
Devian menatap istrinya yang terisak, dia berlutut tepat dihadapan Alice. Menggenggam tangan lembut istrinya, perlahan Alice menatap wajah suami yang begitu ia rindukan. Air mata masih membanjiri mata dan menetes jatuh melewati pipinya. Devian menghela nafas, iris merahnya menatap istrinya dengan penuh rasa bersalah.
"Aku merindukanmu." Kata Devian lembut.
Tangannya terulur untuk menghapus air mata istrinya, membuat Alice semakin terisak. Tangan gadis itu meraih jemari suaminya, menggenggam erat tangan suaminya.
"Apakah ini mimpi?" Tanya Alice dengan suara bergetar.
Devian menggeleng pelan. "Aku nyata, bukan hanya sekedar mimpi buruk untukmu."
"Kau adalah mimpi terbaikku." Alice memeluk erat Devian melepas rasa rindu yang selama ini telah ia tahan.
*Flash Back*
Saat Devian tumbang di Medan pertempuran, Aiden mendekat perlahan dengan wajah sedih dan putus asa. Bagaimanapun Devian sudah seperti adik baginya. Bertahun-tahun dia bersama dengan Devian, menjaga dan merawat pangeran itu. Menasehati dan membantunya melewati masa sulitnya dan sekarang dia melihat orang yang begitu dia kasihi terkulai lemas di dalam pelukan sang kakek.
Raja Erebos, menatap cucunya dengan wajah berduka. Dia menunduk dalam menyesali setiap keputusan yang ia lakukan. Nafas Devian semakin melambat, detak jantungnya semakin melemah.
"Yang Mulia, bawa pangeran ke istana sekarang sebelum terlambat." Terdengar suara seorang tetua iblis yang memberi saran.
Raja Erebos mendongak menatap siapa yang memberikan pendapat itu. Tak berapa lama Raja Iblis itu terlihat memikirkannya.
"Kau, orang kepercayaan cucuku?" Raja Erebos menatap Aiden.
Perlahan Aiden mendekat dan menunduk memberi hormat. "Aku akan membawa cucuku ke istana iblis, tolong jaga kerajaan cucuku sementara dia pergi. Begitu dia membaik, aku akan mengirimnya kembali."
Aiden terdiam sesaat, menatap tubuh lemah tak berdaya Devian. "Tolong, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa Yang Mulia Devian."
"Aku akan melakukan apapun untuknya, bahkan mengorbankan nyawaku sekalipun."
...****************...
Saat mereka tiba di istana iblis tubuh Devian dibaringkan di atas tempat tidur. Raja Erebos langsung memerintahkan pelayannya untuk memanggil tabib. Tak selang berapa lama seorang tabib masuk dengan terburu-buru.
Raja Erebos mundur, memberi ruang untuk tabib itu memeriksa tubuh cucunya.
"Yang Mulia, mohon maaf sebelumnya. Tapi, luka Yang Mulia Pangeran sudah sangat dalam. Jika saja dia manusia biasa tentu saja dia sudah akan mati." Jelas Tabib itu.
Raja erebos menarik kerah sang tabib kuat dengan wajah kesal dan marah. "Jangan pernah katakan dia akan mati, katakan saja bagaimana menyelamatkannya?"
"Sa.. Saya tidak tahu Yang Mulia, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Jika saja dia seorang iblis seutuhnya, penyembuhannya dapat berlangsung cepat. Tapi, karena dia setengah manusia yang lebih bergantung pada organ mereka mereka dari pada sumber kehidupan." Jelas sang tabib.
Raja Erebos melepas cengkraman tangannya. "Katakan dengan jelas, apa maksudmu?"
"Saat ini bagian iblis Pangeran berusaha untuk melindungi tubuhnya. Mencoba melakukan penyembuhan pada luka dengan menggunakan Sumber kehidupan pangeran. Tapi, karena dia setengah manusia dia saat ini juga sekarat. Sumber kehidupannya menurun, karena manusia membutuhkan organ penting mereka untuk tetap hidup dan itu membuat proses penyembuhan berlangsung sangat lambat. Meskipun luka itu akan tertutup sempurna, tapi aku tidak yakin pangeran akan bertahan karena disaat luka-luka itu menutup sumber kehidupannya telah habis terserap oleh sisi iblis pangeran." Tabib mengakhiri penjelasannya.
"Bagaimana jika dia menjadi iblis seutuhnya?" Tanya Raja Erebos pada sang tabib.
