I'M In Love With A Monster

I'M In Love With A Monster
Part 50



Adrian kembali menyerang Devian seperti orang kesetanan. Sedangkan sebentar lagi fajar akan tiba, dengan sisa tenaganya Devian menghindari serangan Adrian. Hingga sebuah tombak mendadak muncul ditangan Adrian. Dia mengarahkannya kedada kiri Devian hingga ujung runcingnya menusuk tepat kedadanya. Devian mencoba menahan gagang tombak itu agar tidak menusuk lebih dalam. Ujung tombak telah menembus dada Devian.


Dengan susah payah Devian menahan gangang tombak itu. Tapi Adrian terus berusaha mendorongnya agar menembus jantung Devian lebih cepat. Ujung tombak terus semakin menusuk lebih dalam, dari luka Devian darah terus mengalir semakin banyak. Devian mulai meringis menahan rasa perih dan sakit yang teramat sangat pada dadanya.


Saat Adrian terus fokus pada usahanya membunuh Devian, sebuah tombak api menembus punggung Adrian hingga menembus dadanya. Darah merah pekat hampir mendekati warna hitam, mengucur dari dada Adrian, darah juga mengalir dari mulutnya. Perlahan tubuh Adrian ambruk, matanya terbuka lebar dan sesaat kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya.


Devian menjatuhkan tombak di tangannya, dengan susah payah mempertahankan kesadarannya. Dari kejauhan dia melihat sang kakek tersenyum padanya dan perlahan mendekat kearah cucunya. Devian berjalan mendekat kearah kakeknya, tapi sebelum dia sampai pada kakeknya dia ambruk tak sadarkan dirinya.


...****************...


Di tenda, mendadak Alice mengerang kesakitan. Tangan kananya meremas kuat dada kirinya.


"Aarrghh.. " Alice berteriak keras. Hingga Raja Charles dan Aiden segera berlari menghampirinya.


Saat Raja Charles dan Aiden sampai disana, Alice ambruk di lantai. Nafasnya tersengal-sengal dan dia terus mengerang kesakitan. Dadanya terasa seperti dihujam dengan benda tajam, hingga membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat. Raja Charles langsung meraih tubuh Alice, dan mendekap Alice yang terus berteriak kesakitan.


"Apa yang terjadi, Alice?" Tanya Raja Charles panic dan khawatir.


Alice masih terus mengerang, kesakitan bahkan otaknya tak dapat menangkap pertanyaan ayahnya dengan baik.


"Sa...kit...ayahhh!!" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut gadis itu.


Aiden yang melihat Alice kesakitan juga ikut panik dan kebingungan. Tapi, tak banyak yang bisa ia lakukan saat ini. Sesaat kemudian, saat rasa sakit yang dirasakan Alice mulai menguasai seluruh saraf otaknya. Perlahan, penglihatannya mulai mengabur dan hampir seluruh kegelapan mulai melahap kesadarannya. Hingga kesadaran itu menghilang darinya.


"Alice.. Alice, apa yang terjadi? Bangun, nak?" Raja Charles mengguncang tubuh anaknya cemas.


Tak berapa lama, seorang prajurit datang dengan terburu-buru ke perkemahan mereka.


"Tuan Aiden, sesuatu telah terjadi pada Yang Mulia Devian." Lapornya dengan wajah panik.


Wajah Aiden mengeras. "Apa yang terjadi?" Tanya Aiden cepat.


"Sebaiknya anda segera kesana?"


Aiden segera berlari ketengah Medan pertempuran, mengikuti prajurit itu. Sampai disana dia mendapati Devian yang terbaring dalam pelukan sang kakek dan di kerumuni pasukan iblis kakeknya.


...****************...


Saat Alice tersadar, gadis itu mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya. Seluruh tubuhnya terasa begitu lemah, dengan susah payah gadis itu mencoba bangun dari tidurnya. Mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang ia tempati. Dia kini mengenali kamar yang telah ia tempati sejak lahir, Di istana Corfe.


Tak jauh dari ranjang gadis itu, Ratu Dione terlihat tertidur di kursi panjangan di dekat jendela. Wajahnya terlihat begitu letih, lingkaran hitam samar terlihat di sekitar kelopak matanya. Saat Alice mencoba untuk turun dari ranjangnya, mendadak kepalanya terasa berdenyut. Membuatnya sedikit melenguh kesakitan. Membuat Ratu Dione spontan terbangun dari tidurnya.


