Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 24. Kenapa kaget?



Disaat Farah hendak berlari, ia justru tersandung sebab tali sepatunya yang terlepas. Farah pun terjatuh mengakibatkan lututnya terluka dan mengeluarkan darah, ia meringis sakit walau masih terus berusaha menghindar dari lelaki tersebut.


Bruuukkk


Irzan langsung tersenyum lebar melihat Farah terjatuh, ia yakin ini kesempatan untuknya membawa Farah pergi dari sana. Irzan pun mempercepat langkahnya mendekati gadis itu, sedangkan Farah juga berusaha bangkit meski kakinya sulit digerakkan.


"Awhh sakit, akh!" Farah terus meringis memegangi lututnya dan juga sesekali melirik ke arah Irzan yang semakin mendekatinya.


"Hahaha, kena kamu Farah!" ucap Irzan tertawa lebar.


Kedua tangan pria itu sudah memegang tubuh Farah yang tengah terjatuh, tampak Farah tidak bisa lagi berontak atau menghindari cengkraman Irzan pada tubuhnya. Farah pun hanya bisa pasrah, meski ia sangat tidak ingin ikut bersama Irzan karena itu berbahaya sekali baginya.


"Bang, tolong jangan apa-apain saya bang! Sa-saya gak punya apa-apa, lepasin saya ya bang saya mohon!" ucap Farah merengek.


"Duh, kamu kalo kayak gini makin gemes tau kelihatannya. Saya jadi gak sabar buat bawa kamu pergi dari sini," ucap Irzan.


Farah menggeleng cepat, "Saya gak mau bang, saya cuma pengen pulang ke rumah!" ucapnya tegas.


"Kamu akan pulang kok cantik, tapi ke rumah saya. Hahaha..." Irzan tertawa keras hingga membuat Farah makin gemetar ketakutan.


Lalu, Irzan pun membantu Farah berdiri dengan paksa agar memudahkannya untuk membawa gadis itu pergi dari sana. Farah yang lemas tak mampu berbuat apa-apa, gadis itu hanya pasrah sambil berupaya memohon pada Irzan agar mau melepaskannya.


"Hey, lepaskan dia!" teriak seseorang dari belakang mereka.


Baik Farah maupun Irzan langsung menoleh ke asal suara tersebut, mereka sama-sama melotot lebar saat menyadari keberadaan seorang lelaki yang memakai setelan jas hitam lengkap dan tampak rapih itu. Ya dia adalah Bastian, anak pertama dari salah seorang juragan tanah di kampungnya yang merupakan bos Irzan juga.


"Den Bastian?" ucap Irzan lirih disertai rahang bergetar, ia tampak sangat cemas dan berpikir kalau Bastian kemungkinan akan menghajarnya.


Perlahan Bastian mendekat sembari menghisap rokok di mulutnya, "Kamu ada perlu apa sama si Farah? Dia kan tidak ada urusannya sama kamu, hutang ibunya sudah terbayar lunas," ucapnya.


"Iya den, saya tahu kok hutan bu Marni sudah lunas. Kami kesini temuin Farah juga bukan untuk menagih hutang atau menyakitinya kok," ucap Irzan terbata-bata.


"Lalu kalian pada mau apa? Kenapa kamu juga pegangin tubuh Farah kayak gitu?" tanya Bastian lagi.


"Maaf den, kami hanya berniat baik ingin mengantar Farah pulang ke rumahnya. Tapi, dia malah salah paham dan menuduh kami yang tidak-tidak. Lalu dia terjatuh, maka dari itu saya membantunya," jelas Irzan.


"Yasudah, kamu tidak perlu memaksa untuk membantu mengantar Farah! Biarkan gadis itu disini, kalian urus saja pekerjaan kalian!" perintah Bastian.


"Baik den!" Irzan terpaksa patuh pada perintah anak dari bosnya itu, sebab ia tak mampu membantah atau membangkang darinya.


