
Sinar Mentari perlahan masuk kedalam kamar Alice. Tirai putih tipis perlahan mengembang tertiup angin pagi yang menembus celah-celah jendela. Nampak perlahan tubuh Alice menggeliat dibalik selimutnya. Lenguhan lembut terdengar dari bibirnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Masih setengah sadar gadis itu mengerjapkan matanya mengusir rasa kantuk yang masih melekat.
"Mimpi yang sangat indah." Gumamnya dengan senyum lebar yang terukir jelas di bibirnya.
Saat ia hendak berbalik kesisi tempat tidurnya, dia merasa tubuhnya begitu lelah dan sedikit sakit. Perlahan dia berbalik dan seketika itu matanya membulat sempurna begitu melihat sosok lain di ranjangnya, dia tertidur dengan lelap. Alice hampir berteriak namun suaranya tertahan di kerongkongan. Dia segera menutup mulutnya menahan setiap teriakan yang ingin menerobos keluar untuk melampiaskan rasa terkejutnya.
'A.. Apa yang terjadi?? Ke.. Kenapa Devian ada disini. Aku dalam satu selimut dengannya.'
Kepala Alice terasa berputar-putar. Saat angin berlahan berhembus menembus sela-sela selimutnya dia dapat merasakan belaian angin diseluruh permukaan kulitnya. Ragu dengan tangan bergetar gadis itu mengintip di balik selimut. Cepat dia kembali menutup selimutnya, dia mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar, keadaan kamar yang begitu berantakan. Gaun yang ia kenakan semalam sudah bertengger diatas kursi dekat ranjangnya, terlihat gaun itu koyak dibeberapa bagian. Beberapa pakaian dalam sudah berserakan diatas lantai dan di ujung ranjang. Kepala Alice terasa berdenyut, dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Sekelebat bayang muncul. 'Lupakan, kau tak harus mengingat ini' dan bayangan itu berakhir dengan iris merah Devian.
"A.. Apa yang terjadi kenapa aku tak mengingat apapun, mimpi apa aku semalam." Gumam Alice panik.
Alice menatap Devian yang masih terlelap, terlihat separuh dada bidangnya yang tidak tertutup selimut, bahu lebar dan lengan berotot. Badan yang tidak kurus tapi juga tidak gemuk, cukup berisi dengan otot-otot yang Indah. Kulit putih pucat yang begitu mulus. Sesaat Alice tergoda, namun dia segera menggeleng cepat mengusir setiap pikiran aneh diotaknya. Gadis itu segera beralih mencoba meraih gaun dikursi, agar dia dapat segera menjauh dari ranjangnya dan berganti pakaian yang layak sebelum Devian bangun. Namun, itu tidak mudah karena dia tak bisa mencapai gaun itu jika tidak keluar dari dalam selimut yang berarti dia harus keluar dengan tubuh polosnya. Alice terus berusaha hingga tubuhnya hampir saja jatuh dari tepi ranjang, kalau saja tangan seseorang tidak menarik pinggangnya.
Mata Alice membulat kaget, dengan mudah Devian menarik istrinya, mendekap gadis itu dalam pelukannya. Alice menatap wajah Devian, dia terlihat masih memejamkan matanya.
"Tetaplah seperti ini sebentar." Gumam Devian.
"Ya.. Yang Mulia, tapi saya... "
Chup..
Kecupan kilat dari bibir Devian terasa begitu lembut dibibir Alice. Alice memejamkan matanya menutup erat matanya, namun Devian perlahan membuka matanya iris merahnya telah berubah biru entah sejak kapan. Tapi yang jelas Devian memperlakukan gadis itu lembut. Devian menghentikan ciumannya dan memeluk erat istrinya. Alice membenamkan wajahnya kedalam dada bidang suaminya, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bagai udang rebus.
"Maaf, semalam aku lepas kendali." Gumam Devian lembut sambil membelai rambut gadis didalam pelukannya.
Bingung Alice menatap Devian seakan menuntut penjelasan.
"Aku menghapus sedikit ingatanmu, karena aku tidak ingin kau melihat sosok itu." Devian terlihat begitu menyesal. "Harusnya aku melakukannya saat kau dalam keadaan lebih baik, bahkan sekarang keadaanmu terlihat lebih buruk."
"Yang Mulia saya juga bersalah, karena meminta anda untuk tinggal disini." Semburat merah terlihat kembali di wajah Alice.
