
Devian terbaring diatas ranjang besar dikamarnya. Pria beriris merah itu membuka matanya, perlahan dia mendesah merasakan kembali tubuhnya yang terasa tidak begitu baik.
"Anda sudah sadar? " Tanya Aiden kemudian. "Lebih cepat dari perkiraanku."
"Apa yang terjadi? " Tanya Devian.
"Anda terlalu memaksakan diri Yang Mulia, anda seharusnya tidak menggunakan kekuatan anda melebihi batas. Jika jiwa manusia anda sampai dikuasai oleh jiwa iblis seutuhnya saya tidak tahu harus bagaiamana." Aiden menjelaskan keadaan Devian.
"Jangan khawatir begitu penyatuan dilakukan, meskipun aku menjadi iblis seutuhnya Erebos tak akan bisa berbuat apa-apa." Devian segera bangkit dari tempat tidurnya. "Bagaimana dengan Ratu? " Tanya Devian.
"Saya telah memerintahkan untuk memperketat penjagaan kastil Ratu." Jawab Aiden.
"Bagaimana persiapan upacara itu? " tanya Devian.
"Besok malam upacara akan dilangsungkan, persiapan sudah hampir selesai."
"Hmm.. Baguslah, ada kemungkinan besok Erebos akan mengganggu proses upacara. Tingkat kan keamanan. Minta para penyihir membuat segel di sekitar tempat upacara agar mereka tidak bisa masuk kesana." Devian terdiam sesaat. "Aku akan beristirahat sebentar."
Aiden pun segera pergi dari ruangan Devian, menuju mansion Raja Aaron untuk membantu setiap persiapan untuk upacara penyatuan besok.
...****************...
Di kastil kediaman Alice beberapa penjaga berlalu lalang berpatroli di sekitar kastilnya. Di setiap pintu ruangan dijaga ketat oleh penjaga. Di salah satu ruangan itu Alice tengah merangkai bunga, duduk di depan jendela dengan teliti menata setiap bunga-bunga dalam vas indah di atas meja. Wajahnya terlihat murung tak terlihat senyum menghiasi wajahnya seperti kemarin. Sesekali gadis itu menghentikan aktivitasnya sejenak menatap kearah pintu dan mendesah seakan tengah menunggu seseorang.
Tok.. Tok..
Hanya mendengar suara seseorang mengetuk pintu ruangan itu, air muka gadis itu langsung berubah, senyum tipis terukir jelas diwajahnya.
"Alice, bolehkah aku masuk? " terdengar suara seorang pria dari balik pintu.
Mendengar suara dari balik pintu, air muka Alice kembali berubah, senyumannya perlahan sirna.
"Silahkan masuk." Alice mempersilahkan orang itu untuk masuk ke ruangannya.
Tak berapa lama seorang pria beriris abu-abu telah duduk dihadapan Alice. Namun gadis itu masih tetap melanjutkan aktifitasnya.
"Hmm.. Aku dengar kau akan menikah lagi dengan Dev... Maksudku Yang Mulia Raja?" tanya pria itu.
"Sepertinya anda mengetahui semua hal tentang Yang Mulia Devian, Pangeran Adrian." Alice menatap Adrian.
"Begitulah, dia saudaraku satu-satunya. Bukankah aku harus lebih perhatian padanya." Adrian memberi alasan pada Alice.
"Anda benar." Alice kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Bunga yang indah." Puji Adrian. Namun, mata Adrian memandang kearah Alice.
"Terimakasih."
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Adrian mencoba bertanya hati-hati pada Alice.
"Keputusan? " tanya Alice tak mengerti.
"Menikah dengan saudaraku." Adrian menatap lekat Alice.
"Aku sudah menikah dengannya sejak beberapa Bulan yang lalu, Pangeran Adrian. Apa anda lupa?" Alice menatap Adrian. Mencoba menerka apa yang sebenarnya ingin Adrian katakan. "Saya menganggap pernikahan ini merupakan sebuah pembaharuan dari janji kami sebelumnya."
