I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 34



Adrian tengah membaca beberapa gulungan kertas diruangannya. Iris abu-abunya dengan serius mengamati setiap baris kalimat dalam gulungan itu. Hingga dia tak menyadari jika sudah ada dua orang asing berada dikamarnya.


"Adrian kita perlu bicara." Suara yang terdengar begitu dingin membuat Adrian terkejut dan segera melihat orang yang baru saja mengejutkannya.


"Raja Erebos? Apa yang anda lakukan disini?" tanya Adrian panik.


Pria beriris abu-abu itu langsung menghampiri pintu keluar dengan cepat dan mengunci pintu itu rapat-rapat.


"Anda tak seharusnya datang kemari, bagaimana jika Devian tahu? " Adrian sedikit kesal. Namun, matanya menangkap sosok lain yang tengah bersama Raja Erebos. Seorang wanita bergaun merah minim dengan belahan dada rendah. Adrian mengamati gadis itu seksama, begitu sempurna membuat Adrian menelan ludah.


"Siapa dia? " Tanya Adrian pada Raja Erebos penasaran.


"Seorang yang sepesial." Jawab Raja Erebos singkat.


Raja Erebos duduk di kursi dan dengan santai wanita itu duduk di pangkuannya. Adrian yang melihat hal itu hanya menatap dengan aneh. Bagaimana tidak seorang wanita muda cantik dan begitu sempurna duduk dipangkuan seorang kakek-kakek yang seharusnya dia menjadi cucunya. Adrian segera duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Kenapa anda kemari? Dan kenapa dia juga ikut." Tanya Adrian penasaran.


"Celline." wanita itu mulai menyebutkan namanya.


"Apa? " tanya Adrian tak mengerti.


"Panggil aku Celline, tuan Adrian." Celine memamerkan senyumnya yang paling menawan. Membuat Adrian sedikit gugup dibuatnya, Raja Erebos hanya terkekeh melihat wajah Adrian.


"Masukkan dia ke istana, agar dia bisa membawa Devian kembali kerumah." Raja Erebos menatap Adrian serius.


"Apa? Bagaimana jika Devian mengetahuinya? "


"Tenang saja, dia bisa menjadi siapa saja. Tunjukkan sayang." Raja Erebos menatap Celline.


Celline tersenyum dan segera bangkit berjalan menjauh dari Raja Erebos. Tak berapa lama saat gadis itu berbalik wujudnya berubah menjadi Aleysia. Membuat Adrian tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kekagumannya, tak berapa lama setelah itu wanita itu berubah menjadi wujud-wujud lain dan berakhir menjadi wujud aslinya.


"Akan aku pastikan dia mendapat pelayanan terbaik di istana ini." Adrian tersenyum lebar.


Dia tahu saat ini dia sudah berada diambang pintu kemenangannya. Semua tujuannya akan tercapai.


"Bagus, sebaiknya kau lakukan semua dengan baik Adrian." Raja Erebos menatap Adrian tajam. "Sayang kau harus hati-hati, aku harus pergi ada banyak hal yang harus aku lakukan."


"Baik, Yang Mulia." Celline menunduk hormat dan tak berapa lama Raja Erebos menghilang dari ruangan itu.


...****************...


Hari ini matahari terlihat begitu cerah, namun wajah Alice tak secerah itu. Sejak pagi gadis itu terus murung dan mengomel tidak jelas.


"Beryl, apa Devian sudah kembali? " Tanya Alice pada pelayan setianya.


"Saya tidak tahu Yang Mulia."


"Bagaimana bisa dia tidak mengatakan apapun? Setidaknya dia bisa meninggalkan pesan atau dia bisa menyuruh pelayannya untuk mengatakan sesuatu padaku. Devian bodoh." Omel gadis itu dengan kesal.


"Yang Mulia jangan bicara seperti itu, jika Yang Mulia Devian tahu dia bisa marah." Beryl terus mengingatkan tuannya.


"Biar saja dia mendengarnya, aku tidak peduli. Bukankah dia memang bodoh dan orang yang paling egois didunia."


"Yang Mulia bagaimana jika anda nanti dihukum oleh Yang Mulia Raja."


"Aku tidak peduli.. " Alice mendadak terdiam ingatannya kembali ke kejadian saat dia akan menerima hukuman dari Devian. "Kau benar, aku harusnya menjaga sikap agar tidak dihukum." dengan wajah lesu Alice meraih cangkir dihadapannya dan menyesap minuman di dalamnya.


Tak jauh dari tempat Alice berada dua orang tengah mengamatinya.


