
Saat pertemuan diakhiri semua pejabat dan juga bangsawan berdiri untuk memberi hormat sebelum keluar. Devian pun segera membalas salam mereka dengan berdiri. Namun, iris merahnya menatap sang istri yang tengah menatapnya dengan ekspresi yang entah tak bisa ia mengerti. Devian pun tak menghiraukannya dan segera mengakhiri pertemuan ini.
"Baiklah, tuan-tuan silahkan kembali ke tugas kalian masing-masing."
Semua orang segera menuju pintu keluar. saat Devian hendak berbalik untuk pergi, dia kembali menatap Alice yang masih tak bergeming.
"Kau kenapa?" Tanya Devian dingin. Tapi Alice tak menghiraukannya. "Apa kau ingin disini? " Devian kembali bertanya menaikkan suaranya agar didengar oleh istrinya. Namun, Alice masih sibuk dengan sejuta pikirannya. Hingga akhirnya Devian melempar pedang yang selalu di letakkan dibelakang kursi singgasananya.
Prankkk..
Suara yang begitu nyaring membuat beberapa orang yang belum keluar berhenti dan menoleh kebelakang memeriksa apa yang telah terjadi. Alice yang sibuk dengan lamunannya pun ikut tersadar dan segera berdiri.
"Aku belum siap memiliki seorang bayi." Spontan kalimat itu keluar dari mulut Alice.
"Bayi? " Tanya Devian heran.
Semua orang langsung terdiam begitu Alice mengucapkan kalimatnya. Seakan masih mencerna setiap kalimat yang diucap gadis itu. Alice yang baru tersadar dari situasinya segera menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang mulai panas dan memerah karena malu.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Devian meminta penjelasan.
"Maksudku, kucingku belum siap untuk memiliki bayi. Anda tahu kucing kerajaan yang saya pelihara." Dengan canggung Alice menjelaskan. "Sa.. Saya permisi dulu Yang Mulia." Alice segera menunduk dan berlari keluar.
Alice berjalan pelan menyusuri koridor kastil utama. Hingga sebuah suara menghentikannya.
"Berhenti disana!!" Suara Devian menggema di koridor. Sontak membuat Alice menghentikan langkah kakinya. Namun, saat mendengar langkah kaki Devian yang mendekat, gadis itu melangkah pelan untuk menjauh.
"Apa kau tidak dengar, aku menyuruhmu berhenti." Teriak Devian kesal.
Dengan terpaksa gadis itu berhenti dan menundukan kepalanya.
"Apa kau akan memunggungiku?" sindir Devian pada istrinya.
Perlahan gadis itu berbalik masih dengan menundukkan kepalanya.
"Apa mau mu?" tanya Devian lagi.
"Ma.. Mauku?" Tanya gadis itu bingung. "Saya tidak mengerti maksud anda? "
"Dengar, kau tidak pernah ikut campur dalam urusan kerajaan dan hari ini kau ikut dalam pertemuan dan tiba-tiba kau bilang tidak siap untuk memiliki.... "
"Anda salah paham." Sahut Alice cepat menatap suaminya gugup. "Anda salah paham Yang Mulia." Ulangnya mencoba terlihat meyakinkan.
Devian mengangkat sebelah alisnya. "Salah paham?"
"A.. Aku hanya lelah dan aku rasa benturan dikepalaku membuatku sedikit linglung dan terguncang." Alice mencoba mencari Alasan yang terlintas dikepalanya.
"Benturan dikepala?" Devian semakin heran dengan omongan istrinya.
"Benar, aku.. Aku rasa kepala ku sakit jadi.."
"Kau tidak mengalami benturan apapun dan apa yang sedang kau sembunyikan." Devian memandang istrinya tajam. Pria itu terus mendekat kearah istrinya membuat gadis itu gugup setengah mati dan terus mencoba menghindar.
"A.. Apa yang anda lakukan?" tanya Alice gugup.
"Aku sedang memikirkannya, bagaimana membuatmu mengakui apa yang kau rencanakan." Devian mendekatkan wajahnya kearah wajah Alice.
Iris merahnya mengamati setiap inchi dari wajah istrinya, terlihat keringat mulai membasahi pelipis gadis itu karena gugup.
"Baiklah, saya pikir.. " akhirnya gadis itu menyerah mencoba mengatakan yang sebenarnya. "Saya pikir.. Saya takut jika harus... Hamil sekarang." Alice menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang merona dengan menggumamkan kata hamil dengan pelan.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti? Bisakah kau bicara dengan jelas? " Terlihat wajah kesal Devian di depan istrinya.
