I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 44



Berita tentang rencana penyerangan Corfe sampai di telinga Aiden. Tak berapa lama kemudian seluruh petinggi kerajaan dan seluruh pimpinan dari seluruh pasukan Corfe telah berkumpul di ruang pertemuan. Semua orang terlihat begitu serius dan tegang.


"Tuan Aiden, sampaikan berita itu pada mereka secara langsung." Perintah Raja Charles.


Aiden berdiri dari kursinya. "Baik Yang Mulia." Aiden memberi hormat pada Raja Charles sebelum memberitahukan berita yang baru ia terima.


Mereka duduk melingkari sebuah meja dengan miniatur Medan pertempuran, terlihat tanah lapang luas yang di kelilingi perbukitan.


"Saat ini Raja Adrian merencanakan penyerangan besar-besaran. Menurut informasi saat ini dia memiliki pasukan yang akan sulit dikalahkan." Jelas Aiden.


"Apa kau sedang meremehkan pasukan Corfe?" Protes salah seorang panglima merasa sedikit tersinggung.


"Tidak, tentu tidak. Tapi sekuat apapun pasukan yang anda miliki saat ini akan sulit mengalahkan pasukan iblis itu. Prioritas kita adalah bertahan, tak ada pilihan lain. Jika kita menyerang terlebih dahulu semua akan berakhir. Saya akan mencoba mencari tahu keberadaan Raja Devian." Aiden menjelaskan.


"Kenapa kau harus mencari orang yang sudah pergi meninggalkan putriku? Kami tidak membutuhkannya." Raja Charles menatap Aiden marah. "Lebih baik dia tidak perlu kembali."


"Tapi Yang Mulia, saat ini... "


"Cukup tuan Aiden, jangan membuatku marah. Aku membiarkanmu disini karena keselamatan putriku bergantung padamu." Raja Charles mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Devian. "Sebelum pasukan Aldwick sampai dimedan pertempuran bawa Putriku dan permaisuriku ketempat persembunyian, kawal mereka kesana bersama prajurit yang telah aku pilih. Sebelum keadaan aman jangan bawa mereka kembali."


"Tapi, bagaimana dengan anda?" Tanya Aiden.


"Aku akan memimpin langsung pasukan. Aku harus melindungi keluarga dan rakyatku." Jawab Raja Charles mantap. "Jendral jelaskan pada tuan Aiden rencana yang telah kau susun." Raja Charles berpaling pada pria gagah yang memakai baju zirah besi yang duduk di depannya.


...****************...


Devian telah menghancurkan seluruh perabotan dalam kamarnya. Dengan kesal pria itu keluar dari kamarnya, langkah kakinya dengan cepat melewati setiap ruangan dengan cepat. Beberapa penjaga mencoba menghentikannya, tapi hanya menatap mata Devian sudah membuat mereka gemetar ketakutan.


"Jangan menghalangiku, jika kalian ingin selamat." Devian memperingatkan salah satu penjaga yang masih nekat menghalangi langkahnya.


"DEVIAN!!! " Suara Raja Erebos membuat Devian menghentikan langkahnya.


Devian menatap tajam kearah kakeknya. "Apa yang kau inginkan?"


"Kau akan kemana?" Tanya Raja Erebos pada cucunya.


"Melakukan apa yang harus aku lakukan dari dulu." Jawab Devian datar.


"Apa kau pikir Adrian akan diam saja jika melihatmu? " Raja Erebos menatap tajam cucunya.


"Apa kau pikir aku takut padanya? Dia sudah melanggar begitu banyak peraturan yang ku buat, sekarang saatnya dia mendapat hukuman."


"Apa kau pikir akan mudah mengalahkannya, kau juga bisa terbunuh." jelas Raja Erebos.


"Kenapa? Kau juga akan muncul untuk membantunya? Baiklah, lakukan saja apa yang kau mau. Aku penasaran apa kau bisa memilih antara cucumu atau mainanmu." Devian melangkah hendak pergi.


Namun, kakeknya langsung meraih lengan Devian untuk menghalanginya. Tapi sigap Devian menepis lengan Raja Iblis itu dengan mudah. Raja Erebos terdiam sesaat.


...****************...


Aiden dan Beryl telah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Ratu Dione dan Alice. Mereka harus meninggalkan istana secepatnya, menuju tempat persembunyian yang telah disiapkan Raja Charles selama perang berlangsung.


"Tuan Aiden, sampai kapan kita harus meninggalkan istana?" Tanya Beryl pada Aiden.


"Entahlah, keadaan benar-benar kacau. Pangeran Adrian tak akan menyerah dengan mudah. Dia akan melakukan apapun untuk menghancurkan Raja Devian." Aiden menunduk dalam.


Diruangan lain Ratu Dione tengah bicara serius dengan suaminya, terlihat Ratu beriris biru itu menunduk lesu.


"Kenapa anda harus mengirim saya pergi juga? Biarkan saya disini. Apa gunanya saya hidup jika anda tidak ada, Yang Mulia?" Mata Ratu Dione sedikit berkaca.


"Lalu siapa yang akan menjaga Putri kita, dia sedang membutuhkan Kasih sayang orang tuanya." Raja Charles tersenyum tipis untuk menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan saat ini.


"Alice adalah anak yang kuat, biarkan saya tetap bersama dengan anda." Ratu Dione bersikeras untuk tetap mendampingi suaminya.


