Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 22. Paksaan Irzan



Beberapa hari setelah peristiwa makan siang bersama itu, Arkhan pamitan pada istri serta anaknya untuk pergi ke luar negeri dalam rangka mengurus bisnisnya. Sejujurnya Arkhan berat meninggalkan mereka berdua dalam waktu yang cukup lama, ia khawatir Qeiza akan berbuat nekat dan menyebarkan gosip yang tidak-tidak kepada Berliana sehingga membuatnya dalam bahaya.


Namun, Arkhan juga tak memiliki pilihan lain sebab ia harus melakukan itu demi kemajuan perusahaan yang sudah ia kelola sejak lama. Arkhan pun telah meminta pada Qeiza untuk berjanji agar tidak membongkar rahasia mereka ke Berliana sekarang ini, tentu Arkhan tidak mau Berliana membencinya dan membawa pergi Siena darinya nanti.


"Mas, kamu hati-hati ya disana! Jangan lupa makan, jaga kesehatan kamu! Kabarin aku sama Siena juga ya kalau udah sampai, safe flight mas!" ucap Berliana.


"Tentu sayang, aku gak mungkin lupa buat kabarin kamu. Aku kan sayang banget sama kamu dan juga Siena, pastinya aku bakal rindu banget sama kalian nantinya," ucap Arkhan tersenyum sambil mencolek pipi istri juga anaknya secara bergantian.


"Ahaha, tuh papa katanya sayang sama kita nak. Kamu percaya enggak sayang? Kalau mama sih enggak ya, buktinya papa aja sering tinggalin kita berdua di rumah," ucap Berliana pada putrinya.


Arkhan langsung menunduk merasa bersalah, "Liana, aku minta maaf ya kalau aku seringkali ninggalin kamu dan Siena berdua kayak gini? Tapi apa daya sayang, aku harus urus semuanya secara langsung demi kemajuan perusahaan," ucapnya pelan.


Berliana pun beralih menatap suaminya dan tersenyum, "Iya gapapa mas, aku paham kok sama alasan kamu," ucapnya.


"Serius sayang? Kamu gak marah atau kesal sama aku kan?" tanya Arkhan memastikan.


Berliana menggeleng cepat, "Enggak mungkin lah mas, kecuali kamu selingkuh dari aku dan tinggalin kita untuk selamanya. Baru deh aku bakal marah banget dan benci banget sama kamu," ucapnya.


Deg!


Jantung Arkhan berhenti berdetak seketika, ia terbelalak kaget mendengar omongan Berliana yang amat membuatnya tak percaya. Sungguh Arkhan semakin merasa bersalah karena sudah berkhianat dari Berliana hanya karena hasratnya yang tak mampu ia tahan lagi.


Arkhan pun berjongkok dan meraih dua tangan Berliana, "Aku gak mungkin kayak gitu sayang, kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucapnya sambil mencium kedua tangan istrinya itu.


"Aku percaya sama kamu mas, kamu itu suami yang setia dan penyayang," ucap Berliana.


"Terimakasih sayang, kamu memang istri yang baik dan selalu percaya sama aku," ucap Arkhan.


"Sama-sama mas, aku harap kamu gak mengkhianati kepercayaan aku ya mas?" ucap Berliana.


"Aku akan selalu setia sama kamu sayang," ucap Arkhan dengan serius.


Berliana tersenyum mendengarnya, lalu setelah itu Arkhan kembali bangkit dan mengambil nafas panjang. Arkhan pun mulai melangkah ke luar menuju mobilnya, ia melambaikan tangan ke arah istri serta anaknya yang menunggu di teras sambil tersenyum lebar. Arkhan masuk ke dalam mobil, dan langsung melaju bersama seorang supir yang menemaninya sampai bandara.


Setelah kepergian Arkhan, selang beberapa menit Qeiza muncul di rumah itu menemui Berliana. Sontak Berliana dibuat terkejut dengan kehadiran Qeiza disana, ia yang semula hendak masuk pun mengurungkan niatnya dan kembali menatap ke arah wanita yang baru datang itu.


