I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 30



Dengan marah Devian menghampiri Raja Alfred yang gemetar ketakutan. Iris Devian melirik Kearah tubuh Istrinya yang bersimpuh didepan Raja Alfred. Punggungnya nampak bergetar karena menangis dan pada saat itu ekor mata Devian menangkap kaki Raja Alfred yang menginjak jemari Alice. Melihat itu Devian sudah tak dapat lagi menahan amarahnya, dengan cepat tangan Devian telah berpindah keleher Raja Alfred mencengkramnya kuat dan mendorongnya, hingga tubuh Raja Alfred sampai diujung pagar balkon.


"Berani kau menyentuhnya?" bentak Devian marah.


Iris merahnya berkilat penuh amarah, dengan sedikit tenaga Devian menyentakkan tubuh Raja Alfred, membuat setengah tubuhnya telah menggantung di balkon. Sedikit dorongan saja Raja Alfred akan langsung terjatuh dari lantai dua bangunan istananya. Tangan Raja Alfred berpegangan erat pada lengan Devian yang tengah mencengkram lehernya. Rasa takut mulai menjalari setiap sarafnya, tubuhnya gemetar tak terkendali. Keringat dingin mulai membanjiri keningnya, sesekali pria paruh baya itu melirik turun mengira-ngira seberapa tinggi bangunan ini dan apakah yang berada dibawah sana.


"Ya.. Yang Mulia, ma.. Maafkan saya.. " Suara Raja Alfred gemetar ketakutan.


"Seharusnya kau berfikir terlebih dulu sebelum menyentuh milikku." Devian mempererat cengkraman tangannya.


Membuat Raja Alfred meringis kesakitan, wajahnya mulai memerah dan perlahan membiru karena kekurangan oksigen untuk dihirupnya. Dibelakang Alice dibantu oleh seorang pelayan wanita.


"Yang Mulia, anda tidak apa-apa?" Tanya pelayan itu khawatir.


Pelayan itu segera memegang lengan Alice membantu gadis itu untuk berdiri. Alice mengangkat wajahnya menatap siapa orang yang tengah membantunya.


"Beryl!! " sedikit terkejut Alice memanggil pelayannya itu.


"Tuan Aiden meminta Yang Mulia Devian untuk mengijinkan saya ikut. Saya sangat khawatir Yang Mulia, harusnya anda mengikuti perintah Yang Mulia Raja."


"Kau benar." Alice menunduk dalam menyembunyikan setiap penyesalannya.


Beryl memapah tuannya untuk duduk disalah satu kursi dibalkon itu. Tak satupun dari mereka berani meninggalkan tempat mereka berada saat ini tanpa perintah Devian.


Devian tengah menikmati rasa sakit yang saat ini dirasakan oleh Raja Alfred. Pria paruh baya itu tengah berusaha untuk tetap bisa bernafas. Namun, cengkraman tangan Devian dilehernya menghalangi udara untuk masuk ke paru-parunya. Membuat wajahnya semakin membiru. Perlahan tubuhnya mulai lemas karena kekurangan oksigen dan saat itulah Devian menarik tubuh Raja Alfred dari sana dan menghempaskannya kelantai dengan kuat. Raja Alfred terbatuk, dengan serakah dia berusaha menghirup udara sebanyak paru-parunya bisa menampung udara. Beberapa kali dia terbatuk, perlahan pria paruh baya itu mencoba untuk bangun. Devian dengan berjalan pelan mendekatinya, menyadari hal itu Raja Alfred mulai gemetar ketakutan.


Kaki Devian berhenti tepat di depan Raja Alfred yang tengah terduduk lemas. Dengan santai Devian duduk berjongkok didepan pria itu.


"Aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah Alfred." Gumam Devian dengan seringai diwajahnya.


"Yang Mulia jangan lakukan ini, disini sedang ada pesta jika mereka melihat anda seperti saat ini.. "


"Aku tidak peduli." gumam Devian. "Berapa kali kau melanggar perjanjianmu? Berapa banyak kau menipu rakyatku? Aku tidak akan melepaskanmu."


