
Saat ini aku tengah bersiap siap untuk pergi je istana karena mendapat undangan dari pangeran mahkota.
Jujur saja aku agak kurang senang dengan undang formal tersebut.
"Nona Lucy anda akan memakai pakaian aoa untuk ke istana?, Gaun berenda biru atau gaun berwarna ungu yang cocok dengan warna bola mata anda dan rambut anda?" Ucap Naya.
"Siapkan saja pakaian yang biasa aku kenakan saat berlatih pedang dengan heley" Lucy.
"Anda tak akan memakai gaun?" Naya.
"Tidak hari ini!" Jawabku tegas.
"Jika aku memakai gaun mungkin saja pangeran akan menyulitkan ku saat ia akan menyerang ku dari belakang" gumam ku.
Beberapa jam kemudian aku pun sampai di istana kekaisaran EPERANTO.
Saat aku memasuki gerbang disana sudah terdapat beberapa pelayan istana yang menyambutku.
"Selamat datang nona Lucy"pelayan.
"Iya, apakah sekarang ini pangeran sedang berada di istana?" Lucy.
"Iya nona, mari saya antar nona untuk menemui pangeran mahkota" pelayan.
Dan saat aku memasuki istana aku agak sedikit terkejut pada penataan interior istana.
Semuanya agak berbeda mulai dari panjang hingga lantainya.
Menurutku ini agak berbeda karena mungkin sekarang istana didesain agar terlihat lebih luas dari sebelumnya, walaupun beberapa interior lama masih terpajang di beberapa sudut istana.
Saat aku sadari pelayan ini tak mengantarku ke ruangan pangeran mahkota melainkan ke danau istana.
"Mengapa kau mengantarkan ku kemari?" Lucy.
"Maafkan saya nona karena pangeran mahkota memerintahkan saya untuk mengantarkan nona ke danau istana karena pangeran mahkota telah menunggu anda disana" pelayan.
"Cih, kau sangat bertele tele saat berbicara, seharusnya kau langsung katakan saja bahwa pangeran menungguku disana!" Lucy.
"Maafkan atas penuturan saya nona" pelayan.
"Ahh iya baiklah" Lucy.
Sesampainya di sana, benar saja pangeran sedang menunggu ku di danau istana.
Ia menungguku sambil duduk di perahu yang tersedia di sana.
"Wah, akhirnya kau sampai juga Duke Lucy BERLIARD" Pangeran Zeth.
"Dengan cahaya dan kedamaian Eperanto saya memberi hormat pada pangeran mahkota" Lucy.
"Sudahlah, kemari kau" pangeran.
Pangeran pun menggandeng tanganku dan menarikku untuk duduk di perahu yang ia duduki.
Beberapa saat kemudian perahu pun berlayar.
"Kau tahu nona BERLIARD, yang mendayung perahu ini adalah orang tuli" pangeran.
"Lalu apa hubungannya dengan surat resmi anda pangeran?" Lucy.
"Tak ada, sedikitpun tak ada hubungannya" pangeran.
"Menyebalkan" gumamku.
"Baiklah jika tidak ada keperluan saya akan per---" LUCY.
Saat aku berbicara pangeran dengan cepat langsung mengecup bibirku dan memberikan sedikit *******.
"Hah"
"Hah"
"Hah"
"Apa yang anda lakukan pangeran?, Seharusnya anda ingat bahwa anda sudah memiliki putri TARA" ucapku dengan melontarkan tatapan yang tajam dengan manik ungu violet ku.
"Tenang saja Tara tak akan mengetahuinya!" Pangeran.
"Brengsek" ucapku dalam hati.
Setelah kejadian itu kamipun turun dari perahu dan pergi ke ruangan kekaisaran untuk membahas tentang keamanan negeri EPERANTO dan pergerakan negeri musuh.
\_-\_-\_-\_-\_
Ditempat lain putri TARA tengah berada di taman kediamannya.
Mendengar dari beberapa pelayan yang sedang berbicara Tara pun penasaran dan segera memanggil Rin, si pelayan yang diutus oleh putri LUCY untuk menjaga putri tara.
Tak lama kemudian Rin pun datang kehadapan putri LUCY.
"Rin apakah kau tahu para pelayan sedang membicarakan apa?" Tara.
"Tentu saja, mereka saat ini sedang membicarakan tentang putri LUCY yang datang ke istana melalui surat resmi dari pangeran mahkota" Rin.
"Hanya itu tetapi mengapa mereka membicarakannya dengan sangat serius?" Tara.
"Selain membicarakan itu mereka juga sedang menduga duga nona!" Rin.
"Menduga tentang apa?, Apakah tentang pangeran dan putri lucy?" Tara
"Mungkin seperti itu karena mereka membicarakannya secara berbisik" Rin.
"Oh seperti itu ternyata, baiklah kau boleh pergi sekarang!" Tara.
Rin pun pergi dari hadapan putri Tara.
Dan kini Tara kembali duduk sendirian dan tak ada yang menemaninya.
Saat duduk sendirian ayah putri Tara yaitu tuan COUNT NIGARA pun datang.
Ia langsung duduk menemani putri satu satunya itu untuk minum teh bersama, ditengah heningnya suasana tuan COUNT NIGARA pun berbicara pada putri TARA.
"Anakku, aku akan pergi apa yang ingin aku berikan kepadamu?"
"Hmm aku ingin sebuah pedang yang indah ayah!" Tara
Tuan COUNT NIGARA pun terkejut atas permintaan sang putri nya tersebut, karena selama ia hidup ia tak pernah meminta pisau atau pun belati sekali pun namun saat ini ia meminta hal yang baginya sangat aneh yaitu pedang.
"Kenapa kau meminta benda tajam itu?"
"Aku ingin belajar pedagang ayah, agar saat dalam situasi genting aku bisa membela diri dan melawan mereka!" Tara.
"Ah, seperti itu ternyata, baiklah aku akan memerankan pedagang yang indah untukmu"
"Terimakasih ayah" Tara.
Setelah percakapan itu tuan COUNT NIGARA pun pergi meninggalkan sang putri.
...Hay para pembaca ππ»...
...Tolong tinggalkan jejaknya...
...Please komen and like....
...Kali ini saya tidak akan memberikan pertanyaan apapun kepada kalian ππ»....
...Sebenarnya pertanyaan yang saya ajukan adalah sebuah spoiler episode selanjutnya π€...
...Jadi tolong kasih saya pendapat yang pas untuk episode selanjutnya...
...Happy reading guys...
...βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ...
...πΈπ»πΈπ»πΈπ»πΈπ»...