I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 36



"Ayo kita menikah!! Bukan dengan caramu tapi dengan caraku." Devian masih menatap Alice serius.


Alice terdiam membeku, butuh waktu sedikit lebih lama untuk mecerna kalimat yang baru diucapkan Devian. "Me.. Menikah?" Tanya Alice terkejut.


"Aku.. "


"Tunggu.. Tunggu sebentar." Alice memotong Devian sebelum bicara. "Anda melamarku? " Tanya Alice dengan wajah merona.


Devian yang kini menatap gadis itu bingung. Kenapa masih bertanya jika itu semua sudah jelas. Itulah yang saat ini dipikiran Devian.


"Biar aku jelaskan dulu." Devian mencoba untuk menjelaskan maksud dan tujuan yang sesungguhnya.


"Anda benar-benar melamarku?" Alice masih menanyakan hal yang sama. Gadis itu kini terlihat begitu antusias. "Apakah ini mimipi? " tanya gadis itu masih belum dapat percaya bahwa ini adalah nyata.


Senyum bahagia terlihat jelas diwajah Alice membuat Devian tak meneruskan niatnya untuk menjelaskan maksud dan tujuan dari pernikahan ini.


*flash back*


Beberapa saat setelah Devian membunuh celline, dia terus memikirkan setiap kemungkinan bagaimana iblis wanita itu bisa berada di istananya dan apa tujuannya. Tapi dia tak dapat menemukan jawaban dalam pikirannya. Devian segera bangkit dari kursi.


"Yang Mulia, anda mau kemana?" Tanya Aiden cemas.


"Bereskan semua kekacauan ini, aku harus menemui seseorang." Dengan langkah terburu-buru Devian segera keluar dari ruangannya.


Langkah kaki Devian berhenti di sebuah mansion besar di komplek istana bagian Selatan, sedikit jauh dari kastil utama. Beberapa penjaga yang berpapasan dengan Devian langsung memberi hormat pada Raja muda itu.


Sesampainya Devian didepan pintu besar mansion tersebut Devian segera mengetuk pintunya. Sejujurnya ini pertama kalinya Devian menginjakkan kaki dimansion ini. Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


"Yang Mulia." Pelayan tersebut langsung menunduk memberi hormat.


"Dimana a.. " Devian terdiam sejenak dan memikirkan hal lain. "Dimana Raja Aaron? Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengannya."


"Beliu berada diruang baca Yang Mulia, mari saya antar anda kesana."


Pelayan itu membawa Devian masuk, melewati setiap ruangan-ruangan besar di dalam mansion besar itu. Tak berapa lama mereka tiba di sebuh ruangan dengan pintu besar yang terbuat dari kayu. Pelayan itu langsung mengetuk pintu.


"Yang Mulia, Raja Devian ingin bertemu dengan anda."


"Persilahkan dia masuk." Sahut sebuah suara dari balik pintu.


Pelayan tersebut membukakan pintu untuk Devian, Pria beriris merah itu langsung masuk kesana.


Ruangan yang dipenuhi rak-rak buku, dibagian tengah ruangan di lengkapi satu set meja kerja. Di atasnya buku-buku bertumpukan dan di depan meja kerja satu set meja dan kursi untuk tamu juga tersedia. Di belakang meja kerja terdapat jendela besar yang mengarah langsung ke pelataran depan masion, dari sana kau akan melihat istana yang berdiri kokoh diantara pepohonan di sekitarnya. Di dinding kosong sebuah lukisan besar seorang wanita dengan iris merah dan rambut perak panjang tergantung disana dengan senyum tipis yang menawan.


"Duduklah, Putraku." Raja Aaron mempersilahkan Devian duduk.


Devian segera duduk menyilangkan kaki dengan sedikit malas. Devian menatap serius kearah Raja Aaron.


"Akhirnya kau datang mengunjungiku." Sebuah senyuman tersungging diwajah Ayah Devian.


