
Suara derap kaki kuda terdengar nyaring, memecah jalan setapak ditengah hutan. Dua ekor kuda yang tengah ditunggangi oleh dua pria dengan pakaian rapi dengan mengenakan sepatu bot. Kuda-kuda itu berhenti saat tali kekang mereka ditarik kebelakang.
"Yang Mulia sebaiknya kita kembali." Ajak seorang pria yang berhenti tepat dibelakangnya.
"Aiden, sepertinya laporan itu palsu." Pria dengan iris merah itu melirik pria dibelangnya.
"Saya rasa anda benar Yang Mulia."
"Harusnya kau periksa setiap laporan yang masuk." Devian akhirnya memarahi Aiden.
"Laporan tentang makluk misterius itu semakin meningkat dan beberapa utusan yang anda kirim juga menghilang tanpa jejak."
"Aku rasa mereka salah satu dari iblis Erebos." Gumam Devian yakin. "Kita kembali, aku akan mencari cara untuk menangkap iblis sialan itu."
Akhirnya mereka pun berbalik, memacu kuda-kuda mereka agar berlari lebih cepat membelah jalanan hutan.
Matahari mulai bersembunyi, langit perlahan berubah warna menjadi oranye. Hutan yang tadi terang kini perlahan mulai gelap. Tepat saat Devian dan Aiden sampai di pinggir hutan.
"Para pengawal menunggu di desa terdekat, haruskah kita berkemah disana." Tanya Aiden.
"Baiklah, kita menunggu sampai besok. Jika makluk itu tidak muncul kita kembali ke istana."
Tak berapa lama berselang seorang gadis menghentikan laju kuda mereka. Dia berdiri tepat ditengah jalan yang akan dilalui Devian dan Aiden. Membuat kedua kuda itu harua berhenti mendadak dan meringkik karena terkejut.
"To..tolong saya tuan." Suara gadis itu terdengar begitu merdu.
Devian masih tak bergeming dan hanya menatap dingin kearah gadis itu. Gadis dengan gaun lusuh dengan dengan belahan dada rendah. Memamerkan bulatan besar buah dadanya, rambut coklat dan iris hitam legam, bibir semerah darah dan kulit putih pucat yang mulus. Membuat setiap kaum adam terpesona setiap kali melihatnya.
"Saya baru saja dirampok tuan. Mereka mengambil seluruh barang yang saya miliki."
"Apakah anda terluka?" Tanya Aiden khawatir.
"Mereka mencoba menyakiti saya tapi saya berhasil melarikan diri." gadis itu terlihat mulai menangis sedih.
"Siapa nama anda, nona? " Tanya Aiden lagi.
"Celline tuan." Jawab gadis itu memperkenalkan diri.
"Nama yang indah." Puji Aiden lagi.
"Nama yang buruk." Devian menatap datar wanita itu.
Entah mengapa tapi Devian dapat merasakan sesuatu yang aneh dari wanita didepannya.
"Tuan, saya benar-benar membutuhkan bantuan kalian."
"Minggir."
"Apa? Tapi tuan saya baru saja dirampok apakah anda tidak merasa kasihan... "
"Aku tidak tertarik dengan cerita sedihmu." Potong Devian dingin.
Aiden menatap Devian tak percaya, bagaimana mungkin Rajanya tak ingin menolong wanita yang tengah kesulitan di pinggir hutan. Padahal sebentar lagi matahari akan tenggelam.
"Tapi anda sudah berhenti setidaknya beri saya tumpangan untuk kedesa terdekat." Gadis itu memasang wajah memelas.
"Kau masih bisa berjalankan? "
"Apa? " Tanya celine tak percaya.
"Kau tuli juga rupanya."
"Anda begitu kejam, bagaimana mungkin anda membiarkan seorang wanita lemah seperti saya sendiri ditempat seperti ini. Jika anda tidak ingin menolong saya kenapa anda berhenti? "
"Apa kau lupa? Kau yang menghentikan kudaku. Harusnya aku menabrakmu saja. Minggir sebelum kudaku menginjakmu."
Celine memandang Devian tak percaya dan langsung menyingkir dari jalan pria itu.
"Aiden!! Cepat jalan atau aku akan menghukummu." Devian meninggikan suaranya dan segera memacu kudanya cepat meninggal wanita itu sendirian.
Aiden segera mengikuti Devian dari belakang meskipun rasanya dia ingin menolong wanita itu, tapi dia lebih takut pada Devian.
Dengan wajah kesal wanita itu menatap kepergian Devian, tak berapa lama kemudian wanita itu telah berubah wujud. Menjadi iblis wanita Raja Erebos.
"Dia tak tergoda olehku, bahkan Raja Erebos tak bisa menolak pesonaku. Tapi, dia mengabaikanku? Lihat saja kau pangeran kecil kau akan tergila-gila padaku sampai kau akan melakukan semua untuk ku."
...****************...
Alice baru menyelesaikan malamnya, saat ayah mertuanya datang berkunjung.
"Yang Mulia" Sapa Alice seraya berdiri untuk menyambut ayah mertuanya.
"Duduklah." Raja Aaron mempersilahkan menantunya duduk.
"Aku dengar kau mendapat perlakuan yang buruk kemarin. Aku mendengarnya dari Aiden saat dia mengunjungiku."