"A.. Apa maksud anda? Sa.. Saya tidak mengerti.. "


Tangan Devian meraih tangan Raja Alfred. "Apa yang akan terjadi jika seorang Raja tak memiliki tangan? "


"A.. Apa?" gumam Alfred takut.


Saat Raja Alfred belum selesai mencerna setiap kalimat Devian, pria beriris merah itu telah memelintir tangan Raja Alfred. Suara gemeratak tulang yang patah pun terdengar keras membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri.


"AAAAAAAA... "Raja Alfred berteriak kesakitan.


Matanya memerah karena rasa sakit yang ia rasakan dilengannya. Devian menyeringai senang dan puas melihat orang yang menyakiti istrinya merasakan rasa sakit yang sama bahkan lebih dari yang diderita istrinya. Belum puas dengan itu Devian menggenggam jemari Raja Alfred dan Mencengkramnya kuat hingga suara derak tulang-tulang patah kembali terdengar. Raja Alfred semakin berteriak histeris merasakan rasa sakit yang teramat sangat di tangannya.


"A.. Ampun Yang Mulia.. Ampuni saya... " mohon Raja Alfred dengan suara bergetar. Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Raja itu, air mata sudah hampir keluar dari matanya. "Sa.. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


"Aku tidak menerima kata maaf, Alfred. Aku tidak mengampuni siapapun."


"Sa.. Saya akan melakukan apa saja, apa saja asal anda mengampuni saya." Raja Alfred panik saat Devian hendak meraih lengannya yang lain.


"Apa saja? Bagaimana kalau memberi makan anjingku?" Tawar Devian.


"Apa pun Yang Mulia." terlihat mata Raja Alfred sedikit berbinar penuh harap.


"Tapi menunya dagingmu sendiri." Devian menyeringai penuh kemenangan.


Mata Raja Alfred membulat kaget. "Ti.. Tidak Yang Mulia, jangan lakukan itu. Saya mohon saya akan memberikan informasi penting untuk anda. Semua yang ingin anda ketahui." Raja Alfred mencoba membujuk Devian.


"Penyiksaan memang selalu bekerja." Gumamnya.


Seseorang baru saja datang ke balkon, dia berjalan dan berhenti tepat dibelakang Devian.


"Yang Mulia, para tamu telah meninggalkan tempat pesta." Lapornya pada Devian.


Mendengar itu Raja Alfred semakin ketakutan, sekarang apa saja bisa terjadi padanya.


"Kerja bagus Aiden." Devian melirik pria dibelakangnya. "Aku dengar istrimu begitu cantik dan menggoda." Devian beralih menatap Raja Alfred.


Alice yang tanpa sengaja mendengar kalimat itu langsung menatap Devian. Mencoba mendengarkan apa yang ingin dikatakan Devian tentang istri Raja Alfred.


"Aiden, siapa nama Ratu itu?" tanya Devian melirik Aiden.


"A.. Apa yang akan anda lakukan pada istri saya?" Raja Alfred semakin panik dan takut.


"Kau bilang ingin melakukan apa saja, jadi aku akan mengambil semuanya." Devian menatap tajam Raja Alfred. "Apa kau berubah pikiran? " Devian kembali menyeringai. "Aiden, siapa namanya?"


"Ratu jeslyn, Yang Mulia." Jawab Aiden cepat.


"Jeslyn, nama yang bagus." Devian segera berdiri dan berjalan menuju ke dalam kastil.


"Tidak, jangan yang mulia. Jangan sakiti keluarga saya. Saya yang bersalah, saya yang mengambil sebagian pajak yang harus dikirim ke aldwick. Saya yang menyebar rumor buruk tentang anda, tapi itu atas perintah orang lain bukan saya." Raja Alfred tanpa sadar terus bicara tentang semua kebenaran yang ia sembunyikan.


Sudut bibir Devian tertarik keatas membuat senyum puas diwajahnya. Dia terus berjalan untuk masuk kedalam istana. Namun, langkahnya dihentikan oleh Alice.


