Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 15. Memaksa masuk



Farah langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Marni tampak menghela nafas sejenak sebelum melangkah ke luar membuka pintu dan menemui Irzan serta pasukannya yang sudah berjaga di depan sana dengan tatapan bengis mereka.


"Akhirnya keluar juga kamu, kenapa lama banget? Pasti setiap jatahnya bayar hutang selalu begini, susah ditagihnya!" ujar Irzan.


"Eee ka-kalian pasti mau tagih hutang saya ya? Maaf banget nak Irzan, tapi saya benar-benar belum ada uang buat bayar tagihan ini," ucap Marni dengan gugup.


Braakkk


"SIALAN!" Irzan mengumpat kasar sembari memukul pintu dengan tangannya.


"Mau sampai kapan kamu begini terus? Ini sudah kesekian kalinya kamu gak mampu bayar hutang, kalau emang gak bisa bayar ya gausah minjam uang dong Bu!" sentak Irzan.


"I-i-iya nak Irzan, saya minta maaf banget. Tapi, saya janji bulan depan saya bayar sekalian sama yang sebelumnya," ucap Marni.


"Janji janji janji, itu aja yang bisa kamu ucapkan! Kamu pikir saya tukang jual janji apa? Ingat ya, saya gak mau tahu pokoknya sekarang juga kamu harus bayar semua hutang kamu atau saya ratakan rumah ini!" geram Irzan.


"Ja-jangan nak Irzan, tolong kasih saya kesempatan satu kali lagi! Kali ini saya janji tidak akan mengecewakan kamu! Saya cuma butuh waktu sampai Zafina kembali, karena semua uangnya ada sama dia," bujuk Marni.


Irzan mengernyit bingung, "Hmm, kalau kamu gak bisa bayar hutang-hutang kamu dengan uang. Bagaimana kalau kita buat satu kesepakatan yang sama-sama menguntungkan?" tawarnya.


"Kesepakatan apa itu nak Irzan? Jika memang bisa meringankan hutang saya, maka mungkin saya akan setuju dengan kesepakatan itu nak," ucap Marni tampak penasaran.


"Setahu saya, kamu masih punya satu putri lagi kan yang duduk di bangku SMA?" ujar Irzan yang kemudian diangguki Marni. "Kesepakatannya adalah, kamu serahkan putri kamu itu ke saya dan saya anggap semua hutang kamu lunas," sambungnya.


"Hah??" Marni terperangah lebar mendengar perkataan Irzan.


"Kamu gak bisa minta anak saya gitu aja dong, itu gak sebanding dengan hutang-hutang saya! Anak saya jauh lebih berharga daripada uang berapapun jumlahnya!" sentak Marni.


"Hahaha, yasudah cepat kamu bayar dan lunasi semua hutang kamu!" ujar Irzan.


Marni terdiam, ia tak mungkin bisa melunasi hutangnya karena uang yang ia miliki saat ini hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Apalagi hingga kini Qeiza juga belum kunjung datang untuk membantunya membayar hutang, Marni pun tampak sangat bingung.


"Kenapa diam? Gak bisa kan bayar semua hutang-hutang kamu?" tanya Irzan.


"Sudahlah, serahkan saja putri kamu itu ke saya demi kelangsungan hidup kamu!" sambungnya.


Irzan langsung memaksa masuk ke dalam rumah, sontak Marni terkejut lalu berusaha menahan Irzan agar tidak masuk dan membawa paksa Farah putrinya dari sana. Tentu Marni tak akan setuju jika Irzan melakukan itu, bagaimanapun Farah adalah putri kandungnya yang akan selalu ia jaga.


"Ih kamu mau apa? Jangan ganggu putri saya! Dia itu gak salah apa-apa, kamu gak bisa libatkan dia ke dalam urusan kita!" sentak Marni.


"Diam ya kamu Marni! Saya sudah cukup sabar selama ini sama kamu, tapi kamu selalu aja bikin saya kesal!" geram Irzan.


"Saya gak akan biarin kamu bawa pergi anak saya!" ucap Marni dengan tegas sembari merentangkan tangannya seolah menahan pria itu.


"Kamu benar-benar menguji kesabaran saya Marni, minggir!" bentak Irzan.