"Bagaimana nona Celline? Kau akan mengikuti saranku?" Tanya Adrian serius.


"Berubah wijud menjadi wanita itu." Dengan seksama Celline mengamati Alice dengan wajah serius. "Tidak, akan sulit menyamar menjadi gadis itu."


"Kenapa? Dia istri Devian, kau bilang akan lebih mudah membuatnya tergila-gila padamu jika.. "


"Apa kau bodoh, iris mata gadis itu terlalu mencolok dengan mudah Pangeran Devian akan mengenaliku." Jelas Celline panjang lebar.


"Iris mata? " Tanya Adrian bingung.


"Aku bisa menjadi siapa saja, tapi iris mata ini akan tetap sama. Aku akan mencari cara lain." Celline mengamati setiap orang didekat Alice dan ekor matanya menangkap sosok wanita di samping Alice. "Siapa wanita itu? " Celline menunjuk kearah Beryl.


"Dia pelayan istri Devian, pelayan kepercayaannya." Jelas Adrian.


"Sempurna, siapkan minuman yang disukai oleh Devian dan selanjutnya akan menjadi urusanku." Celline menyeringai penuh kemenangan. 'Setelah itu kau akan menjadi milikku, Pangeran Devian.' kata Celline dalam hati.


...****************...


Ke esokan harinya Devian baru tiba di aldwick. Pria beriris merah itu baru saja masuk ke ruang kerjanya saat seorang penjaga masuk untuk melaporkan sesuatu.


"Ada apa?" Devian segera duduk di kursi panjang ruangan itu.


"Ratu datang kemari beberapa kali setelah anda meninggalkan kastil." Lapor penjaga itu dengan wajah menunduk.


"Itu bukan hal penting untuk dilaporkan."


"Maaf saya hanya... "


"Tidak apa-apa, kau boleh keluar aku perlu istirahat sejenak."


"Baik Yang Mulia."


Penjaga itu langsung keluar dari ruangan Devian. Sejenak Devian memejamkan matanya, namun pikirannya tiba-tiba teringat wajah Alice.


"Kenapa dia mencariku? " Tanya Devian pada dirinya sendiri.


Dengan sedikit malas dia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.


...****************...


Alice tengah duduk di kursi balkon kastilnya, dia terlihat begitu murung dan kesal. Tapi dengan Setia Beryl menemani tuannya dan mencoba untuk menenangkannya.


"Mungkin sesuatu yang darurat terjadi, jadi berhentilah marah-marah seperti ini."


Beryl hanya menghela nafas mendengar setiap omelan Alice. "Mungkin terjadi salah satunya."


"Aku tidak akan memaafkannya, bukankah dia juga begitu. Dia bilang tak ada kata maaf. Apa dia saja yang bisa mengatakannya? Lihat saja pria bodoh itu akan merasakan kemarahanku."


"Pria bodoh? " Suara seorang pria membuat Alice terdiam.


Buru-buru Beryl menunduk memberi hormat dan pergi meninggalkan pasangan suami istri itu berdua. Alice hanya menatap punggung Beryl yang meninggalkannya.


"Siapa yang kau panggil pria bodoh? " Tanya Devian dengan wajah kesal.


"Ha.. Hanya orang yang saya kenal." Jawab Alice sedikit gugup.


Devian melangkah mendekati istrinya dan duduk disalah satu kursi yang kosong. Tak ada pembicaraan apapun, seakan mereka berdua menunggu salah satu untuk bicara.


"Aku dengar kau datang mencariku? " Tanya Devian kemudian.


"Aku lupa" jawab Alice singkat.


"Kau marah? Sejujurnya aku bertemu seorang yang cukup cantik saat aku pergi." Devian mulai bercerita.


Alice melirik kesal Devian. "Jadi kau pergi dari istana untuk menemui wanita lain."


"Aku tidak bilang aku menemuinya, dia tertarik padaku tapi dia tidak cukup menarik. Aku rasa tidak ada yang bisa mengalahkan pesonamu."


Perlahan wajah Alice mulai merona gadis itu segera menunduk menyembunyikan wajahnya dari Devian.


"Lalu apa yang anda lakukan padanya?"


"Mengancamnya, aku berencana untuk membunuhnya. " Devian mengatakannya dengan santai, membuat Alice terbelalak kaget.


"Bagaimana anda mengancam seorang wanita seperti itu? " Tanya Alice tak percaya.


"Dia bukan wanita biasa, dia seorang iblis."


