
Pagi ini Devian menerima laporan dari Aiden tentang keadaan Corfe.
"Jadi mereka terdesak?" Tanya Devian pada orang kepercayaannya tersebut.
"Begitulah Yang Mulia, ada kemungkinan pemberontok akan menyerang saat kita mengalahkan Corfe. Dengan kurangnya persiapan dan banyaknya pasukan yang terluka serta kurangnya persenjataan setelah perang. Ada kemungkinan kita akan kualahan menghadapi pemberontak. Meskipun kita memiliki peluang menang akan tetapi kita akan kehilangan lebih banyak pasukan. Selain itu kita juga tidak tahu seperti apa lawan kita, persenjataan dan jumlah pasukan maupun setrategi mereka. Saya rasa ini akan merugikan kita Yang Mulia." Aiden menyampaikan pendapatnya pada Devian.
Devian nampak memikirkan setiap kata dari Aiden, mencoba menimbang kemungkinan yang akan terjadi jika dia salah mengambil keputusan."Siapkan kuda kita akan kesana, kita harus memastikan Putri yang menjadi jaminan kerajaan Corfe pantas atau tidak menjadi Ratu Aldwick."
Di kerajaan Corfe, Alice mondar-mandir di kamarnya, kegelisahan terlihat jelas di raut wajahnya. Sesekali gadis itu menggit bibir bawahnya untuk menenangkan hatinya.
"Beryl bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? " Tanya Alice mulai frustasi.
"Hamba rasa, tak ada pilihan lain Yang Mulia. Anda harus merima lamaran ini" Beryl terlihat pasrah menatap majikannya.
"Apa kau mendapat sedikit informasi tentang Raja Aldwick ? Apa aku akan menikahi pria tua?" Alice mulai mebayangkan pria tua seumuran ayahnya yang bersanding dengannya. Membuat perasaannya semakin kacau, tapi dengan cepat dia menepis semua bayangan menyeramkan itu.
"Tentu saja tidak Yang Mulia!" Dengan cepat Bery menyahut, suaranya terdengar begitu semangat untuk menjelaskan semua informasi yang telah ia dapat di sepanjang jalanan Kerajaan. "Raja dari Aldwick masih sangat muda. Dia baru berusia 25 tahun."
"Benarkah dia semuda itu? Kau yakin bukan 52 tahun? " Alice manatap Beryl, berusaha meyakinkan Beryl akan informasinya itu.
"Anda tidak perlu meragukan saya Yang Mulia, saya mendapat informasi ini di luar istana. Tapi, dia memiliki sifat yang tidak begitu baik." Terlihat ekspresi pelayan itu berubah, Beryl kembali berfikir apakah dia harus menceritakan ini pada tuannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Alice cepat.
"Raja Iblis Aldwick!" Jawab Beryl lirih, tapi suaranya masih dapat terdengar oleh Majikkannya.
Mendengar kata Raja Iblis sekitika tubuh Alice lemas, dia terduduk di ranjang besarnya. Terlihat wajahnya semakin gelisah dan takut. Membayangkan apa yang akan terjadi padanya membuatnya semakin ketakutan.
"Sejujurnya banyak yang mengatakan dia Raja yang sangat tampan tapi dia sedikit jahat" Kata Beryl melanjutkan penjelasannya. " Ada kabar yang mengatakan kalau dia sebenarnya pernah menikah, tapi membunuh istrinya sebelum malam pertama mereka. Selain itu ada juga yang mengatakan dia yang membunuh kakaknya dahulu untuk bisa naik tahta. Dalam waktu 2 tahun dia menjadi Raja dia sudah menaklukan 3 kerajaan." beryl mengakhiri penjelasannya.
Alice menghela nafas panjang "Beryl bisa kau keluar." Gumamnya, seakan energinya telah habis, tak ada semangat dalam dirinya. Mungkin jika dia bisa memilih dia berharap untuk lari dari sana.
"Anda tidak apa-apa yang mulia?" beryl terlihat khawatir dan mendekati majikannya. "Setidaknya, Raja Aldwick memiliki wajah yang tampan. Bukankah itu tidak begitu buruk?" Beryl mencoba menangkan Alice.
Alice menatap beryl putus asa. "Apa gunanya punya suami tampan jika pada akhirnya aku dibunuh?"
"Tapi itukan hanya rumor belum tentu benarkan?" Beryl mencoba meyakinkan tuannya kembali dan berharap perasaan Alice lebih tenang.
"Kalau semua itu hanya rumor ada kemungkinan dia seorang Raja yang tua dan jelek, bukankah begitu?" Gumam Alice. "Sebaiknnya, kau keluar dari sini. Semakin aku mendengarkan banyak hal rasanya aku semakin ingin melompat dari menara ini." Alice sambil mendorong pelayan setianya itu keluar dari kamarnya.
Alice masih duduk di ranjangnnya dia membenturkan kepalanya di tiang ranjang, pikirannya benar-benar kacau. Tak seharusnya dia mendengar apapun tentang calon suaminya itu. Semakin dia memikirkannya rasanya semakin membuatnya takut.
Ayolah berfikir apa yang harus aku lakukan? Pikirnya dalam hati. Berharap dia dapat menemukan jalan keluarnya untuk masalah ini.
Tanpa disadari Alice seseorang masuk kekamarnya, dengan pakaian militer lengkap. Dia mengamati punggung seorang gadis yang terlihat begitu frustasi.
"Beryl sudah berapa kali aku bilang ketuk pintu sebelum masuk." ucap Alice lesu.
"Apa kau ingin memecahkan kepalamu?" suara dingin seorang pria yang belum pernah gadis itu dengar membuatnya tersadar, dengan cepat dia berdiri dan berbalik mata biru indahnya menatap pria yang berdiri di hadapannya.