"Aku ingin menanyakan sesuatu." Devian menatap tajam ayahnya.


"Ini bukan masalah kerajaan kau cukup mahir dalam politik, masalah apa yang kau hadapi? " Tanya Raja Aaron dengan sabar.


"Ada iblis yang memasuki istana." Devian menghentikan kalimatnya menunggu reaksi ayahnya.


Raja Aaron terlihat tidak terkejut, entah mengapa seakan dia sudah memperkirakan semuanya. "Dia ingin menjemput paksa dirimu? " Raja Aaron menatap lukisan di dindingnya menunjukkan wajah cemas.


"Apa ini ulahnya, ulah si tua itu? " Tanya Devian emosi. "Sampai kapan situa itu ikut campur dengan kehidupanku? "


"Dia akan terus berusaha Devian, di dalam hidupnya dia akan terus berusaha mencari penerus kerajaannya. Karena dia tak akan bisa memiliki penerus dan saat dia putus asa kau terlahir. Tapi, semua tak berjalan sesuai rencananya. Ibumu menolak meninggalkan istana, menolak meninggalkan ayahmu yang egois ini." Raja Aaron terlihat begitu berduka.


"Aku tidak ingin mendengar cerita sedihmu. Aku harus tahu bagaimana menghentikan dia." Tanya Devian tanpa basa basi.


"Ibumu menjadikanmu Raja disini untuk membuat ikatanmu lebih kuat dengan dunia manusia, dia menyegel separuh dari kekuatanmu dengan Sumber kehidupannya agar jiwa manusiamu tetap bertahan. Tapi itu tidak akan bisa bertahan selamanya karena ibumu sudah pergi. Kakekmu dia Raja iblis yang kuat, ibumu bahkan tidak mengetahui kelemahannya. Dia dapat menjadi apapun dengan sempurna, binatang maupun manusia. Bahkan wujudnya saat ini itu bukan wujud aslinya." Raja Aaron terus menjelaskan semua yang ia ketahui tentang Raja Erebos. Devian terus menyimak satu persatu kalimat yang diucapkan ayahnya dengan teliti.


"Kenapa kalian tidak menyerahkanku padanya saat aku belum mengerti apapun? Dengan begitu kalian bisa hidup bahagia."


"Ibumu ingin melindungi setiap mimpimu, dia ingin kau bisa mengukir takdirmu sendiri. Jika kau akan memutuskan mejadi penerus Erebos kau tak akan bisa kembali. Setiap waktu kau menceritakan setiap keinginanmu pada ibumu dan dia ingin melindunginya. Karena itu kami melakukan semua yang kami bisa untuk melindungimu darinya. Tapi, kini kau sudah dewasa. Kau bisa mengubah keputusanmu atau memutus ikatanmu atas kehendakmu."


Devian menatap Ayahnya tak mengerti. "Memutus ikatanku atas kehendakku? "


"Erebos, dia lebih licik dari dugaanmu. Dia akan menggunakan cara apapun untuk mempengaruhimu. Saat ibumu masih hidup dia menggunakan diriku untuk menekannya. Mencoba mempengaruhinya dan mengubah setiap keputusannya. Tapi karena ibumu telah melakukan upacara penyatuan darah denganku kakekmu tidak bisa berbuat banyak. Dia tak bisa mengendalikan ibumu. Jadi semua akan tergantung dengan tekatnya sendiri. Apa kau sudah mengerti? Iblis akan menggoda dan mempengaruhi manusia, tapi jika manusia memiliki tekat yang kuat pengaruh itu tak akan bisa mengubah keputusanmu."


"Devian." Raja Aaron memanggil putranya lembut.


Devian yang awalnya masih serius berfikir harus mendongakkan kepalanya dan menatap kearah ayahnya.


"Alice istri yang baik, tapi cepat atau lambat kakekmu akan mengetahui tentangnya dan kau tidak akan pernah bisa mengira apa yang akan menimpa gadis Malang itu."


