I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 49



Perlahan matahari mulai tenggelam, Devian baru saja selesai mengenakan baju zirahnya. Alice dengan khawatir mendekati sang suami.


"Yang Mulia, berjanjilah padaku anda akan baik-baik saja." Alice menatap Devian sedih.


"Aku akan baik-baik saja, tetaplah disini bersama ayahmu. Jangan mendekat kearah Medan pertempuran apapun yang terjadi." Devian membelai pipi lembut istrinya. "Kali ini sebaiknya kau mendengarkan aku."


Alice mangangguk perlahan. Devian mengecup lembut dahi istrinya. "Aku pergi." Devian segera keluar dari tendanya.


Alice menatap sedih punggung Devian yang menghilang di balik tirai tenda itu. "Berhati-hatilah, Yang Mulia." Gumam Alice.


...****************...


Di ujung perbatasan Aldwick, Adrian telah bersiap dengan pasukan iblis dan juga pasukan kerajaannya sendiri. Di tangan kanan Adrian memegang tombak besi. Sebuah tanduk muncul di atas kepalanya. Iris kiri Adrian berubah menjadi merah, dan iris kanan berwarna keemasan.


Suara auman, geraman dan raungan para iblis terdengar, menandakan mereka siap untuk kembali bertempur. Bendera lambang Aldwick berkibar tertiup angin. Keyakinan Adrian akan kemenangannya begitu kuat, karena dia telah memiliki hampir seribu pasukan iblis dan juga memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh saudaranya.


Adrian semakin menyeringai penuh kemenangan melihat Devian muncul dengan menunggangi kudanya seorang diri. Tanpa pasukan Corfe, atau siapapun menemaninya. Dengan menunggangi kudanya dan membawa sebilah pedang. Devian mendekat dengan yakin.


"Hahahahaha... " Sebuah tawa nyaring dari sang kakak terdengar begitu keras. "Apa kau akan menyerah saudaraku?" Tanya Adrian dengan nada sedikit mengejek. "Baiklah, pasukanku akan ku pastikan mereka tidak akan mencabik-cabik dirimu. Akan aku pastikan kau mati dengan cepat tanpa rasa sakit."


Devian tersenyum mendengar ucapan saudaranya dari kejauhan. "Sayang sekali, padahal aku berencana untuk menyiksamu secara perlahan hingga kau berharap untuk segera mati."


Wajah Adrian mengeras begitu mendengar kalimat Devian. "Kau masih saja angkuh, meskipun kau sudah tidak memiliki apapun. Kau lihat aku memiliki pasukan iblis terkuat bersamaku?" Adrian merentangkan tangannya seakan ingin menujukkan betapa banyaknya iblis yang bersamanya saat ini.


"Hanya masalah jumlah, bagaimanapun mereka masih iblis rendahan." Gumam Devian dengan nada mengejek. Iris Devian terlihat bersinar. Tak jauh dari tempat Devian di samping kanan dan kirinya dua gerbang besar muncul. Gerbang dengan ukiran-ukiran iblis yang mengerikan di bagian gerbangnya. Perlahan gerbang-gerbang itu mulai terbuka, Beberapa iblis muncul. Tepatnya para jenderal dan tetua yang menentang keputusan Raja Erebos yang membantu Adrian. Tak berapa lama ratusan iblis-iblis paling mengerikan muncul, dengan wujud yang tidak akan pernah kau bayangkan. Dari yang merayap ditanah, hingga iblis yang dapat terbang di langit.


"Pangeran anda baik-baik saja?" Tanya salah satu tetua dengan hormat.


"Jangan cemas, aku hanya harus membiasakan diri dengan kekuatan ini." Gumam Devian.


Sesaat Adrian merasakan ketakutan, tapi melihat jumlah pasukannya yang lebih banyak dia yakin dengan kemenangannya. Apalagi kini dia memiliki kekuatan Raja Iblis.


Selang beberapa menit kemudian kedua kubu kini telah saling berhadapan. Petarungan antar iblis, peperangan saudara berlangsung dengan sengit. Detingan-dentingan suara senjata berbenturan terdengar bersahutan dari segala penjuru. Di bumi dan langit dipenuhi pertarungan iblis yang begitu sengit. Saling mencakar, memukul, mencabik dan membunuh sesamanya.


Adrian kini berhadapan langsung dengan Devian ditengah Medan pertempuran.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku Devian." Adrian bersiap dengan kuda-kudanya menatap waspada pada Devian dengan tombak ditangannya.


"Seharusnya kau bercermin sebelum kemari, kau terlihat mengerikan bahkan sebelum kematianmu." Gumam Devian dengan senyum mengejek.


"Pertama akan aku buat kau tidak bisa bicara lagi." Adrian langsung menyerang Devian mengarahkan tombaknya pada saudaranya.


Dengan cepat Devian menghindari serangan Adrian, menangkis serangan tombak Adrian yang semakin gencar dengan mudah. Sesaat kemudian entah bagaimana sebuah tendangan mendarat di perut Devian membuah Devian terpental beberapa meter dari tempatnya.


