
Dua Bulan berlalu, Alice masih terlihat murung. Senyuman tak pernah lagi nampak semenjak gadis itu melupakan orang yang paling dia cintai. Ratu Dione dan Raja Charles telah berusaha untuk menghibur putrinya, Begitu pula Beryl yang selalu mencoba menceritakan semua cerita lucu maupun menyenangkan. Tapi, semua yang mereka lakukan akan berujung dengan isak tangis Alice yang kembali pecah.
Dengan wajah lesu Beryl berjalan menyusuri koridor kastil Corfe. Langkah kakinya membawanya berhenti di depan sebuah pintu besar sebuah ruangan. Beryl segera mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum masuk.
Tok...tok.. Tok..
"Tuan Aiden, apakah anda di dalam?" Beryl sedikit meninggikan suaranya agar si penghuni kamar mendengar suaranya.
Tak berapa lama pintu terbuka. "Nona Beryl, anda datang lagi? " Tanya Aiden dengan senyuman ramah diwajahnya.
Beryl segera masuk keruangan Aiden, meskipun belum dipersilahkan. Aiden segera metup pintunya dan menyusul gadis itu masuk.
"Apa terjadi sesuatu? " Tanya Aiden cemas.
"Tuan Aiden, sampai kapan aku harus pura-pura tidak tahu tentang semua hal yang ditanyakan Yang Mulia. Aku tidak tega melihat Yang Mulia seperti itu." Beryl menunduk lesu.
Aiden menatap Beryl. "Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya Yang Mulia Devian yang dapat mengembalikan ingatannya."
"Tak bisakah anda bertemu Yang Mulia Devian?" lirih Beryl.
Aiden hanya menggeleng pelan. "Aku tidak bisa."
...****************...
Di Aldwick telah terjadi begitu banyak kekacauan di istana maupun di seluruh wilayah kerajaan. Pemberontakan terjadi hampir diseluruh wilayah Aldwick. Kerajaan yang pernah ditaklukkan Devian juga melakukan perlawanan. Krisis melanda seluruh kerajaan karena banyak pejabat dan menteri yang melakukan penggelapan pajak dan berfoya-foya.
Seluruh pejabat berkumpul untuk melakukan rapat darurat. Adrian memarahi seluruh pejabat baru yang baru diangkatnya saat menjadi Raja.
"Seluruh pemberontakan ini, pasti sudah direncanakan oleh Raja Devian dan seluruh pendukungnya." Seorang pejabat menuduh Devian dengan marah.
"Jika dia berada di belakang semua kekacauan ini, bagaimana mungkin tak ada satu orang pun yang dapat menemukan keberadaan mereka?" Marah Adrian.
Adrian segera bangkit dari kursinya. "Harusnya kalian melakukan tugas dengan baik, bukan hanya duduk diam dan menerima gaji buta."
"Bagiamana dengan dirimu, kau juga mengadakan pesta tiap malam. Menghabiskan uang rakyat untuk wanita-wanita penghibur itu, padahal kau sudah memiliki istri." Sahut salah seorang pejabat yang tak lain adalah ayah Aleysia.
"Bukankah putrimu juga lebih bahagia, dia dapat juga lebih menikmati semua ini dan kau juga menikmati kedudukanmu bukan." Adrian menatap pria tua itu garang. Adrian berbalik membelakangi semua orang yang berada di ruangan itu. "Siapkan semua pasukan, aku sendiri yang akan memimpin mereka dimedan pertempuran." Gumamnya yakin.
"Tapi itu akan berbahaya, pasukan kita tidak cukup kuat untuk melawan seluruh pemberontak dan kerajaan lain."
"Aku sudah memiliki sekutu yang kuat, lakukan saja perintahku." Adrian segera beranjak keluar dari sana.
...****************...
Devian dengan gusar keluar dari kamarnya, dengan langkah cepat dia menuju Ruangan dimana kakeknya berada sekarang. Dengan kasar dia membuka pintu besar ruangan itu hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
"CUKUP KAKEK!! Hentikan upacara konyolmu itu atau aku akan menghancurkan seluruh upacara bodohmu itu." Teriak Devian marah.
