I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 46



Alice masih menatap tajam kearah Beryl, seakan menuntut sebuah penjelasan tentang pria yang baru saja pergi keluar istananya.


"Ke.. Kenapa anda memandang saya seperti itu, Yang Mulia?" Tanya Beryl dengan kepala menunduk.


"Siapa dia? Kenapa kau memanggilnya Yang Mulia? Kau mengenalnya?" Tanya Alice dengan wajah kesal.


Beryl hanya menunduk dan mengunci mulutnya. Sejujurnya dia tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskan semuanya, karena Beryl sendiri juga tidak tahu bagaimana Alice kehilangan ingatannya.


"Kau bahkan tidak menjawabku, Beberapa waktu yang lalu aku merasa begitu tersiksa. Bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu bersedih? Tapi, begitu melihatnya aku merasa lega dan juga marah." Alice menatap Beryl tajam. "Apa itu masuk akal? Bahkan aku merasa mengenalnya, tapi aku juga merasa baru bertemu dengannya untuk pertama kali. Jelaskan, siapa dia dan kenapa dia bisa disini disaat keadaan begitu kacau?"


"Mu.. Mungkin dia seorang malaikat pelindung?" Jawab Beryl asal dengan menatap kearah lain.


"Ma.. Malaikat pelindung? Apa malaikat memiliki iris semerah itu? Atau sedingin itu?" Tanya Alice tak percaya. "Tapi, kenapa aku begitu marah sekarang? Rasanya aku ingin memukul wajahnya."


"Sebaiknya anda tidak melakukannya." Spontan Beryl sedikit meninggikan suaranya saat mendengar keinginan Alice.


"Kenapa?" Alice menatap Beryl penuh selidik. "Kau tahu sesuatu?"


Beryl kembali merapatkan mulutnya, menguncinya rapat-rapat dan berjalan mundur perlahan.


"Kau mau kemana? Kau tahu sesuatu, iyakan?" Alice berjalan mendekat kearah Beryl.


"A.. Anda.. Seharusnya tidak memukul seseorang tanpa alasan, bukankah begitu?" Beryl dengan gugup mengatakan alasan yang baru saja terlintas dikepalanya.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu terdengar, membuat Beryl bisa bernafas lega karena setidaknya interogasi yang Alice lakukan dapat berakhir.


Saat pintu terbuka, Aiden masuk dengan tenang keruangan itu.


"Nona Beryl, bisa tinggalkan saya dan Yang Mulia Alice ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengannya." Aiden memberi isyarat pada Beryl untuk keluar.


"Baik, tuan!! " Beryl segera keluar ruangan tersebut dan menutup pintu besar ruangan itu.


"Silahkan duduk, Tuan Aiden! " Alice mempersilahkan Aiden untuk duduk.


"Terimakasih, Yang Mulia."


Aiden dan Alice duduk berhadapan, Aiden mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan meletakkannya diatas meja. Mata Alice mengamati botol kecil tersebut, lebih tepatnya mengamati isi dari botol itu.


"Apa itu?" Tanya Alice ragu.


"Sejujurnya akan sedikit sulit menjelaskannya ketika ingatan anda belum kembali, tapi Yang Mulia Raja meminta saya untuk memberikan ini kepada anda dan memastikan anda meminumnya." Jelas Aiden.


"Ayahku yang memintanya?" Alice meraih Botol tersebut dan menatap bingung kearah Aiden.


"Hmmm.. Yang memintanya adalah Raja Devian." Aiden mengatakannya dengan hati-hati.


"Raja Devian? Siapa dia?" Tanya Alice penuh dengan rasa penasaran.


"Akan sulit menjelaskannya sekarang, tapi setelah anda meminumnya semua akan jelas." Aiden mencoba untuk meyakinkan Alice untuk meminumnya.


"Bagaimana jika ini adalah racun?" Alice menatap Aiden curiga.


"Apa anda tidak percaya padaku?" Tanya Aiden sedikit kecewa.


"Entahlah, bagaimana mungkin orang yang tidak aku kenal tiba-tiba memintaku meminum sesuatu yang mencurigakan seperti ini?"


Aiden menghela nafas. "Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk membuat anda percaya?"


Alice berfikir sejenak. "Bagimana jika kau juga meminumnya?" Alice menyodorkan botol itu pada Aiden.


"Saya tidak bisa meminumnya, apa ada cara lain selain itu?"


Alice menatap Aiden penuh rasa curiga dan akhirnya Aiden mengalah.


"Baiklah, akan aku jelaskan semuanya."


...****************...


Pasukan Corfe tiba di perbatasan Saat matahari terbit. Tenda-tenda telah didirikan, para panglima dan jenderal telah bersiap di meja pertemuan untuk mengatur kembali strategi yang akan mereka gunakan. Tepat pada saat itu Raja Charles dan Devian masuk kedalam tenda. Mereka langsung menunduk memberi hormat pada Raja Charles. Sedangkan Devian melenggang masuk dan duduk disalah satu kursi diruangan itu. Sesaat semua orang terkejut melihat Devian muncul disana.


"Yang Mulia, saya kira anda tidak akan meminta bantuannya?" Bisik salah satu jenderal yang berdiri disamping Raja Charles.


"Dia tiba-tiba saja muncul dan menawarkan bantuan." Jawab Raja Charles singkat.


"Bagimana persiapan pasukan kalian?" Tanya Devian menatap semua yang berada di tenda itu.


"Apa kami harus melapor padamu?" Terdengar seorang panglima membalas pertanyaan Devian dengan nada kesal.