"Tapi aku melukaimu." Jemari Devian menyusuri kulit mulus istrinya.
Terlihat luka lebam dan juga luka gores baru di atas kulit mulus gadis itu. Setiap kali jemari Devian mengenai luka tersebut Alice sedikit meringis menahan perih. Ekspresi menyesal terlihat jelas diwajah Devian. Alice segera menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Devian, senyum tulus terukir diwajah gadis itu.
"Bukankah ini bukan dosa, kita sudah menikah." Alice mencoba menghibur Devian juga dirinya sendiri.
"Tapi aku melukaimu.."
"Tak apa, anda tak sengaja."
Devian tersenyum dan mengucup dahi istrinya. "Terimakasih dan maaf. Aku tidak akan melakukan hal yang membahayakanmu lagi." Devian kembali mendekap Alice erat.
...****************...
Diluar ruangan kamar Alice, beberapa pelayan dan perawat telah menunggu didepan pintu. Sudah cukup lama mereka menunggu diluar, Beryl dan Aiden berdiri tepat didepan pintu kamar menghadap para pelayan yang sedikit mulai kesal.
"Beryl, kenapa kau tidak membangunkan Yang Mulia Alice. Berapa lama lagi kami harus menunggu." Tanya seorang kepala pelayan gusar.
"Maafkan aku nyonya Bert hari ini aku tidak bisa membangunkan Ratu sebelum, dia bangun sendiri." Jawab beryl menyesal.
"Hah.. Lalu apa tugasmu, bukankah itu tugasmu?" nyonya Bert membentak Beryl kesal.
Beryl menatap Aiden yang berdiri disampingnya seakan memohon bantuan dari pria disampingnya.
"Nyonya Bert, bisakah anda pergi dulu anda dan semua yang disini bisa kembali setelah satu jam. Yang Mulia Alice mungkin masih butuh banyak istirahat saat ini." Aiden mencoba menenangkan nyonya Bert.
Dengan kesal nyonya Bert menatap Aiden dan segera berbalik. "Baiklah aku akan kembali lagi nanti Tuan Aiden."
Nyonya Bert melangkah dengan gusar membuat tubuh besar penuh lemak ditubuhnya bergerak seirama dengan langkah kakinya, semua pelayan dan perawat segera menyusul nyonya Bert.
Setelah nyonya Bert menghilang di belokan ujung lorong, Beryl segera bernafas lega. Dia menjatuhkan lengannya seakan tenaganya habis untuk melawan wanita gemuk tadi. Namun, wajah lega itu langsung menghilang begitu ingat Ratunya masih didalam bersama Raja Devian.
"Kau kenapa nona Beryl?" Tanya Aiden.
"Aku hanya penasaran apa yang terjadi pada Yang Mulia."
*flash back*
Lorong depan kamar Alice begitu sepi, di depan kamar itu terdapat satu set meja dan kursi. Aiden dan Beryl duduk dikursi itu menunggu tuan mereka yang berada didalam kamar.
"Malam sudah larut nona Beryl, kembalilah ke kamarmu untuk istirahat. Sebentar lagi mungkin Yang Mulia Devian akan keluar begitu Ratu terlelap." Aiden menatap Beryl yang mencoba menahan kantuk.
"Tapi bagaimana jika Yang Mulia Alice butuh sesuatu?" tanya beryl khawatir.
"Dia pasti akan.... "
Brak.....
Mendadak terdengar suara benda yang jatuh dari dalam kamar Alice, panik Beryl hendak berdiri dan melangkah ke arah depan pintu hendak meraih gagang pintu besar didepannya. Namun, tangan Aiden segera menggenggam tangan Beryl yang hendak meraih gagang pintu. Beryl menatap Aiden yang terlihat memasang ekspresi waspada.
'Aaaa...' terdengar teriakan Alice dari dalam, membuat Beryl semakin panik.
"Ta.. Tapi tuan Aiden bagaimana jika nona terluka dia berteriak. Dia baru saja sadar."
"Bisakah kau tenang, aku bahkan tak yakin apa yang harus aku lakukan." Aiden mencoba menengkan Beryl.
'Diamlah.. Sedikit lagi.. Bisakah kau diam dan menahannya.. " terdengar Teriakan kesal Devian.
Mendengar teriakan Devian, seketika otak Aiden mulai bekerja cepat. Pria itu menatap gadis didepannya yang tengah panik untuk mencoba masuk kedalam.
