I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
HellHound



Devian sedang berdiri bagian belakang istana, tepatnya di pemakaman istana. Dia berdiri menatap sebuah rumah kecil yang terlihat seperti rumah pemakaman. Rumah kecil yang terbuat dari marmer putih, dibagian depan terdapat 2 patung iblis bersayap.


"Yang Mulia, bisakah anda pikirkan ini lagi." Aiden mencoba mengubah keputusan Devian.


"Siapkan kuda, tunggu aku di gerbang utara. Aku akan menemuimu disana."


"Baik, Yang Mulia."


Devian segera melangkah kesana, membuka gerbang yang dicat hitam dan segera masuk kesana. Di dalam udara terasa begitu dingin. Saat kaki Devian melangkah masuk, satu persatu lilin mulai menyala. Devian menatap ujung dinding yang terukir beberapa simbol-simbol kuno. Devian melihat setiap simbol disana dan seketika itu iris merahnya menyala. Membuat simbol-simbol itu menyala merah, perlahan dari dalam tanah muncul sulur cahaya berwarna merah yang membentuk pola-pola aneh seakan membuat rangkaian melingkar. Hingga sulur itu kini membentuk seperti sebuah pintu dan saat itulah cahayanya mulai memudar dan berubah menjadi pintu yang penuh dengan gambar-gambar yang aneh. Devian segera melangkah kesana dan pintu terbuka dengan sendirinya.


Saat Devian telah melewati pintu tersebut, perlahan pintu tersebut memudar seakan meleleh dan hilang. Kini, di depannya terlihat pintu gerbang besar dan menjulang tinggi. Di kedua sisinya terdapat pilar tinggi menjulang dan di bagian atas dari pilar-pilar terdapat dua patung iblis bersayap seakan mengawasi siapa saja yang datang kesana. Pada pintu tersebut juga memimiliki gambar-gambar timbul, berbagai iblis terlihat jelas disana seakan mereka adalah iblis hidup yang ditempel disana. Devian segera melangkah masuk kesana.


Devian kini berada di koridor yang gelap, dinding dinding Batu hitam legam seakan menambah hawa mencekam di sekitar tempat itu.


"Siapa disana? " sebuah suara menghentikan Devian.


Terdengar langkah kaki seseorang yang menyusulnya dengan cepat. Seorang iblis penjaga dengan wajah yang cukup menyeramkan,  Devian mengamati penjaga itu dengan iris merahnya.


"Siapa aku? " Devian menatap tajam penjaga itu.


Tubuh penjaga itu bergetar saat melihat mata Devian. Kini dia berubah ketakutan dan segera menjatuhkan dirinya bersimpuh memohon maaf pada Devian.


"Ma.. Maafkan hamba Pangeran, hamba tidak tahu anda sedang berkunjung." Keringat dingin terus keluar dari tubuhnya.


"Kau sudah menyadari situasimu? Dimana kakek?


" Devian mengedarkan pandangannya keseluruh koridor.


"Yang Mulia sedang keluar, ada masalah yang harus beliau selesaikan."


"Bangunlah! Aku tidak punya banyak waktu." perintah Devian.


Iblis itu segera berdiri dan menunduk dalam. Devian menepuk bahu iblis tersebut.


"Lupakan apa yang kau lihat, ini perintah." iris mata Devian kembali bersinar dan iblis itu segera terjatuh tak sadarkan diri.


Devian kembali berjalan menuju sebuah ruangan bawah tanah. Disana terdapat sel-sel tahanan yang dipenuhi makhluk-makhluk aneh.


"Sepertinya, koleksi-koleksinya sudah bertambah."


Langkah kaki Devian terhenti di sel paling ujung. Devian mengamati sel itu seksama, iris merahnya mengamati setiap sudut sel besi itu.


Ggrrrr...


Terdengar suara geraman dari dalam sel yang cukup gelap, suara geraman semakin keras saat sebuah kaki anjing yang sangat besar muncul dari balik kegelapan. Bersamaan dengan itu kepala anjing besar muncul, menggeram dengan memamerkan gigi runcingnya. Air liur menetes keluar, anjing seukuran beruang grizzly kini menampakkan seluruh tubuhnya. Namun, Devian tersenyum saat melihatnya.


"Lama tak melihatmu, black."


