I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 32



Disebuah ruangan besar, udara yang terasa begitu dingin. Dinding-dinding Batu hitam pekat, pilar-pilar hitam tinggi menjulang, patung-patung iblis yang paling menakutkan hampir menghiasi sepanjang pinggir ruangan, meski terdapat jendela-jendela besar kokoh berhias gorden merah dan emas, tapi tak cukup cahaya diruangan itu. Hanya ruangan gelap dengan penerangan yang kurang membuat suasana remang. Diruangan itu beberapa orang tengah berkumpul. Tapi tak satupun dari meraka berwujud manusia sempurna hanya satu orang yang terlihat seperti manusia kakek tua yang duduk dikursi singgasananya.


"Yang Mulia, kenapa anda mengumpulkan para bangsawan iblis. Apakah ada sesuatu yang terjadi?" seorang iblis dengan wujud manusi bertanduk memulai pembicaraan.


"Saudaraku saat ini kerajaan ini diambang kehancuran, jika tak ada penerus yang akan memimpin kalian."


Semua menatap serius kearah Raja Erebos. Seakan keadaan ini adalah keadaan yang cukup genting bagi mereka.


"Tapi cucu anda Yang Mulia."


"Cucu terpikat dengan manusia mereka menikah dan memimpin kerajaan manusia, akan sulit membawanya kemari." Raja Erebos menatap serius semua iblis bangsawan yang berada disana.


"Lakukan upacar kebangkitannya, seluruh jiwa iblisnya akan melahap jiwa manusia dalam dirinya." Usul salah seorang dari mereka.


"Kita tidak bisa melakukannya, pangeran harus melakukannya dengan suka rela atau pangeran akan tewas saat upacara dilakukan." Sahut iblis yang lain.


"Kita tidak memiliki banyak waktu." Raja Erebos berdiri dari singgasananya dan mengamati setiap iblis disana. "Kita harus membuat dia melepaskan tanggung jawabnya dan menyerahkannya pada orang lain."


"Tapi bagaimana?" sahut salah satu bangsawan.


Raja Erebos menatap Iblis itu tajam. "Jika aku tahu caranya, aku tidak akan mengumpulkan kalian disini."


Saat semua orang tengah serius berfikir, tiba-tiba pintu besar ruangan itu terbuka dan terdengar langkah kaki seseorang yang masuk. Seorang iblis wanita masuk dengan pakaian yang minim dan menggoda memamerkan belahan dadanya, gadis yang cukup menawan dengan rambut coklat terurai. Iris mata hitam legam, hidung mancung dan bibir merah semerah darah. Kuku panjang tajam dan runcing, berjalan lenggak lenggok memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda. Saat wanita itu sampai dihadapan Raja Erebos dia membungkuk hormat.


"Maaf saya terlambat." Suara terdengar seperti gemerincing lonceng yang merdu membuat siapapun akan terpikat hanya dengan mendengar suaranya.


"Kau tepat waktu sayang." Raja Erebos menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Kenapa anda mengumpulkan para iblis bangsawan."


"Ada sedikit masalah, tapi pasti aku akan menyelesaikannya dengan cepat."


"Masalah? Boleh aku tahu?" Tanya iblis wanita itu manja.


"Tentu saja, kau juga seorang bangsawan."


Semua yang berada diruangan itu memandang kesal pada iblis wanita itu, sebenarnya iblis wanita itu bukanlah iblis bangsawan ataupun dari keluarga kerajaan. Dia hanya iblis penggoda biasa, yang entah bagaimana dia bisa memikat Raja Erebos.


Raja Erebos melepas pelukannya dari iblis wanita itu dan mengibaskan lengannya. Perlahan dihadapan mereka muncul gumpalan asap yang perlahan membentuk bayangan seseorang, hingga bayangan itu menunjukkan wajah sempurna Devian.


'tampan' pikir iblis wanita itu saat melihat wajah Devian.


"Dia adalah cucuku penerus dari kerajaan ini, kami harus membawanya kembali kesini sebelum dia terpikat dengan manusia."


"Aku akan melakukannya." Tawar iblis wanita itu.


"Bagaimana kau akan membawanya?" Tanya Raja Erebos penasaran.


"Anda akan tahu nanti, jika aku bisa melakukannya apa anda akan memberikan hadiah."


"Apapun akan ku berikan untuk mu sayang." Raja Erebos tersenyum.


...****************...


Devian dan Alice masih saling bertatapan, keheningan masih saja menyelimuti ruangan besar itu.


"Maafkan saya." Akhirnya Alice berbicara memecah keheningan.


"Sampai kapan kau akan terus minta maaf? " Tanya Devian dingin.


"Lalu saya harus bagaimana, semua sudah terjadi. Saya juga menyesal." Alice menunduk dengan wajah murung.


"Aku paling membenci orang yang melanggar aturanku dan aku tidak menerima kata maaf."


"Haruskah saya melompat dari atas menara, untuk membuat anda memaafkan saya." Tanya Alice sedikit kesal.


"Kau akan mati jika melompat dari sana."


Alice terdiam sejenak. "Bukankah kau menghukum orang dengan membunuh mereka." Gumam Alice lirih.


"Aku bisa mendengarnya. Jadi jaga bicaramu." Nada bicara Devian mulai kesal. "Aku ingin hukuman yang bisa aku nikmati." Devian berjalan turun dan mendekati istrinya.