"A.. Apa yang akan anda lakukan?" Tanya Alice lirih.


Jauh dalam hatinya dia merasa terluka dan kecewa. Dia baru saja dihina oleh orang yang baru ia temui dan suami yang ia kira datang untuk menolongnya memiliki niat yang tidak baik dengan istri orang lain.


"Aku tidak harus memberi tahumu." Jawab Devian dingin. Iris merahnya melirik kearah punggung tangan Alice yang penuh luka lecet, terlihat bercak darah yang mulai mengering disekitar lukanya. Devian hanya menghela nafas berat dan hendak melangkah pergi.


"Tapi aku istrimu."


"Seorang istri tidak akan melawan perintah suaminya." Gumam Devian kesal.


"Maafkan aku." Alice menunduk menyesal.


"Aku tidak menerima kata maaf." Gumam Devian.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Terserah, lakukan apapun yang kau inginkan." Devian segera melangkah masuk kedalam istana.


Alice hanya terduduk diam, air matanya perlahan turun. Beryl yang berada disampingnya langsung mengelus lembut punggung tuannya mencoba untuk merasakan duka yang dirasakan oleh Alice.


***


Devian tengah duduk diatas singgasana kerajaan Raja Alfred. Istri dan ketiga anak Raja Alfred juga berada disana. Alice dan Beryl nampak berdiri tak jauh dari Keluarga Raja Alfred. Alice masih menunduk pikirannya terus mencoba menerka apa yang akan terjadi. Tak berapa lama Aiden datang dengan membawa Raja Alfred yang kini sudah babak belur. Dari pelipisnya keluar darah segar begitu pula sudut bibirnya. Aiden menempatkannya di tengah ruangan. Semua orang yang menatapnya bergidik ngeri, memalingkan wajah mereka dari Raja yang kini telah babak belur dengan tubuh lemas. Raja Alfred bersimpuh dengan tubuh lemahnya.


"Ampuni saya Yang Mulia." Gumam Raja Alfred lemah.


"Tolong Yang Mulia, ampuni ayah saya. Berikan dia kesempatan sekali lagi Yang Mulia." Putra tertua Raja Alfred juga memohon.


Alice yang melihat kejadian itu mulai tersentuh, rasa iba dan kasihan mulai membuatnya menangis. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan Devian juga sedang marah padanya.


"Saya akan menggantikan posisi Ayah saya, Anda bisa menghukum saya Yang Mulia." Dengan lantang suara Putra ke dua Raja Alfred bergema.


Devian mengangkat wajahnya menatap bocah yang baru saja menawarkan dirinya untuk menggantikan hukuman ayahnya.


"Aku tidak menghukum orang yang tidak bersalah." Gumam Devian Dingin. "Kau Ratu Jeslyn, kau bisa kemari dan duduk dikursi kosong sebelahku." Tawar Devian.


Devian melirik kursi singgasana Ratu yang kosong. "Apa kau tidak tertarik?"


Ratu Jeslyn hanya diam tak ada kata keluar dari mulutnya. Alice seakan menyadari apa yang sedang ditawarkan Devian pada Ratu Jeslyn. Dia kembali teringat kata-kata Raja Alfred.


"Beryl, aku ingin pergi dari sini." Lirih Alice.


Air mata bening mulai menggenang dimatanya.


"Tapi Yang Mulia, Raja tidak mengijinkan siapapun pergi dari sini." Beryl mengingatkan Alice untuk tidak melanggar perintah Devian lagi.


"Ratu Jeslyn atau kau ingin duduk dipangkuanku?" Suara Devian kembali menggema. "Aku dengar dulu kau diambil dari sebuah rumah bordil."


Ratu Jeslyn membeku, tak ada yang tahu tentang masa lalunya termasuk Raja Alfred. "Jaga bicaramu Yang Mulia, kau sudah menghina ibuku." Teriak Putra tertua Raja Alfred.