Kini Devian mengerti ada kemungkinan jika Erebos akan menggunakan Alice untuk mengubah keputusannya. Menyerah di dunia ini dan memilih kedunianya yang lain. "Bagaimana aku harus melindunginya? Aku harus mengakhiri semua ini, aku tidak bisa menghindar untuk selamanya."


"Kau benar, satu-satunya jalan adalah melakukan penyatuan darah. Pada dasarnya iblis dan manusia berbeda karena itu dibutuhkan penyatuan darah dalam pernikahan mereka. Saat itulah iblis akan terputus dari dunianya. Mereka akan bisa memiliki keputusan sendiri dimana mereka akan bersama, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan mereka. Semua akan tergantung pada mereka."


"Jadi maksudmu, aku harus melakukan penyatuan dengan gadis itu? " Devian menatap ayahnya tak percaya.


"Tak ada jalan lain untuk melindunginya dan melindungi dirimu." Jawab Raja Aaron.


"Katakan bagaimana aku harus melakukan penyatuan itu? " Tanya Devian pada akhirnya.


"Saat Bulan purna kau akan bisa melakukannya. Tapi, setelah upacar itu kau harus lebih berhati-hati."


"Berhati-hati dengan apa? " Tanya Devian tak mengerti.


"Setelah penyatuan Alice bisa saja mengandung. Janin iblis lebih kuat dari yang kau bayangkan. Saat itu yang mengandung dirimu adalah ibumu yang seorang iblis murni. Dia kehilangan setengah energi kehidupannya setelah itu. Karena dia tak bisa kembali kedunia iblis dia tak bisa memulihkan energi yang hilang karena itu dia terus melemah. Tapi, akan berbeda cerita dengan Alice yang seorang manusia. Manusia memiliki usia yang terbatas, Devian. Iblis memiliki waktu yang panjang." Raja Aaron menatap putranya.


"Aku mengerti, aku akan menyiapkan upacara itu." Jawab Devian dan segera beranjak berdiri.


"Aku yang akan menyiapkannya, upacaranya akan dilaksanakan di mansion ini tiga hari lagi."


Devian hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.


*flash back end*


'Sebaiknya dia tidak mengetahuinya.' batin Devian.


"Tapi seperti apa menikah dengan cara anda? " Tanya Alice sedikit penasaran.


"Kau akan tahu nanti." jawab Devian singkat.


"Kapan kita akan menikah? " Tanya Alice masih penuh dengan rasa penasaran.


"Tiga hari lagi."


Alice mengerucutkan bibirnya. "Dimana kita akan menikah?"


Devian menatap istrinya kesal. "Di mansion Raja Aaron. Ada pertanyaan lain?" Devian meninggikan suaranya.


"Kenapa anda marah? Bukankah anda baru saja melamar saya? "


"Berhenti bertanya dan sebaiknya kau kembali."


Alice hanya diam dan segera berjalan mendahului Devian dengan sedikit kesal.


...****************...


Di istana para iblis, seseorang tengah menghadap Raja Erebos. Raja Erebos menatap tajam kearah pria itu.


"Harl, kau kembali sangat cepat. Tapi aku tidak melihat cucuku dimanapun. Apa kau kembali dengan tangan kosong." Raja Erebos menatap Harl garang.


"Saya kembali membawa informasi yang sangat penting Yang Mulia."


"Informasi? Jika informasi itu tidak berguna aku akan mengambil nyawamu sebagai gantinya."


"Pangeran akan melakukan upacara penyatuan darah dengan istrinya." Harl mendongak memeriksa ekspresi wajah Rajanya.


"Tidak akan aku biarkan itu terjadi. Aku akan turun tangan dari sini. Kapan penyatuan akan dilakukan."


"Tiga hari lagi Yang Mulia."


"Siapkan beberapa iblis terkuat, aku akan membawa mereka kedalam pesta itu." Perintah Raja Erebos pada pengikutnya.


TBC