"Hukuman yang bisa anda nikmati? " Tanya Alice bingung.


Devian berhenti tepat didepan Alice membuat gadis itu mendongak menatap suaminya. Devian menatap lekat wajah polos istrinya.


"Kau sudah tahu hukumannya?" Tanya Devian.


Alice menggeleng pelan. "Apa anda akan memberi hukuman yang berat? "


"Hmmm..  Sangat berat." Jawab Devian santai.


"Kau tidak pernah memelukku seperti ini." Goda Devian.


"Karen anda akan marah jika aku melakukannya."


"Bagaimana dengan tanganmu, dia menyakitimu semalam, harusnya aku juga pergi bersamamu."


"Tidak apa-apa, anda datang disaat yang tepat." Jawab Alice dengan tersenyum.


"Meskipun dia mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar." Alice terlihat murung.


"Apa yang dia katakan? " tanya Devian penuh selidik.


Alice menggeleng pelan mengusir setiap ingatannya semalam. "Tidak apa-apa, saya sudah melupakannya."


"Dia sudah dihukum dengan berat." Devian memeluk istrinya erat. "Bicara tentang hukuman, kita belum selesai."


"Apa maksud anda?" tanya Alice bingung.


"Ciuman hanyalah awal, bukankah harus ada kelanjutannya?" Devian memandang istrinya.


"Kelanjutannya? " Alice masih berfikir sejenak dan tak berapa lama dia mengerti maksud Devian.


"Ke.. Kelanjutannya? Saya tidak mengerti maksud anda." perlahan Alice berjalan undur menjauh dari suaminya.


"Kemana kau akan pergi? " Devian meraih tangan istrinya dan menariknya dalam pelukannya.


"Ayolah!! " Devian tersenyum mencoba menggoda istrinya.


Dan tanpa sempat dihindari oleh Alice Devian telah menciumnya lagi.


...****************...


Entah bagaimana, tapi kini keduanya sudah berada diatas ranjang big size di kamar Devian. Kamar Devian terhubung keruang singgasana, tertutup gorden dibelakang kursi singgasananya. Kamar yang luas dengan jendela-jendela berhias gorden dengan warna emas dan biru tua, disudut ruangan terdapat tempat senjata dan juga bendera berlambang kerajaan Aldwick. Di dinding terdapat lukisan-lukisan besar Devian. Terdapat satu set meja dan kursi untuk tamu dan kursi malas di depan perapian. Rak-rak berisi buku-buku bacaan menjadikan ruangan ini semakin lengkap.


Alice masih terlelap dalam pelukan Devian. Peluh masih membasahi tubuh keduanya, tubuh mereka ditutupi oleh selimut tebal berwarna merah marun. Pakaian mereka berserakan dilantai. Devian membelai lembut rambut istrinya, membuat gadis itu menggeliat manja.


"Kau tidak tidur." Tanya Devian.


Alice menggeleng pelan. Membenamkan tubuhnya kedalam lengan suaminya. Devian seakan mengerti dan memeluk istrinya.


"Sepertinya aku tidak melukaimu kali ini." Devian tersenyum bahagia.


"Tidak, Anda menggigitku tadi." Alice menyahut dan memandang suaminya.


"Aku melakukannya?" Tanya Devian tak percaya.


Alice menunjukkan luka gigitan di bahu, dada dan belakang lehernya.


"Maafkan aku." Devian mengecuk lembut setiap luka yang ia buat.


"Apa anda mencintaiku? " Alice memandang Devian serius.


Entah mengapa dia terus memikirkan perkataan Raja Alfred, ditambah perlakuan Devian kepada Ratu Jeslyn membuatnya semakin kalut.


"Aku mencintaimu." Jawab Devian lembut seraya mengecup kening istrinya. "Maaf aku tidak bisa mengatakannya setiap hari dan tidak bisa menjadi suami yang selalu melindungimu."


"Anda adalah suami yang baik Yang Mulia. Tidak peduli saat anda kembali menjadi seorang yang berbeda anda selalu peduli kepada saya." Senyuman bahagia terlihat jelas diwajah Alice. "Tapi, bolehkah saya bertanya sesuatu?" wajah Alice berubah menjadi murung.


Devian pun langsung memasang wajah serius. "Katakan!" perintahnya.


"Apa yang anda lakukan dengan Ratu Jeslyn?" Alice mengerucutkan bibirnya dari sorot matanya dia terlihat kesal.


Devian pun hampir tertawa saat pertanyaan itu muncul. "Kami hanya bicara." jawab Devian singkat.


"Benarkah, anda tidak melakukannya? " Tanya Alice penuh selidik.


"Melakukan apa? " tanya Devian pura-pura tidak mengerti.


"Melakukan seperti yang kita lakukan saat ini."


"Kenapa aku harus melakukannya dengan seorang nenek-nenek saat aku masih memiliki istri yang masih muda dan cantik."


"Jadi jika saya sudah menjadi nenek-nenek kau tidak akan menyukai saya lagi?" bukannya senang Alice malah semakin murung.


"Bukan begitu, aku akan selalu menyayangimu. Apa kau lupa janji itu? Janji itu ada untuk ditepati."


Devian menarik istrinya dalam pelukannya. 'Tak akan ku biarkan siapapun menyakitimu. Meskipun aku akan kehilangan nyawaku hanya untuk melindungimu.' kata Devian dalam hati.


TBC