"I.. Iblis?" tanya Alice tak mengerti. "Apa maksud anda iblis bertanduk dengan ekor dibelakangnya."


"Kau terlalu banyak membaca dongeng, apa kau melihat tanduk dan ekor di tubuhku? " Tanya Devian sedikit tersinggung.


"Tapi anda hanya setengah iblis dan yang anda lihat adalah iblis."


"Lalu jika aku setengah iblis aku harus memiliki salah satunya? " tanya Devian mulai kesal.


"Kenapa anda malah marah pada saya, harusnya saya yang marah karena anda tidak mengatakan apapun saat pergi." Protes Alice tidak terima.


"Kenapa aku harus mengatakannya padamu, aku seorang Raja aku tidak harus minta ijin siapapun." Protes Devian tidak mau kalah.


"Saya tidak meminta anda untuk minta ijin, saya hanya meminta anda untuk berpamitan sehingga saya tidak khawatir setiap saat karena anda Yang Mulia. Apa anda tidak menganggap saya sebagai istri anda?" Alice memandang Devian dengan emosi.


Devian terdiam menatap istrinya, tidak pernah Alice bicara seperti itu padanya. Perlahan dari mata gadis itu mengalir cairan bening tak berapa lama isak tangisnya mulai terdengar. Devian bangkit dari kursinya dan berjalan kearah istrinya, menariknya dalam pelukannya membelai rambutnya lembut.


"Lain kali, aku akan menemuimu sebelum pergi." Devian mencoba bicara selembut mungkin. "Sekarang bisakah kau berhenti menangis, kau membuatku terlihat jahat."


Alice menarik tubuhnya dari pelukan suaminya dan menatap tajam kearah suaminya itu. Devian memandang Alice bingung.


"Bahkan kau tidak menyadarinya, seberapa jahat dirimu." Gumam Alice lirih.


"Aku bisa mendengarnya, jaga bicaramu." Nada bicara Devian kembali dingin.


...****************...


Setelah beberapa saat bersama Alice Devian telah kembali ke ruang kerjanya. Merebahkan tubuhnya sejenak diatas kursi malas di depan perapian, mencoba memejamkan matanya sejenak.


Tok.. Tok..


Tak lama setelah pintu diketuk seorang penjaga masuk.


"Yang Mulia ada kiriman dari Ratu untuk anda." Lapor penjaga itu.


Devian segera duduk menatap penjaga itu sejenak. "Suruh dia masuk." perintah Devian.


Tak berapa lama setelah penjaga itu keluar, seorang wanita masuk kesana. Beryl membawa nampan yang berisi teh dan kudapan. Beryl mendekat kearah Devian.


"Yang Mulia Ratu meminta saya untuk mengantarkan minuman kesukaan anda." Beryl tersenyum dan meletakkan nampan di atas meja.


"Bukankah aku baru dari sana, kenapa dia tak menawarkan teh saat aku disana? " Tanya Devian penuh selidik.


"Mungkin Ratu masih sedikit kesal." Beryl memberi Alasan.


Beryl meletakkan cangkir berisi teh tepat dihadapan Devian. Beryl mengamati Devian saat meraih cangkir itu, menanti Devian untuk mencicipi teh yang ia bawakan.


*Flash back*


Di ruangan Adrian seorang pelayan membawa sebuah namapan berisi teh dan kudapan. Saat pelayan itu hendak menuangkan teh kecangkir Adrian menghentikan pelayan itu.


"Cepat keluar!! " Adrian mengusir pelayannya.


Pelayan itu menunduk dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Tak berapa lama kemudian Celline muncul dan tersenyum pada Adrian.


"Sekarang menjadi tugasku." Celline menuangkan teh kedalam cangkir.


Setelah itu Celline mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi cairan merah dan menuangkannya satu tetes kedalam cangkir itu. Celline mulai berkomat-kamit merapalkan mantra-mantra yang sulit di mengerti. Setelah itu Celline meminum seteguk dari cangkir itu. Tak berapa lama sudut bibir wanita itu tertarik membentuk senyum misterius.


"Apa yang kau masukkan kedalamnya? Kau akan meracuni Devian? " tanya Adrian penasaran.


"Jika aku meracuninya, Raja Erebos akan membunuhku." jawab Celline singkat.


"Lalu benda apa itu? "


"Ini ramuan rahasia, jika Devian meminum teh dalam cangkir ini meskipun hanya setetes dia akan tergila-gila padaku. Dia akan melakukan apapun yang aku mau." Celline tersenyum penuh kemenangan.


TBC