Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 25. Ulah Qeiza



Qeiza tersenyum lebar, "Ahaha, ibu gak perlu khawatir begitu. Saya kesini bukan untuk membahas urusan bisnis kok, saya juga tahu seperti apa kapasitas ibu di dalam perusahaan," ucapnya.


"Syukurlah, lalu apa yang kamu inginkan sebenarnya? Kenapa kamu datang ke rumah saya tiba-tiba begini? Baru saja suami saya pergi loh tadi," tanya Berliana penasaran.


"Iya Bu saya tahu, tadi kan saya juga lihat waktu pak Arkhan pergi dengan mobilnya. Lagian urusan saya ini kan dengan ibu, bukan dengan pak Arkhan atau siapapun," jawab Qeiza.


"Yasudah, saya gak punya banyak waktu. Jadi, saya mohon segera bicara sekarang!" pinta Berliana.


"Saya cuma mau kasih tahu sesuatu ke kamu, kamu lihat kan cincin yang ada di jari manis saya ini? Cantik bukan?" ucap Qeiza.


Berliana sontak mengalihkan pandangan ke arah cincin yang melekat di jari manis Qeiza, ia mengangguk pelan dan tersenyum mengakui kalau cincin tersebut memang cantik sesuai yang dikatakan Qeiza tadi.


"Iya benar, cincin kamu cantik kok. Pas banget dipakai di jari kamu, tapi omong-omong kamu sudah punya pasangan ya?" ucap Berliana.


"Ya jelas iya dong bu Liana, saya kan dibelikan cincin ini sama pacar saya. Sebentar lagi juga dia akan menikahi saya," ucap Qeiza dengan bangga.


"Oh baguslah, saya ikut senang dengarnya. Semoga bu Qeiza dan pacarnya langgeng terus ya!" ucap Berliana.


"Apa kamu gak mau tau siapa pacar saya itu, bu Liana?" ucap Qeiza memancing.


Seketika Berliana terkejut, melihat tatapan aneh di mata Qeiza membuat Berliana mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Qeiza dan itu berhubungan dengannya, Qeiza sendiri juga terus tersenyum menatap wajah Berliana tanpa berbicara apa-apa.


"Emangnya siapa pacar kamu? Apa saya mengenal orangnya?" tanya Berliana.


"Jelas iya, malahan kamu sangat-sangat kenal sama dia. Kalian selalu berdekatan kok selama ini," jawab Qeiza santai.


"Masa iya sih? Kok saya bisa gak tahu ya siapa pacar kamu itu?" heran Berliana.


"Ya mungkin karena kamu terlalu sibuk ngurus anak kamu, jadinya kamu sampai gak tahu kalau di dekat kamu itu ada pacar saya," ucap Qeiza.


"Mungkin aja sih, terus emangnya siapa pacar kamu itu bu Qeiza?" tanya Berliana penasaran.


Qeiza tersenyum lebar menatap wajah Berliana yang terlihat sangat penasaran itu, ia sendiri juga sudah tidak sabar untuk mengungkap semua kebusukan yang dilakukan Arkhan dan dirinya kepada wanita itu. Namun, entah mengapa justru sekarang ini Qeiza sedikit ragu untuk membongkar semua karena khawatir akan terjadi sesuatu.


"Kalau saya bilang pacar saya itu pak Arkhan, apa bu Liana akan percaya?" ucap Qeiza memancing.


Melihat ekspresi kaget di wajah Berliana, justru membuat Qeiza tersenyum puas. Ia merasa telah berhasil membuat wanita itu terkejut dengan apa yang ia katakan tadi, sungguh Qeiza menjadi semakin tak sabar untuk membongkar semua perselingkuhan dirinya dengan Arkhan di depan Berliana agar keluarga pria itu hancur.




Sementara itu, Arkhan masih sibuk mengurus pekerjaannya. Tanpa diduga, pria itu malah bertemu dengan seorang wanita cantik yang tak lain ialah anak dari calon kliennya. Arkhan juga tak mengerti mengapa wanita itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan menemuinya disana.


Karena heran sekaligus bingung, Arkhan tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya diam dan mempersilahkan wanita itu masuk. Mereka pun duduk berdampingan pada sofa yang tersedia, Arkhan terlihat juga masih memangku laptop miliknya itu.


"Pak, bisa kita bicara sebentar?" tanya si wanita sembari menatap wajah Arkhan dari samping.


Entah mengapa Arkhan tiba-tiba merasa gugup, jantungnya berdetak kencang ketika wanita itu tersenyum ke arahnya. Sungguh cantik dan manis, begitulah batin Arkhan saat melihat wajah si wanita yang sangat menarik perhatiannya. Saat itu juga Arkhan seperti tak bisa berpaling dari wajah wanita itu dan terus memperhatikannya.


"Eee i-i-iya bisa kok, mbak Riana mau bicara apa ya sama saya? Terus dimana pak Michael? Gak ikut kesini?" ujar Arkhan sedikit grogi.


Wanita bernama Riana itu tersenyum, "Gak perlu gugup gitu pak Arkhan, santai aja kalau sama saya mah! Saya gak segalak papa saya kok, saya juga bukan mau bahas soal bisnis," ucapnya sembari menaruh telapak tangan di atas paha Arkhan.


Sontak Arkhan terkejut dan reflek menatap tangan mulus milik Riana yang ada di pahanya, Riana pun tersadar kalau perbuatannya salah dan membuat Arkhan grogi. Tentu saja Riana langsung menarik tangannya meski agak lama, ia juga meminta maaf dan mencoba kembali mencairkan suasana.


"Ups, maaf ya pak? Saya tadi reflek aja, soalnya saya biasa begitu kalau bicara sama laki-laki," ucap Riana dengan nada menggoda.


"Ah iya, gapapa kok mbak. Lalu apa yang mbak Riana mau bicarakan dengan saya?" ujar Arkhan.


"Tutup dulu laptopnya pak, saya gak mau ada yang mengganggu pembicaraan kita!" pinta Riana.


Arkhan pun menuruti permintaan wanita itu, ia menutup laptopnya sejenak dan kembali menatap Riana masih dengan tubuh gemetar. Cukup lama mereka saling bertatapan, hingga entah siapa yang memulai kini tangan mereka sudah saling bertaut dan jarak duduk mereka pun semakin dekat.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...