"Bukankah kau sudah berjanji? Kau tidak bisa menolaknya Devian."
"Tidak, aku tidak pernah berjanji." Devian mengangkat sebelah Alisnya. "Aku bilang akan kembali, bukan menjadi penerus dari orang yang membunuh ibuku. Orang yang membunuh Putrinya sendiri hanya untuk menyelamatkan reputasi dan juga kelangsungan kekuasaannya."
"CUKUP!!! Semua itu hanya kecelakaan." Raja Erebos meninggikan suaranya.
"Kecelakaan? Berhenti bicara omong kosong, aku bukan lagi seorang anak berusia delapan tahun yang bisa kau bohongi."
"Ada banyak hal yang harus kau tahu Devian.. "
"Berhenti membual, kenapa kau tidak membunuhku saja. Sejujurnya aku akan lebih menyukainya."
...****************...
Ribuan pasukan yang sudah disiapkan Adrian telah tiba di Medan perang. Dengan baju zirahnya, Raja baru itu dengan percaya diri berada dibarisan paling depan dari pasukan-pasukannya.
"Hari ini kita akan menang, jangan pernah takut aku adalah Raja yang akan menaklukan seluruh kerajaan dan akan membuat mereka tunduk dan memohon ampun kepadaku!! " Seru Adrian dengan lantang di depan pasukannya.
Adrian menoleh pada panglima perang yang berada disampingnya, kemudian mengamati ribuan pasukan musuh dihadapannya. Adrian menyeringai menatap kearah musuhnya. 'Hari ini kalian akan berakhir.' katanya dalam hati.
"HIDUP ALDWICK!!!! " Seru seluruh pasukan dengan lantang.
Derap ribuan langkah kaki kuda membuat debu-debu berhamburan, dalam sekejap menghalangi jarak pandang para prajurit. Ribuan pasukan saling berhadapan. Pasukan musuh dengan gigih menghantam pertahanan pasukan Aldwick. Satu persatu prajurit mulai berjatuhan, mayat-mayat mulai bergelimpangan, Debu dan darah mulai menjadi satu. Perlahan pasukan Adrian mulai berkurang, semakin terdesak dan mendekati kekalahan. Adrian yang mengetahui akan kekalahannya, langsung terdiam. Tak berapa lama kemudian dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Wahai penguasa para iblis, aku membutuhkan pasukanmu untuk menghancurkan seluruh musuh-musuhku." Gumam Adrian.
Tak berapa lama, pasir dan debu mulai berkumpul, perlahan berkumpul di beberapa titik membentuk wujud-wujud suatu makhluk dari kaki mereka perlahan wujud itu terlihat sempurna dan tak berapa lama wujud iblis Besar dengan tanduk dan senjata ditangannya telah menampakkan diri. Separuh tubuh Adrian dari bahu hingga kaki, perlahan mengeluarkan sisik-sisik besar yang lebih mirip sisik naga. Jemari- jemarinya perlahan berubah menghitam, kuku-kukunya tumbuh memanjang, runcing dan tajam. Salah satu irisnya perlahan berubah menjadi berwarna emas.
Bukannya takut, tapi Adrian mulai mengagumi perubahan wujudnya. Raut wajahnya terlihat begitu senang dengan semua kekuatan yang dia dapatkan.
"Tidak sia-sia aku menjual jiwaku pada iblis-iblis itu." Gumamnya penuh kemenangan.
Kini ratusan pasukan iblis berdiri disamping Adrian. Membuat pasukan Adrian maupun musuh Adrian terperangah kaget tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Adrian menyeringai memandang bengis pada musuh di depannya.
"Hari ini adalah kemenanganku, pasukan iblis bunuh mereka semua!! " Gumam Adrian.
Pasukan iblis langsung mengeluarkan suara teriakan semangat mereka, berlari menerjang seluruh musuh Adrian membunuh ribuan pasukan dengan mudahnya. Dalam sekejap Medan pertempuran telah dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan yang berlumuran darah. Tawa nyaring Adrian terdengar disambut suara-suara para iblis untuk merayakan kemenangannya.