Adrian melesat mendekat kearah Devian hendak melancarkan serangan lain. Tapi, Devian melancarkan tendangan samping yang langsung membentur pinggang Adrian hingga membuatnya kembali terpental. Meskipun begitu, serangan Devian sama sekali tidak melukainya. Sisik yang keras melindungi tubuh Adrian. Sebaliknya tubuh Devian mengalami luka karena mengenai sisik kasar yang hampir memenuhi tubuh Adrian.


Devian terus mencari kelemahan pada tubuh Adrian agar dia bisa segera mengakhiri kekacauan yang dibuat saudaranya saat ini. Adrian kembali bangkit dan melesat dengan cepat kearah Devian, sebuah pukulan melayang kearah wajahnya. Membuat pria bersurai perak itu tersungkur. Adrian tak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung menindih tubuh saudaranya dan melayangkan pukulan lain kewajah tampan saudaranya. Dengan susah payang Devian menghindari setiap pukulan itu, mencoba mencari celah untuknya menghindar dan membalas pukulan Adrian. Saat sebuah pukulan mengarah langsung kehidung Devian, dia langsung menahan tangan saudaranya dengan tangannya. Tangan yang dipenuhi sisik hitam keras dan tajam, perlahan menembus kulit Devian hingga membuat tangannya berdarah. Darah perlahan menetes keatas wajahnya, meski perih tapi Devian tetap bertahan dan mencoba mengabaikannya mengerahkan kekuatannya untuk mendorong tinju saudaranya itu menjauh dari wajahnya. Saat tinju Adrian mulai menjauh dari wajahnya, Devian segera mengarahkan pukulan kearah wajah Adrian dengan tangannya yang bebas. Membuat lawannya tersungkur, tangan Devian menyusup kebagian belakang tubuhnya menarik sebuah belati kecil disana. Menggunakannya untuk menyerang Adrian.


Adrian menggunakan tangannya yang bersisik untuk menghalangi Belati Devian dari tubuhnya. Menimbulkan suara gesekan yang terdengar seperti gesekan dengan besi baja yang keras dan tajam.


"Kau cukup licik untuk menyerangku dengan senjata kecil itu Devian." Adrian menahan tangan lain Devian.


"Aku hanya bertarung sebagai iblis, karena aku melawan iblis sepertimu." Devian menyeringai.


...****************...


Di tempat lain Raja Erebos terlihat semakin gelisah, bergerak mondar mandir diruangannya. Tak seorang pun yang bersamanya saat ini untuk membicarakan masalahnya. Jika Adrian mati ditangan Devian, Dia juga bisa mati karena setengah dari kekuatannya telah dia pinjamkan pada Adrian. Tapi, disisi lain dia juga tidak ingin kehilangan cucunya.


Bingung antara memilih nyawanya atau sang cucu. Sesaat Raja Iblis itu menatap sebuah lukisan besar seorang wanita yang tak lain adalah ibu Devian. Sesaat ekspresinya berubah bersedih.


...****************...


Dari kejauhan terlihat peperangan berlangsung dengan sengit. Suara ledakan karena benturan antara kekuatan iblis terdengar. Sesekali cahaya ledakan terlihat dari kejauahan.


Alice terlihat begitu khawatir melihat dari tenda. Bagaimana keadaan di Medan pertempuran, bagaimana keadaan suaminya? Dia terus memikirkannya. Raja Charles yang mengetahui kegelisahan putrinya, segera menghampiri Alice dan memeluk putrinya.


"Tenanglah, dia Raja Muda yang hebat. Dia akan menang dalam pertempuran ini." Raja Charles mencoba menenangkan putrinya.


"Tapi dia pergi tanpa seorangpun bersama dengannya, ayah. Bagaimana dia akan bertahan dari mereka? Aku sudah melihat seperti apa mereka, bagaimana mereka mencabik tubuh manusia? Bagaimana ganasnya mereka." Alice perlahan terisak dalam pelukan ayahnya


"Kau harus percaya padanya." Gumam Raja Charles yang diam-diam juga melihat kearah Medan pertempuran.


...****************...


Wajah Devian terlihat berdarah dan luka lebam di beberapa bagian. Darah segar mengalir dari sela bibirnya, darah segar juga mengalir dari lengannya dan menetes turun diujung jemarinya. Nafasnya terlihat naik-turun karena kelelahan.


Keadaan Adrian juga sama buruknya. Hanya bagian tubuhnya yang tertutup sisik yang tak terluka. Tapi di dekat tempat pertarungan mereka, potongan-potongan sisik hitam itu terlihat berserakan seperti terkelupas. Adrian juga terlihat kelelahan, dari kejauhan terlihat semburat oranye yang terlihat. Hampir seluruh pasukan Adrian sudah tewas dan menghilang dari sana, hanya sebagian dari mereka yang bertahan Dan sebagian lagi pasukan Devian telah berkumpul melingkari tempat Duel Devian dan Adrian. Terlihat Devian masih menatap Adrian waspada.


"Waktuku, tidak lama lagi aku akan segera mengakhiri permainan ini." Gumam Adrian penuh kemarahan.


Devian menyeringai dan bersiap dengan mengepalkan tangannya.


TBC