya!" sentak Arkhan penuh emosi.
"Wow wow, sekarang aja kamu bilang Liana istri kamu. Dulu kemana aja? Kenapa kamu bisa selingkuh coba? Apa kamu lupa udah punya istri, ha?" cibir Wisnu.
"Kamu benar-benar keterlaluan Wisnu! Kamu itu duri dalam daging!" geram Arkhan.
"Terserah kamu mau bilang apa, sekarang jangan halangi saya!" ujar Wisnu.
Bruuukkk
Wisnu mendorong tubuh Arkhan sampai terjatuh ke lantai, lalu dengan cepat Wisnu membawa Berliana pergi bersama Siena serta sang suster menuju mobilnya. Arkhan berusaha mengejar mereka lagi, tapi kali ini ia ditahan oleh Qeiza yang mendekat dan mencoba menolongnya.
"Liana, Liana tunggu!" teriak Arkhan yang masih tampak kesal dan sedih.
"Arkhan stop! Udah lah, kamu lupain aja istri kamu yang lumpuh itu, toh dia juga gak ada gunanya! Mending kamu sama aku aja, ya kan?" ucap Qeiza.
Arkhan menatap tajam ke arah Qeiza dengan tangan terkepal, membuat Qeiza yang menyadarinya pun dibuat kaget dan bingung mengapa Arkhan terlihat sangat marah padanya. Sedetik kemudian, Arkhan menyingkirkan tangan Qeiza dari tubuhnya dan mendorong kasar wanita itu.
"Awhh akh sakit tau! Kamu apa-apaan sih Arkhan? Tega banget sih sama pacar sendiri!" kesal Qeiza.
"Cukup ya, ini semua tuh gara-gara kamu tau gak!" sentak Arkhan.
Qeiza mengernyit heran, "Hah? Aku? Kamu gak salah bicara mas? Jelas-jelas semua ini bisa terjadi ya karena kesalahan kamu, suruh siapa kamu pake selingkuh segala di luar negeri?" ujarnya.
"Aaarrrgghhh sial! Si Wisnu itu benar-benar bikin emosi, dia sudah menjebak saya! Harusnya saya tidak percaya begitu saja sama dia!" geram Arkhan.
"Itulah, makanya kamu gak boleh percaya gitu aja sama seseorang. Ya walaupun dia teman dekat kamu, gak menutup kemungkinan kalau dia akan menusuk kamu dari belakang," ucap Qeiza.
"Diam kamu Qeiza! Saya sedang pusing saat ini, lebih baik kamu pergi!" ucap Arkhan mengusirnya.
"Kamu usir aku? Kamu—"
"Pergi!!" potong Arkhan penuh emosi.
Qeiza terkejut mendengar bentakan pria itu, pada akhirnya ia memilih menurut dan meninggalkan saja Arkhan yang sedang bersedih disana. Qeiza pun beranjak dari tempatnya, sedangkan Arkhan tetap terduduk di lantai dan terus menangis tersedu-sedu karena telah kehilangan anak serta istrinya.
•
•
Tapi baru saja Arkhan hendak masuk, tanpa diduga dua orang satpam yang berjaga di depan sana pun menghadangnya dan tak mengizinkan Arkhan untuk masuk ke dalam. Sontak Arkhan dibuat kebingungan, ia tak mengerti mengapa dirinya dilarang masuk ke kantornya sendiri.
"Selamat pagi pak Arkhan! Mohon maaf, ada keperluan apa ya bapak datang kesini?" ucap salah seorang satpam itu.
"Maksud kalian apa ya? Saya kesini ya mau cek kondisi perusahaan, kalian lupa apa saya ini siapa? Berani sekali kalian cegat saya seperti ini, apa kalian mau saya pecat ha?" geram Arkhan.
"Maaf pak, tapi kami hanya menjalankan perintah dari pemilik perusahaan yang baru. Beliau meminta kami untuk melarang bapak masuk kesini tanpa seizin darinya," ucap satpam itu.
Arkhan pun sontak membelalakkan matanya, "Hah? Pemilik baru? Apa maksudnya?" tanyanya kaget.
"Iya pak, beliau baru saja menyampaikan kalau perusahaan ini sudah diambil alih dari tangan bapak," jawab satpam.
"Siapa orang yang berani mengaku-ngaku seperti itu? Katakan ke saya!" ujar Arkhan.
"Itu aku mas," tiba-tiba saja seorang wanita muncul dan bersuara, Arkhan langsung menoleh ke asal suara tersebut dan menemukan Qeiza disana.
"Apa? Ka-kamu..." Arkhan benar-benar terkejut bukan main melihat keberadaan Qeiza.
"Iya mas, kenapa? Kamu kaget ya lihat aku sekarang ada disini?" ucap Qeiza memancing.
"Sial! Apa yang kamu lakukan disini Qeiza? Kenapa juga kamu ngaku-ngaku sebagai pengganti saya disini?" tanya Arkhan tampak kesal.
"Aku gak ngaku-ngaku kok, aku punya buktinya. Nih, kamu lihat aja sendiri semuanya!" jawab Qeiza menunjukkan bukti surat di tangannya.
Arkhan yang melihat itu langsung dibuat terperangah, ia tak mengira jika selama ini telah membuat kesalahan dengan mendekati wanita tersebut. Di dalam surat itu juga ia mengetahui nama yang sebenarnya dari Qeiza, dan lalu Arkhan reflek menatap wajah wanita itu dengan syok.
"A-apa? Jadi, kamu bukan Qeiza? Apa-apaan ini?" ujar Arkhan gugup.
Qeiza alias Zafina itu tersenyum penuh rasa puas, "Ya mas Arkhan yang terhormat, aku bukanlah Qeiza yang seperti kamu kira mas. Aku ini Zafina Deananda, orang yang pernah kamu lukai dulu mas!" ucapnya dengan lantang.
"Berarti selama ini.."
"Iya betul, aku hanya memanfaatkan kamu untuk membalas semua dendam aku ke kamu mas," sela Qeiza memotong ucapan pria itu.
"Sekarang semua yang aku inginkan sudah tercapai, kamu sudah tidak punya apa-apa lagi. Hidup kamu akan hancur Arkhan, karena kamu sudah kehilangan segalanya!" sambungnya.
"Kurang ajar kamu Zafina! Berani sekali kamu melakukan ini ke saya!" geram Arkhan.
"Ups, kenapa aku harus takut? Orang seperti kamu memang pantas mendapatkan ini, Arkhan!" ucap Qeiza disertai tawa yang menggelegar.
Arkhan yang emosi berniat maju menghampiri wanita itu, akan tetapi dihalangi oleh dua orang satpam yang kini membela Qeiza karena wanita itu sudah berhasil merebut semuanya dari tangan Arkhan dan membalaskan dendamnya.
"Dendam sudah terbalaskan, meski ini tak seberapa dengan kesakitan yang aku rasakan tempo hari, Arkhan. Tapi, setidaknya kamu tahu apa itu rasa sakit!" gumam Qeiza dalam hati.
...~Tamat~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...HORE TAMAT, WALAUPUN SEPI PEMINAT🥳...