"Bisakah, saya membisikkannya ditelinga anda saja? Atau aku akan menuliskannya dalam sebuah pesan." Alice mencoba mencari solusi lain agar dia dapat mengendalikan dirinya. Tapi, diam-diam gadis itu merasa sedikit lega suaminya tak mendengar apa yang di ucapkannya.
Devian menghela nafas berat. "Lakukan sesukamu, sepertinya kau memang butuh istirahat." Devian membelai rambut istrinya pelan dan berbalik pergi, meninggalkan istrinya sendiri di koridor.
Alice menghela nafas lega setelah Devian pergi meninggalkannya.
...****************...
Di ujung lorong tanpa disadari oleh Alice maupun Devian, seorang laki-laki dengan iris abu-abu tengah menatap mereka penuh dengan rasa kesal. Adrian, dia tengah mengepalkan tangannya menahan setiap keirian dan kecemburuannya terhadap saudaranya tersebut.
"Bersenang-senanglah selagi kau bisa, Devian." Gumam Adrian marah. "Aku akan mengambil semuanya."
Adrian segera berbalik berjalan pelan menyusuri koridor kastil utama. Hingga langkah kakinya terhenti oleh seseorang.
"Lama tidak melihatmu Adrian." Suara tajam Devian terdengar menggema di seluruh koridor.
Sedikit malas Adrian menunduk hormat pada saudara tirinya. "Maafkan aku saudaraku, aku sedang sibuk belakangan ini."
"Hmm.. Benarkah? Aku penasaran kesibukan apa itu? Akhir-akhir ini aku mencium bau penghianat disekitar sini. Bukankah itu lucu, bahkan sekarang baunya sangat menyengat. Haruskah kita singkirkan dia sekarang?" Devian memamerkan smirknya.
"Lakukan sesukamu Yang Mulia, tapi aku ingin mengingatkan jika anda salah mengambil keputusan bukan penghianat yang akan anda tangkap. Tapi, kepercayaan rakyat anda yang akan hilang. Bukankah, anda juga tahu reputasi anda tidak cukup baik belakangan ini."
"Reputasi? Sejujurnya aku tidak peduli dengan hal itu Adrian, karena aku tahu reputasi akan aku dapatkan begitu aku menangkap mereka bukankah begitu Adrian atau haruskah aku panggil kakak."
Adrian menatap saudaranya tajam, sudut bibirnya sedikit berkedut karena menahan marah. "Kau benar, tapi bagaimana kau menangkap mereka tanpa bukti?"
"Begitukah?" Adrian mencoba untuk mengendalikan dirinya. Menyembunyikan perasaan gugup dan juga rasa cemas dari Devian.
"Mungkin." Jawab Devian sambil tersenyum.
"Sepertinya kau masih sibuk, jadi aku akan pergi."
...****************...
Devian masih sibuk dengan puluhan kertas-kertas diatas mejanya. Membaca setiap surat dan laporan yang hampir sama setiap hari.
Tok.. Tok...
Terdengar suara seseorang membuka pintu dan melakangkah masuk. Devian masih tak bergeming dengan pekerjaannya.
"Yang Mulia." Aiden menunduk memberi hormat pada Devian.
"Katakan, aku masih banyak pekerjaan." Gumam pria itu datar.
"Anda mendapat undangan untuk pesta ulang tahun pernikahan Raja Alfred." Aiden menyerahkan gulungan merah di tangannya.
Iris mata Devian mengamati gulungan itu dan meletakkannya disamping kertas-kertas lain.
"Anda tidak akan menghadirinya lagi? Anda sudah memiliki seorang istri sekarang."
"Kirimkan saja hadiah seperti biasa, kau tahu aku tak tertarik dengan acara seperti itu." Devian masih terfokus pada kertas-kertas kerjanya.
"Hmm.. Baik Yang Mulia, saya akan memberi tahu Ratu kalau beliau akan pergi sendiri." Gumam Aiden berbalik hendak pergi.
Devian segera menatap Aiden tajam. "Apa maksudmu dia pergi sendiri?"
"Ratu yang menerima undangannya dan beliau.. "
"Dia membaca pesan yang harusnya untukku?" Potong Devian penuh emosi.
"Sebenarnya, undangan itu untuk anda dan Ratu, jadi... "
"Apa sekarang kau juga berani membantahku?" Devian meninggikan suaranya.
"Ti.. Tidak Yang Mulia." Aiden segera menunduk dalam.
"Katakan pada Ratu tak ada yang akan datang ke acara itu." Perintah Devian dingin.
