I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 31



Saat Alice membuka matanya keadaan begitu berbeda. Gelap, semua terlihat sangat gelap, dia mengedarkan pandangannya mencoba menerka dimana dia sekarang. Tapi, tak cukup cahaya dia hanya bisa melihat dirinya yang berdiri sendirian. Alice kembali mengedarkan pandangannya kini lebih teliti. Saat itulah ekor matanya menangkap sosok lain. Pria dengan Iris merah menyala.


"Yang Mulia, apa anda disana?" panggil Alice sedikit lega.


Gadis itu berjalan kearah pria itu, tapi semakin mendekat wajah itu terlihat berbeda. Wajah keriput, lebih tepatnya dia seorang kakek tua. Saat Alice semakin mendekat orang itu menghilang seperti asap.


"Kau hanya tawananku." Terdengar suara Devian menggema di seluruh penjuru ruangan itu.


Alice kembali mengedarkan pandangannya, tiba-tiba udara terasa begitu dingin. Dengan takut Alice kembali mengedarkan pandangannya.


"Si.. Siapa disana!! "


Tak ada sahutan, hanya suara Alice yang menggema. Perlahan gadis itu melangkah, tapi ada sesuatu yang aneh dibawah kakinya. Dia menginjak cairan lengket, perlahan gadis itu menunduk memeriksa apa yang baru saja diinjaknya. Samar tapi dia dapat memastikan cairan kental berwarna merah. 'Darah' pikir gadis itu.


Kini rasa takut benar-benar mulai menguasainya, ragu dia mengedarkan pandangannya lagi. Meski samar tapi dia dapat melihat mayat-mayat dengan kondisi yang sangat mengenaskan tergeletak di sembarang tempat, ada beberapa mayat yang saling bertumpukan. Iris biru gadis itu terus mengamati setiap mayat disana dengan ngeri dan saat pandangannya sampai diujung, disana dia melihat seorang pria dengan iris merah dan rambut perak.


"Devian" Gumam gadis itu lirik.


Entah mengapa tapi dia kini merasa sedikit lega, dengan langkah tergesa gadis itu berlari menuju suaminya. Tapi, langkahnya terhenti saat dari belakang suaminya muncul dua makhluk mengerikan. Makluk berbadan besar, memiliki warna kulit merah, dengan tanduk besar dikepalanya tak lupa ditangan makhluk itu membawa senjata gada berduri yang lebih mirip seperti besi yang tengah dibakar diatas bara api. Makluk yang satunya tidak kalah menyeramkan hampir seluruh tubuhnya bersisik hijau, di sepanjang punggungnya terdapat sirip dengan duri duri tajam, telinganya berbentuk aneh tangannya juga berselaput disana dia membawa sebuah tombak dengan ujungnya yang runcing. Masing-masing dari makluk itu memiliki badan besar dan tinggi bahkan lebih besar dari seekor gajah sekalipun.


"Devian lari!!! " Alice berteriak sekeras mungkin agar suaminya dapat mendengarnya. "Cepat pergi dari sana!! " Alice kembali berteriak tapi Devian tak bergerak seakan tak mendengarnya.


Kedua makhluk itu kini berdiri dikedua sisi Devian. Mereka menunduk pada Devian. Melihat itu Alice kembali terdiam. Perasaan lega yang ia rasakan saat melihat Devian kini telah berganti dengan ketakutan. Pada saat itu gadis beriris biru itu baru sadar, bahwa Devian juga membawa sebilah pedang yang penuh dengan darah segar yang masih melekat disana. Mata gadis itu membelalak kaget. Alice terus menatap Devian penuh ketakutan, pada saat itu dia menangkap pergerakan bibir Devian.


"Bunuh dia!!" gumam Devian lirih.


Perlahan gadis itu berjalan, mundur mencoba menjauh. Tapi kedua makhluk mengerikan itu telah berada disampingnya, mengarahkan senjata-senjata mereka kearah gadis itu. Alice memejamkan matanya dan berteriak sekuat tenaga berharap makhluk-makhluk itu tak akan melukainya.


...****************...


Alice membuka matanya lebar, nafasnya terengah-engah. Peluh kini membasahi seluruh tubuhnya.


"Mimpi." Gumamnya lega.


Buru-buru gadis itu meraih gelas berisi air putih disamping ranjangnya, menghabiskan semua dalam sekali teguk. Dia masih berusaha mengatur nafas dan menenangkan dirinya. Detak jantungnya masih berpacu dengan cepat. Tak berapa setelah Alice mampu mengendalikan dirinya kini dia baru sadar jika ada orang lain tengah memperhatikannya. Orang yang juga berada dalam mimpinya.


"Ya.. Yang Mulia!" gumam Alice lirih.


"Bersiap dan temui aku dikastil utama." perintah Devian dingin.


Pria itu tak bicara apapun lagi dan langsung keluar dari ruangan Alice. Dengan lesu gadis itu turun dari ranjangnya. 'Kenapa aku harus bangun disaat seperti ini?' pikirnya sedih.


Pikiran Alice masih melayang ingatannya kembali pada kejadian di kerajaan Raja Alfred. 'Dia membunuh meraka, mereka semua. Apa aku akan berakhir seperti mereka? ' pikir Alice dengan wajah murung. 


Tak berapa lama setelah Alice selesai membersihkan diri dan berpakaian dia segera pergi ke kastil utama untuk menemui suaminya.