"Halo Bu Liana!" Qeiza menyapa Berliana dengan lambaian tangan disertai senyum tipisnya.


"Bu Qeiza?" Berliana benar-benar terkejut dan tubuhnya gemetar saat Qeiza mendekat lalu berhenti tepat di depannya.


"Apa kabar Bu? Boleh kita bicara sebentar?" ucap Qeiza bertanya pada Berliana.




"I-itu kan bang Irzan, duh mau apa ya dia samperin aku? Jangan-jangan dia punya niat jahat lagi!" gumam Farah ketakutan dan gugup.


Sedetik kemudian, Irzan sudah berada tepat di depan wajahnya. Farah tidak bisa lagi mengelak atau menghindar dari lelaki itu, ia terpaksa berdiam diri disana memandang Irzan dengan tubuh gemetar. Sedangkan Irzan hanya tersenyum lebar menatap wajah gadis cantik di hadapannya itu.


"Bang Irzan, abang mau apa? Hutang ibu aku kan udah dilunasi semua sama kak Fina, kenapa abang masih aja datangin aku? Emangnya kita ada urusan apalagi bang?" tanya Farah dengan gugup.


"Enggak kok Farah sayang, aku kesini bukan untuk tagih hutang atau melukai kamu. Jadi, kamu tenang aja ya cantik!" jawab Irzan sambil tersenyum.


"Lalu abang mau apa?" tanya Farah lagi.


"Simpel saja, aku mau kamu ikut sama aku sayang. Kalau kamu mau, aku akan wujudkan semua keinginan yang kamu inginkan," jawab Irzan.


Farah menggeleng, "Aku gak mau ikut sama abang, aku pengen pulang aja," ucapnya.


"Eits, kalau begitu gimana biar aku yang antar kamu sampai ke rumah ya Farah cantik? Daripada kamu naik sepeda, nanti kan capek kayuh nya. Mending naik mobil sama aku," ucap Irzan.


"Enggak bang, aku gak bisa ikut sama abang. Lebih baik aku lelah mengayuh sepedaku, daripada aku harus ikut dengan kamu di mobil itu," ucap Farah.


"Kenapa sih cantik? Kamu gausah takut begitu lah sama aku, aku ini orang baik loh dan aku gak ada niat jahat ke kamu. Aku cuma pengen kamu ikut sama aku biar kamu gak kecapekan," ucap Irzan.


"Halah aku gak percaya! Pasti kamu ada keinginan lain kan bang?" sentak Farah.


"Kamu gak boleh punya pikiran buruk gitu sama aku, Farah. Aku ini orang baik kok, kemarin itu aku galak ya karena ibu kamu ada hutang sama aku," ucap Irzan.


"Tetap aja aku gak mau, aku pengen pulang sendiri aja. Tolong ya abang jangan paksa-paksa aku atau aku bakal teriak nih!" ucap Farah.


"Teriak aja, silahkan teriak sekencang mungkin! Gak mungkin ada yang dengar suara kamu cantik, karena suasana disini sepi. Palingan kamu akan berakhir ke dalam pelukan saya," ucap Irzan.


"Gak! Aku gak mau!" sentak Farah dengan tegas.


Perlahan pria itu terus bergerak mendekati Farah, sontak gadis itu mundur secara perlahan sembari menarik sepedanya menjauh dari Irzan. Farah sangat cemas dan gugup, ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia tertangkap oleh Irzan dan dibawa pergi pria itu ke tempatnya.


"Jangan mendekat! Abang harus tau diri, aku ini gak mau ikut sama abang!" teriak Farah.


"Diam kamu Farah! Saya sudah bicara baik-baik sama kamu, tapi kamu malah terus menolak. Jangan salahkan saya kalau saya kasar sama kamu!" geram Irzan.


"Hah??" Farah melotot lebar melihat Farah berlari ke arahnya dengan kedua tangan terkepal.


Disaat Farah hendak berlari, ia justru tersandung sebab tali sepatunya yang terlepas. Farah pun terjatuh mengakibatkan lututnya terluka dan mengeluarkan darah, ia meringis sakit walau masih terus berusaha menghindar dari lelaki tersebut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...