"Baik yang mulia saya akan menyampaikannya pada Ratu." Aiden melangkahkan kakinya hendak keluar.
"Tunggu Aiden!! Aku yang akan menyampaikan semua pada Ratu." Gumam Devian dengan senyuman misterius.
Devian segera melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya. 'Belakangan ini akal sehatku tak bekerja dengan benar. Aku penasaran apa yang telah kau lakukan? ' pikir Devian dalam hati.
...****************...
Di sebuah ruangan, Alice nampak duduk di kursi panjang empuk berwarna putih dengan motif bunga-bunga. Sorot sinar matahari masuk melalui jendela besar didepannya. Ruangan yang begitu terang dan tenang. Di setiap dinding terdapat rak-rak besar penuh buku-buku berbagai ukuran dan berbagai warna semua tersusun begitu rapi. Gadis berambut perak itu terlihat fokus mengamati tiap baris kata dalam buku yang berada ditangannya.
Tak selang berapa lama gadis itu nampak menutup bukunya, meletakkan buku itu diatas meja dan melangkah menuju rak-rak lain yang penuh dengan buku. Dengan jeli iris birunya menyusuri setiap judul buku yang ia lihat jemarinya menunjuk saru persatu buku yang mungkin menarik baginya. Namun, saat itu matanya tertarik pada satu buku di rak paling atas. Dengan susah payang Alice mencoba meraih buku itu tapi dia tak cukup tinggi untuk meraihnya.
"Hmmm.. " dia mendengus pelan. Gadis itu melirik kearah pintu berharap seseorang akan mengetuk pintu dan bertanya apa dia butuh bantuan, tapi tak ada yang datang. Mata gadis itu melihat kursi kecil disudut ruangan tapi dia mengabaikannya. Alice kembali mengedarkan pandangannya berharap dia menemukan tangga yang bisa ia gunakan, tapi ini perpustakaan kecil dikastilnya bukan perpustakaan utama kerajaan yang memiliki rak-rak yang tinggi menjulang. Dia menghela nafas berat dan kakinya melangkah pada kursi kecil disudut ruangan dengan sedikit usaha akhirnya kursi itu telah berpindah di depan rak dimana buku yang ia inginkan berada.
Alice melepas sepatunya dan perlahan menaiki kursi itu. Tangan mungilnya mulai mencoba meraih buku bersampul merah marun yang terletak dirak tersebut. Buku yang cukup tebal terhimpit dengan buku-buku lain yang sama tebalnya. Membuat gadis itu cukup kesulitan untuk menariknya keluar dari rak. Dengan susah payah Alice menarik buku itu hingga berhasil dia ambil tapi keseimbangan tubuhnya tak stabil membuat kursi yang ia gunakan bergoyang dan buku yang ia pegang pun terlepas dari tangannya. Saat buku tersebut jatuh tangan seseorang berhasil menangkapnya dan bersamaan dengan itu lengan yang satunya telah melingkar di pinggang Alice.
Mata Alice membulat sempurna saat iris birunya menatap wajah orang yang baru saja menolongnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" terdengar suara datar nan dingin darinya.
"Ya.. Yang Mulia." Alice mengerjapkan matanya.
Devian segera menarik lengannya dari pinggang istrinya. "Turunlah!" Devian memegang lengan istrinya dan membantunya untuk turun dari kursi yang ia naiki.
Alice perlahan turun dari kursi. "Apa yang anda lakukan disini?" Tanya Alice.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan kalau kau tidak perlu menghadiri undangan itu."
"Kenapa?" tanya Alice bingung. "Apa anda memiliki pertemuan lain? Saya bisa datang sendiri."
"Tidak, kau tidak perlu datang dan aku tidak menyukai acara seperti itu. Aku hanya perlu mengirim hadiah sepeti sebelumnya."
"Bukankah anda harus menghargai orang lain yang mulia, terutama dia adalah teman anda."
"Dia bukan temanku, hanya hubungan diplomatik. Kau tahu mereka hanya orang yang mengemis untuk perlindungan dan keselamatan mereka. Hubungan ini tidak lebih dari sekedar tuan dan budak. Jadi kenapa aku harus datang? "
"Anda harus belajar menghargai orang lain." Alice menatap Devian tajam.
"Dengar, jika kau berani melanggar aturanku lagi kau tahu apa akibatnya." Devian menatap tajam istrinya dan segera melangkah keluar ruangan tersebut.
"Aku akan pergi kesana. " Gumam Alice pelan.
TBC