"Bagaimana jika pernikahan ini akan berbeda? " Tanya Adrian.
Alice menatap Adrian tak mengerti. "Berbeda?"
"Ayolah, semua orang tahu Devian bukan manusia. Dia keturunan iblis Alice, kenapa kau harus bertahan dengan orang seperti dia?" Adrian mulai mempengaruhi Alice agar mengubah pikiran gadis itu.
Alice tak menghiraukan Adrian dan melanjutkan aktifitasnya.
"Alice, aku tidak ingin kau terluka. Dia bisa membunuhmu setiap saat."
Alice menghentikan aktifitasnya dan terdiam sesaat. "Aku tidak keberatan. Aku akan tetap disampingnya."
Adrian menatap Alice tak percaya. "Apa yang kau lihat darinya? Dia bahkan tak memiliki perasaan."
"Dia memiliki perasaan Pangeran. Bahkan saya rasa dia seribu kali lebih baik dari pada anda." Alice menatap tajam Adrian.
"Apa? Kau bilang tadi dia lebih baik dariku? " tanya Adrian tak percaya. "Bagaimana bisa dia lebih baik dariku? "
"Jika anda hanya ingin membicarakan omong kosong lebih baik anda keluar dari sini." Alice mengusir Adrian.
"Baiklah, tapi jangan menyesal jika sesuatu yang buruk akan menimpamu." Adrian menyeringai pada Alice dan segera meninggalkan gadis itu.
Alice terdiam sesaat, dia menatap keluar jendela. "Kenapa perasaanku menjadi tidak enak? Semoga dia baik-baik saja." Gumam Alice lirih.
...****************...
Keesokan harinya, seluruh persiapan upacara telah selesai. Ruang upacara penyatuan berada ruang bawah tanah dari mansion Raja Aaron. Sebuah meja bulat kecil di letakkan di tengah ruangan. Di atasnya sebuah cawan emas di tempatkan disana, di kedua sisi cawan terdapat dua gelas kaca kecil kosong.
Ruangan hanya di terangi dua buah obor di sisi pintu. Tak ada hiasan apapun diruangan itu. Di luar ruangan di tempatkan beberapa prajurit untuk berjaga agar tak ada siapapun untuk masuk kesana.
Di tempat lain Alice tengah gelisah, dia terus mondar mandir di sekitar kamarnya.
"Yang Mulia, kenapa anda terlihat begitu gelisah? " Tanya Beryl. "Anda tidak segelisah ini saat pernikahan anda sebelumnya."
"Beryl, Devian belum menemui setelah dia jatuh pingsan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? " Tanya Alice khawatir.
"Jika terjadi sesuatu pada Yang Mulia Raja bukankah pernikahannya sudah di tunda."
"Bagaimana aku tahu pernikahan ini akan terjadi atau tidak, aku bahkan tidak tahu dimana pernikahan itu akan dilangsungkan. Bahkan dia tidak membiarkan aku membawa siapapun kesana."
"Mungkin Yang Mulia Devian akan memberikan kejutan untuk tempatnya dan mungkin Yang Mulia ingin pernikahan hanya dihadiri beberapa orang saja." Beryl mencoba membantu Alice tetap berfikir positif.
"Benar, mungkin dia menyiapkan tempat yang Indah. Bagaimana dengan sumpah pernikahan di tepi danau dengan bunga-bunga." Alice mencoba membayangkan sebuah pernikahan impiannya.
Beryl tersenyum melihat tuannya yang mulai terlihat tenang.
"Benar, seharusnya aku tidak berfikir hal buruk terjadi." Guman Alice pada dirinya sendiri.
Hari menjelang malam saat Devian datang ke kediaman Alice untuk menjemput mempelai wanitanya.
"Kau sudah siap? " Tanya Devian pada Alice.