"Aku mengatakan kebenaran, ayahmu suka merendahkan orang lain. Jadi aku hanya memberi sedikit balasan. Aku hanya ingin tahu apa ibumu masih melakukan pekerjaannya sesekali. Mungkin aku bisa mempertimbangkan hukuman yang ringan untuk ayahmu. Kau tahu hadiah untuk ulang tahun pernikahan mereka."


Raja Alfred hanya pasrah, dia tahu tak akan ada kesempatan baginya untuk bebas.


"Apapun akan saya lakukan asal suami saya anda bebaskan Yang Mulia."


Semua orang terdiam, Alice hanya menatap kearah suaminya denga air mata yang sudah membanjiri pipinya. Dia tak dapat membayangkan lagi apa yang akan Devian inginkan dari wanita itu. Alice menunduk dalam menyembunyikan rasa kecewanya.


"Baiklah, ayo ikut aku." Devian berdiri dari kursi singgasana dan beerjalan keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Ratu Jeslyn.


"Ibu jangan lakukan itu." Salah satu putranya mencoba menghentikan ibunya.


"tidak apa-apa, ini demi ayahmu. lagi pula yang dikatakan oleh Raja Devian benar." Ratu Jeslyn menunduk menunjukkan penyesal.


Devian sudah berada disebuah ruangan, ruangan besar tanpa lampu. Tapi sinar bulan yang menembus masuk melewati jendela besar ruangan itu cukup membuat ruangan sedikit terang. Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki seorang wanita memasuki ruangan itu.


"Yang Mulia..." sapa wanita itu dengan suara lembut.


Devian berbalik menatap wanita dihadapannya, terlihat rambut hitam bergelombang yang terurai. Perlahan gadis itu melangkah ke dekat Devian.


"Berhenti disana! " perintah Devian.


Wanita itu berhenti menatap Devian bingung. "Apa yang harus saya lakukan untuk membebaskan suami dan anak-anak saya?"


Devian melangkah mendekati Ratu Jeslyn, iris merahnya mengamati wanita itu seksama. Perlahan jemari Devian membelai lembut rambut hitam wanita itu, menyusupkan Rambutnya kebelakang telinga Ratu Jeslyn, membuat wanita itu sedikit tersipu. Devian mendekatkan wajahnya kewajah Ratu Jeslyn mengamati setiap detil wajah wanita itu, dia memiliki iris coklat dan hidung yang mancung serta bibir merah yang menggoda. Perlahan Ratu Jeslyn memejamkan matanya, menunggu hal lain yang akan terjadi. Tapi, Devian mengangkat sebelah alisnya heran. Devian mengamati setiap detil dari Ratu itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.


'Dia cantik meski sudah tua, tapi aku tidak suka wanita dengan mata yang menatap laki-laki seperti itu. Tubuhnya juga Bagus tapi apa gunanya tubuh Bagus jika sudah banyak yang menyentuhnya. Istriku jauh lebih baik, baiklah sudah kuputuskan.'


Devian segera menjauh dari wanita itu. "Sayang sekali kau sama sekali tidak menarik lagi sekarang." Devian menatap Ratu Jeslyn dengan senyum mengejek.


Ratu Jeslyn membuka matanya dan menatap Devian. "A.. Apa?"


"Sudah selesai tawar menawarnya, sudah waktunya aku pulang ke aldwick. Jadi kita selesaikan ini sekarang." Devian segera keluar dari ruangan itu menuju ruang tempat orang-orang berkumpul.


Alice masih terduduk lemas disalah satu kursi diruang singgasana. Air mata sudah membanjiri pipinya. Beryl sesekali mengelus lembut punggung Alice sekedar untuk menenangkan gadis itu.


'Apa yang mereka lakukan? Apa Devian laki-laki seperti itu? Yang tidak puas dengan satu wanita? Apa dia semarah itu? Tak bisakah dia membicarakannya baik-baik? Apa mereka akan melakukan itu? Lalu bagaimana jika Devian menyukainya dan membawanya pulang ke aldwick? Bagaimana dengan aku? Apa dia akan menghukum ku? ' kepala gadis itu dipenuhi sejuta pertanyaan, namun tak satupun dari pertanyaan itu bisa keluar dari mulutnya.