"Sa.. Sayang, kau sudah bangun?" Ratu Dione segera menghampiri putrinya dan memeluk gadis itu.


Kekhawatiran dan kesedihan terlihat jelas diwajah Ratu yang sudah tidak muda itu. Ratu Dione mengelus lembut punggung putrinya dengan penuh Kasih sayang.


"Ba.. Bagaimana dengan perangnya?" Tanya Alice sambil menatap ibunya.


Ratu dione melepas pelukannya dan membantu Alice untuk kembali berbaring. Ratu Dione merapikan selimut putrinya dalam diam.


"Bu!! " Alice mencoba mengeraskan suaranya yang terdengar parau.


"Hmm?" Ratu Dione spontan menatap Putri semata wayangnya itu. "Kita menang, sayang!! " Seulas senyum tipis terlihat dibibir Ratu Dione, meskipun sorot matanya menunjukkan hal yang berbeda.


"Bagaimana dengan Devian?" Tanya Alice lagi.


Ratu Dione menelan ludah, tak berani mengatakan kejadian buruk yang telah terjadi. Tak berapa lama Raja Charles masuk kedalam kamar Putrinya.


"Kau sudah sadar rupanya." Raja Charles segera menghampiri putrinya.


"Ayah, dimana suamiku?" Alice beralih pada ayahnya.


Raja Charles terdiam, dia bahkan tak tahu bagaimana mengatakan apa yang sudah terjadi.


"Kenapa ayah tidak menjawabnya?" Mata Alice mulai berkaca-kaca. "Bu, apa sesuatu telah terjadi?" Suara Alice mulai bergetar.


Raja Charles maupun Ratu Dione tak menjawab. Mereka hanya menunduk dalam dan diam seribu bahasa. Alice segera menyibak selimut dan turun dari tempat tidurnya. Dengan susah payah gadis itu berjalan keluar kamarnya, diikuti orang tuanya.


"Alice kau mau kemana?" Ratu Dione mencoba menahan lengan putrinya.


"Aiden dia sudah kembali ke Aldwick." Gumam Raja Charles lirih.


Alice berbalik menatap ayahnya, tak jauh dari tempat orang tua Alice berdiri. Beryl berdiri disana dengan sebuah nampan ditangannya menunduk lesu.


"Kenapa dia kembali?" Tanya Alice mencoba menahan dirinya agar tidak menangis.


"Belakangan ini terjadi begitu banyak kekacauan di Aldwick. Mereka butuh waktu yang lama untuk menata kembali..."


"Ayah, berhenti berbohong padaku." Akhirnya air mata Alice terjatuh. "Sampai kapan? Hiks... Sampai kapan, kalian akan menyembunyikan semuanya dariku? Sahabat baikku sejak kecil ternyata menjadi pemberontak, sesuatu terjadi pada suamiku... Dan.. Dan.. Ayah dan ibu.." Alice terdiam sesaat hanya isakan tangis yang terdengar dari sela bibirnya. "Tak bisakah.. Kalian berhenti merahasiakan... Semuanya dariku." Perlahan tubuh Alice melorot kelantai isak tangis kembali terdengar.


Ratu Dione segera menghampiri putrinya dan memeluk gadis itu. "Maafkan ayah dan ibu Alice. Kami hanya tidak ingin kau bersedih seperti ini. Semua akan baik-baik saja sayang. "


...****************...


Di kerajaan Aldwick, kekacauan terjadi. Kursi kepemimpinan mendadak kosong. Seluruh nama yang terlibat dengan Adrian ditangkap dan ditahan di penjara bawah tanah. Seluruh pejabat kementrian yang di tunjuk Devian kembali menempati posisi mereka.


Rapat langsung diadakan untuk memutuskan bagaimana keberlangsungan kerajaan Aldwick. Membereskan semua kekacauan yang dibuat Adrian, mengatur kembali sitem kebijakan kerajaan dan mengutus beberapa pejabat untuk menenangkan kepanikan rakyat dengan kosongnya pemerintahan saat ini.