...****************...
Devian menyaksikan seluruh pertempuran Adrian dari istana iblis, tentu saja dengan kakeknya.
"Kau membantunya sampai sejauh ini?" Tanya Devian tak percaya.
"Dia sudah menjual jiwanya padaku, jadi aku harus memenuhi semua janji yang aku berikan." Raja Erebos menatap Devian. "Bukankah itu menyenangkan, aku bisa bertahan hidup cukup lama dengan semua jiwa-jiwa kotor manusia."
"Aku mulai muak, sebaiknya aku kembali." Devian hendak beranjak dari sana.
"Kau tidak bisa kembali, kau juga melakukan perjanjian dengannya. Kau hanya bisa kembali ketika dia melanggar perjanjian itu. Kau sudah melepaskan semua tanggung jawabmu dan menyerahkannya padanya." Jelas Raja Erebos sambil menunjuk Adrian yang nampak dari kabut dihadapan mereka.
"Kenapa tidak kau jadikan saja dia penerusmu, aku rasa dia lebih cocok denganmu." Gumam Devian.
"Dia manusia biasa yang tak akan mampu mengendalikan semua iblis-iblis ini. Lihatlah, dia licik dan serakah. Selama ini dia menahannya dan dalam sekejap dia melakukan semua dosa yang seharusnya tak dilakukan manusia."
Devian hanya diam tak menjawab kakeknya. "Kenapa kau tak mati saja." Gumam Devian lirih.
"Aku tertarik padanya saat dia masih sangat muda, hingga aku harus kehilangan putriku." Raja Erebos tanpa sadar menggumamkannya.
"Apa maksudmu? " tanya Devian yang tanpa sengaja mendengarnya. "Kau, melakukan perjanjian ini bukan yang pertama kalinya."
Raja Erebos terdiam. "Apa maksudmu? " Tanyanya berpura-pura tak mengerti.
"Kau yang membuat kekacauan diistana waktu itu dan Adrian datang padaku, kalian bekerja sama?" Tanya Devian tak percaya. "Jadi dugaanku benar." Devian berjalan mendekat kearah kakeknya dengan marah.
"Dia menjanjikan sesuatu yang tak bisa aku tolak." Raja Erebos mencoba membela dirinya.
"Kau membunuh ibuku hanya untuk hal sekecil itu." Tanya Devian tak percaya.
"Itu bukan hal kecil, dia berjanji akan membuatmu datang padaku dan dia melakukannya. Meskipun akhirnya kau tetap mimilih para manusia." Jelas Raja Erebos.
"Jadi semua itu Adrian? Aku membenci ayahku karena mengirimku kepadamu dan ternyata itu ulah Adrian? " Perasaan marah Devian semakin memuncak. Darahnya terasa begitu mendidih dan panas. Tangannya mengepal kuat hingga membuat buku-buku tangannya memutih. Iris merahnya perlahan menyala, membuat seluruh perabotan dalam ruangan itu bergetar. Kabut yang menampakkan bayangan kejadian di dunia manusia seketika lenyap dan hancur.
Devian meraih leher sang kakek mencekik pria tua itu kuat. Meskipun itu tak begitu berpengaruh pada Raja Erebos, tapi melihat kemarahan cucunya cukup membuat Raja Iblis itu sedikit merasakan takut dalam hatinya.
"Akan aku bunuh dia, akan aku hancurkan jiwanya sebelum sampai padamu." Gumam Devian penuh amarah.
Devian melepas leher kakeknya dengan kasar dan segera meninggalkan ruangan itu dengan cepat.
...****************...
Pertempuran demi pertempuran dimenangkan Adrian dengan pasukan iblisnya. Semua orang diistana tak ada yang berani melawan atau bahkan menatapnya, semakin hari wujud Adrian semakin menyeramkan sisik-sisik keras semakin tumbuh bahkan hampir mencapai wajahnya.
"Kali ini kita taklukkan Corfe, siapkan semua pasukan kita. Aku akan membawa kembali Ratu Alice."
TBC