Just Call My Name

Just Call My Name
Bab 12. Bayar hutang



Arkhan menggeleng kesal, dengan kasar ia menarik paksa tubuh Qeiza pergi dari depan kamar putrinya itu. Tentu Arkhan tak mau Berliana mendengar apa yang mereka ucapkan tadi, sehingga Arkhan berpikir akan membawa paksa Qeiza keluar dari rumahnya. Qeiza pun tak berontak, ia terima saja kemana Arkhan akan membawanya asalkan pria itu tetap bersamanya sekarang.


"Kamu mau bawa aku kemana sih mas? Ke tempat yang sepi ya biar kamu bisa puas-puasin main sama aku, iya?" tanya Qeiza sedikit menggoda.


"Diam kamu Qeiza! Wanita seperti kamu itu harus dihukum, dan aku pastikan kamu akan menjerit di atas ranjang siang ini sayang karena kamu sudah berani menggoda aku!" ancam Arkhan.


"Ahaha, sudah aku duga kalau kamu gak akan tahan sama pesona aku sayang. Gak seperti istri kamu yang lumpuh itu," kekeh Qeiza.


"Jangan bawa-bawa istriku kalau kita lagi berduaan sayang!" ucap Arkhan sembari mencengkram rahang Qeiza dengan kuat.


"Of course baby," singkat Qeiza.


Arkhan yang sudah dibutakan gairah, mulai memajukan bibirnya mendekati bibir Qeiza. Ia sampai tak sadar bahwa saat ini mereka masih berada di ruang tamu rumahnya, dan benar saja bik Ningsih salah satu pekerja disana pun tak sengaja melihatnya mereka yang hampir berciuman disana.


"Hah tu-tuan??" ujar bik Ningsih dengan mulut menganga tak percaya.


Arkhan sadar akan hal itu, ia reflek melepas tubuh Qeiza dan menjauh darinya lalu mencoba menjelaskan pada bik Ningsih jika barusan itu hanya salah paham semata. Qeiza pun merengut kesal karena momen kebersamaannya harus terganggu akibat kemunculan Ningsih.


"Bik, tenang ya bik ini gak seperti yang bik Ningsih pikirin! Saya tadi cuma mau bantu Bu Qeiza yang kepeleset dan hampir jatuh," bohong Arkhan.


"I-i-iya tuan, saya juga gak mikir yang aneh-aneh kok. Saya tadi kaget aja lihat tuan sama Bu Qeiza disini berdua, nyonya dimana ya tuan?" ucap bik Ningsih dengan gugup.


"Nyonya ada di kamar Siena, kamu lanjut kerja aja gausah mikirin dia ya!" ucap Arkhan.


"Ba-baik tuan, saya permisi!" pamit bik Ningsih.


Arkhan mengangguk pelan, bik Ningsih pun pergi dari sana meninggalkan Arkhan berdua dengan Qeiza. Setelahnya, Arkhan yang sudah terbawa gairah mengajak Qeiza pergi ke sebuah kamar kosong yang jarang digunakan. Arkhan memang tipe cowok hyper, ia tak bisa menahan diri jika sudah terpancing seperti ini. Qeiza juga hanya menurut saja dibawa oleh Arkhan ke kamar, karena ia justru senang dan menginginkan ini.


"Akhirnya kamu kepancing juga mas," ucap Qeiza menggoda.


"Tentu sayang, siapa sih yang gak kegoda kalau kamu begitu? Ingat ya kamu cuma boleh kayak gini sama aku, jangan sama yang lain juga!" ucap Arkhan posesif.


"Ahaha, iya mas iya. Asal kamu mau cepat-cepat nikahin aku dan cerai sama istri kamu yang lumpuh itu," ucap Qeiza.


Arkhan terdiam sesaat, tak mungkin baginya menceraikan Berliana yang sudah lama setia menemaninya sampai saat ini, meski dalam kondisi lumpuh. Namun, untuk sementara Arkhan mengiyakan saja permintaan Qeiza agar ia bisa menikmati tubuh wanita itu.


"It's okay babe, aku akan nikahi kamu secepatnya dan bangun keluarga bersama kamu," ucap Arkhan.


"Aku tunggu sayang ucapan kamu," ujar Qeiza dengan suara seraknya.


