I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 47



Ribuan barisan pasukan dari kedua kerajaan telah bersiap. Pelontar-pelontar raksasa telah berdiri kokoh sisi kerajaan Corfe. Seluruh pemimpin telah bersiap di garis depan dengan kuda-kuda mereka.


Devian menatap Garang seluruh pasukan dihadapannya, pasukan yang dahulu pernah dibawah komandonya. Mengamati setiap formasi yang mereka buat. Tak berapa lama Adrian memberi isyarat dengan mengangkat pedangnya keudara, kemudian dia kembali mengayunkan pedangnya kedepan. Pertanda Aldwick yang akan menyerang Corfe terlebih dulu. Derap ratusan langkah kaki kuda mulai terdengar, kepulan debu mulai melayang diudara.


Devian mengangkat pedangnya keudara, memberi isyarat untuk menunggu. Setelah pasukan Adrian beberapa meter lebih dekat, Devian memberi isyarat lain untuk para pemanah. Seluruh pemanah bersiap dengan bidikan mereka dan Devian segera memberi isyarat untuk melepas anak panah mereka. Ribuan anak panah melayang diudara, pasukan Adrian dalam sekejab dihujani ribuan anak panah membuat sebagian besar dari mereka gugur dengan cepat.


Adrian terkejut melihat serangan mendadak diluar perhitungannya. Tak berapa lama dia memberi isyarat pada para pemanahnya untuk mulai menyerang agar dia dan pasukannya bisa tetap maju mendekat. Ribuan anak panah dari kubu Adrian mulai meluncur ke arah pasukan Devian dengan cepat. Diluar dugaan Adrian, pasukan Devian mengangkat perisai-perisai besi mereka keatas menggunakannya sebagai pelindung.


Panglima Corfe melirik kearah Devian. Diam-diam mengagumi taktik yang diatur oleh Raja Muda itu. Devian masih fokus pada serangan musuh-musuhnya. Sesekali pria beriris merah itu mengedarkan pandangannya, mengamati pasukan-pasukan yang kini berdiri dibelakangnya.


Sesaat pasukan Corfe yakin mereka akan menang dengan mudah dalam pertempuran ini. Namun, Pasukan Adrian kini semakin mendekat, Devian memberi isyarat lain. Tombak-tombak panjang dengan ujung runcing kini disiapkan mengarah langsung pada pasukan Adrian. Devian mengayunkan pedangnya kedepan, memberi isyarat untuk menyerang. Seluruh tentara berkuda dengan tombaknya kini maju dengan cepat, bersiap menusuk siapa saja yang akan mendekat kearah pertahanan mereka. Dalam hitungan menit kedua pasukan berbenturan, beberapa pasukan Devian dan pasukan Adrian telah tewas. Darah dan tanah menjadi satu, mayat-mayat mulai bergelimpangan.


Serangan kedua Devian menyiapkan pasukan pedang. Memberi isyarat lain untuk menyerang pasukan Adrian. Debu semakin membubung tinggi, menghalangi jarak pandang. Kedua pasukan dari kedua kerajaan kini bertemu di bagian tengah Medan pertempuran. Bergumul dengan debu dan tanah, berusaha mempertahankan wilayah mereka dari musuh.


Sesaat Adrian mulai panik saat mengetahui pasukannya semakin berkurang. Pikirannya semakin kacau, tapi dia harus menang dari Devian. Dia harus bisa mengalahkan saudaranya, dia harus mempertahankan posisinya dan mendapatkan kembali semua yang harusnya menjadi miliknya. Adrian menatap tajam kearah Devian, aura hitam mengintari tubuh Adrian. Sisik-sisik hitam di bagian tubuhnya bergerak menutupi lebih banyak tubuhnya.


"Pasukanku bangkit dan hancurkan seluruh musuhku, dengarkan perintahku dan bangkitlah." Adrian terus meracau, memanggil pasukan-pasukan yang dipinjamnya dari Erebos.


Pasir dan debu berlahan bergeser, berkumpul dekat Adrian. Membentuk iblis dari pasir dan debu yang kemudian berubah menjadi wujud iblis sempurna yang hidup.


Dari kejauhan Devian mengamati semuanya. Panglima dan jenderal Corfe terlihat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Ma.. Makluk apa itu?" Tanya salah satu dari mereka.


Devian maju perlahan, mengamati semua yang dilakukan Adrian. Devian memberi isyarat untuk menyiapkan pelontar Batu yang begitu besar. Lima pelontar telah siap, Devian memberi aba-aba untuk melepaskannya dan batu-batu besar itu mulai melayang keudara. Menghantam ratusan pasukan Iblis Adrian. Sesaat mereka tumbang tapi dengan mudah mereka bangkit dan meraung penuh kemarahan.


Sesaat Devian menatap cemas, dia baru tersadar hari sudah mulai gelap.


"Panglima, prioritas kita saat ini adalah bertahan. Kita harus bisa mengulur waktu sampai fajar." Devian menatap Panglima di sampingnya.


"Sampai fajar?" Tanya Sang Panglima bingung.


"Iblis itu akan bertahan sampai fajar." Jelas Devian. "Aku akan turun tangan sekarang, kita tidak boleh kehilangan lebih banyak pasukan."


Devian mulai memacu kudanya maju, sesaat para jenderal dan panglima saling berpandangan. Kemudian mereka mulai mengikuti Devian dari belakang. Devian sesaat menoleh untuk melihat mereka. Sang panglima tersenyum.