Seketika anjing Itu berhenti menggeram mendengar namanya disebut Devian, tidak bukan karena namanya dipanggil olehnya tapi karena dia dapat merasakan tuannya telah kembali.


Iris mata Devian mulai bersinar, seketika itu perlahan besi-besi sel meleleh dan menghilang dalam sekejap. Saat penghalang mulai menghilang anjing itu segera melompat kearah Devian seakan ingin bermain dengan tuannya. Devian segera mengulurkan tangannya dan mengelus anjing itu pelan.


"Kau dikurung lagi? Karena kekuranganmu yang tak bisa bermutasi saat lahir. Kita memiliki kesamaan karena itu kau memilih terikat denganku." Devian menatap mata anjing itu.


'Anda ingin bermain? ' terdengar suara anjing itu di benak Devian.


Devian menggeleng, "Aku ingin membawamu keluar dari sini, sebelum kakek datang sebaiknya kita pergi."


Guk...


Terdengar gonggongan kuat dari anjing itu. Devian tersenyum melihat tingkah anjingnya itu.


Di gerbang utara istana aldwick, Aiden menunggu tuannya dengan wajah sedikit gelisah. Sudah cukup lama dia menunggu tuannya, tapi dia tak kunjung muncul. Tak jauh dari tempatnya berdiri, dua ekor kuda tengah menikmati rerumputan dibawah pohon. Mendadak, kedua kuda itu terlihat mulai gelisah. Saat Aiden hendak menenangkan kedua kuda tersebut. Sulur-sulur cahaya mulai muncul dari bawah tanah, Aiden segera mencengkram kuat gagang pedangnya. Matanya terus waspada melihat sulur merah mulai membentuk pola-pola hingga berbentuk pintu besar.  Aiden semakin waspada saat pintu terbuka, tapi dia segera tenang saat melihat tuannya keluar dari sana.


Ggrrrr.....


Suara geraman kembali terdengar, membuat Aiden kembali waspada. Geraman anjing itu juga membuat panik kedua kuda yang Aiden bawa.


"Black, tenanglah dia bersama denganku." jelas Devian.


'Baunya seperti manusia.' komentar anjing tersebut.


"Jangan lukai dia." Devian menatap anjing itu tajam.


"Anda membawa seekor hellhound?" tanya Aiden tak percaya.


"Berikan gaunnya!!" Devian menatap Aiden.


Dengan cepat Aiden mengambil gaun yang berada di atas kudanya dan segera menyerahkan gaun tersebut pada Devian.


"Yang Mulia, haruskah anda bertindak sejauh ini? " tanya Aiden seakan tak percaya.


"Aku tak bisa menunggu lebih lama." Devian segera mengambil gaun itu dan beralih pada anjing besarnya. "Cari pemilik pakaian ini!! " perintah Devian.


Perlahan anjing besar itu mulai mengendus gaun berwarna biru itu, segera setelah mengendus gaun dia beralih pada udara sekitarnya dan tanah dibagian bawah.


'Aku mendapatkan aromanya'


"Bagus temukan dia! " perintah Devian. "Aku akan mengikutimu dari belakang. "


Devian segera menunggangi kudanya, begitu pula Aiden. Anjing hellhound segera berlari melacak keberadaan orang yang saat ini di cari Devian.


Di lokasi berbeda, dua orang pria tengah duduk saling berhadapan. Di depan mereka terdapat dua cangkir teh yang tinggal separuh.


"Tuan Adrian, Aku harus memastikan keamanan Alice sebelum melakukan serangan besar." Lawan bicaranya memberi alasan.


"Kau hampir kehilangan seperempat dari prajuritmu, Tyler." Adrian menatap Tyler tajam.


"Hanya beberapa orang tuan, tak sebanyak itu."


Tyler mencoba membela diri.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Adrian.


"Aku masih menyusun rencana untuk serangan berikutnya, dia bukan orang biasa aku harus menyusun rencana dengan matang." jelas Tyler.


"Dimana istri Devian sekarang?" tanya Adrian.


"Kenapa anda ingin tahu? "


"Hanya ingin memastikan saja, boleh aku menemuinya? "


"Aku tak keberatan, tapi bagaimana jika anda ketahuan menyerang saudara anda sendiri."


"Itu akan menjadi urusanku."


"Apa anda... " Tyler menatap Adrian penuh curiga.