"Apa maksud anda?" Tanya Sang tabib tidak mengerti.
"Aku akan melakukan upacara kebangkitan untuk cucuku."
"Itu akan sangat berbahaya, bisa saja Pangeran akan... "
"Dia akan bertahan." Cepat Raja Erebos memotong kalimat tabib itu.
"Segera minta semua orang menyiapkan persiapan upacara itu secepatnya. Aku harus menyelamatkan cucuku."
Sang tabib langsung keluar memberi tahu semua pelayan untuk menyiapkan semua keperluan di ruang upacara pemujaan para iblis. Dia juga menyuruh semua penjaga untuk memanggil tetua dan bangsawan iblis untuk segera berkumpul.
Tak butuh waktu lama, seluruh ruang upacara telah penuh dengan semua iblis. Raja Erebos muncul dari pintu utama, dengan tubuh Devian yang melayang di sampingnya. Semua orang terdiam, darah masih menetes dari tubuh Devian meninggalkan jejak merah di sepanjang jalan menuju meja pemujaan. Sampai di meja yang terbuat dari marmer hitam mengkilat, tubuh Devian melayang perlahan dan mendarat disana secara perlahan.
Tujuh tetua maju kedepan, di setiap sisi meja tersebut terdapat obor-obar besar. Mendadak api menyala dari obar itu, api menyebur keatas, menandakan upacara telah di mulai. Tujuh tetua melingkari Devian, merapalkan mantera-mantera yang sulit dimengerti. Dari dalam setiap obor muncul sulur api membentuk lingkaran api yang berada di atas tubuh Devian, sulur-sulur itu terus berputar membentuk simbol-simbol yang aneh dan lingkaran di setiap bagian luar simbol. Di bagian tengah sulur api perlahan membentuk simbol Bintang. Salah satu tetua, mengambil darah dari luka Devian dengan belati kecil, kemudian diteteskannya darah itu ke dalam kobaran api. Api kembali menjilat-jilat udara, membubung tinggi hampir menyentuh langit-langit ruangan itu. Perlahan api mulai meredup kembali.
Setelah itu, tetua beralih pada sang Raja Iblis menyerahkan belati pada kakek Devian. Raja Erebos segera menerimanya, kemudia dia berjalan kearah sisi lain dari obor itu. Dengan yakin dia menggores tangannya hingga darah pekat menetes keluar dari lukanya dan menetes kedalam api. Kembali api berkobar, kemudian dia menyerahkan kembali belati itu.
"Bawa persembahan dan pengorbanannya." Perintah tetua itu.
Raja Erebos beralih pada semua iblis diruangan itu. "Siapa yang akan mengorbankan jiwa mereka untuk Pangeran Iblis dan menyelamatkan penerus kerajaan ini?" Terdengar suara lantang Raja Erebos menggema diseluruh ruangan.
Semua iblis terlihat bersemangat dan beberapa mengangkat tangan mereka mengajukan diri untuk mengorbankan jiwa mereka demi sang Pangeran.
"Kau, maju kemari!!" Raja Erebos menunjuk seorang iblis kuat di barisan depan.
Dengan yakin iblis itu berjalan kedepan dan meraih belati ditangan sang tetua. Iblis itu mengulurkan tangannya di obor terakhir yang belum diberi darah, dengan mantap dia menggores lengannya dan darah hitam pekat langsung meluncur masuk kedalam kobaran api.
Lingkaran sulur api yang berputar diatas tubuh Devian perlahan berubah warna bercampur dengan warna darah. Kembali para tetua merapalkan mantera mereka. Proses kebangkitan seluruh jiwa iblis Devian dimulai, perlahan simbol yang berputar mulai turun masuk kedalam tubuh Devian. Tubuh Devian bergetar hebat, proses yang cukup menyakitkan baginya. Perlahan jiwa iblisnya menelan seluruh jiwa manusianya mengubah dirinya menjadi iblis seutuhnya.
Luka di tubuh Devian dengan cepat menghilang, perlahan tubuh manusia yang di korbankan dan tubuh iblis yang mengorbankan dirinya merasakan sakit yang teramat sangat. Mereka berdua sampai jatuh kelantai, merintih kesakitan dan perlahan tubuh mereka mengering. Dari kepala Raja Erebos muncul sepasang tanduk besar, kukunya memanjang dan pelahan wujudnya berubah tak berapa lama pria tua itu terjatuh kelantai. Membuat beberapa iblis panik dan segera membantu Raja mereka bangkit kembali berdiri.