"Si.. Siapa anda?" tanya Alice waspada. Iris matanya melirik kearah laur pintu kamarnya. Kemana para penjaga bagaimana seseorang yang tidak ia kenal bisa masuk begitu saja tanpa ijin darinya.
"Setidaknya aku sudah melihat wajahmu." dengan cepat pria itu berbalik dan keluar dari kamar Alice.
"Ayo, Aiden!! Kita temui si tua itu dan buat keputusan." Pria itu berjalan cepat menyusuri lorong di ikuti Aiden dari belakang. Alice yang terlihat masih kebingungan hanya menatap punggungnya yang berjalan meninggalkan ruangan itu.
Devian sudah duduk diatas tahta Raja Charles. Si pemilik kursi pun hanya memandang Devian dengan menahan emosi.
"Kursi ini lumayan nyaman, aku suka." katanya angkuh. "Aiden tunjukkan perjanjiannya."
Aiden dengan cepat menyerahkan sebuah surat berisi perjanjian tersebut.
"Silahkan anda baca tuan charles, jika anda setuju anda bisa langsung menandatanganinya dan memberi stempel kerajaan. Tapi, aku rasa tak ada pilihan lain selain anda menyetujuinya atau jika tidak kau akan berada di pemakaman besok." ucap Devian dingin.
Raja charles pun mulai membaca isi perjanjian itersebut.
1. Corfe akan menyerahkan setengah hasil bumi pada Aldwick.
2. Membayar pajak pada Aldwick.
3. Kerajaan Corfe tak dapat campur tangan dengan pemerintahan kerajaan Aldwick.
4. Corfe harus menerima setiap keputusan yang dibuat Raja Aldwick.
5. Tawanan akan dibawa ke Aldwick dan tak akan pernah di bawa keluar dari Aldwick.
6. Tawanan tidak boleh bertemu dengan keluarganya, didalam maupun diluar Aldwick.
7. Corfe dapat meminta perlindungan pada Aldwick.
8. Seluruh pemerintahan Corfe dialihkan ke Aldwick.
Demikian perjanjian ini dibuat tanpa paksaan apa bila terjadi pelanggaran perjanjian maka seluruh anggota kerajaan akan menerima hukuman mati.
Raja Charles menatap tajam kearah Devian.
"Tawanan? Apa maksudnya ini?" Raja Charles meninggikan suaranya.
"Bukankah kau menjual putrimu dan kerajaanmu kepadaku sebagai jaminan keselamatanmu." Devian terlihat tak memperdulikan Raja Charles.
"BERANINYA KAU!!!! " Raja berteriak marah.
"Sabar suamiku." ucap istri Raja Charles mencoba menenangkan suaminya.
"Aku bisa memanggil pasukanku dan menghancurkan kerajaan ini dalam hitungan menit." terdapat seringai jahat di wajah Devian. "Aku memiliki lebih banyak keuntungan disini."
Raja Charles pun dengan terpaksa segera menandatangani surat perjanjian itu. Setelah surat perjanjian itu di tandatangani Aiden langsung menyimpan surat itu.
"Lebih mudah dari perkiraanku." gumam Devian.
"Tuan Charles siapkan pernikahannya besok, kami akan kembali ke perbatasan dan akan kembali kemari besok. Usai pernikahan tuan Putri akan dibawa ke Aldwick." Aiden menjelaskan.
"Tapi tak bisakah kau membiarkannya tinggal sehari saja?" ucap Ratu sedih.
"Jika kau ingin dia tinggal batalkan perjanjian." devian pun langsung pergi.
Pernikahan digelar dengan sederhana karena persiapan yang mendadak. Usai upacara pernikahan mereka berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Saat Devian akan berjalan pergi tangan Alice menarik sedikit baju belakang Devian.
"Maaf, boleh aku bertanya?" Alice berkata pelan Wajahnya menunduk dalam.Tapi Devian tak menjawab dan hanya berdiri diam dengan raut wajah dingin.
"Bisakah kita pergi ke Aldwick besok pagi? Aku tau tak akan bisa kemari lagi setidaknya biarkan aku disini sebentar." Mohon Alice dengan suara putus asa.
"Aku tidak ingin membuang waktuku." ucap devian datar. Devian melangkah pergi meninggal Alice yang terdiam.
Alice masih terdiam dikamarnya pelayan berlalu lalang dikamarnya mengemas semua keperluan tuan mereka. Bahkan Alice tak sadar ada seseorang yang telah berdiri disampingnya.
"Yang mulia, Raja Devian memberi perintah untuk anda segera turun dan bersiap kita akan berangkat 2 jam lagi, anda juga di izinkan membawa satu pelayan yang menemani Anda." Alice menatap Aiden dingin.
"Beryl, kau juga harus bersiap. Tak bisakah kau minta padanya untuk memberikan waktu sedikit lebih lama." Alice menatap Aiden memohon.
"Maaf yang mulia saya tak bisa melakukannya. Yang mulia Devian telah menunggu anda dibawah. Sebaiknya anda cepat turun. Saya permisi." Aiden membungkuk dan berjalan keluar.
Alice berdiri menatap istana yang sudah ia tinggali selama 19 tahun. Dia memeluk orang tuanya erat.
"Bisakah lebih cepat, waktuku terbuang sia-sia disini." Devian menunggu dengan wajah frustasi di atas kudanya.
Dengan lesu Alice masuk ke dalam kreta kudanya, mata indahnya menatap keluar jendela melihat wajah orang tuanya untuk terakhir kali dengan air mata berlinang.
TBC