"Berkhianat?" tebak Adrian cepat, di iringi tawa.  "Bagaimana aku melakukannya? Lalu aku akan menyerah dengan tujuanku? Jangan bercanda Tyler, Aku tak ingin membantu Devian."


"Baiklah, tapi untuk berjaga-jaga akan beberapa orang ku yang akan mengikutimu."


"Tentu, aku tak keberatan." Adrian tersenyum yang lebih mirip dengan seringaian.


Adrian sampai didepan ruangan yang digunakan untuk menyekap Alice. Saat dia sampai seorang pelayan baru saja keluar dari sana dengan nampan di tangannya. Wanita paruh baya itu membungkuk memberi hormat.


"Bagaimana keadaannya? " tanya Adrian pada pelayan itu.


"Dia tak menyentuh makanan sudah seharian penuh dia belum makan."


"Kau boleh pergi."


Adrian perlahan membuka pintu tersebut. Dia segera masuk kesana dan menutup pintu pelan. Di sana dia melihat Alice yang berbeda, gadis itu tengah duduk menatap kosong ke luar jendela. Matanya terlihat sembab. Penampilan kacau, tapi entah kenapa dia masih tetap terlihat cantik untuk Adrian.


"Alice." sapa Adrian lembut.


Seakan baru tersadar, Alice menatap pelan kearah Adrian. Alice sedikit menyipitkan matanya dan tak berapa lama dia segera berdiri.


"A.. Adrian? Apa yang... "


"Sssttttt... " Adrian meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat pada Alice untuk diam. "Pelan-pelan saja, jangan sampai ketahuan." Bisik Adrian.


"Apa yang kau lakukan disini? " tanya Alice dengan suara lirih.


"Aku? " Sejenak Adrian kembali berfikir untuk memberikan jawaban yang tepat.


"Apa kau kesini menyelamatkan Devian? " tanya Alice tiba-tiba.


Adrian mengangguk sebagai jawabannya. "Aku belum bisa membawamu pergi sebagian pengawal membawa Raja secara diam-diam, dan... "


"Tidak apa-apa, saat ini yang terpenting dia selamat. Jika dia baik-baik saja, katakan padanya aku juga baik-baik saja. Aku akan menunggunya sampai dia menjemputku."


"Tenang saja, aku akan menjemputmu saat pasukanku kembali."


"Terimakasih Adrian, maaf aku sempat salah paham padamu."


"Kau belum makan? " tanya Adrian melirik makanan di atas meja Alice.


"Aku tidak lapar." gumamnya pelan.


"Tapi kau harus, aku tidak ingin kau sakit. Raja pasti sedih jika melihatmu sepeti ini."


"Tapi kau harus, aku tidak ingin kau sakit. Raja pasti sedih jika melihatmu sepeti ini."


"Nanti akan aku makan."


"Kau menangis sepanjang hari? "


Alice mengangguk dan menunduk dalam. Ingatannya kembali pada Devian. Bahkan, mungkin saat ini Devian pasti tidak sadar kalau dirinya menghilang.


"Bagaimana keadaan Devian? " tanya Alice.


"Dia terluka cukup parah." jawab Adrian berbohong.


Air mata Alice perlahan mulai turun lagi. "Apa dia akan selamat?"


"Entahlah, aku juga tidak yakin. Ada kemungkinan dia akan mati."


Kini Alice mulai terisak, perlahan Adrian mulai mendekat dan menarik Alice kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


'Alice, tunggulah saat aku akan menyingkirkan Devian dari hidup mu. Pada saat itu aku akan menjadi raja, untuk setiap kerajaan yang ditaklukkan olehnya termasuk corfe, tentu saja setelah aku menyingkirkan sibodoh Tyler' Adrian memamerkan seringainya yang menyeramkan.


... sekedar info hellhound adalah anjing penjaga neraka. Mereka biasanya bermutasi saat lahir, kadang memiliki mata tiga, kepala tiga, atau berekor ular. Ukuran terbesar hellhound adalah sebesar beruang grizzly tergantung kekuatannya. Hellhound dapat berbicara dengan iblis dan mereka akan terikat dengan salah satu iblis yang mereka pilih. Selain itu hellhound memiliki kemampuan yang luar biasa, mereka tidak akan terbakar oleh api,  meskipun dalam udara dingin dapat mengurangi tingkat kesadarannya....


TBC