"Kita harus bisa menang dari makhluk itu." Kata panglima penuh percaya diri.


Devian mempercepat laju kudanya dan mulai menghunus pedangnya. Saat kuda berlari kencang Devian mengayunkan pedangnya pada setiap musuh yang berpapasan dengannya. Tanpa ragu Devian menebas beberapa iblis yang menghalangi jalannya. Iblis-iblis itu meraung kesakitan saat pedang Devian mulai menyayat tubuh mereka, darah hitam pekat mengalir dari luka-luka mereka.


Iris merah Devian menyala merah, sesaat dia mencoba mengambil alih pikiran mereka tapi dia tak bisa melakukannya. Karena mereka diluar kekuasaan Devian, mereka berada dibawah perintah Adrian. Saat Devian lengah sebuah cakar besar mengarah padanya, Devian bisa menghindar tapi kuda yang ia tunggangi terkejut dan meringkik ketakutan. Kuda Devian mulai memberontak terpaksa Devian menjatuhkan dirinya sebelum dia terluka.


Beberapa iblis kini tengah mengepung Devian. Mengitari Devian dengan senjata-senjata di tangan mereka. Memamerkan deretan gigi-gigi tajam. Devian bersiap dengan pedangnya, dia terus menatap waspada pada mereka. Mencoba memperkirakan serangan yang akan mereka lakukan. Devian bergerak maju untuk mulai menyerang mereka, dentingan senjata mulai terdengar. Devian berhasil menyabet tubuh mereka dengan pedangnya. Tapi, dia juga mendapat sabetan senjata mereka di lengannya. Darah segar mulai mengalir membasahi baju zirahnya.


Iris merahnya mulai menyala, dia memutuskan untuk menggunakan kekuatan iblisnya untuk mengalahkan mereka semua. Pedang ditangannya mulai menyala merah seperti lava panas dalam kawah gunung berapi.


"Maju, kalian aku tidak akan main-main lagi sekarang."


Sesaat tubuh Devian jatuh, dia menggunakan pedanya untuk menopang bobot tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa begitu lemas, karena pengunaan kekuatannya yang berlebihan. Di saat itulah, Adrian mendekat kearah Devian. Mengintari saudaranya dengan menunggang kuda.


"Sebaiknya kau menyerah, Devian." Adrian tersenyum penuh kemenangan. "Lihat sekelilingmu pasukan yang berdiri dibelakangmu mereka sudah aku kalahkan."


"Aku tidak akan menyerah pada orang sepertimu, sebaliknya aku akan menghukummu atas semua kejahatan yang kau lakukan." Devian mencoba berdiri dengan susah payah.


"Sudahlah saudaraku terima saja, kembali pada kakekmu dan biarkan aku bersenang-senang dengan duniaku."


"Sebegitu takutnya kau padaku?" Devian tersenyum mengejek. "Lihatlah, apa bedanya kau dan aku sekarang? Kau bahkan lebih mengerikan." Devian mengamati saudaranya itu.


"Berani kau menghinaku, apa kau tidak sadar situasimu?" Tanya Adrian penuh amarah.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa kau tidak sadar situasimu?" Devian menatap Semburat oranye di langit Timur. "Sebentar lagi matahari terbit."


Adrian terdiam dan segera menjauh dari Devian. Adrian segera memberi isyarat pada Prajuritnya untuk kembali. Seluruh pasukan Adrian kini telah mundur ke perbatasan Aldwick. Pada saat itu tubuh Devian ambruk tak sadarkan diri.


...****************...


Saat Devian sadar dia telah berada ditenda. Beberapa orang tampak terlihat cemas.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Raja Charles cemas.


Devian hanya diam dan memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. "Aku hanya butuh istirahat sebentar. Tubuhku belum terbiasa dengan keadaan saat ini."


"Makhluk apa yang dibawa Raja Muda itu?" Tanya Raja Charles penasaran.


"Mereka hanya iblis rendahan, mereka bukan apa-apa." Gumam Devian.


"Mereka bukan apa-apa tapi bisa membuatmu terluka dan pingsan."


Di luar tenda Devian seseorang memaksa masuk kedalam tenda tempat Devian dan Raja Charles. Meskipun beberapa penjaga memaksanya kembali tapi dia tak menghiraukannya dan tetap memaksa masuk.


Devian terlihat kaget melihatnya disana, Alice datang ke Medan perang. Terlihat gadis itu menatap pria didepannya. Devian langsung bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menghampiri gadis itu. Entah bagaimana tapi kini Devian telah mencium bibir lembut Alice. Merasakan kembali manis dan lembut bibir istrinya. Namun, Alice dengan cepat mendorong tubuh Devian menjauh darinya.


Plakkk...


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Devian, disaat yang bersamaan Aiden datang dengan wajah panik dan cemas. Tapi, melihat situasinya dia hanya bisa diam.


"Kau menamparku?" Tanya Devian tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.


"Anda pantas mendapatkannya, bagaimana anda mencium seseorang secara sembarangan? Aku bahkan tidak mengenalmu." Alice menatap Devian penuh amarah.


Devian kini menatap gadis itu bingung dan menatap Aiden yang berdiri di depan pintu tenda. Aiden segera menunduk dalam tak berani menatap mata Devian...


TBC