
Alice baru saja terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Sesaat kemudian bulir air mata menetes begitu saja dari matanya. Raut wajahnya terlihat begitu murung. Meskipun dia tak tahu apa yang sudah dia lewati, tapi ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Seperti terdapat lubang besar dalam hatinya yang terasa begitu menyesakkan. Tak berapa lama kemudian suara isak tangis terdengar dari sela bibirnya. Jemari mungilnya meremas kuat bagian tengah dadanya, menerka kembali apa yang terjadi padanya. Kenapa dia merasa begitu sakit dan sesak?
Saat Ratu Dione masuk ke kamar putrinya bersama para pelayan, betapa terkejutnya dia ketika melihat Alice menangis sesenggukan. Dengan langkah terburu-buru Ratu Dione segera menghampiri Alice.
"Sayang, apa yang terjadi? Apa kau sakit? Katakan pada ibu, mana yang sakit?" Tanya Ratu Dione khawatir.
"Ibu!!! " Alice segera memeluk ibunya erat.
"Kenapa begitu sakit? Apa yang terjadi? Kenapa begitu menyesakkan, bu? Kenapa? Apa yang salah? Katakan padaku? Aku merasa kehilangan sesuatu yang begitu berharga bagiku, tapi kenapa aku bahkan tak tahu apa yang hilang. Aku harus bagaimana?" Alice terus terisak dalam pelukan ibunya.
Dengan air mata berurai Ratu Dione mengelus punggung putrinya lembut. Hati ibu mana yang tak akan sakit melihat putrinya begitu terpuruk dan menderita. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Bahkan, dia sendiri pun juga tak bisa mengatakan apapun tentang apa dan siapa yang menghilang dari kehidupan putrinya.
"Tidak, apa-apa! Semua akan baik-baik saja. Ibu disini sekarang, ibu akan menjagamu." Lirih Ratu Dione mencoba menenangkan putrinya.
Setelah beberapa saat, Alice sudah berganti pakaian dan duduk di depan jendela kamarnya. Menatap kosong keluar jendela.
"Yang Mulia, anda ingin makan sesuatu. " Seorang pelayan mencoba menawarkan makanan pada Alice.
Tapi, gadis itu hanya menggeleng lemah. "Bisakah kau keluar, aku ingin sendiri." Gumam Alice lirih.
Semua pelayan segera keluar dari kamar Alice. Gadis itu masih terdiam, menyandarkan kepalanya di kursi. Perlahan gadis itu bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kamar. Menyusuri koridor sepi di kastil kerajaan Corfe.
"Berhenti disana!! " Samar dia mendengar sebuah suara seseorang. Alice mengedarkan pandangannya tapi tak menemukan siapapun di sekitar tempatnya berada.
Alice kembali berjalan keluar istana dan duduk disalah satu bangku Taman istana. Tak jauh dari tempat Alice berada Aiden tengah mengamati gadis itu dan akhirnya memutuskan untuk menyapa.
"Selamat pagi, Yang Mulia!! " Sapa Aiden dengan hormat.
Alice mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya, gadis itu berusaha untuk mengingat siapa pria di depannya. Meski membutuhkan usaha yang keras akhirnya dia dapat mengingat pria itu.
"Tuan Aiden, selamat pagi." sapa Alice kembali.
"Anda ingin duduk? " Alice menawarkan.
"Tidak perlu Yang Mulia, saya sedang bertugas." Tolak Aiden halus.
Alice tersenyum tipis dan menggeser duduknya. "Tak ada yang melihatmu."
Aiden berpikir sesaat dan kemudian memutuskan untuk duduk sebentar. "Bagaimana keadaan anda? "
"Jauh lebih baik, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Alice hati-hati.
"Tentu, apa yang ingin anda tanyakan? " Aiden mempersilahkan.
"Dalam mimpiku semalam, aku melihat seseorang bersamamu. Tapi aku tidak tahu siapa dia, atau bagaimana wajahnya. Apa kau pernah mengenalnya atau mungkin bekerja dengan seseorang."
Aiden terdiam membeku, sesaat dia berfikir bagaimana menjawabnya. "Entahlah, saya bekerja dengan banyak orang. Mungkin itu sebagian dari mimpi anda. Anda tahu, bunga tidur? Anda butuh istirahat." Aiden mencoba menyembunyikan kegelisahan dalam kalimatnya.
Alice kemudian menunduk lesu. "Entahlah, aku seperti mengenalnya. Tapi juga tidak." Alice tersenyum kecut. "Bukankah itu lucu?". Alice terdiam sesaat. "Rasanya begitu sakit dan menyesakkan hingga membuatku mau mati." Gumamnya lirih.
Alice kembali terisak. Meski Ragu Aiden mengulurkan tangannya, menepuk punggung Alice lembut. Mencoba menenangkan gadis itu.
Dari kejauhan Raja Charles dan Ratu Dione memperhatikan Alice yang masih terisak.
"Yang Mulia, lakukan sesuatu. Sampai kapan Putri kita akan seperti itu. Melihatnya saja sudah membuat hatiku sakit." Ucap Ratu Dione sedih.
"Aku akan memikirkannya." Jawab Raja Charles singkat dan segera beranjak pergi.
...****************...
Devian baru saja memasuki istana iblis dengan wajah kesal. Langkah kakinya dengan cepat melewati setiap lorong gelap di sepanjang kastil itu. Bahkan dia tak menyapa sang kakek yang menunggu di depan pintu masuk.
Devian berhenti tepat di sebuah pintu besar. Pintu tersebut terbuka dengan sendirinya, seperti tahu kalau penghuninya telah datang. Devian melangkan kakinya masuk kesana.