Tubuh Devian menyerap seluruh energi mereka, energi kehidupan mereka. Melalui darah yang mereka korbankan. Tak berapa lama saat upacara berakhir, mata Devian terbuka. Iris matanya terlihat berkilat dipenuhi oleh kemarahan. Devian segera bangkit dari sana, menatap garang kesemua yang berada diruangan itu. Tak berapa lama matanya menyala merah dan ledakan kekuatan terjadi, membuat sebagian iblis lemah terkapar dilantai. Devian segera bangkit, meskipun dia sempat terhuyung tapi dia bisa menjaga keseimbangannya agar tetap berdiri.
"Devian!!" Panggil Raja Erebos dengan suara lemah.
Devian hanya menoleh sesaat tanpa bicara dan segera melangkah keluar ruangan itu. Raja Erebos segera mengikuti cucunya, meski dengan keadaan yang memburuk. Saat ini Devian kehilangan kendali atas dirinya, kekuatan iblis yang dipenuhi sifat negatif membuatnya sulit mengendalikan diri. Di sepanjang lorong beberapa penjaga tergeletak dan saat Raja Erebos menemukan kamar Devian terbuka. Cucunya merintih kesakitan seraya terus memegang kepalanya.
Lukisan Alice yang dilihat Devian, membuatnya terdiam. Lintasan ingatan Devian tentang gadis itu terus memenuhi otaknya, membuat kepalanya berdenyut-denyut dan membuatnya merasakan kesakitan.
Di butuhkan waktu satu tahun lebih untuk Devian mengendalikan kekuatan iblisnya dan juga mengendalikan emosi. Kakeknya Raja Erebos semakin melemah, terlalu banyak energi kehidupan dan kekuatannya yang terserap kedalam tubuh Devian. Akhirnya sang Raja Iblis menyerah pada kehidupannya dan meninggalkan Devian sebagai Raja dari kerajaan iblisnya.
Selama beberapa Bulan Devian di kerajaan iblis, kemudian dia memutuskan untuk kembali ke Aldwick. Mengembalikan kembali kejayaan kerajaannya dalam waktu singkat, membereskan semua kekacauan yang memburuk setelah kepergiannya.
Devian tengah mengunjungi kastil yang dulu di tempati Alice. Melihat kembali kamar itu, mengenang setiap momen yang ia lewati bersama istrinya.
"Mungkin sudah saatnya aku membawamu pulang." Gumam Devian.
*Flash back end*
Alice baru saja berpamitan dengan orang tuanya dan sudah bersiap dalam kereta kudanya. Terlihat Devian masih berbincang dengan ayah mertuanya membicarakan sesuatu.
"Baiklah, aku titip Putriku. Tolong, jaga dia baik-baik." Raja Charles tersenyum pada menantunya.
Devian hanya tersenyum sebagai jawaban untuk sang mertua. "Aku pergi dulu, ayah." Pamit Devian seraya berbalik pergi menyusul istrinya masuk kedalam kereta.
"Dia memanggilku ayah?" Tanya Raja Charles tak percaya.
"Hmm.. Anda ayah mertuanya bukan." Jawab Ratu Dione mengingatkan.
Kereta perlahan bergerak menjauh, keluar dari gerbang istana Corfe menuju Aldwick. Di dalam kereta Alice menatap Devian yang duduk didepannya.
Devian memalingkan wajahnya sedikit canggung. "Ternyata di dalam kereta sangat sempit. Aku lebih suka naik kuda."
"Aku tidak keberatan jika anda keluar." Jawab Alice dengan sedikit kesal.
"Hmmm.. Aku ingat sesuatu." Devian menatap istrinya.
"Apa itu?" Tanya Alice bingung.
"Pangeran itu, kau yang menggodanya atau dia yang melakukannya?" Tanya Devian memasang wajah kesal.
"Anda akan membahasnya lagi?" Alice menatap Devian tak percaya.
"Kau adalah istriku, kau harusnya bisa menjaga sikap... "
Cupp.. Sebuah kecupan kilat dibibir Devian membuatnya terdiam. Alice memalingakn wajahnya yang memerah bagai tomat.
"Ha..haruskah anda marah-marah setelah sekian lama anda baru kembali?"
Devian menyeringai. "Bagaimana jika akan aku buat secara adil?"
Alice menatap Devian tak mengerti dan mendadak Devian menarik tubuh istrinya mendekat dan mengecup bibir istrinya lembut. Melepas semua kerinduan yang telah ia tahan selama ini.
......THE END......