"Ayo.. Kita pergi dulu." Aiden segera menarik tangan Beryl menjauh dari sana.
"Ta.. Tapi Yang Mulia.. "
"Dia akan baik-baik saja. Kau hanya harus menjauh dari sana." Aiden semakin mempercepat langkahnya.
*flash back end*
Aiden hanya berdehem dan mencoba untuk tidak mengingat kejadian semalam.
"Apa mereka baik-baik saja, bagaimana jika orang jahat itu melukai Raja dan Ratu?" Beryl terus mencecar Aiden dengan pertanyaan.
"Mereka akan baik-baik saja." Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari mulut Aiden.
"Haruskah anda memastikannya? " tanya Beryl lagi. "Anda dan Yang Mulia cukup dekat dia tidak akan marah pada anda jika anda masuk kesana sekarang? "
"Nona Beryl, aku mohon diamlah. Mereka akan baik-baik saja." Aiden menatap kesal Beryl.
Melihat tatapan itu Beryl segera menunduk dalam menyembunyikan rasa takutnya.
...****************...
Di kamar Alice, Terlihat Rambut Devian yang tidak beraturan dia tengah berdiri didepan jendela dengan selimut melingkupi seluruh tubuhnya, tapi jika dilihat lebih dekat didepannya Alice berdiri didalam selimut yang sama dalam dekapan pria itu. Terlihat pasangan yang tengah menikmati sinar Mentari yang masuk menembus jendela besar di kamar itu.
"Aku merasa masih bermimpi." Gumam Alice.
"Kau sudah bangun satu jam yang lalu." Gumam Devian mengingatkan.
"Anda benar, tapi ini seperti mimpi. Yang Mulia aku benar-benar menyukainya." Senyum lebar menghiasi wajah cantik Alice.
"Menyukainya? " Tanya Devian heran.
"Hmmm.. Aku menyukai anda Yang Mulia." Alice menyembunyikan wajahnya yang mulai bersemu merah.
Senyum juga terlihat menghiasi wajah Devian. "Benarkah? Kau hanya menyukaiku? " Devian mencoba membuat nada kecewa.
"Hmmm.. Kenapa?" Tanya Alice bingung.
"Bukankah kau juga menyukai Beryl dan juga temanmu. Apa kau menyamakan aku dengan mereka? " Devian sedikit mengerucutkan bibirnya.
Alice berbalik dan menatap Devian bingung. "Anda berbeda, lebih dari suka yang aku rasakan untuk mereka. Aku mencintai anda Yang Mulia apa anda tidak mengerti? " Alice mengerucutkan bibirnya frustasi.
Senyuman menghiasi wajah Devian. Pria itu menangkupkan tangannya diwajah istrinya. "Terimakasih, ternyata aku begitu beruntung. Aku seorang Raja, memiliki seorang istri cantik yang juga mencintaiku." Devian menarik wajah istrinya mendekat dan mengecup lembut kening istrinya.
"Tapi ruangan ini begitu kacau, bagaimana jika pelayan melihatnya." Gumam Alice pelan.
"Kenapa memangnya, ini tugas mereka." Devian berbalik dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
Bulu-bulu angsa dari bantal berserakan di sepenjuru ruangan. Kasur yang koyak seperti bekas cakaran. Kursi-kursi yang bergeser dan sebuah rak yang hancur dengan buku berserakan di lantai.
"Bagaimana rak itu bisa hancur? Apa yang sebenarnya terjadi." Tanya Alice bingung.
Dengan canggung Devian mengalihkan pandangannya. "Ehmm.. Entah aku juga tak ingat, yang jelas aku melakukannya sebelum aku benar-benar melukaimu."
Dalam suasana canggung seseorang terdengar suara ribut dibalik pintu.
'Maaf, tapi Yang Mulia Alice harusnya sudah bangun. Sudah 2 kali kami harus bolak balik kemari tuan Aiden. Sudah cukup apapun yang terjadi kami akan masuk.'
Alice memandang Devian panik. "Bagaimana jika mereka masuk"
"Memangnya kenapa? Kau bilang yang kita lakukan bukan dosa." Jawab Devian santai.
"Tapi... "
Brakkkk....
Terdengar pintu yang dibuka paksa dan beberapa mata tengah menatap kearah pasangan yang masih di dalam balutan selimut tebal didepan jendelanya....
TBC