"Aiden, bagaimana sekarang? Keadaan akan semakin buruk jika Aldwick tidak memilih pemimpin secepatnya." Salah seorang mentri terlihat begitu cemas dan khawatir.


"Kita tidak ada pilihan, Ratu Alice adalah satu-satunya harapan." Salah seorang mentri memberi usulan.


"Tidak, Ratu tidak bisa ke Aldwick sekarang. Keadaan begitu kacau, dia akan kesulitan dengan semua keadaan dan semua kekacauan. Ada kemungkinan pemberontakan, akan kembali terjadi dan itu akan sangat berbahaya." Aiden menatap semua Menteri yang berada disana.


"Baiklah, lalu bagaimana menurutmu?" Tanya salah satu menteri.


"Kita selesaikan semuanya bersama untuk saat ini." Jawab Aiden.


...****************...


Bulan-bulan dilewati begitu cepat, tak terasa dua tahun berlalu begitu saja. Keadaan di Corfe masih sama, tak ada yang berbeda. Beryl masih melayani Alice dengan setia dan Alice keceriaan mulai menghampirinya satu tahun belakangan. Meski, dia tak dapat memungkiri rasa rindu kepada suaminya. Tapi, gadis itu mencoba untuk tetap tegar dan mejalani hidupnya.


"Hahahahahaha..." dari kejauhan terdengar suara tawa lepas seseorang.


Seorang wanita dan pria tengah duduk berhadapan di kursi Taman dengan meja bulat di tengahnya. Di atas meja terdapat cangkir di hadapan mereka yang berisi teh.


"Bukankah, harusnya anda pulang sekarang Pangeran will??" Tanya gadis beriris biru itu dengan senyum di bibirnya.


"Entahlah, mungkin aku akan sangat merindukanmu. Dimana lagi aku akan melihat gadis secantik dirimu, Putri Alice?" Puji Pangeran muda yang memiliki rambut hitam dan iris coklat itu.


Alice tersenyum sesaat. "Jangan menggodaku, Pangeran. Aku sudah menikah." Alice mengangkat tangannya menunjukkan cincin dijari manisnya.


"Lalu dimana dia? Satu tahun aku berada di kerajaan ini, apa kau tidak tertarik padaku?" Tanya Pria itu menatap Alice dalam.


"Berhenti bercanda, itu tidak lucu lagi." Alice menatap pria dihadapannya kesal.


"Baiklah, sebaiknya aku segera pulang kembali ke kerajaanku. Aku punya sesuatu untukmu sebelum pergi." Pangeran Will meletakkan sebuah rangkaian bunga di dalam kerandang ke atas meja. "Ini untukmu." Pangeran Will tersenyum.


Saat tangan Alice terulur untuk meraihnya, sebuah langkah kaki terdengar berhenti tepat dibelakang pangeran Will. Dengan ekspresi dingin dia menatap gadis itu. Mata Alice membulat karena terkejut, perlahan mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


"Kau kenapa?" Tanya Pangeran Will bingung dan berbalik memastikan siapa yang berada dibelakangnya.


Setelah Pangeran Will pergi, Alice duduk diam dengan wajah menunduk. Didepannya seorang pria lain duduk dengan menyilangkan kakinya, tangannya bersedekap, dengan wajah kesalnya.


"Kau? Tertawa didepannya?" Tanya pria itu dengan nada kesal. "Kau yang menggodanya, atau dia yang melakukannya?" Tanya pria itu lagi.


Alice hanya diam tak menjawab, gadis itu semakin menunduk dalam. Tangannya mengepal kuat dan mengigit bibir bawanya untuk menahan agar dia tidak menangis.


"Kau tidak akan menjawabnya? Baiklah, aku akan membunuhnya." Pria itu segera beranjak untuk pergi.


"Yang Mulia Devian!!" Suara Alice terdengar parau karena menahan tangisnya. "Apa.. Apa anda baik-baik saja?" Tanya Alice lagi dengan suara bergetar. Air mata Alice menetes ke punggung tangannya. Punggungnya terlihat bergetar saat suara isak tangis mulai terdengar disela bibirnya.


Sesaat Devian terdiam, menatap istrinya rasa cemburu, kesal dan marah lenyap begitu saja. Berganti dengan rasa bersalah pada sang istri.


TBC