Tak berapa lama, Devian telah kembali keruangan tersebut. Iris merahnya menatap tajam kearah Raja Alfred. Dia melangkah kearahnya dan melihat wajah pasrah pria paruh baya itu.


"Hukum mati dia, terlalu banyak kesalahan dalam catatannya." Devian menyeringai. "Sebagai Raja Yang murah hati, aku akan memberi penawaran. Aku yang menghukumnya atau anakmu yang akan melakukannya?" Tanya Devian sambil melirik anak-anak Raja Alfred.


"Dari awal kau memang ingin membunuhku, kenapa kau terus menyiksaku seperti ini. Menghinaku dan keluargaku. Kau iblis yang tak punya hati." Teriak Raja Alfred penuh amarah.


Devian menarik pedang dari salah satu pengawalnya. Dia segera mengarahkan pedang itu keleher Raja Alfred.


"Ampuni dia Yang Mulia saya mohon." anak-anak Raja Alfred mulai memohon bersimpuh dihadapan Devian. Memohon dengan Air mata berurai.


Devian tak menghiraukan mereka dia mengangkat tinggi pedangnya bersiap untuk menebas leher Raja Alfred.


"Hentikan!!!! " Suara Alice menggema diseluruh ruangan.


Alice berdiri, matanya masih sembab karena menangis dari tadi. "Anda sudah mendapat apa yang anda inginkan tapi kenapa tidak mengampuni Raja Alfred?"


"Aku tidak memintamu untuk bicara, Aiden bawa dia keluar. Jangan ganggu eksekusinya."


Aiden segera menunduk hormat dan berjalan kearah Alice. "Maaf Yang Mulia, mari kita pergi keruangan lain."


"Tidak aku tidak akan pergi kemanapun." Alice menatap tajam Aiden.


Namun dengan mudah Aiden menyeret gadis itu keluar dari sana.


...****************...


Malam sudah begitu larut saat Devian dan beberapa pengawal kerajaan Aldwick keluar dari kastil itu. Devian segera menyerahkan pedang yang berlumuran darah segar pada Aiden, bercak darah juga mengotori baju dan sepatunya.


"Suruh Perdana menteri datang kemari untuk menggantikan pemerintahan disini. Hapus status bangsawan anak-anak itu dan juga bereskan ke tiga mayat itu sebelum fajar."


"Tiga?" Tanya Devian bingung.


"Anak itu melawanku."


Aiden memberikan sapu tangan pada Devian untuk membersihkan darah dari tangannya. "Dimana pembangkang itu? sekarang gilirannya untuk mendapat hukuman."


"Yang Mulia Ratu sudah berada dalam kereta kudanya." Aiden menunjuk kereta kuda Alice.


Dengan cepat Devian memberikan sapu tangan itu pada Aiden. "Kita pulang malam ini juga!! "


Devian langsung melangkah cepat menujuku kereta kuda istrinya. Dengan kesal pria itu masuk kesana dan duduk dihadapan istrinya. Namun, saat dia sampai didalam kereta dia terdiam melihat istrinya terlelap dengan menyenderkan kepalanya pada kereta. Beberapa helai rambut menutupi wajah gadis itu. Sisa air mata masih terlihat dipipinya. Pelan Devian duduk disamping istrinya, mengubah posisi tidur gadis itu agar bersandar padanya. Dengan lembut jemari Devian menyingkirkan helai-helai rambut diwajah istrinya dan menyelipkannya kembali ke telinga gadis itu.


"Harusnya aku memarahimu saat ini." Gumam Devian lirih. "Apa kau senang saat melihatku begitu menghawatirkan mu? Aku bahkan hampir gila saat melihat dia melukaimu."


Perlahan Devian meraih tangan istrinya yang terluka. Iris merahnya mengamati setiap luka gores yang berada dipunggung tangan gadis itu dan mengecupnya lembut.


TBC