"Begitukah? Kejadiannya tidak seburuk itu."
"Devian banyak berubah, dia sangat peduli kepadamu. Tapi, semua akan menjadi sulit jadi kau harus bertahan. Percayalah pada Devian dia akan menjagamu." Raja Aaron menasehati menantunya.
"Suatu saat kau akan mengerti, aku akan kembali ke kediamanku. Aku kemari untuk melihat putraku tapi dia bahkan tak berada di ruangannya." Raja Aaron tersenyum pada menantunya dan meninggalkan gadis itu sendirian.
Alice menuju ke kastil utama untuk menemui suaminya. Tapi, saat dia sampai didepan ruang kerjanya seorang penjaga menghentikannya.
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan disini? "
"Aku ingin bertemu Yang Mulia Raja. Ada apa? "
"Maaf, Yang Mulia tapi Raja saat ini sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang ada urusan diluar istana."
Alice terlihat kecewa. "Benarkah? Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku? Baiklah aku akan kembali ke kediamanku."
Alice segera menuju kediamannya, dengan santai gadis itu berjalan menyusuri setiap koridor.
"Alice!! " Seseorang memanggil gadis itu, membuatnya harus menghentikan langkahnya dan berbalik. Memeriksa siapa yang memanggilnya barusan.
Dengan wajah malas Alice menunduk memberi hormat. "Selamat malam pangeran Adrian!! " Alice mencoba untuk tersenyum pada Adrian.
"Kau mau kemana? " Tanya Adrian mendekat kearah Alice.
"Saya akan kembali kekediaman saya."
"Aku bisa menemanimu kesana." Adrian menawarkan.
"Tidak perlu Pangeran, saya bisa pergi sendiri." Alice mencoba untuk menolak dengan halus.
"Ayolah, aku memaksa." Adrian tersenyum dan segera berjalan mendahului Alice.
Dengan berat hati gadis itu mengikuti Adrian di belakangnya. Saat mereka sampai dihalaman kastil, Alice langsung menghentikan langkahnya.
"Pangeran bisa kembali sekarang. Sekarang sudah larut, jika seseorang melihat anda bersama saya nanti akan ada yang salah paham." Alice mencoba mengusir Adrian.
"Apa kau keberatan jika aku mengantarmu sampai depan pintu kamarmu? " Tanya Adrian sedikit kecewa.
"Bagaimana jika tunangan anda, atau suruhan tunangan anda melihatnya. Saya tidak ingin mendapat masalah lagi. Lagi pula saya adalah wanita yang sudah menikah."
"Baiklah, jika itu maumu." Adrian akhirnya pergi dengan rasa kecewa dihatinya.
...****************...
Devian tengah memandangi langit malam dari jendela kamar penginapannya.
"Hallo!!! " sapa seorang wanita yang baru saja muncul secara tiba-tiba dikamar Devian.
Dengan tenang Devian berbalik dan melihat wanita tadi sore yang meminta bantuannya.
"Erebos yang mengirimmu? " Tanya Devian tanpa basa basi.
"Kau memang tidak sabaran pangeran." Gumam gadis itu lembut.
Perlahan gadis itu melangkah mendekat kearah Devian. "Kau sangat tampan, kenapa kita tidak bersenang-senang saja." tawar gadis itu dengan senyum menggoda.
Perlahan tangan gadis itu terulur dan hendak meraih bahu Devian. Tapi, Dengan sigap Devian menghindar darinya.
"Kau sama sekali tidak menarik." Gumam Devian dingin.
"Bagaimana anda tahu aku bukan manusia? " tanya gadis itu penasaran.
"Dari namamu."
"Celline? Itu nama yang Bagus."
"Bagus? Celline berarti gelap. Pergilah dari sini sebelum aku kehabisan kesabaran dan katakan pada Erebos aku tidak ingin kembali kedunianya atau menjadi penerusnya."
"Aku tidak akan pergi sebelum membawamu ke istana iblis."
"Baiklah jika itu pilihanmu." Devian menyeringai.
Iris mata Devian menyala merah, kuku-kukunya perlahan meruncing. Perlahan ruangan dipenuhi kabut merah, aura yang begitu menakutkan muncul dari tubuh Devian.
"Kau ingin mati dengan cepat atau perlahan? Dengan senang hati aku akan mengabulkannya."
Celline kini mulai menyadari situasinya, meskipun Devian setengah manusia tapi kekuatan iblisnya sama seperti kekuatan keluarga kerajaan. Dengan waspada iblis wanita itu perlahan mundur. Rasa takut mulai dia rasakan.
"Pangeran saya akan pergi, saya akan memberitahu Raja Erebos sesui perintah anda. Tapi, jangan bunuh saya."
Perlahan cahaya di iris Devian meredup, kabut merah itupun perlahan menghilang dan kuku Devian kembali seperti semula. Devian tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan menunjukkan dirimu dihadapanku atau mengganggu rakyatku. Jika aku menemukanmu memangsa manusia diwilayahku kau tahu akibatnya."
"Ba.. Baik Pangeran, saya minta maaf." celline pun mendadak menghilang dari sana.
"Apa yang kau rencanakan Erebos? "
TBC