Namun, Irzan tak selemah itu. Ia mendorong kasar tubuh Marni hingga terjatuh ke lantai dan memaksa masuk bersama para anak buahnya, mereka langsung meneriaki nama Farah dan meminta gadis itu untuk keluar menemui mereka sebagai bayaran karena Marni gagal membayar hutang.


"Farah, keluar kamu cantik! Kamu harus jadi penebus hutang ibu kamu, ayo keluar!" teriak Irzan.


Farah yang berada di dalam kamar pun ketakutan saat namanya diteriaki oleh pria itu, ia hanya bisa duduk telungkup di atas kasur dengan selimut menutupi tubuhnya berharap agar Irzan tak mampu menemukan keberadaannya. Farah tentu sangat tidak mau jika harus pergi bersama pria itu.


Marni kini telah bangkit kembali, ia berupaya mengejar Irzan dan yang lainnya lalu meminta mereka untuk tidak terus mencari putrinya. Marni berusaha sekuat tenaga karena ia ingin Farah baik-baik saja dan hidup tenang bersamanya, wanita itu pun langsung menarik tangan Irzan dari belakang.


"Irzan, tolong jangan lakukan ini! Saya janji akan bayar semuanya dan lunasi hutang saya, tapi mohon kamu jangan ambil putri saya!" rengek Marni.


Irzan menghentak tangan Marni tanpa belas kasihan sedikitpun, "Ah berisik kamu! Saya gak percaya sama apa yang kamu omongin, saya tetap akan ambil putri kamu sebagai jaminan kalau kamu akan melunasi semuanya!" ucapnya.


"Apa? Saya mohon jangan! Saya gak mau putri saya dijadikan jaminan seperti itu, dia bukan barang! Dia itu anak saya, kamu harusnya paham dong perasaan saya, kamu kan juga punya anak!" tegas Marni.


"Saya gak perduli apapun yang kamu katakan, cepat serahkan Farah ke saya atau saya akan porak-porandakan tempat ini sampai tak bersisa!" ancam Irzan.


Marni terbelalak seketika mendengar ancaman Irzan, seperti yang ia tahu pria itu memang tak sembarangan mengancam karena dia akan selalu melakukan apapun yang dia inginkan dan bisa saja benar Irzan akan mengacak-acak rumahnya jika Marni tak menuruti kemauan pria itu.


"Bagaimana? Masih mau halangi saya sekarang? Kalau kamu ada uang, baru deh Farah akan saya lepaskan nantinya," ujar Irzan.


Marni tetap menggeleng, "Enggak, saya gak mau jadikan putri saya sebagai jaminan. Kamu boleh minta apapun, tapi tolong jangan putri saya!" ucapnya.


"Terus kamu mau kasih jaminan apa ke saya? Tubuh kamu? Sorry, saya gak minat!" ujar Irzan.


Marni benar-benar kesal dengan perkataan Irzan, tangannya sudah terkepal seolah siap untuk memukul wajah pria itu saat ini juga. Tapi tiba-tiba, sebuah teriakan lantang dari arah depan membuat mereka terkejut lalu menoleh ke asal suara secara bersamaan.


"Ibu!" ya suara itu adalah milik Qeiza, sang putri yang akhirnya muncul setelah ditelpon oleh Marni saat sedang terduduk di lantai tadi.


"Zafina, akhirnya kamu datang juga nak. Ibu senang banget lihat kamu lagi sayang," ucap Marni tersenyum bahagia.


Qeiza yang memiliki nama asli Zafina itu pun bergerak mendekat, matanya menggeram kesal melihat ke arah Irzan serta anak buahnya yang berada di depannya. Qeiza tak menyangka jika Irzan mampu berbuat nekat dan masuk ke rumahnya begitu saja tanpa izin.


"Bu, ibu tenang ya! Ada aku sekarang disini, biar aku yang beresin semua urusan ini sama mereka," ucap Qeiza menenangkan ibunya.


"Iya sayang, ibu udah gak tahu lagi harus gimana tadi. Untung aja kamu datang sayang, tolong bantu ibu ya nak! Ibu gak mau kalau sampai adik kamu dibawa sama mereka," ucap Marni bersedih.


"Apa??" Qeiza tersentak mendengarnya, ia semakin tersulut emosi setelah mengetahui itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...