Irzan lalu melepaskan Farah, saat itu juga Farah berlari tergesa-gesa menjauh dari Irzan dan memilih mendekati Bastian yang memang jaraknya tak terlalu jauh dari sana. Farah tampak sangat ketakutan dengan nafas yang terengah-engah, melihat itu Bastian pun semakin yakin kalau ada yang dilakukan oleh Irzan terhadap gadis itu tadi.


"Kamu tenang ya, kamu gausah takut lagi sekarang! Saya sudah suruh Irzan untuk pergi," ucap Bastian pada Farah.


Farah mengangguk lemah, "I-i-iya kak, makasih banyak ya udah tolongin aku?" ucapnya.


"Sama-sama," balas Bastian singkat.




Gadis itu dibuat tersipu karena Bastian yang terus saja menatap ke arah wajahnya, sungguh ia tak mengerti mengapa Bastian melakukan itu. Farah akhirnya merunduk dan bertingkah malu-malu sehingga membuat Bastian tersenyum, tampaknya pria itu cukup gemes dengan tingkah sang wanita.


"Kita udah sampe, kamu bisa langsung masuk dan temui ibu kamu. Sekali lagi saya minta maaf ya soal kelakuan Irzan tadi? Kamu gapapa kan Farah?" ucap Bastian sambil tersenyum.


Farah menggeleng pelan, "Iya kak, saya baik-baik aja kok. Untungnya tadi kakak cepat datang, kalau enggak pasti bang Irzan sama yang lainnya bakal bawa paksa aku dari sana," ucapnya.


"Ya saya juga gak tahu motif mereka melakukan itu untuk apa, tapi nanti saya akan cari tahu sekaligus tegur mereka supaya hal ini gak terjadi lagi. Yasudah, kalo gitu saya permisi dulu ya Farah?" ucap Bastian sambil tersenyum.


"I-i-iya kak, hati-hati ya! Makasih banyak atas pertolongan dan tumpangannya tadi?" ucap Farah


"Sama-sama, soal sepeda kamu sudah diurus sama anak buah saya ya. Nanti begitu selesai, saya pasti akan kembalikan kesini," ucap Bastian.


"Ah iya kak, makasih juga buat yang itu," ucap Farah.


Bastian mengangguk, "Iya Farah, saya pergi ya? Titip salam buat ibu dan kakak kamu!" ucapnya.


"Oke kak, hati-hati!" ucap Farah singkat.


Tanpa berlama-lama lagi, Bastian langsung berbalik badan lalu melangkah pergi dari sana dengan perlahan. Farah yang masih berdiri di tempatnya terus memandangi punggung Bastian sambil tersenyum penuh arti, entah kenapa ia merasa senang sekali saat berhadapan dengan Bastian.


"Farah, kamu udah pulang?" suara Marni sang ibu muncul begitu saja sehingga membuat Farah terkejut, gadis itu reflek menoleh lalu mengelus dadanya.


"Ih ibu, ya ampun ibu ngagetin aja sih! Aku hampir aja jantungan," ucap Farah.


"Loh kamu itu kenapa? Ibu tanya baik-baik loh, gak ada yang ngagetin kamu kok," ujar Marni heran.


"Iya Bu, tapi kan aku tadi lagi ngelamun. Eh ibu tiba-tiba bersuara kayak gitu, aku kan jadinya kaget," ucap Farah.


Marni tersenyum dan menghampiri putrinya, ia taruh telapak tangannya di pundak Farah sembari mengusapnya lembut bermaksud menenangkan gadis itu agar tidak terus merasa kesal karena kejadian tadi. Meskipun Marni juga tak mengerti mengapa putrinya sampai kaget seperti itu.


"Yaudah, ibu minta maaf ya? Tapi ibu heran deh, kamu emang lagi ngeliatin siapa tadi? Terus kok kamu pulang jalan kaki? Sepeda kamu mana?" tanya Marni sangat penasaran.


"Eee panjang ceritanya Bu, aku ceritain di dalam aja ya sekalian duduk? Aku pegel nih," ucap Farah.


"Iya," Marni setuju dan mengajak putrinya masuk ke dalam rumah sembari merangkulnya, Farah hanya tersenyum lalu melangkah bersama sang ibu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...