...****************...


Tiga orang tengah berada dalam ruangan dua kursi ditempatkan di ujung ruangan dengan tempat yang lebih tinggi, salah satu dari mereka terlihat duduk dikursi itu dan seorang lainnya tengah berdiri disampingnya. Di tengah ruangan seorang gadis tengah menunduk dalam dengan wajah menyesal. Tak ada suara apapun begitu sunyi.


Suasana yang begitu canggung, Alice yang seakan kini menjadi tersangka yang akan dihakimi dan hakim yang begitu dingin tengah memandanginya dengan ekspresi yang begitu sulit diartikan. Ya, Devian dia masih belum mengatakan apapun sejak setengah jam yang lalu, membuat suasana sunyi ini menjadi semakin canggung.


"Hmmm.. " akhirnya suara deheman Aiden memecah keheningan meskipun hanya sesaat.


Devian melirik bawahannya. "Sebaiknya kau keluar." Perintah Devian.


"Ta.. Tapi Yang Mulia...."


"Baik Yang Mulia saya akan keluar." Dengan cepat Aiden segera keluar dari ruangan itu.


Perlahan Alice mengangkat wajahnya dan menatap Devian yang duduk disinggasananya pada saat itulah mata mereka bertemu dan saling pandang. Suasana kembali sepi, Alice maupun Devian keduanya masih terdiam tak ada yang bicara.


...****************...


Di tempat lain, disebuah ruangan dengan cahaya remang terdapat beberapa orang yang tengah mengenakan jubah coklat dan menutup kepala mereka dengan tudung. Lima orang tengah membentuk lingkaran, mulut mereka berkomat-kamit merapalkan kalimat-kalimat yang begitu sulit dimengerti. Tak berapa lama dari bagian tengah lingkaran muncul lingkaran api yang membesar membentuk simbol-simbol aneh.


Tak berapa lama kemudian asap hitam muncul dari bagian tengah lingkaran asap yang menebal dan perlahan mulai menghilang dari kepulan asap itu terlihat sosok yang tengah berdiri, seorang pria paruh baya dengan jenggot putih panjang dan Iris merah menyala.


"Siapa yang berani memanggil Raja Erebos?" suaranya terdengar begitu keras dan berat.


Semua yang melakukan ritual itu langsung menunduk hormat, tapi tak ada yang berani bicara. Dari dalam kegelapan muncul seseorang yang juga memakai jubah dengan tudung dikepalanya, jubah berwarna biru tua yang terbuat dari beludru.


"Saya yang memanggil anda, tuanku." Pria itu langsung membungkuk hormat.


Raja Erebos memandang pria di depannya waspada. Pria itu membuka tudung kepalanya perlahan, iris abu-abunya menatap Raja Erebos dan sudut bibirnya tertarik membentuk seringai khas diwajahnya.


"Lama tidak berjumpa." Sapa pria itu.


"Adrian, kenapa kau melakukan upacara terlarang ini lagi?" Tanya Raja Erebos kesal.


"Anda sudah tahu alasannya, kali ini anda harus membantuku lagi."


"Anda sudah tahu alasannya, kali ini anda harus membantuku lagi."


"Terakhir aku membantumu putriku terbunuh."


"Kalian keluarlah, aku ingin bicara secara pribadi dengannya." Adrian memerintahkan semua orang keluar.


Setelah hanya tinggal mereka berdua, Adrian berjalan mendekat kearah Raja Erebos.


"Kau sama sekali tidak takut padaku?"


"Kenapa aku harus takut, saat anda memiliki perjanjian yang mengharuskan anda untuk tidak membunuh manusia lagi. Karena itulah anda memiliki kutukan itu."


"Kau tahu lebih banyak dari yang aku duga."


"Bukankah itu Bagus, anda tak akan pernah bisa memiliki Putra maupun penerus untuk kerajaanmu dari kalangan iblis. Tapi diluar dugaan putrimu menikah dengan ayahku saat ibuku sekarat dan selang berapa tahun mereka memiliki Putra dari upacara penyatuan darah. Dia kemudian mengambil alih posisiku dan semua yang harusnya menjadi miliku disini. Ibuku mati dalam keadaan yang menyedihkan dan dia juga harus merasakan yang sama dengan bantuanmu." Adrian menatap Raja Erebos dari matanya terlihat kemarahan yang selama ini dia simpan.


"Kau menginginkannya di duniamu dan aku ingin dia menghilang dari duniaku. Bukankah mudah saja, bawa dia dan aku bisa mengambil semua yang aku miliki."


"Sayang sekali dia masih terikat dalam tanggung jawabnya sebagai Raja, sebelum dia memutus ikatan itu aku tak bisa melakukan apapun karena dia diluar kekuasaanku."


"Aku memiliki kabar buruk untukmu, dia sudah menikah dengan seorang manusia."


Mendengar itu mata Raja Erebos membulat, ekspresi terkejut terlihat jelas diwajah keriputnya. "Apa?"


"Ya, dia menikahi seorang manusia. Bahkan aku dengar mereka sudah melewati malam pertama mereka. Bagaimana jika dia melakukan upacara penyatuan darah. Mereka tidak akan bisa dipisahkan lagi."


Raja Erebos terdiam sejenak dan berfikir. "Kau lebih busuk dari iblis Adrian. Tapi aku menyukainya." Raja Erebos tersenyum.


TBC