Raja Charles menangkupkan kedua tangannya di wajah sang istri. "Aku tidak bisa kehilanganmu, atau pun Alice. Kalian adalah Harta paling berharga dalam hidupku. Aku sudah membuat Alice menanggung begitu banyak beban, sekarang saatnya aku menjadi ayah yang baik untuknya. Jaga dia, jangan biarkan dia menangis. Begitu perang berakhir kita akan segera bertemu. Aku berjanji padamu." Raja Charles mengecup kening istrinya lembut.


Perlahan air mata jatuh di pipi sang Ratu. Kesedihan tak lagi terbendung.


Persiapan keberangkatan seluruh keluarga kerajaan telah selesai. Pasukan khusus yang mengawal mereka sudah siap. Alice menatap ayahnya sedih.


"Aku akan baik-baik saja, kau juga harus kembali tersenyum. Jangan memasang wajah yang murung, kau mulai terlihat tua seperti ibumu." Raja Charles mencoba menggoda putrinya sebelum berpisah dengannya.


Alice memaksakan sebuah senyuman dibibirnya. "Kenapa? bukankah ibu masih tetap cantik?"


Raja Charles tersenyum dan memeluk erat putrinya, mencoba menguatkan dirinya untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Sementara semua orang sibuk berpamitan dengan yang lain. Aiden tengah memeriksa kembali beberapa perlengkapannya, saat seseorang memanggilnya dari balik pepohonan di halaman istana. Cepat Aiden menghampiri orang tersebut.


"Ya.. Yang Mulia, anda datang di saat yang tepat." Aiden terlihat senang saat melihat Devian di depannya.


"Apa yang terjadi? Kemana mereka akan pergi?" Tanya Devian penasaran.


"Pangeran Adrian akan menyerang Corfe, saat ini Raja Charles meminta keluarga kerajaan untuk pergi dari istana." Jelas Aiden.


"Apa? Apa dia gila? Apa dia berencana membunuh semua orang?" Tanya Devian tak percaya.


"Sebaiknya anda membantu mereka, apa anda akan membiarkan Pangeran Adrian menyerang kerajaan Corfe? "


Devian terlihat berfikir sesaat, lalu memandang Aiden. "Sebaiknya beritahu pria tua itu untuk masuk aku akan bicara dengannya dan jangan biarkan mereka untuk pergi. Aku akan memikirkan bagaimana menyelesaikan semuanya." Jelas Devian.


"Baik, Yang Mulia." Aiden segera pergi menemui Raja Charles.


Devian diam-diam memperhatikan istrinya yang akan memasuki kereta kudanya. Senyum tipis terlihat jelas diwajah Devian. "Bersabarlah sedikit lagi." gumam Devian.


Devian kembali melihat kearah Aiden dan Raja Charles yang terlihat berdebat. Devian menghela nafas berat. Akhirnya Devian keluar dari persembunyiannya dan melangkah kearah mereka berdua. Melewati kereta kuda Alice tanpa menatap gadis didalamnya.


Raja Charles terdiam saat melihat menatunya yang baru saja datang. Aiden segera menunduk.


"Aiden, pergilah. Aku harus bicara dengannya. Bisakah kita mencari tempat yang sedikit lebih baik?" Tanya Devian sambil melirik kearah kereta Alice.


Raja Charles dengan sedikit terpaksa membawa Devian masuk kedalam sebuah ruangan di dalam istana.


"Aku pikir kau sudah meninggalkan putriku?" Tanya Raja Charles marah.


"Kau tidak membaca surat itu sampai akhir? Aku datang tidak untuk membahas itu, ini tentang Adrian." Devian menatap serius Raja Charles.


"Kalian berdua sama saja." Gumam Raja Charles lirih.


"Sepertinya kau menjadi seperti ini setelah perjanjian itu aku akhiri. Dengar, saat ini harusnya kau bersikap lebih baik padaku." Ucap Devian mulai tersinggung.


Raja Charles yang juga mulai emosi mendekat kearah Devian dan meraih kerah pria itu. "Harusnya kau bersikap sopan padaku anak muda, kau lupa aku masih mertuamu."


"Tentu saja, karena itu aku disini sekarang. Jadi, bisa lepaskan tanganmu." Kata Devian santai.


Raja Charles melepas cengkramannya. "Sebaiknya buang semua kesombonganmu itu." Raja Charles memberi peringatan pada Devian.


"Dari pada membicarakan hal itu, sebaiknya jangan kirim mereka ke tempat pengungsian."


"Apa maksudmu? Kau ingin mereka tetap disini?" Tanya Raja Charles tak percaya.


"Adrian mungkin sudah memikirkan kemungkinan keluarga kerajaan akan meninggalkan istana."


"Lalu, kau ingin kami bagaimana?" Raja Charles menatap Devian frustasi.


"Saat ini yang diincar Adrian bukan hanya Corfe, tapi juga Alice. Ada kemungkinan Adrian sudah memerintahkan iblis-iblis itu untuk menjaga seluruh jalan keluar dari Corfe."


"Apa rencanamu? " Tanya Raja Charles pada Devian.


Devian menatap Raja Charles.


...****************...


Pasukan Aldwick telah sampai di perbatasan Corfe, Adrian memerintahkan beberapa utusannya untuk membawa pesan untuk Corfe dan juga membangun perkemahan di perbatasan.


"Besok Corfe akan menjadi milikku." Gumamnya senang.


TBC