Arkhan langsung menidurkan Qeiza di ranjang dan melancarkan aksinya melahap tubuh wanita itu, ia melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh wanitanya dan juga dirinya. Lalu, keduanya beradu kenikmatan yang sedari tadi mereka tahan.




TOK TOK TOK...


Tiba-tiba ketukan pintu terdengar keras dari arah luar rumah mereka, sontak Marni merasa cemas dan penasaran siapa yang datang ke rumahnya tanpa mengucap salam itu. Namun, Farah justru tersenyum dan mengira yang datang adalah kakaknya alias Qeiza.


"Bu, itu pasti mbak Fina. Aku aja ya Bu yang buka pintunya? Siapa tahu mbak Fina bawain makanan buat aku," ucap Farah antusias.


"Apaan sih Bu? Aku mau bukain pintu buat mbak Fina, ibu jangan halangi aku dong! Emangnya ibu gak senang mbak Fina pulang?" ucap Farah.


"Kalau itu bukan kakak kamu gimana? Semisal kamu buka pintu, dan yang datang ternyata orang jahat gimana?" tanya Marni.


Farah terdiam seketika, benar juga yang dikatakan ibunya barusan karena memang belum pasti bahwa yang datang kesana adalah kakaknya. Farah pun mengurungkan niatnya, tapi suara ketukan pintu itu semakin terdengar keras dan membuat keduanya panik ketakutan.


"Bu, terus ini gimana dong Bu? Kalau gak dibuka, dia pasti ketuk-ketuk terus," ujar Farah.


"Tenang sayang, biar ibu cek dulu dari jendela siapa orang di luar itu!" ucap Marni.


Farah manggut-manggut setuju, Marni lalu bergerak menuju jendela untuk mengintip sekilas seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Kedua mata Marni terbelalak lebar saat melihat tiga orang pria berbadan besar berdiri di depan rumahnya saat ini dengan tampilan yang cukup seram, tentu Marni mengenali mereka semua karena sudah kesekian kalinya mereka datang kesana.


"Siapa Bu?" tanya Farah penasaran.


"Gawat nak, itu bang Irzan sama anak buahnya! Duh, pasti mereka mau tagih hutang kita deh sayang. Gimana ya ini mana ibu belum punya uang cukup lagi?" jawab Marni dengan panik.


"Hah??" Farah juga tersentak kaget mendengarnya, ia pun tak tahu harus apa saat ini.


TOK TOK TOK...


Orang di luar itu terus mengetuk pintu dengan keras sampai timbul getaran di sekitar jendela, Marni serta Farah pun tampak sangat ketakutan dan sama-sama bingung harus melakukan apa untuk meredam amarah Irzan yang merupakan penagih hutang kejam tersebut.


"Bu, ini gimana dong? Ibu kayaknya harus keluar deh, gak mungkin kita diam aja disini," ucap Farah.


"Tapi Farah, ibu juga takut berhadapan sama bang Irzan yang galak itu," ujar Marni.


"Ish ibu penakut banget sih, maju dong ibu kan yang dewasa disini! Masa iya haeus aku yang keluar buat temuin bang Irzan? Emang ibu mau aku dibawa mereka?" ucap Farah.


"Eh jangan sayang! Biar ibu aja deh yang keluar, kamu tetap disini ya Farah! Kalau bisa kamu masuk aja ke kamar, kunci pintunya!" ucap Marni.


"Nah gitu dong Bu, yaudah ibu buruan keluar deh temuin mereka aku bosen tau dengar ketukan pintunya!" ujar Farah.


"Iya nak," Marni mengangguk pelan.


Farah langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Marni tampak menghela nafas sejenak sebelum melangkah ke luar membuka pintu dan menemui Irzan serta pasukannya yang sudah berjaga di depan sana dengan tatapan bengis mereka.


"Akhirnya keluar juga kamu, kenapa lama banget? Pasti setiap jatahnya bayar hutang selalu begini, susah ditagihnya!" ujar Irzan.


"Eee ka-kalian pasti mau tagih hutang saya ya? Maaf banget nak Irzan, tapi saya benar-benar belum ada uang buat bayar tagihan ini," ucap Marni dengan gugup.


Braakkk


"SIALAN!" Irzan mengumpat kasar sembari memukul pintu dengan tangannya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...