Alice terlihat mengenkan gaun putih, Devian terpaku menatap istrinya.
"Apa terlihat buruk? " Tanya Alice sedikit cemas.
"Aku pikir terlalu berlebihan." Jawab Devian kemudian.
Devian segera menarik lengan istrinya. "Lupakan saja, kita hampir terlambat."
"Tapi... "
Devian tak menghiraukan istrinya dan menarik gadis itu keluar dari kastilnya.
Setibanya mereka di mansion Raja Aaron, Alice sedikit bingung. Tapi, gadis itu memilih untuk diam dan mengikuti Devian. Alice berfikir mungkin acaranya akan dilakukan di aula mansion ini. Tapi, langkah kaki mereka menuju ruang bawah tanah.
Alice mulai sedikit khawatir dan merapatkan dirinya pada Devian. Devian melirik gadis itu sesaat.
"Kau kenapa? " Tanya Devian datar.
"Ti.. Tidak apa-apa. Tapi, apa yang kita lakukan disini yang mulia." Tanya Alice bingung.
"Kau akan tahu nanti." jawab Devian singkat.
Tak berapa lama mereka sampai di lorong menuju ruangan upacara itu. Beberapa prajurit berdiri disana. Saat Devian membuka pintu ruangan itu, Alice sedikit terkejut.
Terdapat tujuh orang memakai jubah panjang, wajah mereka tak terlihat jelas karena ruangan yang begitu minim cahaya. Devian segera masuk kesana dan berdiri tepat di depan meja kecil di tengah ruangan. Alice masih terdiam di tempatnya, ragu dengan apa yang harus dia lakukan.
"Alice!! " sebuah suara mengagetkan gadis itu.
Meski samar dia dapat melihat wajah keriput Raja Aaron. "Ya.. Yang Mulia."
"Ayo!! " Raja Aaron menggandeng lengan menantunya dan meletakkannya di lengan pria tua itu. "Kau akan baik-baik saja, percayalah padaku."
Alice menatap Raja Aaron, dia dapat melihat senyuman diwajah pria tua itu. Senyum yang belum pernah ia lihat selama ini. Raja Aaron mengantar Alice sampai di samping Devian dan segera meninggalkan gadis itu untuk kembali ke posisinya. Alice mengedarkan pandangannya, kini dia dapat melihat beberapa orang kepercayaan Devian berada di sini. Tapi, tak banyak orang berada disana.
"Baiklah, Yang Mulia mari kita mulai upacara ini." Seorang yang berada di depan Devian bicara.
Pria itu mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti. Mungkin sebuah mantra dan kemudian diikuti ketujuh orang yang mengitari Alice dan Devian. Tak berapa lama terbentuk lingkaran cahaya dengan simbol-simbol aneh. Perlahan menyinari seluruh ruangan ini. Lingkaran itu perlahan naik dan tak berapa lama ukurannya mengecil dan melingkari cawan emas di atas meja kecil di depan mereka.
Pria yang memimpin upacara menyerahkan sebuah belati berwarna perak pada Devian. "Silahkan Yang Mulia."
Alice masih mengamati apa yang akan Devian lakukan Dengan belati itu. Devian maju perlahan dan mengulurkan telapak tangannya di atas cawan. Setelah itu dia menggores telapak tangannya dengan belati yang baru saja ia terima. Darah segar mengalir menetes kedalam cawan emas itu. Setelah beberapa tetes Devian memberikan belati itu pada Alice.
"Giliranmu. "
Alice terdiam sejenak, apa dia juga harus melakukan hal yang sama. Perlahan gadis itu maju dan melakukan seperti yang Devian lakukan. Perlahan dengan menahan Rasa perih yang ia rasakan Alice menggores telapak tangannya membiarkan darah itu mengalir dan menetes kedalam cawan membiarkan darahnya menjadi satu dengan darah Devian.