Devian menatap pria yang baru saja bicara dan berjalan kearahnya. "Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya karena itu aku memilih untuk menjadi musuh mereka saat ini."


Tak berapa lama berselang seorang prajurit dengan sedikit berlari masuk kedalam tenda dan memberi hormat pada Raja Charles. Wajah prajurit itu terlihat cemas.


"Apa yang terjadi?" Tanya Raja Charles.


"Aldwick mengirimkan utusannya." Lapor prajurit itu dengan nafas sedikit terengah-engah.


"Aku yang akan menemuinya." Dengan santai Devian melangkah keluar tenda untuk menemui utusan itu.


Utusan dari Aldwick terlihat menunggu diluar dengan memakai baju Zirah lengkap. Devian terlihat mendekatinya. "Apa yang diinginkan Adrian?" Tanya Devian tanpa basa-basi.


Mendengar suara yang tak asing, prajurit itu segera berbalik. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat Sang Raja berdiri dihadapannya, buru-buru dia bersimpuh memberi hormat dengan perasaan takut. Bahkan prajurit itu tak berani menatap kearah wajah Devian.


"Ya.. Yang Mu.. Mulia, ma.. Maafkan sa.. Saya." Dengan gugup prajurit itu meminta maaf pada Devian.


Devian mengulurkan tangannya kearah prajurit itu. "Pesannya!! "


Dengan sigap prajurit itu langsung menyerahkan gulungan surat ditangannya.


Kepada Raja Charles


Sebaiknya kau menyerah disaat aku masih berbaik hati. Sebaiknya kau serahkan putrimu kembali ke aldwick dan akan aku tarik kembali seluruh pasukanku. Dengan begitu Corfe dan nyawamu akan aman.


Di akhir surat tak lupa sebuah Cap kerajaan Aldwick menghiasi surat itu. Dengan wajah marah Devian meremas surat itu dan melemparkannya. Devian segera meraih leher prajurit utusan kakaknya, mencengkram kuat lehernya hingga wajah sang prajurit berubah menjadi merah padam karena kesulitan bernafas.


"Katakan pada Adrian untuk mundur sekarang juga, sebelum aku menghancurkannya bersama pasukan bodohnya. Kau mengerti?" Devian menatap prajurit itu penuh kemarahan.


Dengan susah payah prajurit itu menganggukkan kepalanya. Devian melepaskan leher prajurit itu dengan kasar, dan membiarkannya pergi dengan terburu-buru.


Devian segera kembali, memandang semua orang dalam tenda satu persatu.


"Siapkan seluruh pasukan kalian, Adrian tidak akan aku biarkan dia hidup lagi." Iris merahnya berkilat penuh amarah.


Semua orang terlihat tak begeming dan masih menatap kearah Raja Charles. "Apa yang kalian tunggu?" Devian menatap tajam mereka semua.


Semua diruangan itu langsung bergerak keluar menyiapkan semua pasukan. Devian segera keluar dengan membawa sebilah pedang ditangannya, tapi Raja Charles meraih pundak Devian dan menghentikan pria itu.


"Jangan pergi, jika kau tak bisa mengendalikan emosimu." Raja Charles mencoba menahan Devian.


"Lepaskan aku!!  Adrian sudah main-main denganku. Dia akan mendapat hukuman berat atas semua penghianatan yang dia lakukan dan karena dia berusaha untuk menyentuh istriku." Devian menatap Raja Charles.


Iris merahnya berkilat penuh amarah, membuat Raja Charles sesaat merasa takut. "Kau tak akan bisa memang jika kau menghadapi musuhmu dengan emosi. Tenangkan dirimu." Raja Charles mencoba mengingatkan Devian.


"Diam kau tidak berhak memberiku perintah!! " Bentak Devian marah.


"Mereka adalah pasukanku, aku bertanggung jawab atas nyawa mereka. Nyawa mereka akan hilang sia-sia jika dipimpin oleh mu saat ini, apa kau sadar?" Raja Charles terus berusaha menengkan Devian.


Sesaat Devian menatap Raja Charles dan segera berbalik keluar dari sana.


...****************...


Di perkemahan pasukan Aldwick, utusan yang Dikirim Adrian kembali dengan wajah ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar dan dipenuhi keringat dingin.


"D.. D.. Dia, ke.. Kembali." Ucapnya dengan suara terbata. Membuat seluruh pasukan bingung Dengan ucapannya.


"Siapa yang kembali?" Sahut salah satu prajurit yang segera menghampirinya.


"R.. R.. Raja De.. Devian."


Semua orang terkejut dan juga tertarik dengan cerita utusan itu.


"Dimana dia?" Tanya salah satu prajurit.


"Co.. Corfe, D.. Dia a..akan berperang melawan kita."


"Apa? Kita akan kalah, haruskah kita kembali pada Yang Mulia Devian. Dia sangat menakutkan saat di medan pertempuran."


Mendengar itu, seluruh pasukan menjadi riuh dan sekejap berita kembalinya Devian sampai ke telinga Adrian. Adrian terlihat begitu cemas, mendadak kepercayaan dirinya runtuh begitu saja. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.


"Kita.. Kita tidak akan kalah, iyakan?" Tanya Adrian pada panglimanya dengan ragu.


Sang panglima hanya menunduk dalam tak menjawab pertanyaan Adrian.


"Tidak, tentu aku bisa menang.. Aku memiliki pasukan iblis terkuat dan aku memiliki sekutu yang hebat. Dia akan membantuku." Adrian mencoba menenangkan dirinya. Meskipun jauh didalam hatinya rasa takutnya lebih besar.


TBC