"Jangan biarkan siapapun masuk!! " Gumam Devian seakan memberi perintah.
Tak berapa lama pintu kembali tertutup dan terdengar suara pintu terkunci. Devian mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, semua masih sama. Sama seperti saat dia di tahan disini beberapa tahun lalu. Saat dia mengetahui kalau kakeknya terlibat dalam pembunuhan ibunya.
Devian menyentuh lukisan itu, tersenyum kecut karena pada akhirnya dia harus membuat gadis itu menjauh darinya.
"Jika aku membiarkanmu tetap mengingat semuanya, aku tidak tahu hal bodoh apa yang akan kau lakukan. Maafkan aku!! Aku tidak ingin kau membahayakan dirimu." Gumam Devian lirih. "Aku akan menjemputmu saat semua sudah berakhir. Aku akan menjagamu dengan cara yang benar." lanjutnya.
Devian melangkah menjauh dari lukisan itu. Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur besar diruangan itu. Perlahan dia memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu" Devian membuka matanya saat mendengar suara Alice. Devian mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangannya. Tapi tak ada siapapun disana.
Devian meletakkan lengannya di atas kepalanya, mengamati langit-langit ruangan itu. Pikirannya dipenuhi oleh wajah Alice. 'Haruskah aku melihatnya' pikirnya dalam hati. Devian mendesah pelan, pria beriris merah itu bangun dari tidurnya. Iris merahnya kembali bersinar.
Devian memusatkan seluruh energinya disekelilingnya. Tak berapa lama pria itu menghilang dari sana. Saat dia membuka matanya dia telah berada disebuah Taman, dari kejauhan dia melihat Alice terisak ditemani Aiden. Melihat itu senyum Devian sirna.
"Apa yang dia lakukan? Aku memintanya menjaganya, bukan menyentuhnya seperti itu." Gumam Devian kesal.
Dia hendak melangkah kesana. Tapi, dia mengurungkan niatnya. "Jika aku kesana dia akan melihatku, haruskah aku berikan saja darah ini? Tidak, ini akan menghancurkan rencanaku. Awas, kau Aiden setelah aku kembali kau akan mendapat hukuman yang sangat berat." Gumamnya penuh Amarah.
...****************...
Di Kerajaan Aldwick pesta telah digelar selama tiga hari penuh, perayaan penobatan dan juga pernikahan Raja Adrian di laksanakan secara besar-besaran dan meriah. Aula kerajaan di penuhi ratusan bangsawan dan pejabat tinggi Negara. Adrian tengah mabuk di kursi singgasananya, ditemani dua wanita penghibur yang sengaja dia datangkan dari rumah bordil di wilayah kerajaan Aldwick.
"Aku adalah Raja Adrian, kalian semua harus mendengarkan semua perintahku. Si bodoh Devian itu bukanlah tandinganku." Adrian meracau tak jelas di antara ketidak sadarannya karena alkohol.
Aleysia sang Ratu yang baru tengah berjudi di lantai dua aula pesta. Suara tawa nyaring terdengar begitu keras untuk merayakan kemenangannya yang entah sudah keberapa kali. Suara musik dan suara dentingan gelas-gelas anggur terdengar hampir diseluruh penjuru Aula. Beberapa pelayan berlalu-lalang keluar masuk aula untuk sekedar membawakan makanan dan juga botol-botol anggur yang baru.
...****************...
Aiden baru saja masuk kedalam kamarnya, setelah mengantar Alice kembali ke kamar. Baru saja Aiden menutup pintu kamarnya, seseorang menatapnya dengan wajah marah.
"Ya.. Yang Mulia." Dengan ekspresi terkejut dia segera menunduk.
Devian berjalan mendekat dengan marah. "Kau!!! Kau tahu apa kesalahan mu? " Tanya Devian marah.
Cepat Aiden menggelengkan kepalanya. "Saya melakukan semua tugas dengan baik, apa saya melakukan kesalahan secara tidak sengaja?"
"Kau menyentuhnya!! " Jawab Devian kesal.
"Me.. Menyentuhnya? " Aiden menatap Devian bingung.
"Ratu.. " Devian meninggikan suaranya. "Kau menyentuh Ratu." Devian mengingatkannya.
"Ma.. Maaf Yang Mulia, tapi saya hanya... "
"Tugasmu adalah mengawalnya, jangan menyentuhnya kau mengerti." Devian dengan cepat memotong Aiden.
"Tapi, Ratu sedang bersedih. Saya hanya mencoba menenangkannya."
"Bukankah, kau bisa menyuruh orang lain melakukannya? "
"O.. Orang lain? " Aiden menatap Devian semakin tak mengerti.
"Maksudku, pelayan itu.. Pelayan yang setiap saat bersamanya. Kau bisa meminta dia untuk memeluknya atau meminta ayahnya." Devian menjelaskan maksud dari perkataannya.
Aiden kini mengerti kenapa Devian mendadak memarahinya. "He'em." Aiden berdehem. "Jika anda semarah itu, kenapa anda menghapus ingatan Ratu. Karena hal itu dia terus menangis sejak sadar dari tidurnya."
Devian hanya diam tak menjawab Aiden.
"Yang Mulia, anda bersikap sangat kekanak-kanakan."
"Jaga bicaramu!! Aku sedang sibuk, jadi aku harus kembali. Ingat jangan menyentuhnya." Devian segera menghilang dari kamar Aiden.
Setelah Devian pergi Aiden hanya geleng-geleng kepala, baru kali ini dia melihat Devian bersikap seperti itu.
TBC