Sang pemimpin upacara mengambil belati yang dibawa Alice. Mengusap sisa-sisa darah di atas belati dengan kedua jarinya, menggunakan darah itu untuk menulis simbol-simbol lain di atas meja. Tak berapa lama gelas-gelas yang berada di meja itu terisi dengan Air berwarna merah pekat laksan darah. Darah dalam cawan emas perlahan menghilang hanya menyisakan bekas darah. Pria itu mengambil gelas di hadapan Alice dan menyerahkannya pada Devian.
"Silahkan Yang Mulia."
Devian meraih gelas itu, mendekatkan ke bibirnya perlahan meneguk isi dari gelas itu. Devian menyisakan setengah dari isi gelas itu. Pria itu kini beralih ke gelas didepan Devian dan menyerahkannya pada Alice. Ragu gadis itu mengulurkan tangannya, dengan tangan gemetar Alice menerima gelas itu. Saat Alice mendekatkan gelas itu kebibirnya, bau anyir mulai menyeruak kedalam Indra penciumannya membuat isi perutnya bergejolak menjadi mual. Alice segera menjauhkan gelas itu dari hidungnya.
"Ada apa Yang Mulia? " penyihir yang memimpin upacara itu menatap Alice khawatir.
"Baunya seperti darah, apa aku harus meminumnya? " Tanya Alice.
"Bisakah kau diam dan mengabaikan baunya." Devian menatap Alice.
"Tapi.. "
"Upacara ini tidak akan sempurna sebelum anda meminumnya, Yang Mulia." ucap pria dihadapan mereka.
Meski ragu Alice kembali mendekatkan gelas itu kemulutnya, gadis itu menahan nafasnya agar bau anyir tidak mengganggunya. Tapi, sesaat sebelum gelas itu menyentuh bibirnya sebuah kilat menembus gelas di tangan gadis itu. Membuat gelas itu pecah, menumpahkan isinya ke tangan Alice dan mengalir kelantai. Bercak merah juga terlihat mengotori gaun Alice. Sigap Devian menari lengan Alice menempatkan gadis itu dibelakangnya.
Semua orang di ruangan itu terlihat waspada. Seluruh penyihir yang memimpin upacara itu segera berbalik mengamati setiap sudut ruangan.
"Aiden! " Devian memanggil Aiden seakan memberi isyarat.
Aiden melempar sebilah pedang kearah Devian. Kini Devian berada dalam posisi siaga menunggu setiap serangan yang kemungkinan terjadi.
"Ha.. Ha.. Ha.. " suara tawa yang nyaring terdengar memenuhi ruangan itu.
Tak berapa lama dari kegelapan, muncul beberapa orang. Di bagian depan Raja Erebos menatap lurus kearah Devian.
"Kalian cukup pintar, membuat kami kebingungan sejenak. Tapi, akhirnya aku bisa masuk tepat waktu."
"Kakek, apa yang kau lakukan disini? " tanya Devian dengan tatapan waspada.
"Membawamu pulang." Jawab Raja Erebos singkat.
Iris merah Raja Erebos menatap lurus kearah gadis yang tengah berdiri ketakutan di belakang Devian. "Jadi, dia istrimu? Seharusnya kau memperkenalkannya padaku." Dengan langkah santai Raja Erebos mendekat kearah Devian.
"Berhenti disana, aku tidak ingin melakukannya lebih jauh." Devian mencoba memperingatkan Kakeknya.
"Kalau begitu ayo pulang dan akan aku biarkan mereka semua hidup."
"Jangan harap aku akan menyerah begitu saja."
"Baiklah, tak ada pilihan lain. Kalian boleh bersenang-senang sekarang." Erebos memberi isyarat pada pengikutnya.
Akhirnya pertarungan terjadi, para iblis menyerbu menyerang. Raja Erebos juga mulai melancarkan serangannya pada Devian. Pria tua itu melemparkan kilatan-kilatan cahaya kearah cucunya. Devian terus berusaha menangkis dan menghindari serangan itu.
Devian mencoba terus mendekat kearah Erebos, melancarkan serangan-serangan jarak dekat. Perlahan tanpa sadar Devian menjauh dari Alice yang juga tengah menhdindar dari beberapa iblis yang mencoba menyerangnya. Namun, karena dia tak memegang senjata Alice hanya bisa mencoba berlari menghindari mereka. Begitu Devian sampai di sudut Ruangan, mendesak Raja Erebos sesuatu yang lain terjadi. Raja Erebos menyerang cucunya dan mengunci Devian agar tak bisa bergerak.
"Lihatlah, manusia-manusia lemah itu. Apa kau akan terus membela mereka? Melindungi mereka. Gadis bodoh itu bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri." Raja Erebos menunjukkan pada Devian keadaan disekelilingnya.
Beberapa penyihir telah tewas, beberapa prajurit yang masuk kedalam juga sudah tewas. Aiden dan Raja Aaron masih bertahan melawan iblis yang bahkan lebih kuat dari mereka. Pada saat itulah mata Devian menangkap sosok Alice yang tengah menghindar dari iblis Erebos.
Alice meraih pedang dilantai yang berlumuran darah. Gadis itu mulai bersiap menghadapi iblis didepannya. Meski ragu dia akan dapat mengalahkan iblis itu setidaknya dia harus melawan. Iblis yang mengejarnya semakin mendekat mengarahkan cakar-cakar tajamnya kearah gadis itu. Alice segera menyambutnya dengan tebasan pedangnya, melukai bagian depan dari iblis didepannya. Darah hitam mengucur dari luka iblis itu. Membuatnya menggeram marah dan menyerang Alice dengan membabi buta, Alice terus mencoba bertahan. Meski beberapa cakar makluk itu sesekali menggores lengannya menyebabkan darah segar mengalir, membekar di gaun putihnya. Saat iblis itu melompat dan hendak menerkam gadis itu Alice segera mengarahkan pedangnya ke dada sang iblis menusukkan pedang itu menembus dada sang iblis. Iblis itu terkulai tak bergerak dengan nafas tak beraturan gadis itu hampir ambruk karena kelelahan.
Devian mencoba untuk melepaskan dirinya dari sang kakek tapi usahanya sia-sia.
"Haruskah, aku membunuh gadis itu? " Bisik Erebos ditelinga cucunya.
Erebos mengarahkan sebuah tombak kearah Alice. Devian membelalak dia mulai panik melihat Alice dalam bahaya tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa dan sesaat kemudia Erebos menggerakkan tombak itu melesat kearah gadis itu.
"Alice, Awas!!!! " Raja Aaron berlari menuju kearah menantunya dan menjadikan dirinya tameng untuk melindungi gadis itu. Alice yang terkejut langsung menangkap tubuh Raja Aaron yang Ambruk kelantai. Gadis itu mulai panik dan terisak.
Kemarah Devian semakin memuncak irisnya menyala merah, dengan emosi dia menyikut rahang kakeknya membuat sang kakek terpaksa melepas kunciannya. Devian mengarahkan pedangnya pada Erebos, bersiap menyerangnya kembali.
"Kau tak akan bisa membawaku." Devian menatap kakeknya marah.
Devian terus melancarkan serangan tak membiarkan sang kakek memiliki waktu untuk membalas setiap serangannya. Membuat sang Raja iblis perlahan mulai terdesak dengan serangan cucunya. Melihat kesempatannya untuk membawa cucunya kembali akan gagal Raja Erebos melesat kearah Alice menarik paksa lengan gadis itu dan menghilang membawa gadis itu bersamanya.
Devian berlari mencoba menghentikan mereka, tapi terlambat. Satu persatu iblis-iblis itu menghilang. Meninggalkan ruangan yang kini di penuhi oleh mayat-mayat manusia.
TBC